MISUH

Senja dan Melon Sirna di Pesisir Urutsewu

0

bumisetrojenar.blogspot.com

Urutsewu kembali bergolak, setelah sekian lama redup, kini baju-baju berseragam loreng hijau itu telah kembali dan tampak lebih percaya diri. Sebelumnya pasca perang, ya di sini pria berbaju loreng bukan melawan sesama baju loreng, tetapi melawan orang-orang berkopyah dan biasanya membawa sabit, pacul dan pupuk.

Awalnya tanah pesisir ini diklaim oleh militer kolonial Belanda pada 1937, sampai pada akhirnya 1942-1945 dijadikan lahan menempa otot-otot dan kemampuan tembak-menembak dari militer fasis Jepang.

Selepas merdeka tanah pesisir di wilayah Urutsewu (Kali Lukulo di desa Ayamputih Kecamatan Buluspesantren di sebelah barat dan Kali Mawar di Desa Wiromartan, Kecamatan Mirit) itu kembali ke rakyat, digunakanlah untuk hidup, salah satunya bertani.

Setelah sekian lama kembali ke tanahnya, pasca diobrak-abrik kolonial Belanda dan Fasis Jepang, selepas geger 65, rakyat yang tinggal di sepanjang pesisir Selatan Kebumen kembali was-was. Pasalnya bermula dari peminjaman tanah pada 1982 oleh TNI AD kepada pihak desa, tanah yang dipinjam itu merupakan hak milik atas nama Mihad warga Setrojenar yang disahkan tertanggal 1969.

Tak berselang lama, mereka para serdadu gagah tak lagi izin ketika ingin latihan di sana. Tinggal pakai lalu pergi, layaknya angin. Rakyat di sekitarnya? hanya termenung sembari gregetan melihatnya.

Saat Indonesia sedang diserbu gelombang besar massa pro demokrasi di tahun 1998, euforia tersebut tak sampai di Urutsewu. TNI AD secara sepihak melakukan pengukuran atas tanah yang biasa dipakai itu, seolah-olah itu resmi karena ada kepala desa yang entah takut atau memang cari aman, tiba-tiba menandatangani pengukuran tersebut. Klaim berlanjut, dari sedikit menjadi bukit eh lapangan.

Tercatat ada 1.150 hektar lahan yang tersebar di 3 kecamatan yang di dalamnya ada 15 desa. Sebelumnya ada beberapa pertemuan, di tahun 2007 terjadi pertemuan antara beberapa pihak, baik TNI AD, Desa, Kecamatan, BPN, DPRD dan Pemkab Kebumen. Hasil pertemuan itu menyebutkan tidak ada tanah atas nama TNI AD, karena saat itu BPN dan Pemkab Kebumen tidak pernah menerima pengajuan.

Sakti bin ajaib, tahun 2020 BPN dan Pemkab Kebumen tiba-tiba mengeluarkan sertifikasi tanah atas nama TNI AD, padahal dikiranya buat petani atau penegasan kuasa petani. Karena Pemkab telah dikunjungi petani berkali-kali. Laksana berharap pada angin, di mana arahnya tak menentu, sulit ditebak dan akhirnya menghujam petani juga.

Rabu ,11 September 2019, tepat pukul 08.00 telah terjadi bentrok antara warga Urutsewu dengan TNI AD.

Jangan kira petani diam saja, beberapa kali juga sempat berolahraga gulat bareng TNI AD. Meskipun tidak fair kadang-kadang, karena satunya pakai fasilitas tempur, satunya pakai keyakinan ilahiah bahwa melindungi tanah merupakan keharusan untuk kehidupan dan iman terkait melindungi tanah air untuk generasi yang akan datang.

Toh, di sana akan dijadikan tempat latihan tempur, demi NKRI loh agar tak diserang asing, begitu kata netizen yang wajahnya menyerupai Bu Tedjo nyebelin. Tapi catatan kami ternyata juga tidak mutlak untuk latihan tempur.

Ada rempeyek di balik besek, pada tahun 2011 di desa Wiromartan tanah seluas 591,07 ha, termasuk ada 317,48 ha tanah klaim-klaiman TNI AD, pernah dilakukan penambangan pasir atau sejenis galian C oleh PT bernama MNC atau Mitra Niagatama Cemerlang, you know lah selain pasir juga bonus pasir besi.

Karena wilayah Pesisir Selatan Jawa ini diproyeksi ada pasir besinya, coba kulik ESDM Jawa Tengah tentang RTRW Provinsi soal kawasan pertambangan di Pesisir Selatan Jawa. Mereka menyebutnya sebagai Kawasan Serayu untuk blok Pesisir Selatan Jawa.

Tidak hanya itu saja Pemkab Kebumen juga serupa, setali tiga kampret. Selain itu wilayah itu ditetapkan juga sebagai wilayah HANKAM atau Pertanahan dan Keamanan. Tumpang tindih sekali, sekali menindih nyawa dan kehidupan petani di wilayah Urutsewu tergencet.

Pemkab, Pemprov, TNI AD, BPN dan Pemerintah Pusat, kayaknya ahistoris. Kawasan buat orang hidup malah dihabisi, ketika orang-orangnya pergi ke sana dan ke mari juga dihabisi. Di kota dikejar Satpol PP, di desa dikejar TNI AD. Mbok ya mikir, dari dahulu itu digunakan untuk hidup, mbok dirawat dan dilindungi. Ini malah digunakan untuk hal-hal yang nirfaedah.

Latihan itu penting untuk keamanan negara bukan keaman pejabat dan pemilik bisnis. Tapi buat apa juga latihan kalau toh tidak ada perang, apa itu latihan buat perang melawan rakyat sendiri. Ya cukup susah, ampun banget yang terhormat netizen, pasti dianggap tidak nasionalis.

Dokumentasi warga, tanaman melon rusak

Tapi realistis aja, kalian milih makan melon apa peluru? milih melihat orang-orang bahagia nyenja di pantai sembari menunggu panen atau perang-perangan yang menghabiskan anggaran?

Melon-melon tergeletak ngenes, harusnya menunggu panen, agar bisa dinikmati baik dimakan langsung, jus atau salad, baru lebihnya dijual buat makan, sekolah dan bayar pajak.

Petaninya gigit jari, Bupatinya dan Gubernurnya kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Pemerintah Pusatnya gemetar tak berdaya. Gitu kok bilang membela wong cilik, memajukan marhaen, memajukan petani. Hilih!!!!!

Tidak ada lagi senja dan segarnya melon, adanya muram nestapa dan rintihan tangis dari petani yang kebanyakan diprank pemerintahnya sendiri. Senja bukan lagi simbol tenang, tapi kini berubah menjadi pahitnya sebuah kenangan.

Kau Pertahankan Lahanmu, Maka Ku Hajar Engkau

Previous article

Lelucon dan Kebejatan Di Tengah Pandemi Corona

Next article

You may also like

More in MISUH