RENUNGAN

Sebuah Refleksi: Cerita Perjalanan Mengorganisir Komunitas (Seri Pertama)

0

Source: Needpix.com

Pengorganisir Pemula Melalui Waktu Pendekatan yang Mendebarkan

“Mengorganisir” sebuah kata kerja yang memiliki makna begitu mendalam terutama secara moral. Mengorganisir merupakan aktivitas yang tidak bisa sembarangan dikerjakan karena terdapat tanggung jawab besar di dalamnya, sebab yang kita organisir adalah manusia dengan segala keberagamannya. Keberagaman yang dimiliki masing – masing orang dalam komunitas ini lah yang harus sebisa mungkin dipadu padankan agar dapat mencapai tujuan yang secara bersama telah dirumuskan dan disepakati pada awal proses pengorganisiran.

Seseorang yang mengorganisir atau dikenal dengan sebutan “Pengorganisir” haruslah orang yang handal baik secara pengetahuan maupun praksis, agar dengan modal tersebut ia dapat mendorong terbentuknya komunitas yang berdaya sehingga mampu menjalankan keberfungsian sosialnya sendiri dan dapat mencapai tujuan bersama tersebut, mengutip jargon yang sering diucapkan teman – teman pekerja sosial yaitu “To help people to help themselves.”

Begitulah idealnya seorang pengorganisir bekerja. Setidaknya bagi saya menjadi pengorganisir itu adalah sebuah proses learning by doing dan ia lahir dari proses panjang. Sehingga melalui Esai panjang ini, saya akan membagikan cerita sekaligus mengkritisi pola-pola pengoraganisiran rakyat dan pelaku pengorganisir termasuk diri sendiri sebagai seseorang yang pernah menjadi Community Organizing (CO .

Pengalaman saya dalam mengorganisir rakyat mungkin belum terlalu subtil untuk dibagikan, apalagi untuk dipelajari, sebab tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman saya selama menjadi CO dilembaga yang dulu menjadi titik awal saya melakukan proses pengorganisiran tersebut.

Tahun pertama

Sedikit pengalaman semasa kuliah menjadi modal bagi saya pada tahun 2017 memulai untuk bekerja secara intens bersama kelompok petani di kampung – kampung yang dihadapkan dengan setumpuk persoalan “land grabbing” baik yang dimotori oleh perusahaan industri ekstraktif maupun oleh pemerintah.

Saat itu, tugas pertama saya sebagai pengorganisir adalah menemani kelompok petani di kecamatan A yang ada di kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu untuk menagih penjelasan terkait pungutan liar yang dilakukan oleh petugas perusahaan perkebunan sawit A di kampung mereka.

Sebagai informasi, konflik terbuka antara kelompok petani A dengan perusahaan perkebunan sawit A bermula pada tahun 2011. Saat itu beberapa orang yang diketahui adalah staf perusahaan A melakukan pengrusakan tanaman di kebun beberapa orang petani dengan menggunakan buldozzer tanpa sepengetahuan para pemilik.

Saksi yang melihat kejadian tersebut segera memberitahukan beberapa petani pemilik kebun. Bapak A, salah satu pemilik kebun yang dirangsek tersebut naik pitam dan menemui staf perusahaan A tersebut. Namun pihak perusahaan bersikeras bahwa kebun beberapa petani yang sudah dibabat habis tersebut telah menjadi milik perusahaan A berdasarkan keputusan lelang yang mereka menangkan di pengadilan. Tak terima dengan hal tersebut, para petani ini melaporkan kepada polisi bahkan diberitakan di media massa lokal.

Bupati pun turut berstatement bahwa pengrusakan kebun dan kegiatan perusahaan A adalah ilegal karena belum ada proses administrasi yang legal. Surat menang lelang pun tidak cukup untuk membenarkan kegiatan perusahaan A tersebut.

Akan tetapi di tahun yang sama, hanya berjarak beberapa bulan setelah pengrusakan kebun tersebut, perusahaan perkebunan A telah beroperasi. Bupati setempat yang awalnya mengatakan kegiatan perusahaan perkebunan A illegal memfasilitasi perizinan. Pun kepala desa di kecamatan A berpihak kepada perusahaan perkebunan A tersebut.

Penolakan pun semakin masif dilakukan oleh petani yang kebunnya satu persatu dicaplok perusahaan perkebunan A. Selama 2 tahun berjalan, tahun 2014 para petani dikejutkan dengan keluarnya HGU (Hak Guna Usaha) perusahaan perkebunan A. Ini semakin memperkuat alasan perusahaan tersebut untuk merampas kebun para petani.

Kemarahan para petani ini membludak, mereka terus mendatangi kantor perusahaan perkebunan A menuntut penjelasan dan pertanggung jawaban mereka. Bukannya itikad baik dari perusahaan yang didapatkan oleh para petani tersebut, mereka justru dikriminalisasi dengan berbagai cara oleh pihak pengelola perusahaan A untuk merampas lahan perkebunan petani termasuk menciptakan gesekan – gesekan yang membuat petani menyerahkan secara suka rela lahan mereka.

Singkatnya, konflik ini terjadi karena tumpang tindih status kepemilikan lahan. Di atas lahan yang sama, yang telah dikelola oleh para petani sejak masa pra kemerdekaan, pemerintah justru memberikan karpet merah perampasan kebun oleh perusahaan perkebunan A melalui Hak Guna Usaha.

Beralih dari runutan sejarah konflik tersebut, saya akan menceritakan apa yang saya alami saat memulai tahun pertama aktivitas pengorganisasian.

Pertemuan ini pertama kali bagi saya. Saya langsung diceburkan seorang diri dalam barisan petani dengan raut wajah sinis nan penuh amarah sedang memblokade sepanjang jalan menuju kebun petani dan perusahaan perkebunan A yang lahannya tumpang tindih tersebut,” gerutu saya dalam hati. Mereka tampak terorganisir dengan baik.

Para perempuan bertugas memasak di dapur umum dekat pintu masuk jalan menuju perusahaan. Mereka menyediakan logistik seperti makanan dan air minum untuk peserta aksi agar tetap bertahan pada posisinya. Para laki – laki membagi peran, sebagian besar menjadi peserta aksi untuk mempertahankan barisan mereka agar tak satu pun baik kendaraan maupun pekerja milik perusahaan yang bisa keluar masuk.

Meski kedua satpam perusahaan sempat menemui para kordinator petani di lokasi aksi, mereka tetap tidak gusar. Bahkan kelompok petani menantang manajer perusahaan untuk menemui mereka menjelaskan perihal pungutan liar terhadap kendaraan yang mengangkut hasil panen para petani. Karena tak kunjung ada kepastian, beberapa orang seperti kordinator kelompok dan supir truk pengangkut panen petani yang berperan sebagai pelapor pergi ke kantor polisi melaporkan pungutan liar tersebut.

Melihat itu semua mendadak rasa percaya diri, keberanian, dan semangat yang telah saya siapkan jauh – jauh hari runtuh seketika. Padahal aksi – aksi seperti ini sangat familiar bagi saya karena semasa mahasiswa saya rajin terlibat aksi demonstrasi, ya minimal 3 kali dalam 1 tahun.

Namun kali ini sungguh berbeda. Membuat saya bersepakat dengan ungkapan berulang teman – teman saya di universitas “Apa yang kamu pelajari dalam kelas di universitas tidaklah sama seperti kenyataan di luar sana.” Akhirnya selama aksi berlangsung, saya hanya menjadi pengamat dan sesekali “terlihat sibuk” padahal hanya berkeliling menguping percakapan di antara sesama petani.

Huh, andai salah satu tokoh petani dan saya tidak mengenalkan diri kepada mereka, mungkin saya akan dituding sebagai penyusup. Syukurlah pikiran itu terbantahkan. Saya diramahi, diajak berbicara, dan dikenalkan secara berantai dari mulut ke mulut. Meski masih canggung tapi lama kelamaan saya akrab dengan mereka terutama para perempuannya. Apalagi setelah saya mulai menjalankan tugas inti saya yakni memfasilitasi agenda penguatan kapasitas para perempuan dalam kelompok petani tersebut.

Saya dikhususkan di lembaga kami untuk menemani para perempuan di kelompok petani. Sekitar 1 bulan setelah aksi pemblokade-an jalan perusahaan perkebunan A yang dilakukan oleh kelompok petani A tersebut, saya dan para anggota perempuannya bersepakat untuk mengadakan pertemuan.

Di rumah bapak A, salah satu koordinator kelompok, kami berbincang – bincang. Di sini kami membahas situasi yang dialami kelompok petani sebelum dan selama konflik berlangsung. Dampak yang terasa dan muncul di permukaan yakni hubungan sesama anggota masyarakat di Kecamatan A dan pendapatan kelompok petani. Ini menjadi dasar bagi kami untuk menyusun agenda bersama perempuan kelompok petani A dalam beberapa bulan kemudian.

Pelatihan kepemimpinan perempuan dan ekonomi keluarga menjadi agenda pertama yang kami jalankan. Lembaga kami bekerja sama dengan salah satu lembaga di Jakarta memfasilitasi pelatihan ini. Para perempuan kelompok petani A sangat bergembira mengikuti proses belajar bersama ini. Di pelatihan ini mereka berbagi pengalaman sehari – hari sebagai seorang petani, ibu, dan istri. Lalu mengungkapkan definisi sejahtera sesuai pendapat masing – masing.

Sejahtera bagi mereka adalah ketika dapat berkebun dengan aman dan nyaman tanpa gangguan dari pihak manapun dan tanah tersebut tetap bisa dikelola serta diwariskan hingga generasi berikutnya, maka negara harus menjamin hal tersebut. Selain itu, sejahtera bagi para perempuan ini ketika dapat melihat anak – anak mereka bersekolah tinggi dan menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan bangsa ini. Saya terharu, sejahtera bagi mereka sungguh sesederhana itu tapi dipersulit oleh pemerintah yang tidak berpihak pada mereka.

Kemudian mereka diajak menghitung bersama pendapatan dan pengeluaran sehari – hari, sebelum adanya konflik hingga konflik berlangsung. Ini untuk melihat adakah perubahan signifikan dan kemampuan ekonomi keluarga mereka.

Mereka juga diajak mempraktikkan bagaimana caranya menyampaikan pendapat di muka umum, memimpin rapat, dan berorasi. Meski malu – malu dan sempat berulang ketika simulasi, mereka tetap semangat belajar. Suasana pelatihan juga diramaikan dengan anak – anak mereka, sebab para perempuan ini sembari mengasuh anak tetap mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

Pada bulan berikutnya agenda yang kami jalankan adalah membuat pupuk organik dan pakan ternak. Keinginan menutrisi tanah yang kurang produktif karena terus menerus diberi berbagai bahan kimia serta tingginya biaya perawatan ternak menjadi motivasi diadakan pelatihan ini.

Lembaga kami bekerja sama dengan Dosen di Universitas A, Kota Bengkulu memfasilitasi keinginan belajar para petani ini. Para petani ini bergotong royong mengumpulkan bahan – bahan pembuatan pupuk organik dan menyiapkan peralatan pembuatan pakan ternak.

Pelatihan terakhir yakni merancang usaha alternatif untuk menambah pendapatan. Masih bekerja sama dengan Dosen di Universitas A, Kota Bengkulu, para perempuan tani diajak membuat makanan dan minuman berbahan dasar jahe, membuat demplot sayur dan membuat kolam ikan kelompok.

Pemilihan jenis usaha ini sesuai kesepakatan anggota kelompok tani di pertemuan awal. Tidak tanggung – tanggung, dari pelatihan – pelatihan ini munculah inisiatif untuk membuat unit usaha, mereka menamainya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Perempuan Kelompok Tani A, Kecamatan A, Kabupaten Seluma. Beberapa hari setelah pelatihan, mereka menyusun struktur kelompok, menyepakati aturan berkelompok, serta berbagi peran.

Buah dari pelatihan – pelatihan tersebut, beberapa perempuan berani bersuara, menyampaikan keluh kesahnya dan keinginannya dengan gagah berani yang terbukti saat kami melakukan jajak pendapat dengan para pihak yang terlibat dan memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik antara kelompok petani dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, dimulai dari audiensi bersama pemerintah kabupaten, provinsi hingga menggalang dukungan dari pemerintah pusat.

Unit usaha mereka juga berjalan dengan intens. Mereka bahkan mendapatkan dukungan dari beberapa Dosen dari Universitas A, beberapa petugas Dinas Kesehatan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Seluma berupa alat produksi, pelatihan peningkatan kualitas produk hingga memfasilitasi proses pengurusan izin produk industri rumah tangga. Sampai disini dulu ya pengalaman pengorganisiran di Kecamatan A.

Tulisan ini pernah dipublish oleh: Akar.or.id

Meike Inda Erlina
Pegiat Akar Foundation Bengkulu

    Media Sosial: Sisi Gelap Moda Komunikasi Masa Depan

    Previous article

    Revolusi Amerika yang Belum Selesai

    Next article

    You may also like

    More in RENUNGAN