ANALISA

Revolusi Amerika yang Belum Selesai

0
Akankah kita memajukan revolusi kita yang belum selesai atau akankah aksi spontan kita berakhir dengan menyepakati reformasi kecil dan kembali ke status quo?

 

sumber: Ella/cc/flickr

Dibutuhkan beberapa menit saja bagi elit penguasa untuk membalik seruan massa untuk mengakhiri kekerasan negara terhadap orang kulit hitam dengan citra (potret) kriminalitas demonstran kulit hitam dan seruan untuk mengakhiri penjarahan. Betapa cepat pemerintah menginginkan kita untuk kembali ke status quo di mana elit penguasa menjarah pekerja miskin setiap hari dalam hidup kita. Penjarahan kerja terhadap pekerja kulit hitam lebih dari 200 tahun perbudakan di negara kita. Penjarahan kerja terhadap pekerja kulit hitam selama 100 tahun masa tahanan-sewa dan kerja paksa dengan penyewa kontrak di bawah Black Codes. Merampok orang-orang yang bekerja, dan selalu orang-orang hitam dan coklat yang paling terpukul di antara mereka, sekolah mereka, rumah dan komunitas mereka, pekerjaan mereka, kesehatan mereka, hak-hak mereka, dan kehidupan mereka. Bahkan selama tiga bulan pandemi ini, sejumlah miliarder telah menjarah $434 miliar dari punggung para pekerja sementara orang-orang terus mengalami penderitaan.

Jika kita telah belajar dari warisan Black Codes, yang diciptakan oleh mantan pemilik budak setelah Perang Saudara Amerika (Civil War) untuk memperbudak kembali orang-orang kulit hitam – yang telah dibebaskan — ke dalam sistem kerja paksa, ketidaksetaraan abadi, dan kewarganegaraan kelas dua, maka kita tahu bahwa semua penjarahan oleh elit penguasa ini tidak dapat terjadi tanpa sistem kriminalisasi dan kekerasan negara yang ‘dilegalkan’.

Dalam Policing the Crisis, Stuart Hall menelisik hukum dan ketertiban kebijakan yang mencerminkan kampanye rekayasa Reagan terhadap narkoba dan perampokan di komunitas kulit hitam. Hall berpendapat bahwa di setiap titik balik atau krisis ketika orang-orang turun jalan bersama untuk menantang legitimasi pemerintah, ketika kita membuka kedok ilusi “demokrasi sipil” kita, maka elit penguasa akan melakukan dua hal penting untuk mempertahankan kekuasaan mereka agar dapat terus menjarah kelas pekerja: a) Mereka merancang ulang dan mengganti nama undang-undang yang mengkriminalisasi kelas pekerja, yang secara hukum menjadikan mereka kelas bawah diantara warga negara kelas dua (underclasss of second-class) tanpa hak. b) Mereka akan mengintensifkan kekerasan dan teror negara. Hukum dan ketertiban.

Saat Derek Chauvin dan rekan-rekannya sesama polisi harus dituntut dan dihukum karena pembunuhan, kita harus melihat apa sebenarnya peran polisi dalam masyarakat kita. Mereka diciptakan untuk meregangkan otot kelas penguasa dan mempertahankan kepentingan kelas penguasa. Untuk mengelola perselisihan seiring  dengan eksploitasi kolektif yang semakin dalam. Untuk menjaga ketertiban seiring dengan kekacauan dalam hidup kita yang semakin tak tertahankan. Kekerasan polisi dijadikan alat untuk mengintensifkan ketimpangan sehingga kelas penguasa dapat mengelola ketertiban saat mereka terus menjarah kita.

Kekuasaan polisi didukung oleh hukum kriminalisasi. Dengan demikian, undang-undang perbudakan menjadi Black Code setelah Perang Saudara Amerika, dan kemudian Undang-Undang Reformasi Narkoba disahkan setelah Hak Sipil dan Gerakan Kekuatan Hitam. Tetapi pada tahun yang sama ketika Reagan menandatangani Undang-Undang Reformasi Narkoba dan memperkenalkan sistem penahanan massal yang kita kenal sekarang, dia juga menandatangani Immigration Reform and Control Act dan sebuah ketetapan, yang disebut sebagai ketetapan sanksi pemberi kerja. Mengikuti pola yang sama dari undang-undang perbudakan dan Black Code, undang-undang ini menjadikannya tindak kejahatan bagi pekerja tidak berdokumen untuk menjual tenaga mereka secara bebas, menjadikan mereka warga pekerja kelas bawah tanpa hak. Pada saat para pekerja dari berbagai ras mulai bersatu dan berjuang untuk kondisi yang lebih baik, undang-undang ini tidak hanya mengarah pada kriminalisasi dan penahanan terhadap banyak pekerja tak berdokumen, tetapi juga membenturkan pekerja tidak berdokumen dengan pekerja lain, khususnya pekerja kulit hitam yang miskin, yang memaksa mereka terjerat siklus pengangguran, setengah pengangguran, penahanan massal, dan kemiskinan.

Jadi pada titik kritis ini ketika kita menghadapi titik balik lainnya, yaitu krisis legitimasi, apa yang akan dihasilkan dari aksi spontan masyarakat yang bersatu bersama untuk mengecam pemerintah kita?

Akankah kita mencurahkan sedikit semangat selama beberapa hari, lalu puas dengan penuntutan dan hukuman terhadap beberapa polisi, menerima beberapa reformasi sistem kepolisian yang tidak akan pernah bertanggung jawab kepada orang lain selain penciptanya – kelas penguasa?

Akankah kita puas hanya untuk bertahan hidup, untuk tidak dibunuh, sehingga kita dapat hidup damai di tengah kekerasan dan perampokan terhadap kerja kita, komunitas kita, kesehatan kita, dan hidup kita sehari-hari?

Akankah kita berpegang pada ilusi kesetaraan dan kesempatan yang sama untuk dieksploitasi seiring lenyapnya kelompok pekerja kelas menengah kulit putih, ataukah kesempatan yang sama bagi segelintir orang kulit hitam dan cokelat naik ke posisi berkuasa dan kaya sebagai kemerdekaan kita semua?

Jika kita telah belajar banyak dari sejarah kita, titik balik dalam sejarah kita selalu gagal menjadikannya transformasi sejati dan pembebasan bagi semua orang. Penyebabnya karena pada setiap titik kritis dari Rekonstruksi menjadi Gerakan Hak Sipil bahkan hingga gerakan Occupy Wall Street yang baru-baru ini terjadi, kelas penguasa (1 persen masyarakat) selalu berhasil memecah belah (mengadu domba) kelas pekerja – petani kulit putih miskin dengan budak yang dibebaskan, pekerja industri dengan pekerja pertanian, warga negara dengan imigran. Akibatnya, mereka berhasil menipu masyarakat agar menerima reformasi yang hanya mengayomi sebagian kecil kelas pekerja sembari melemahkan persatuan kolektif dari 99 persen masyarakat.

Kita harus melihat bahwa pembunuhan yang disponsori oleh negara ini bukan hanya perang orang kulit hitam, tetapi juga perang semua kelas pekerja. Dan sudah saatnya masyarakat pekerja memberikan kepemimpinan politik, dimulai dengan tuntutan yang jelas untuk mengakhiri kriminalisasi yang memecah belah kelas pekerja dan memperjuangkan hak yang sama bagi semua pekerja. Hanya dengan demikian kita dapat bersatu bersama melawan penindasan dan eksploitasi serta mewujudkan revolusi kita yang belum selesai.


*Artikel ini adalah terjemahan dari opini Josephine Lee yang berjudul “America’s Unfinished Revolution” di laman CommonDreams, 4 Juni 2020. Artikel ini diterjemahkan oleh redaksi Coklektif, jika Anda ingin memberikan masukan atau koreksi, silahkan hubungi lewat surat@coklektif.com.

** Josephine Lee adalah organisator di organisasi pekerja berbasis komunitas El Pueblo Primero di Houston, Texas dan Aliansi Break the Chains, yang menyerukan hak yang sama bagi semua pekerja.

Sebuah Refleksi: Cerita Perjalanan Mengorganisir Komunitas (Seri Pertama)

Previous article

GETOL JATIM Menuntut Pemerintah Membatalkan RUU Cipta Kerja Omnibus Law

Next article

You may also like

More in ANALISA