nganggur

Refleksi Sinema dan Pandemi di Depan Mata

0

Sebelum kita mengenal sebuah pandemi secara langsung, kita mungkin telah dikenalkan dari film-film bergenre sci-fi, horror, thrillers yang mengangkat tematik pandemi virus sebagai ide utamanya. Penulis yang memang menyukai sebagian besar tema mengenai zombie mulai dari game, hingga film meskipun secara skeptis menangguhkan fiksi yang diangkat tapi menyadari bahwa penyakit yang mewabah itu ada meskipun bukan seperti yang difilmkan.

Dari sini salah satu film yang coba penulis review berjudul [REC] 1, film rilisan tahun 2007 ini menceritakan seorang jurnalis yang ingin meliput berita tentang kebakaran bersama dengan petugas pemadam kebakaran, ternyata yang dihadapi bukan lah kejadian kebakaran tetapi sebuah penyakit yang diidentifikasi rabies awalnya ternyata wabah zombie. Pasca wabah ini menjangkiti apartemen, tindakan preventif pemerintah melalui Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) dengan mengkarantina lokasi.

Terlepas dari dunia perfilman, keadaan nyata dunia Internasional telah dihebohkan dengan wabah virus corona virus atau dengan kata lain COVID-19. Virus ini berasosiasi dari Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2), (Jangan diplesetkan Communist Virus Diseases – 19) yang transmisi penyebarannya sangat agresif ke manusia dan menyebakan akibat paling fatal yakni kematian.

Indonesia tak luput juga dari penyebaran virus ini yang membuat kalang kabut pemerintah dan kepanikan masyarakat Indonesia. Data dari CNN per 6/4/2020 menyebutkan sebesar 2491 positif corona, 209 meninggal dunia, 192 sembuh, dan penambahan kasus terdeteksi per harinya sangat intensif dan masif. Seruan bermunculan dari berbagai kelompok masyarakat untuk melakukan langkah preventif, mulai dari lockdown (karantina wilayah), juga beberapa inisiatif tindakan kepala daerah yang langsung menutup akses mobilitas sosial tanpa menghiraukan instruksi pemerintah pusat hingga tindakan perlawanan kelompok masyarakat dengan menutup akses ditingkat paling rendah dari struktur negara yakni RT/RW dibeberapa wilayah.

Situasi ini muncul tak lebih karena dalam lingkaran kekuasaan pusat terjadi “miss-koordinasi” akibat pertimbangan ekonomi terdampak dan ketidakberdayaan pemerintah untuk memayungi shock effect ekonomi kepada rakyat khususnya  mayoritas pekerja harian/serabutan yang didominasi masyarakat kita. Berujung kepada social distancing, physical distancing sampai dengan wacana pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), hingga pertanyaan – pertanyaan besar setelahnya apakah mungkin tindakan ini efektif, bagaimana nasib pekerja serabutan? Ataukah Covid-19 mampu bermutasi menjadi bentuk lain? Dan pemikiran – pemikiran out of the box lainnya.

Penulis ingat kembali dalam kondisi karantina pada film [REC], para korban harus menghadapi situasi klaustrophobia dan kebingungan, dan para tenaga medis dari CDC utusan pemerintah yang masuk kedalam zona pun akhirnya tidak dapat keluar begitu juga dengan korbannya. Sehingga bisa dikatakan mereka adalah “tumbal” hingga akhir cerita meskipun ada penyintas. Lalu apakah skenario dari pemerintah kita sekarang membiarkan beberapa terpapar hingga munculnya suatu vaksin ampuh?

Kenyataan terburuk yang dihadapi jika memang keputusan memberlakukan karantina bisa jadi seperti itu, dan pernah muncul wacana yang digelontorkan oleh Prime Minister Inggris Boris Johnson yakni strategi melawan pandemi dengan herd immunity. Herd immunity memiliki beberapa konsep menurut Tirto.id yaitu: Pertama, menyuntikkan vaksinasi untuk memicu kekebalan tubuh manusia dan tidak membuat virus dari orang terjangkit menular pada orang lain; Kedua, tercipta secara alamiah apabila dalam satu kelompok sudah banya yang terjangkit virus maka masyarakat tersebut akan memiliki tingkat kekebalan yang baik dengan sendirinya. Wacana ini menjadi kecamanan karena dengan sendirinya membiarkan orang – orang terjangkiti sementara vaksinasi belum muncul, sama halnya kita menunggu sebuah Doomsday’s.

Mungkin kita pernah melihat sekuel ataupun menonton film berjudul Contagion yang dirilis tahun 2011 dan dibintangi oleh bintang film kawakan Matt Damon dan Kate Winslet. Film yang juga mengangkat tema penyebaran wabah virus yang sangat masif dan mamatikan, plot yang dibangun dari film ini mengangkat pandemi yang bermula dari penyakit flu yang bermutasi dan memiliki transmisi penyebaran dari hewan ke manusia awalnya, ide pokok ini mengambil sebuah flashback dari wabah H5N1 atau flu burung yang pernah menjadi pandemi global tahun 2007.

Dalam film Contagion, kita digambarkan bagaimana lemahnya peran pemerintah, ini terlihat dari layanan kesehatan publik yang kehilangan kontrol sosial untuk meredam pandemi dan kondisi chaos pasca merebaknya wabah yang memakan jutaan korban jiwa. Bahkan badan kesehatan Internasional WHO pun kewalahan untuk menemukan formula vaksinasi dalam tempo sesingkat-singkatnya yang dinarasikan secara gamblang dalam sebuah scene di film Contagion.

Kembali kepada realita dunia nyata yang kita hadapi sekarang pun demikian, belum adanya riset mendalam yang dilakukan oleh lembaga kesehatan Indonesia, dan lebih-lebih pemilihan opsi PSBB yang secara garis besar sifatnya kurang impementatif, apalagi narasi besarnya lebih berfokus pada konteks ekonomi dengan harapan besarnya roda ekonomi tetap berjalan dalam tingkat yang paling renda,  walaupun insignifikan dan dalam pergerakan yang paling lambat. Sehingga mau tidak mau kita akan berhadapan dengan pandemi di depan mata telanjang.

Menunggu sebuah mukzizat kah? Atau hanya menutup diri bersama komunitas kita? Atau kita menunggu situasi chaos akibat terhempit ekonomi? Ataukah penulis berpikir negara hanya menunggu rilisan vaksin dari badan kesehatan Internasional sementara masyarakat dibiarkan menunggu terjangkit secara perlahan dan pasti, sementara negara – negara lain berlomba – lomba meriset vaksinasi sendiri dan merilis progres dari risetnya.

Beberapa film seperti [REC] maupun Contagion pernah memvisualkan kondisi seperti ini dan ketidakberdayaan sebuah negara bersama aparatusnya menghadapi persoalan ini. Dan, hari ini kita dihadapkan tidak dengan sebuah genre film science-fiction tetapi benar-benar reality alias nyata. Maka secara berangsur-angsur kita terputus secara sosial, jika merujuk sifat manusia adalah makhluk sosial, menjadi hal yang sangat kontradiktif. Kala rasa solidaritas benar-benar hilang, dan manusia memakan saudaranya sendiri karena diterjang sebuah krisis, semoga tidak terjadi. Tetapi, who knows? Don’t says Only God Know Why. We live in real life.

 

 

 

mm
Penikmat kopi pahit dan buku sejarah.

    Melawan Coronavirus: Sebuah Pelajaran dari Asia

    Previous article

    Akulturasi Islam dan Kejawen

    Next article

    You may also like

    More in nganggur