ngendas

Seperangkat Propaganda Perlawanan “Obey”

0

Source: wallpaperflare.com

Kira-kira pertengahan Maret 2004, gardu divider sebuah jalan yang membelah UGM, tepatnya kawasan Lembah, sebelah timur Fakultas Filsafat dan Hukum, yang banyak dilanggar pengendara bermesin itu telah ditempeli beberapa poster hingga memenuhi hampir seluruh permukaannya.

Poster berwarna hitam, putih dan merah, bergambar stensil raut muka bertulis ‘OBEY’ di bawahnya. Katalog memori saya langsung tertuju pada sebuah gerakan yang dipelopori oleh seorang desainer grafis lulusan Rhode Island School of Design, Shepard Fairey.

Pemandangan yang membuat saya terhenyak sesaat, memaksa saya untuk berpikir, ada apa, bagaimana, mengapa, BHMN-kah? Hingga beberapa saat saya dikejutkan oleh umpatan santun dan klakson mobil.

Gerakan yang diawali secara kebetulan oleh Shepard Fairey ini menjadi fenomena baru dalam dunia desain. Berbagai kontroversi muncul atas fenomena seni ‘avant garde’ atau beberapa menyebutnya sebagai seni ‘kekonyolan’.

Bagi penganjur Marxisme, mungkin aktivitas tersebut adalah sesuatu yang haram, mengingat segala sesuatu yang dihasilkan oleh gerakan ini sama sekali tidak membawa pesan (setidaknya secara implisit).

Apalagi yang mengarah pada seni bertendensi untuk pembebasan kelas. Namun terlepas dari itu, setiap hasil karya dari gerakan ini seperti mempunyai daya tarik tersendiri. Seolah-olah setiap gambar yang terpampang adalah hal yang sangat penting.

Salah satu ciri pada kebanyakan karya seni post-modern terdapat pada awal gerakan ini. Obyek yang dipakai pada mulanya adalah hasil ‘temuan’ Shepard di sebuah surat kabar yang memuat iklan dengan gambar seorang pegulat profesional dengan tinggi 7 kaki 4 inci, berat 520 lb, Andre “the Giant”.

Struktur wajah dan tatapan mata Andre diyakini Shepard memiliki kekuatan sebagai obyek yang sempurna dan tak ada matinya untuk dipakai sebagai dasar karya grafis.

Dari situ ia dan seorang temannya mulai bereksperimen dengan membuat stensilan dan stiker bergambar “Andre the Giant has a posse” yang ditempel di berbagai tempat strategis dan menarik perhatian.

Di luar dugaan, ternyata banyak orang mulai kasak-kusuk penasaran dan bertanya-tanya, baik yang sudah melihat karya Shepard maupun yang belum. Banyak stiker yang hilang dari tempat asalnya dan berpindah ke topi, mobil dan papan skate.

Mulai saat itu (1989), Shepard mulai menyadari sebuah peluang untuk merubah opini sosial tentang obyek visual. Selanjutnya ia mengajak beberapa temannya untuk memproduksi stiker dan poster lebih banyak dengan berbagai macam variasi, juga kaos untuk dijual. Keuntungan dari penjualan digunakan untuk membuat lebih banyak lagi stiker, stensil dan poster.

Fenomena ‘Andre the Giant’ memunculkan berbagai kontroversi: “poster dan iklan tersebut apakah iklan, kampanye atau propaganda?”

Sebagian besar masyarakat menangkapnya sebagai hal yang biasa dalam dunia publikasi below the line, di mana setiap hal yang ditujukan untuk dilihat dan dinikmati publik selalu mewakili suatu hal atau bertendensi pada kepentingan seseorang atau lembaga tertentu.

Padahal dalam kampanye ini, sesuatu yang dikampanyekan tidak jelas. Banyak yang beranggapan hal itu adalah kampanye politik, grup band, iklan papan skate, atau bahkan sekte aliran baru.

Namun bagi Shepard, ini adalah keberhasilannya memberikan ‘shock therapy’ terhadap opini masyarakat mayoritas yang selama ini berlaku konvensional. Ia melakukannya hanya karena iseng tanpa ada maksud atau pesan tertentu untuk disampaikan secara verbal.

Ia tidak dipusingkan oleh muatan ‘apa yang harus’ atau ‘ingin disampaikan’ lewat manifestasi karyanya tersebut. Justru hal inilah yang menarik, ketika makna selalu ditampilkan dengan cara verbal yang memanjakan sekaligus mengkotakkan pikiran setiap orang.

Shepard justru melakukan sebaliknya. Makna dari suatu hal dapat kita dapatkan dari reaksi kita terhadap hal tersebut. Dari setiap stiker ataupun poster yang tanpa muatan apapun –dapat mempunyai berbagai arti; tergantung dari tempat di mana kita berada ketika kita melihatnya.

Sebenarnya kampanye yang dilakukan oleh Shepard Fairey merupakan eksperimen fenomenologis, oleh Heidegger disebut sebagai ‘the process of letting things manifest themselves’, terhadap reaksi sosial atas apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sebab tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk membangkitkan rasa ingin tahu atau kepedulian terhadap lingkungan tertentu.

Keabsenan makna atau pesan dalam gambar (stiker, stensil dan poster) menjadi semacam pukulan terhadap kultur pasif-konsumtif masyarakat yang selalu mengharapkan sesuatu yang verbal dari setiap hal.

Kita bebas untuk melakukan apa saja terhadapnya, selama apresiasi bisa memicu kepedulian apa yang terjadi di sekeliling kita dan memunculkan dialog-dialog aktif tentangnya.

Kini wajah ‘Andre the Giant’ bukan lagi tanpa nama, namun sudah menjadi ikon propagandis yang fleksibel di beberapa subculture dunia.

Dengan tambahan embel-embel ‘OBEY’ yang dicuri dari federasi gulat hiburan, WWF, kampanye Shepard secara psikologis memiliki dua arah yang saling berlawanan.

Bagi seorang yang konservatif atau bangsa Orba jika di Indonesia, sebuah gambar Stalin atau tokoh perubahan lain dalam dunia politik, disertai kata ‘obey’ merupakan kampanye politik yang kental, apalagi ditambah dengan pilihan warna merah, hitam dan putih yang kontras –sangat identik dengan gaya komunis. Padahal pilihan warna hanya didasarkan pada masalah teknis dan entitas visual belaka.

Kampanye yang lebih bersifat parodi ini merefleksikan kebalikan apa yang disampaikan atau biasa disebut reverse-psychology. ’Obey’ bisa berarti ‘obey’ (patuh), juga bisa berarti ‘disobey’ (tidak patuh).

Kedua hal yang saling bertentangan ini biasanya mewakili dua golongan sosial yang saling beroposisi dalam berbagai hal. Bagi mereka yang mengartikan sebagai ‘obey,’ biasanya mereka memahami kemiripan nuansanya dengan media propaganda komunis dan NAZI pada zaman di mana mereka pernah mengalaminya, dan rata-rata mereka membencinya karena dianggap negatif atau radikal.

Sebaliknya, mereka yang menyukai kampanye tersebut, disebabkan oleh: (1) Mereka tahu kalau golongan yang mereka tidak suka (golongan atas) membenci kampanye tersebut; (2) Karena pengetahuan mereka yang kurang tentang sejarah sumber inspirasi Shepard, sehingga mereka mengira kampanye tersebut adalah kampanye tentang grup band punk, merek papan skate, atau bentuk graffiti baru; (3) Karena masifnya gerakan ini, sehingga membuat mereka yang tertarik ingin ikut menjadi bagian di dalamnya, sekalipun mereka tidak tahu apa sebenarnya gerakan ini.

Gambar-gambar yang biasa dipakai Shepard meliputi elemen propaganda sejarah, ikon pop culture, parodi kekuasaan, dan ‘black power’ –sebagai simbol untuk mendekonstruksi kekuatan visual yang dipadukan dengan kata-kata provokatif yang secara emosional berpotensi untuk mendoktrin atau bahkan menipu.

Dikarenakan elemen-elemen yang dipakai Shepard ini, tidak sedikit golongan orang-orang reaksioner yang mulai merusak atau merobek, menambahi dengan kata-kata makian, sampai melaporkan kepada pihak berwajib karena merasa terganggu dengan keberadaan poster-poster dan stiker-stiker itu. Akibat ulah para pelapor yang paranoid tersebut, Shepard pun sempat menginap dalam bui beberapa kali.

Reaksi pro dan kontra ini sangat tinggi intensitasnya, mengingat media yang dipakai sebagai perantara antara Shepard dan publik adalah ‘jalanan’ –yang mana adalah fasilitas publik itu sendiri. Di jalanan, siapa saja dan dari golongan apa saja bisa langsung mengapresiasi seni grafis propaganda Shepard, tanpa dipungut biaya.

Shepard memilih ‘jalanan’ sebagai lautan galeri untuk memamerkan karyanya, karena rumah seni atau galeri seni hanyalah sebuah kolam atau danau semata, bukan ‘lautan’ bagi artis yang banyak terinsipasi oleh Andy Warhol, Dave Arron, Arron Rose, Phil Frost, Mike Mills, Twist, Misha Hollenbach, Adam Wallcavage dan Ken Sigafoos ini.

Ditambah peran internet yang brutal, ‘jalanan’ Shepard kini telah mendunia. Ia sendiri sudah tidak tahu pasti seberapa banyak karyanya diakses dan disebarluaskan oleh publik, hingga muncul banyak Shepard-shepard baru dengan berbagai macam variasi gerakan-gerakan. Di lain pihak, keabsenan makna dari poster dan stiker tersebut justru malah merefleksikan pribadi, dan sensitivitas individu yang bersangkutan terhadap lingkungan di sekelilingnya.

Kembali ke fenomena ‘OBEY’ di Jogjakarta (yang tampaknya 5 tahun lalu merambah ke lingkup kecil kota Surabaya), mengapa divider jalan, mengapa pintu rel kereta api, atau entah tempat-tempat publik lain juga dibombardir gambar-gambar ‘OBEY’?

Mungkin Shepard-shepard lokal yang melakukan kampanye tersebut, atau mungkin borjuis-borjuis kecil perkotaan ingin sejenak melupakan kelas sosialnya.

Hudan. A
Pejalan di jalanan

    Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual: Tegakkan Hukum untuk Korban

    Previous article

    Bukan Sekedar New Normal

    Next article

    You may also like

    More in ngendas