ANALISAngendas

Virus Corona dan Krisis Kapitalisme

0

Capitalism work

Pandemik memicu krisis ekonomi paling dalam yang mungkin terjadi di kehidupan kita.

Sebagaimana ia di tingkat yang paling esensial, kapitalisme, seperti ditunjukkan oleh Marx, didasarkan pada suatu rangkaian. Kapitalis menggunakan modal mereka untuk mengumpulkan bahan baku, mesin dan tenaga kerja di tempat kerja, dan melalui eksploitasi tenaga kerja, menghasilkan barang dan jasa.

Mereka menjual barang dan jasa tersebut kepada kapitalis lainnya atau kepada para buruh, dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan, memperbesar modal mereka. Kemudian mereka membeli lebih banyak bahan baku dan mesin, dan mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja untuk mengawali proses itu kembali. Jika suatu saat dan untuk alasan apa pun, rangkaian ini rusak, maka krisis akan meletus.

Sekarang perhatikanlah dampak dari Covid-19. Di seluruh negara, aktivitas kerja telah dibatasi. Persediaan bahan baku dan mesin terganggu. Perdagangan barang dan jasa banyak yang terhenti.

Dampaknya menyebar hingga keluar dari Cina, yang dalam beberapa dekade terakhir menempatkan dirinya di pusat jaringan produksi global pada banyak bidang seperti manufaktur elektronik. Namun sekarang dampak tersebut semakin merata dalam perekonomian dunia.

Dampak tersebut semakin kuat karena rantai kredit menghubungkan seluruh komponen ekonomi dunia. Tidak hanya timbunan utang konsumen dalam bentuk hipotek (kredit yang diberikan atas dasar jaminan benda tak bergerak), pinjaman, kartu kredit dan sebagainya, perusahaan juga memberikan kredit satu sama lain, meminjam dari bank atau langsung mengakses ke pasar keuangan.

Sebagai contoh, ada pasar yang bernilai lebih dari $ 1 triliun dalam bentuk “surat berharga,” yang memungkinkan perusahaan untuk meminjam di pasar keuangan, biasanya dalam beberapa hari atau minggu, untuk mendanai kegiatan mereka sehari-hari.

Covid-19 telah menyebabkan pasar semacam itu tersendat. Siapa yang mau meminjamkan uang ke sebagian besar perusahaan sekarang? Kontraksi dari pasar-pasar semacam ini berisiko “kredit macet” di mana uang tidak tersedia untuk melumasi roda kapitalisme.

Disrupsi ekonomi semakin diintensifkan oleh Arab Saudi dan Rusia yang memilih momen ini untuk terus terlibat dalam perang harga minyak. Setelah berkolusi selama bertahun-tahun untuk membatasi pasokan, menjaga harga relatif tinggi, dan hasilnya, membuat produksi minyak serpih (shale oil) relatif mahal di AS.

Pandemi pada skala Covid-19, dikombinasikan dengan perang harga minyak, akan menyebabkan masalah bagi perekonomian dunia kapan saja. Namun, alasan mengapa wabah ini berisiko menimbulkan gejolak dunia yang parah ialah proses jangka panjang jauh sebelum Covid-19.

Krisis besar yang terakhir kali terjadi, pada 2008-2009, timbul akibat tingkat keuntungan yang lemah dalam periode yang lama, dan karenanya tingkat investasi melamban, di seluruh sistem kapitalis. Secara bertahap, dari tahun 1980-an, sistem tersebut didorong oleh ekspansi kredit.

Hasilnya adalah serangkaian “gelembung” — berkali lipat dalam berbagai komoditas, perumahan, atau saham di perusahaan teknologi — yang ditopang oleh gelembung kredit raksasa.

Tahun 2008 adalah waktu dimana ekspansi tersebut mencapai batasnya. Krisis dimulai dari salah satu gelembung — pasar kredit perumahan subprima yang berisiko di AS, namun dengan cepat menyebar melalui sistem keuangan yang meluap, sebelum menyeret seluruh perekonomian ke dalam resesi.

Ketika krisis meletus, hal tersebut menciptakan kemungkinan adanya pembersihan perusahaan-perusahaan yang tidak menguntungkan, berpotensi membuka jalan untuk membangkitkan kembali tingkat keuntungan dan periode baru untuk berekspansi cepat. Namun sayangnya, hal ini tidak terjadi. Sebaliknya, bank-bank negara bagian dan bank sentral ikut campur.

Metode mereka adalah menciptakan paket stimulus, mengambil alih bank dan quantitative easing (salah satu kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral guna meningkatkan jumlah uang beredar), yang mana pada bank sentral membeli aset pada perusahaan finansial untuk meningkatkan likuiditas dan peringkat bunga yang sangat rendah.

Jika tindakan tersebut efektif menggali perekonomian keluar dari lubang, hal itu juga membuat masalah yang mendasari profitabilitas rendah tidak tersentuh. Itulah sebabnya tingkat investasi dan pertumbuhan produktivitas berada pada situasi yang sangat buruk selama beberapa dekade terakhir.

Selain itu, quantitative easing dan tingkat bunga nol atau negatif telah memperburuk ketidakstabilan finansial. Sebagian besar gelombang kredit dilepaskan masuk ke dalam resiko, aktivitas spekulatif yang mendorong pasar saham ke puncak yang membuat pening, hanya keterpurukan yang akan menimpa mereka ketika Covid-19 merebak.

Bagaimanapun, kredit murah juga digunakan untuk menjaga “perusahaan zombie” tetap hidup, yang mampu terus berdetak selama utang mereka terlayani, meskipun tak berbuat banyak di lain sisi. Analisa ini sudah umum di kalangan Marxis, namun baru sekarang diakui oleh tokoh-tokoh arus utama.

Perusahaan-perusahaan telah mengambil utang murah selama satu dekade,” kata Financial Times, menunjukkan bahwa produsen mobil seperti General Motors dan Ford, serta retail besar AS seperti Nordstrom dan Kohls, berada dalam risiko karena ketergantungan utang mereka.

Respons kelas berkuasa terhadap krisis, pada saat penulisan ini, telah membuat langkah yang sama di tahun 2008-2009. Termasuk diantaranya gelombang baru penurunan darurat tingkat suku bunga dan perluasan program quantitative easing.

The Federal US Reserve, bank sentral paling penting di AS, juga telah melakukan intervensi pada bidang-bidang utama ekonomi yang sebelumnya mengalami krisis. Termasuk pasar surat berharga dan pasar “repo” (instrumen pasar uang, perjanjian pembelian kembali yang berlaku sebagai pinjaman jangka pendek, yang didukung agunan berbunga), di mana perusahaan memperoleh pembiayaan jangka pendek dengan imbalan berupa jaminan seperti obligasi.

The Fed juga memperluas “swap line” (perjanjian antara bank sentral untuk menukar mata uang untuk menjaga stabilitas ekonomi) yang memperbolehkan bank sentral dari negara lain untuk mengakses dollar, sebuah pelumas penting dalam sistem ekonomi dunia, yang sekali lagi mengering dalam krisis utang tak lebih dari satu dekade lalu.

Namun, krisis juga telah mengekspos batas yang dapat dicapai oleh bank sentral. Suku bunga, misalnya, sudah pada tingkat yang luar biasa rendah. Quantitative easing telah dilakukan dalam skala besar dan kali ini sangat kecil kemungkinannya untuk meyakinkan investor .

Itulah sebabnya ada pergeseran untuk mengarahkan intervensi pemerintah dalam perekonomian. Diantaranya melibatkan pemberian atau penjaminan pinjaman atau pemberian kepada perusahaan, berupa nasionalisasi atau nasionalisasi parsial perusahaan, dan mengupayakan pembayaran satu kali ke rekening bank individu di AS. Langkah-langkah semacam itu menghasilkan seruan untuk melangkah lebih jauh, menjamin pendapatan, mengatur produksi barang dan jasa penting, dan sebagainya.

The more this develops, the clearer the arguments become for a planned economy, organised on the basis of production for need—an economy, in other words, run along socialist lines. Simply having the capitalist state running firms does not equate to this.

Semakin hal ini berkembang, tampak jelas argumen untuk ekonomi terencana, basis produksi yang terorganisir sesuai kebutuhan— perekonomian, dengan kata lain, berjalan di sepanjang jalan sosialis. Hanya dengan menjadi negara kapitalis yang menjalankan berbagai perusahaan pun tak akan mampu menyamainya.

Ekonomi sosialis yang sejati juga membutuhkan kontrol demokratis dari bawah. Meski demikian, suspensi dari apa yang dianggap sebagai ABC kapitalisme setidaknya memunculkan alternatif tersebut.

Krisis ini telah membangkitkan banyak solidaritas di antara orang-orang biasa yang dipaksa untuk menghadapi dampak ganda dari krisis ekonomi dan keadaan darurat kesehatan masyarakat.

Kaum kiri perlu menerjemahkan solidaritas ini menjadi seruan untuk memutus seluruh logika kapitalisme— sebuah logika yang berulang kali terlihat gagal.

*Artikel ini adalah terjemahan dari opini Joseph Choonara yang berjudul Coronavirus and Capitalist Crisis yang diterbitkan oleh Socialist Review. Artikel ini diterjemahkan oleh redaksi Coklektif untuk tujuan pendidikan. Jika Anda ingin memberikan masukan atau koreksi, silahkan hubungi lewat surat@coklektif.com.

 

Joseph Choonara
Joseph Choonara teaches International Political Economy at King's College London. He is the author of Unravelling Capitalism: A Guide to Marxist Political Economy, a columnist for the magazine Socialist Review and an editorial board member of International Socialism journal.

    Bagaimana Tirani Korporasi Bekerja

    Previous article

    Lagi, Nelayan Kodingareng Diteror oleh Polairud Polda Sulsel

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA