RENUNGAN

Perubahan Iklim dan Potensi Munculnya Pandemi (Lagi)

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Banyak yang percaya bahwa munculnya Covid-19 ini adalah sebagai bentuk antibodi bagi keberadaan dan aktivitas manusia di muka bumi. Dengan kata lain, manusia adalah sebuah “virus” dan Covid-19 ini adalah antivirus untuk menanggulangi persoalan tersebut.

Banyak sekali pendapat bertebaran terkait meningkatnya kualitas udara di kota-kota metropolitan dan bagaimana jernihnya kualitas air di Kota Venezia Italia ketika berhentinya aktivitas pariwisata di sana hingga banyak sekali kabar-kabar “baik” muncul di tengah pandemi ini.

Tapi apakah memang benar Covid-19 ini merupakan antibodi bumi terhadap keberadaan dan aktivitas manusia di bumi? atau memang karena sebab yang lebih panjang dari akumulasi karbondioksida yang berasal dari aktivitas kita sehari-hari?

Kita harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan dari peristiwa ini, boleh jadi kesimpulan kita di awal soal Covid-19 ini adalah antibodi dan manusia adalah virusnya merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa dan cenderung ahistoris (berlawan dengan sejarah).

Dalam tulisan ini, saya akan berusaha memeriksa keterkaitan perubahan iklim dengan munculnya virus baru melalui kacamata ekologi.

Perubahan Iklim (Efek Rumah Kaca) 

Efek rumah kaca kali ini bukan nama sebuah band dari Jakarta (boleh dinikmati dulu tautan musik di atas), tapi sebuah proses alamiah di mana bumi menerima energi dari matahari dalam bentuk sinar ultraviolet (cahaya) dan melepaskan sebagian energi ini kembali ke luar angkasa sebagai sinar inframerah (panas).

Gas dapat menyerap sebagian energi yang keluar ini dan memancarkan energi ini kembali sebagai panas. Gas-gas ini (yang meliputi, karbondioksida, metana, nitrogen oksida dan lain-lain) disebut gas ‘rumah kaca’. Namun bila kandungan gas yang ada dalam atmosfer terlalu banyak, maka suhu bumi akan naik dan menyebabkan perubahan iklim.

Sumber utama emisi gas rumah kaca berasal dari kegiatan manusia termasuk pembangkit listrik (sekitar 25 persen dari semua emisi gas), transportasi, aktivitas industri, deforestasi dan pertanian.

Jenis, sumber, dan jumlah gas rumah kaca yang dipancarkan oleh berbagai negara secara historis sangat bervariasi (dan berlangsung hingga sekarang). Dalam data yang berhasil saya himpun, Tiongkok menempati urutan pertama dalam perlombaan memproduksi emisi gas rumah kaca, di susul Amerika Serikat dan diikuti oleh India dalam tiga besar penyumbang CO2 terbesar di dunia tahun 2016.

Katadata.co.id

Lalu bagaimanakah dampaknya terhadap suhu dunia? Badan Meteorologi Inggris mencatat bahwa pada tahun 2019 suhu dunia lebih tinggi 1,05 derajat celsius dari era pra-industri dalam 10 tahun terakhir sejak 2009.

Badan Metereologi Inggris (BBC.com)

Naiknya temperatur suhu ini tidak akan berakhir dalam 1 atau 2 tahun mendatang, melainkan akan cenderung naik hingga tahun 2025 menurut proyeksi yang dibuat Badan Meteorologi Inggris, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) dan Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

Meningkatnya Potensi Virus Baru

Dengan semakin hangatnya temperatur suhu ini, dengan otomatis akan memperpendek musim dingin dan memperpanjang musim panas. Celakanya dengan semakin panjangnya musim panas ini, kehidupan hewan yang berpotensi sebagai perantara virus meningkat.

Seperti nyamuk dan tikus, karena mereka mempunyai waktu yang lebih lama dan lebih awal untuk berkembang biak dan migrasi ke tempat-tempat yang lebih tinggi dan dingin sebelumnya. Mereka sanggup melewati perbatasan dan membawa penyakit ke wilayah-wilayah baru.

Dalam jurnal “European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases” yang diterbitkan oleh Universitas Marseille dan ditulis oleh E. Gould menjelaskan bahwa kepadatan populasi hewan pengerat dan ekspansinya yang sangat sensitif terhadap perubahan pola iklim berbarengan dengan ekspansi manusia; tikus juga pelancong yang sangat sukses di lautan.

Beberapa flavivirus (penyebab pernyakit demam kuning) terkait tikus yang endemik di Amerika Utara mempunyai kekerabatan yang sangat dekat dengan flavivirus Afrika. Mereka hampir pasti tiba di Amerika dengan kargo atau budak (imigran) dikirimkan melalui tikus yang sudah terinfeksi.

Di sisi lain, perubahan siklus air adalah keniscayaan dari pemanasan global. Dengan kata lain hujan deras dan banjir akan menjadi lebih sering hadir dan menyebabkan genangan sehingga membuat semakin suburnya habitat utama nyamuk.

Ditambah rusaknya habitat yang disebabkan oleh pemanasan global seperti kebakaran hutan dan naiknya permukaan air laut akan menggusur hewan liar secara perlahan keluar dari habitat asli mereka. Belum lagi deforestasi dan konversi hutan lindung menjadi hutan produksi untuk mendukung investasi, akan sangat berbahaya.

Mereka akan mencari ruang-ruang baru dan akan semakin dekat dengan permukiman manusia (atau kita yang menginvasi habitat mereka?). Tentu saja ini bukan kabar baik bagi keberlanjutan ekosistem di planet ini.

60 persen dari semua penyakit manusia yang diketahui dan 75 persen dari penyakit menular yang muncul dalam beberapa dekade terakhir adalah zoonosis atau ditularkan dari hewan ke manusia.

Dalam pernyataan World Health Organization (WHO) yang dirilis di situs resmi mereka menyebutkan bahwa dengan mempertimbangkan hanya sebagian dari dampak kesehatan yang mungkin terjadi, dan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kesehatan yang berkesinambungan.

Menyimpulkan bahwa perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun antara tahun 2030 dan 2050; 38.000 karena pajanan (peristiwa yang menimbulkan risiko penularan) panas pada orang lanjut usia, 48.000 karena diare, 60.000 karena malaria, dan 95.000 karena kurang gizi pada masa kanak-kanak.

Perubahan iklim dan dampaknya terhadap kemunculan virus baru adalah sebuah fenomena gunung es yang sedang kita lihat. Banyak dari kita secara serampangan melontarkan ujaran rasis kepada orang Cina karena virus ini pertama kali muncul dari sana.

Namun, kita tidak pernah benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini, Covid-19 tidak muncul begitu saja dalam catatan sejarah tanpa ada faktor yang menyebabkannya muncul seperti perubahan iklim.

Perubahan iklim memegang peranan penting dalam keberlanjutan kehidupan kita di bumi. Faktor yang menyebabkan perubahan iklim inilah yang kemudian perlu diperiksa kembali agar kita tidak menjadi orang yang mudah memberikan penyataan tanpa ada dasar yang bisa dipertanggungjawabkan dan sebagai dasar keilmuan agar kita bisa lebih bersiap di masa mendatang.

Corona is the virus, capitalism is the pandemic!

mm
Currently learning website coding, design, and writing.

Apa itu Pendidikan Sebagai Komoditas

Previous article

Mas Didi dan Kenangan yang Akan Selalu Tersimpan

Next article

You may also like

More in RENUNGAN