CERPEN

Sudah PHK Tertimpa Pra Kerja

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Sabtu siang, Nur menghela nafas panjang setelah melihat selipan uang diantara tumpukan bumbu dapur yang tinggal dua ratus ribu rupiah. Itu adalah uang simpanan Nur yang tidak diketahui sesiapa, bahkan suaminya. Ia sengaja menyimpan diam-diam untuk membeli cincin emas impiannya yang dilihatnya di Pasar Babelan, Bekasi.

Tak ada lagi uang di selipan kantung dan tabungan ayam. Nur adalah buruh di pabrik pembuat earphone satu merk terkenal. Ia baru saja digulung gelombang PHK akibat pandemi sialan itu dan memang sial, bosnya tidak memberikan seperak pun pesangon.

Ekonomi ke depan cukup muram bagi keluarganya. Dua anaknya harus bersekolah dan si bungsu, seperti anak pejabat, kerap menolak minum susu murahan. Lidahnya lain, tidak seperti dua kakaknya yang bisa minum air tajin ketika susah.

Suami Nur, Aslan, belum diterjang PHK. Ia bekerja di pabrik konveksi. Upahnya kecil, tidak cukup membiayai mereka berlima.  Di hari-hari ini Aslan terus bekerja lembur. Tidak seperti sebelumnya. Perusahaanya menerima banyak pesanan APD untuk tenaga medis dan satgas Covid-19 DPR. Yang kedua entah untuk apa, barangkali melindungi mereka dari virus kemiskinan rakyat

Bosnya senang-senang saja ketika menerima order yang banyak. Omset akan naik tapi target produksi jadi menggunung. Kalau sudah begitu, Aslan dan kawan-kawannya akan dipaksa bekerja seperti kuda. Tentu tanpa tambahan uang lembur.

Bojoku muleh sampe tengah malam e, uakeh pesanan ceritane” cerita Nur kepada tetangga sesama  perantauannya.

Woooo, ono tambahan duitnya a?” balas tetangganya.

“Ga ono i jare, muleh wes kesel de e, bengi minta dikeroki”

“Wooo gendeng, yo daripada ga iso mangan. Gpp wes. Awakmu kan iso gae kartu prakerja to, tiga setengah juta iku cukup sampe lebaran.

HAAA, opo iku?”

“Lah, ono di grup RT. Sing pengangguran atau koyok awakmu diphk dikasih pemerintah tiga setengah juta. Aku wes daftar.”

Nur setengah bergegas mengambil ponsel miliknya. Ia buru-buru menyalakan paket data. Maklum, harus berhemat. Dua anaknya harus mengikuti pembelajaran jarak jauh via whatsapp. Tapi syukur, mereka tidak seperti teman-teman sebaya tapi lain sekolah, yang harus memakai laptop dengan aplikasi zoom. Keluarga mereka tidak punya bawang mewah seperti itu.

Ponsel Nur diserbu puluhan pesan dari whatsapp group. Ia membukanya. Matanya berbinar memandang broadcast dan poster tentang kartu pra kerja. Ia pelan-pelan membacanya. Ketika sampai di kata terakhir isi broadcast, bukannya mengerti, Nur malah bingung.

Ternyata kartu pra kerja itu adalah bantuan biaya pelatihan, lalu ada tes-tesnya”, gumamnya.

“Bagaimana latihannya, aku kan ndak punya laptop. Terus kok pelatihannya menjadi youtuber, barista, dan berbicara di depan umum. Aku kan ndak bisa semua”, Nur bertanya kepada tetangganya.

Tanpa menunggu jawaban dari kawan bicaranya, ia memberondong pertanyaan.

“Kenapa harus menyiapkan pulpen dan kertas? Apakah ada hitung-hitungan. Aku kan juga ndak bisa menghitung.”

“Lah, lah, lah apalagi ini. Bantuannya diberikan secara non tunai satu juta tapi harus dipakai di mitra platform digital. Aku ndak ngerti pakai ovo, gopay dan link aja.”

Nur kebingungan. Tapi membayangkan dapat tambahan uang membuatnya tetap bersemangat.

Ha, aku tahu”, ucap Nur.

Dia ingat, suatu kali di swalayan Indocinta, dia tidak jadi membeli susu formula karena mahal dan mengganti dengan susu kental manis. Indocinta menyediakan metode pembayaran menggunakan link aja.

Nur kembali menatap ponsel. Ia membuka website Pra Kerja di browser dan mencari kata ‘daftar’ di sana. Dia mengawali dengan mengisi pernyataan bahwa dia pernah bekerja dalam kurun waktu tiga bulan lalu dan menjadi korban PHK. Lalu satu persatu kolom kosong dia isi sesuai informasi yang ada di kepalanya.

Masuk ke halaman selanjutnya, Nur diajak robot text untuk berada di tempat kondusif, lalu menyiapkan kertas dan alat tulis untuk corat-coret jawaban. Ada 18 (delapan belas) soal yang harus ia selesaikan dalam waktu 25 menit.

Beberapa soal adalah tes kemampuan dasar. Pada soal pertama, ia diminta untuk membandingkan harga gula pasir dari bulan Juli sampai Oktober. Apakah harga gula itu naik atau turun.

Soal kedua:

1+6 =

Nur menjawab C, 7.

Lanjut ke soal ketiga:

Seberapa setuju/tidak setujukah Anda dengan pernyataan berikut. Saya merasa minder/rendah diri pada saat orang lain bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dari saya.

  1. Tidak setuju
  2. Netral
  3. Setuju
  4. Sangat tidak setuju
  5. Sangat setuju

Butuh tiga kali Nur membaca soal untuk mengerti maksudnya. Ia jadi tenggelam dalam pertanyaan itu, memikirkan bagaimana perasaannya ketika ada yang lebih baik darinya dalam hal pekerjaan, kecantikan, dan merawat keluarga.

Pikiran Nur lari kemana-mana. Tiba-tiba terdengar tiga anaknya menangis susul menyusul.

Ia kaget dan segera lari mencari sumber suara. Dua anaknya berkelahi dan membangunkan si bungsu. Sontak ibu tiga anak itu sontak marah dan mengomel. Si bungsu dia gendong. Pertanyaan setuju dan tidak setuju mendadak dilupakan.

Nur mengipasi anaknya dalam gendongan sarung yang lusuh. Anaknya kehausan. Kakinya melangkah ke dapur. Dia mengukur susu formula yang isinya sisa empat kali minum.

“Aaah, semoga pembagian sembangko dari Gubernur segera datang dan ada uangnya. Sudah ndak bisa lagi utang ke warung depan karena belum bayar”, Nur berharap.

Ia mengisi air panas ke dot yang sudah diisi dua sendok bubuk susu.

“Ya Allah soal kartu pra kerjaku”. Nur terperanjat, air panas tumpah ke tangan anak yang masih berumur 1 tahun itu.

“Ya Allah nak.”

Si bungsu menangis dan berteriak kencang sekali. Kulitnya merah dan sedikit melepuh. Anak itu segera dia rebahkan di kamar dan diberi olesan pasta gigi.

Nur kembali mengintip ponsel. Ia menekan huruf A untuk soal nomor tiga yang belum dijawab. Soal berikutnya adalah soal aritmatika. Nur kesulitan menjawabnya. Si bungsu tidak berhenti menangis. Suasana sudah tidak lagi kondusif. Dia menjawab semua soal dengan pilihan a.

“Ya Allah”. Nur menangis. Kedua anaknya mendekat dan memandang keheranan. Ia membayangkan muka suaminya yang akan bereaksi ketika mendengar tangan si bungsu kena air panas.

Nur tidak punya pilihan untuk pergi beroba ke puskesmas. Sejak iuran BPJS naik satu keluarganya tidak pernah lagi membayar iuran. Sementara perusahaan keduanya tidak mendaftarkan mereka menjadi peserta BPJS.

Empat hari kemudian. Rabu pagi, setelah beres sarapan gorengan, Nur membuka ponsel dan menghidupkan paket data. Seperti biasa, ponselnya diserbu rangkaian pesan di grup whatsapp. Ada pembicaraan riuh soal materi pelatihan pra kerja membuat kroket ayam keju. Harga untuk mengakses materi ini empat ratus ribu.

Selama ini jika para ibu-ibu RT ingin membuat kroket, mereka tidak pernah membaca resep. Mereka belajar dari mulut ke mulut atau mencari panduan cuma-cuma di internet.

Nur jeda dari pembicaraan itu dan segera membuka situs prakerja.go.id untuk melihat pengumuman hasil. Tombol keypad ia tekan pelan, seperti sedang memilin benang. Jarinya masih sakit sehabis dipukul suaminya. Suaminya naik pitam ketika tahu tangan si bungsu melepuh tapi tidak bisa dibawa ke dokter.

www.prakerja.go.id

nurhasanah110985@gmail.com

********

MOHON MAAF ANDA BELUM BERHASIL. SILAHKAN DAFTAR DI GELOMBANG KEDUA.

Nur menghela nafas, ia beranjak mengambil simpanan uang di bawah tumpukan bumbu daput untuk membeli susu dan sayur.

mm
Warga negara Bikini Bottom yang sering menjadi korban karena pemimpinnya hobi bercanda

    Berulang Tahun di Tengah Pandemi Covid-19

    Previous article

    Bergerak Bersama Dapur Solidaritas Jombang, Merawat Kemanusiaan dan Pangan Berkelanjutan

    Next article

    You may also like

    More in CERPEN