ANALISAngendas

Pentingnya Pemikiran Freire di Afrika Selatan (Bagian 2)

0

Mungkin Anda menyukai Paulo Freire sebagai teoritikus utama. Namun, kami perlu membawa Paulo Freire kembali dari Brasil ke konteks Afrika Selatan. Kami tidak mengetahui apapun tentang Brasil kecuali apa yang kami baca. Saya tidak tahu ada teks serupa yang bisa kami gunakan di Afrika Selatan sebagai cara untuk memahami dan melibatkan konteks Afrika Selatan.

– Barney Pityana, seorang intelektual terkemuka dalam Gerakan Kesadaran Kulit Hitam

 

Meskipun Freire mengunjungi banyak negara di Afrika, negara apartheid tidak akan mengizinkannya mengunjungi Afrika Selatan. Namun, dia memang membahas Afrika Selatan dalam bukunya dan menggambarkan bagaimana aktivis anti-apartheid Afrika Selatan datang menemuinya untuk berbicara tentang karyanya dan apa tujuannya dalam konteks Afrika Selatan. Banyak organisasi dan gerakan yang terlibat dalam perjuangan anti-apartheid menggunakan pemikiran dan metode Freire.

Gerakan Kesadaran Kulit Hitam

Meski negara apartheid melarang peredaran Pedagogi Kaum Tertindas, salinan beredar bawah tanah . Pada awal 1970-an, karya Freire sudah digunakan di Afrika Selatan. Leslie Hadfield, seorang akademisi yang telah menulis tentang penggunaan karya Freire oleh Black Consciousness Movement, berpendapat bahwa Pedagogi Kaum Tertindas pertama kali tiba di Afrika Selatan pada awal 1970-an melalui Gerakan Kristen Universitas (UCM), yang mulai menjalankan proyek keaksaraan yang diilhami oleh Freire. UCM bekerja sama dengan Organisasi Mahasiswa Afrika Selatan (Saso), yang didirikan pada 1968 oleh Steve Biko, bersama dengan tokoh lain seperti Barney Pityana dan Aubrey Mokoape. Saso adalah yang pertama dari serangkaian organisasi yang bersama-sama membentuk Gerakan Kesadaran Kulit Hitam (BCM).

Anne Hope, seorang Kristen radikal dari Johannesburg dan anggota Grail, sebuah organisasi wanita Kristen yang berkomitmen untuk ‘dunia yang ditransformasikan dalam cinta dan keadilan’, bertemu dengan Freire di Universitas Harvard di Boston pada tahun 1969, dan kemudian di Tanzania. Setelah dia kembali ke Afrika Selatan pada tahun 1971, Biko memintanya untuk bekerja dengan kepemimpinan Saso selama enam bulan dalam metode partisipasi Freire. Biko dan empat belas aktivis lainnya dilatih metode Freirean dalam lokakarya bulanan. Bennie Khoapa, seorang tokoh penting di BCM, mengenang bahwa ‘Paulo Freire… membuat kesan filosofis yang abadi pada Steve Biko’.

Di antara lokakarya ini, para aktivis keluar untuk melakukan penelitian berbasis komunitas sebagai bagian dari proses penyadaran. Barney Pityana ingat bahwa:

Anne Hope akan menjalankan apa yang pada dasarnya adalah pelatihan keaksaraan, tetapi pelatihan keaksaraan tersebut sangat berbeda karena pelatihan keaksaraan Paulo Freirean benar-benar membawa pengalaman manusia ke dalam cara memahami konsep. Semua diambil dari pengalaman dan pemahaman sehari-hari: apa dampaknya dalam pikiran, pembelajaran dan pemahaman yang mereka miliki.

Bagi sebagian dari kita, saya menduga ini adalah pertama kalinya kami satu jalan dengan Paulo Freire; bagi saya memang begitu, tapi Steve, Steve Biko adalah orang yang membaca banyak ragam, banyak hal yang Steve tahu, kami tidak tahu. Jadi, dalam bacaannya dia menemukan Paulo Freire Pedagogi Kaum Tertindas dan mulai menerapkannya ke dalam penjelasannya terkait sistem penindasan di Afrika Selatan.

Menggemakan argumen Freire bahwa hanya kaum tertindas yang dapat membebaskan semua orang, BCM menekankan pentingnya orang kulit hitam memimpin perjuangan melawan apartheid. Freire juga telah menekankan bahwa, ‘[tanpa rasa identitas, tidak ada perjuangan yang nyata’. Ini juga selaras dengan BCM, yang menegaskan identitas kulit hitam yang bangga dan kuat melawan supremasi kulit putih.

Gerakan ini mengacu langsung pada Freire karena mengembangkan proses refleksi kritis yang terus menerus, sebagai bagian dari proyek penyadaran yang sedang berlangsung. Aubrey Mokoape, yang memiliki latar belakang bagian dari Pan-Africanist Congress (PAC) dan menjadi mentor yang lebih tua bagi para siswa yang mendirikan Saso, menjelaskan bahwa hubungan antara Black Consciousness dan ‘conscientisation’ sangat jelas:

Satu-satunya cara untuk menggulingkan pemerintah ini adalah membuat massa rakyat kami memahami apa yang ingin kami lakukan dan memiliki proses tersebut, dengan kata lain, menjadi sadar dengan posisi mereka dalam masyarakat, dengan kata lain… menghubungkan beragam titik, memahami bahwa jika Anda tidak punya uang untuk membayar… untuk biaya sekolah anak Anda, biaya sekolah kedokteran, Anda tidak memiliki tempat tinggal yang memadai, Anda memiliki transportasi yang buruk, bagaimana hal-hal itu semua membentuk satu kesatuan; bahwa semua hal itu benar-benar terhubung. Mereka tertanam dalam sistem, bahwa posisi Anda dalam masyarakat tidak terisolasi tetapi sistemik.

Fraser MacLean / Arsip Penelitian Makalah Sejarah Universitas Witwatersrand

Gereja

Pada tahun 1972, Biko dan Bokwe Mafuna (yang pernah mengikuti pelatihan metode Freirean) direkrut sebagai petugas lapangan oleh Bennie Khoapa. Khoapa adalah kepala Dewan Gereja Afrika Selatan (SACC) dan Proyek Komunitas Kulit Hitam (BCP) Institut Kristen dan juga telah dilatih dalam metode Freirean. Pekerjaan BCP sangat dipengaruhi oleh Freire. Baik BCM dan Gereja-Gereja Kristen di Afrika Selatan menggunakan teologi pembebasan, sebuah aliran pemikiran radikal dimana telah dipengaruhi dan disumbangkan oleh Freire Rubin Phillip, yang terpilih sebagai wakil presiden Saso pada tahun 1972, dan kemudian menjadi uskup agung Anglikan, menjelaskan bahwa:

Paulo Freire dianggap sebagai salah satu pendiri teologi pembebasan. Dia adalah seorang Kristen yang menjalankan imannya dengan cara yang membebaskan. Paulo menempatkan orang miskin dan tertindas di pusat metodenya, yang penting dalam konsep pilihan preferensial bagi orang miskin, ciri khas dari teologi pembebasan.

Di Afrika Selatan, ide-ide yang diambil dari teologi pembebasan – bersama dengan teologi pembebasan kulit hitam yang dikembangkan oleh James H. Cone di Amerika Serikat – memberikan pengaruh yang kuat pada berbagai arus perjuangan. Uskup Rubin mengenang bahwa:

Satu hal yang saya ambil dari percakapan kami adalah kebutuhan untuk menjadi pemikir kritis. … Para teolog pembebasan menyinggung bahwa teologi, seperti pendidikan, harus ditujukan untuk pembebasan, bukan domestikasi. Agama membuat kita tunduk, malas menggunakan kemampuan kritis kita dan menghubungkan pengetahuan dengan realitas kita sehari-hari. Jadi, pendidikan baginya adalah tentang cara hidup yang kritis dan tentang menghubungkan pengetahuan dengan cara kita hidup.

Gerakan Pekerja

Gerakan Kesadaran Kulit Hitam termasuk organisasi pekerja seperti Proyek Pekerja Kulit Hitam, sebuah proyek bersama antara BCP dan Saso. Gerakan buruh juga dipengaruhi oleh gagasan Freirean melalui proyek pendidikan buruh yang dimulai pada tahun 1970-an. Salah satunya adalah Urban Training Program (UTP), yang menggunakan metodologi See-Judge-Act Pekerja Muda Kristen, yang telah mempengaruhi pemikiran dan metodologi Freire sendiri. UTP menggunakan metode ini untuk mendorong para pekerja untuk merefleksikan pengalaman sehari-hari mereka, memikirkan tentang apa yang dapat mereka lakukan tentang situasi mereka, dan kemudian bertindak untuk mengubah dunia. Proyek pendidikan pekerja lainnya dimulai oleh siswa kiri di dalam dan sekitar Persatuan Nasional Siswa Afrika Selatan (Nusas). Saso telah memisahkan diri dari Nusas pada tahun 1968 tetapi, meskipun sebagian besar berkulit putih, Nusas adalah organisasi anti-apartheid yang secara sadar juga dipengaruhi oleh Freire, terutama melalui anggota yang juga merupakan bagian dari UCM.

Selama tahun 1970-an, Komisi Upah dibentuk di Universitas Natal, Universitas Witwatersrand, dan Universitas Cape Town. Menggunakan sumber daya universitas dan beberapa serikat pekerja progresif, Komisi membantu membentuk struktur yang mengarah pada pembentukan Biro Nasihat Pekerja Provinsi Barat (WPWAB) di Cape Town, Dana Manfaat Pekerja Pabrik Umum (GFWBF) di Durban , dan Industrial Aid Society (IAS) di Johannesburg. Sejumlah mahasiswa kiri mendukung inisiatif ini, seperti yang dilakukan beberapa anggota serikat buruh yang lebih tua, seperti Harriet Bolton di Durban. Di Durban, Rick Turner, seorang akademisi radikal yang gaya mengajarnya dipengaruhi oleh Freire, menjadi sosok yang berpengaruh di antara sejumlah mahasiswa. Turner berkomitmen untuk masa depan yang berakar pada demokrasi partisipatoris dan banyak muridnya menjadi aktivis yang berkomitmen.

David Hemson, salah satu peserta dalam lingkungan ini, menjelaskan bahwa:

Dua pemikir tertentu sedang bekerja, satu [Turner] di rumah kayu dan besi di Bellair; dan [Biko] lainnya di bawah bayang-bayang kilang minyak Wentworth yang berbau busuk di kediaman Alan Taylor. Keduanya akan menjadi teman dekat dan keduanya akan mati di tangan aparat keamanan apartheid setelah ledakan tulisan yang energik dan keterlibatan politik. Keduanya dipengaruhi oleh Paulo Freire Pedagogi Kaum Tertindas, dan ide serta konsep ini ditanamkan dan dijalin ke dalam tulisan mereka yang berjuang untuk kebebasan.

Omar Badsha adalah salah satu siswa yang dekat dengan Turner dan turut serta mendirikan Institute for Industrial Education (IIE). Dia ingat bahwa:

Rick Turner sangat tertarik pada pendidikan, dan seperti intelektual mana pun yang mulai kami baca, dan salah satu teks yang kami baca adalah buku Paulo Freire yang baru saja keluar pada saat itu. Dan buku ini selaras dengan kami dalam arti bahwa di dalamnya ada beberapa ide berharga tentang mengajar dan cara mengajar yang afirmatif – dengan mempertimbangkan partisipan dan bagaimana berhubungan dengan partisipan.

Pada bulan Januari 1973, para pekerja di seluruh Durban melakukan pemogokan, sebuah peristiwa yang sekarang dilihat sebagai titik balik utama dalam organisasi pekerja dan perlawanan terhadap apartheid. Hemson mengingat bahwa:

Saat fajar menyingsing, mereka mengalir, dari hostel mirip barak Coronation Bricks, pabrik tekstil yang luas di Pinetown, kompleks kota, pabrik besar, pabrik dan pabrik serta pabrik pengolahan teh Five Roses yang lebih kecil. Yang tertindas dan dieksploitasi bangkit berdiri dan menekan para bos dan rezim mereka. Hanya di dalam kelompok, piket yang teratur, pertemuan massa pemogok tanpa pemimpin, pertemuan pekerja memberikan kepercayaan terhadap ekspresi individu. Tatanan solid apartheid retak dan kebebasan baru lahir. Konsep-konsep baru rupa manusia: penenun menjadi pelayan toko, sebuah organisasi massa mengambil alih yang tidak terorganisir, pelatih tekstil menjadi seorang anggota serikat buruh yang berdedikasi, lelaki tua yang pemalu menjadi seorang veteran Kongres yang terlahir kembali, seorang penyapu adalah seorang pekerja umum yang jelas.

Mike Duff / Sumber Sunday Times

Setelah Momen Durban

Periode di Durban sebelum dan selama pemogokan 1973 kemudian dikenal sebagai Momen Durban. Dengan Biko dan Turner sebagai dua tokoh karismatiknya, ini adalah masa betapa pentingnya kreativitas politik meletakkan dasar bagi banyak perjuangan yang akan datang.

Tetapi pada Maret 1973, negara melarang Biko dan Turner, bersama dengan beberapa pemimpin BCM dan Nusas, termasuk Rubin Phillip. Meskipun demikian, ketika serikat pekerja dibentuk setelah pemogokan, sejumlah intelektual lulusan universitas, yang sering dipengaruhi oleh Freire, mulai bekerja di dalam dan bersama serikat pekerja, yang membuat kemajuan pesat. Pada tahun 1976, pemberontakan Soweto, yang secara langsung dipengaruhi oleh Kesadaran Kulit Hitam, membuka babak baru dalam perjuangan dan mengalihkan pusat kontestasi ke Johannesburg.

Biko dibunuh di tahanan polisi pada 1977, setelah itu organisasi Kesadaran Kulit Hitam dilarang. Pada tahun berikutnya, Turner dibunuh.

Pada tahun 1979, sejumlah serikat pekerja disatukan ke dalam Federasi Serikat Buruh Afrika Selatan (Fosatu), yang – dalam semangat Momen Durban – berkomitmen kuat untuk kontrol pekerja yang demokratis di serikat pekerja dan di lantai pabrik, serta pemberdayaan politik pelayan toko.

Pada tahun 1983, Front Demokratik Bersatu (UDF) dibentuk di Cape Town. Front ini menyatukan organisasi berbasis komunitas di seluruh negeri dengan komitmen praksis demokrasi bottom-up di masa kini dan visi demokratis radikal setelah apartheid di masa depan. Pada pertengahan 1980-an, jutaan orang dimobilisasi melalui UDF dan gerakan serikat buruh, yang menjadi federasi melalui Kongres Serikat Buruh Afrika Selatan (Cosatu) yang berpihak pada ANC pada tahun 1985.

Sepanjang periode ini, ide-ide Freirean yang diserap dan dikembangkan di Momen Durban sering menjadi pusat pemikiran tentang pendidikan dan praksis politik. Anne Hope dan Sally Timmel menulis Pelatihan untuk Transformasi, sebuah buku kerja tiga volume yang bertujuan untuk menerapkan metode Freire untuk mengembangkan praksis radikal dalam konteks perjuangan emansipatoris di Afrika Selatan. Jilid pertama diterbitkan di Zimbabwe pada tahun 1984. Buku tersebut dengan capat dilarang di Afrika Selatan namun tetap diedarkan secara luas di bawah tanah. Pelatihan untuk Transformasi digunakan dalam pekerjaan pendidikan politik baik dalam gerakan serikat pekerja maupun perjuangan berbasis komunitas yang dihubungkan bersama melalui UDF.

Salim Vally, seorang aktivis dan akademisi, mengenang bahwa ‘kelompok literasi tahun 80-an, beberapa kelompok prasekolah, pendidikan pekerja dan gerakan pendidikan rakyat sangat dipengaruhi oleh Freire’. Komite Afrika Selatan untuk Pendidikan Tinggi (Sached) juga sangat dipengaruhi oleh Freire. Komite tersebut, pertama kali dibentuk pada tahun 1959 sebagai oposisi terhadap penegakan segregasi negara apartheid di universitas, memberikan dukungan pendidikan untuk serikat pekerja dan gerakan berbasis komunitas pada 1980-an. Vally mencatat bahwa ‘Neville Alexander selalu membahas Freire di Sached – dia adalah direktur Cape Town – dan di lingkungan pendidikan lain tempat dia terlibat. John Samuels – direktur nasional Sached – bertemu dengan Freire di Jenewa.’

Sejak 1986, gagasan ‘kekuatan rakyat’ menjadi sangat penting dalam perjuangan rakyat, tetapi praktik dan pemahaman tentang apa artinya ini sangat bervariasi. Beberapa orang melihat rakyat sebagai pendobrak yang membuka jalan bagi ANC untuk kembali dari pengasingan dan bawah tanah dan mengambil alih kekuasaan masyarakat. Yang lain berpikir bahwa membangun praktik dan struktur demokrasi dalam serikat pekerja dan organisasi komunitas menandai awal dari pekerjaan yang diperlukan untuk membangun masa depan pasca-apartheid di mana demokrasi partisipatoris akan tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari – di tempat kerja, komunitas, sekolah, universitas, dll. Inilah yang dimaksud dengan slogan serikat pekerja ‘membangun hari esok hari ini’.

Meskipun ada arus Freirean yang kuat pada periode ini, mereka secara signifikan dilemahkan oleh militerisasi politik pada akhir 1980-an, dan terlebih lagi ketika larangan ANC dicabut pada 1990. Kembalinya ANC dari pengasingan dan bawah tanah menyebabkan demobilisasi perjuangan berbasis komunitas yang disengaja dan subordinasi langsung dari gerakan serikat buruh ke otoritas ANC. Situasinya tidak berbeda dengan yang dijelaskan oleh Frantz Fanon di Bumi Berantakan (The Wretched of the Earth):

Hari ini, misi partai adalah menyampaikan kepada orang-orang instruksi yang dikeluarkan dari KTT. Bahwa tidak ada lagi memberi-dan-menerima dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah yang menciptakan dan menjamin demokrasi dalam sebuah partai. Justru sebaliknya, partai telah menjadikan dirinya layar antara massa dan para pemimpin.

Pertemuan Federasi Serikat Buruh Afrika Selatan (Fosatu), tanpa tanggal. Makalah Sejarah Wits

*Tulisan merupakan karya dari Tricontinental: Institute for Social Research dengan judul asli Paulo Freire and Popular Struggle in South Africa dialihbahasakan oleh Tim Kerja Coklektif sebagai bahan diskusi dan perluasan gagasan Freire, tentu untuk tujuan pendidikan massa rakyat. Tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian dan diterbitkan berkala dengan judul bagian pertama Paulo Freire dan Perjuangan Populer di Afrika Selatan (Bagian 1). 

*The article is the work of Tricontinental: Institute for Social Research with the original title Paulo Freire and Popular Struggle in South Africa translated in Indonesia language by the Coklektif Work Team as a material for discussion and expansion of Freire’s ideas, of course for the purpose of educating the masses of the people. This paper is divided into sections and published periodically under the title of the first part Paulo Freire and Popular Struggle in South Africa (Part 1) “Paulo Freire dan Perjuangan Populer di Afrika Selatan (Bagian 1).”

 

 

TRICONTINENTAL: INSTITUTE FOR SOCIAL RESEARCH
Tricontinental: Institute for Social Research adalah lembaga internasional yang digerakkan oleh gerakan yang berfokus pada upaya merangsang sebuah debat intelektual yang melayani aspirasi masyarakat.

    Paulo Freire dan Perjuangan Populer di Afrika Selatan (Bagian 1)

    Previous article

    Menyelamatkan Kampung di Tengah Rezim Ekstraktif: Potret Perjuangan Desa Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA