nganggurRENUNGAN

Pungguk Merindu Bulan

0

Ilustrasi oleh Coklektif

Jika kau ingin melihat kesunyian, temuilah malam. Namun malam sejatinya tak pernah ada kesunyian jika kau mendengar, karena setiap malam selalu terletak doa dan harapan dari si pungguk yang merindu pada bulan”

Pernahkah kamu disudutkan oleh pertanyaan-pertanyaan tentang keyakinan dan agama? Jika kamu dilahirkan dalam keluarga yang berbeda dari agamamu saat ini, apakah kamu masih teguh menganut agama yang kamu peluk saat ini? Apakah agamamu saat ini sungguh-sungguh keyakinanmu? Saya yakin saya tidak sendiri. Saya percaya bahwa siapapun pernah bertanya pada diri sendiri, tak peduli bagaimanapun latar belakangnya. Pikiran seperti itu tak mungkin tiba-tiba muncul sendiri tanpa adanya pemantik, karena hidup saja dimulai dari suatu sebab.

Rasa! Pemantik segala tanya!

Rasa, ia menggelitik namun tak membuatku geli. Tajam namun tak membuatku tersayat. Justru ia membuat diriku haus untuk memahami keyakinan dalam diri, dehidrasi saat aku berhenti mencari, dan mati jika hanya berserah diri pada takdir. Bagaimana bisa sebuah rasa menjadi pemantik pertanyaan-pertanyaan yang dapat menyudutkan pikiran? Sebagian darimu pasti menganggap hal ini berlebihan, namun tidak bagiku yang ingin mencintai tanpa ada diskriminasi baik suku, agama maupun ras.

Mereka berkata bahwa aku dan kamu hidup di nusantara, bangsa yang pluralis dan toleran. Tak perlu kamu menghitung, berapa ragam suku dan agama yang berbaur dan berinteraksi satu sama lain. Apalagi manusia sebagai makhluk sosial, secara naluri akan mendorong adanya suatu interaksi tersebut. Namun ketika interaksi tersebut menghasilkan sebuah rasa, mengapa harus menghindarinya? Bahkan sebelum aku dan dirimu saling memahami, kita saling bertanya terlebih dahulu agama apa yang dipeluk. Kita berusaha menghindari rasa cemas, takut, dan khawatir karena tak ingin terjebak dalam sebuah rasa yang bewarna. Hidup dalam keberagaman tapi takut akan rasa penuh warna. Betapa lucunya kita sebagai warga Indonesia. Ingin menjalin hubungan saja begitu rumit dan melelahkan, selayaknya mengaduk kopi dalgona bermodal garpu.

“LDR (Long Distance Relationship) yang paling jauh itu ketika berbeda salam dengan kekasih”

Hubungan cinta beda agama menjadi sangat rumit. Cinta seperti ini dianggap suatu bentuk penistaan dan dipercaya sebagai dosa.  Apalagi jika sampai menikah, maka dianggap tidak baik bagi keimanan. Belum lagi dihadapkan dengan persoalan administrasi pencatatan perkawinan. Hal ini lah yang menyebabkan pasangan yang menjalin cinta beda agama mengambil jalan pintas sebelum menikah, yakni pindah agama – menundukkan keyakinan di satu pihak.

Saya yakin di balik jalan pintas masih ada jalan lain yang bisa ditempuh, walaupun harus menghadapi jalan panjang penuh rintangan. Berjalan sembari meneguhkan hati, menjawab segala ujian yang datang dari keluarga, pertentangan agama, birokrasi, serta cocote tonggo (celoteh tetangga).

Dalam pendakian, banyak jalur yang bisa kita lalui menuju puncaknya,

Setiap jalur diberkahi rintangan yang beragam,

Melangkahkan kaki dengan penuh tekad,

Kesadaran utuh,

Keberanian, dan

Kewaspadaan adalah kunci,

Tak peduli seberapa terjal atau rintangan yang kan ditemui,

Di jalur kita masing-masing,

Ketika kita sudah tekadkan satu tujuan bersama,

Puncak gunung dan alamnya adalah saksi,

Saat dipertemukan dan saling mengikrarkan janji suci,

Kemudian pulang dalam satu jalur bersama

Disertai warna beragam yang saling mengisi”

 

Kita sebagai individu manusia harusnya paham jika terdapat persoalan agama sebaiknya menjadi urusan pribadi dengan Tuhan. Toh, setiap agama itu sama dan selalu mengajarkan nilai-nilai kemanusian. Sungguh tidak layak jika kita ikut campur dalam urusan tersebut. Apalagi sampai memaksakan suatu kebenaran agama yang kita yakini kepada orang lain. Sama halnya seperti ketika seseorang menemukan kebenaran cinta yang diyakininya untuk dijadikan teman hidup, sekalipun tambatan hatinya berbeda salam dan tempat ibadah. Agama seharusnya menjadi tali pemersatu bukan menjadi palu untuk mencerai-beraikan dua insan.

Cobalah kamu tengok dasar hukum di Indonesia mengenai perkawinan. Dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974, kamu tak akan menemukan pelarangan mengenai perkawinan beda agama. Kamu akan menemukan bahwa undang-undang tersebut justru mengatur bagaimana perkawinan beda agama itu dilaksanakan. Dalam Pasal 2 berbunyi “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.” Dengan demikian hukum agama dan kepercayaan memperbolehkan adanya suatu perkawinan beda agama hingga dikatakan ‘sah’, kecuali dalam arti lain negara mencoba bermain lempar tanggung jawab. Padahal perkawinan merupakan hak sipil warga negara yang harus dijamin oleh negara, tertuang dalam UU Hak Asasi Manusia No 39 Tahun 1999. Dalam UU ini mempertegas bahwa memilih pasangan, memilih cara menikah, berkeluarga, dan memiliki keturunan tidak bisa mendapat intervensi oleh siapapun termasuk juga negara. Jika negara menghalangi warga negaranya untuk melakukan perkawinan beda agama maka UU HAM sebaiknya dicabut saja.

“Fase tertinggi dari mencintai adalah suatu bentuk kehilangan”

Seringkali kita mendengar kata-kata itu ketika dua insan harus menelan pahit bahwa cinta yang di antara mereka harus kandas. Ironis! Saya sendiri pun pernah melontarkan kata-kata itu. Membuat saya terjatuh, dan mempertanyakan cinta yang konon katanya adalah suatu bentuk anugerah dari Tuhan. Dalam keadaan itu saya mencoba untuk memahami, mengevaluasi diri, dan meyakinkan diri saya sendiri tentang hakikat cinta. Sejauh proses evaluasi tersebut, saya pun yakin bahwa cinta adalah bentuk anugerah dari Tuhan.

Saya bukanlah satu-satunya yang merasakan bahwa tak sepantasnya diskriminasi menodai rasa cinta. Saya berulang kali menjadi saksi mata, banyak pasangan yang berhasil untuk menikah beda agama. Beragam cara dapat ditempuh. Ada yang menikah di luar negeri kemudian mencatatkan perkawinannya ketika kembali ke tanah air. Ada pula yang menikah di dalam negeri. Saya juga menemukan bahwa ada suatu organisasi yang membantu pasangan yang kesulitan untuk menikah beda agama secara legal di Indonesia, nama organisasi tersebut adalah Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Pada tahun 2018 ICRP melalui Ahmad Nurcholish telah berhasil memfasilitasi kurang lebih 800 pasangan beda agama. Jadi menikah beda agama di Indonesia tak lagi menjadi suatu hal yang mustahil dilakukan.

Kini,

Doa dan harapan si pungguk yang merindu pada bulan,

Tak lagi mustahil untuk diraihnya,

Fase tertinggi dari mencintai bukanlah suatu bentuk kehilangan,

Melainkan suatu hak yang harus diperjuangkan!

Sebagai bentuk rasa syukur akan cinta,

Yang merupakan anugerah dari Tuhan,

Untuk kita yang mencinta tanpa diskriminasi.

mm
Before becoming a muslim, a sikh, a hindu, or a christian. Lets become a human first.

Marsinah dan Pandemi

Previous article

Geger Pagebluk dan Gagap Rupa Pemegang Kekuasaan

Next article

You may also like

More in nganggur