ANALISAngendas

Pandemi COVID-19 yang Tak Kunjung Usai: Melihatnya dalam Perspektif Sosial-Ekologis

0

Ilustrasicok: SegosambelXBantengKetulub

Media manapun sekarang berbicara mengenai kabar tentang Covid-19 atau infeksi virus Sars-Cov-2 kepada manusia, lalu dikenal sebagai Coronavirus Diseases 2019. Virus ini juga menjadi problem tentang keadilan sosial. Etnis China dan Asia Timur menjadi sasaran diskriminasi rasial dan xenofobia akut di masyarakat kita sekarang. Belum lagi bagaimana kesenjangan yang terjadi di masyarakat didapati seperti yang diuraikan dalam pembahasan di atas.

Sementara itu kita harus menghadapi situasi yang serius saat ini, penting juga bagi kita untuk memahami bagaimana krisis saat ini muncul dan bagaimana penyebarannya dapat dicegah. Kita tidak bisa menafikkan bahwa problem wabah global atau pandemi adalah problem ekologis. Virus muncul merupakan implikasi dari masalah ekologi antara persimpangan komunitas manusia dengan satwa liar, dan bagaimana dominasi dari komunitas manusia tersebut sangat berpengaruh signifikan bagi terbentuknya virus.

Covid-19 merupakan suatu zoonosis yang berarti ditularkan melalui hewan ke manusia, tidak jelas dari mana makhluk liar yang menjadi asal dari virus ini, tetapi pertanyaan ini mengaburkan salah satu akar dari kerentanan kita terhadap pandemi, yakni hilangnya habitat. Sejak dulu kita tahu ratusan kuman telah muncul di daerah-daerah baru yang belum pernah terlihat sebelumnya. Mayoritas dari mereka berasal dari hewan.

Beberapa terindikasi berasal dari hewan peliharaan dan ternak, tetapi kebanyakan dari mereka berasal dari satwa liar. Jelas, ini bukan kesalahan hewan, tubuh yang sebagian besar dihinggapi mikroba hidup ini tidak berbahaya, serta tidak menimbulkan bahaya khusus bagi manusia. Kita lupa bagaimana cara menebang hutan dan memperluas kota, juga kegiatan industri yang telah menciptakan jalur bagi mikroba hewan untuk beradaptasi dengan tubuh manusia.

Menggali Akar Wabah Covid-19 dan Masa Depan Munculnya Wabah Baru

Jika melihat lagi dalam pandangan sosial-ekologis, bahwa masyarakat pasar saat ini didasarkan pada kebutuhan kapitalisme untuk pertumbuhan tanpa akhir. Logika tumbuh atau mati inilah yang membawa perusahaan kapitalis ke dalam konflik dengan satwa liar untuk mendapatkan keuntungan, memaksa hewan-hewan ini untuk menyusut ke habitat yang tersisa atau memasuki pasar itu sendiri.

Persisnya, ini berulang-ulang, kontak yang sangat dekat memungkinkan mikroba yang hidup di tubuh hewan untuk menyeberang ke tubuh kita. Ketika ini terjadi, mikroba ini dapat berubah menjadi patogen manusia yang mematikan.

Dominasi atas alam telah mencapai proporsi krisis di bawah kapitalisme dan wabah virus merupakan masalah ekologis lainnya. Ada beberapa yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyebaran patogen (parasit yang menyebabkan sakit pada inangnya) ini, seperti yang dianjurkan oleh pemerintah pada kondisi pandemik Covid-19 sekarang ini, mulai dari keharusan kita sering mencuci tangan dan jangan sering menyentuh wajah, karantina diri kala merasakan gejala sakit.

Kita tidak mengatasi masalah dari fenomena ini secara mengakar kita akan mengalami siklus seperti ini secara berulang. Kapitalisme dan ide dominasi atas alam, membuat masalah-masalah yang ada pada saat ini hanya akan menjadi siklus berulang di masyarakat.

Dalam hal ini, berbicara mengenai akar permasalahan wabah global atau pandemi kita juga berbicara mengenai bagaimana sistem ekonomi politik dunia saat ini yang sifatnya ekspansi, penetrasi dan ekploitasi terhadap berbagai sumber daya di hampir seluruh sektor kehidupan. Dominasi dan akumulasi modal yang terjadi pada sistem ekonomi politik antar negara di dunia dan antar kelas sosial didalam masyarakat sebenarnya merupakan kerentanan yang menjadi akar permasalahan pandemi ini.

Karena dominasi dan akumulasi modal yang terjadi didalam sistem kekuasaan hanya memperkuat model produksi kapitalistik yang merupakan bentuk penghisapan. Di dunia kehidupan kapitalisme masa kini yang berpusat pada karbon, mobil yang boros bensin, pesawat terbang berteknologi tinggi, kapal kontainer masif, dan gedung pencakar langit yang memanfaatkan energi merupakan senjata-senjata pemusnah massal. (Vishwas Satgar, 2020).

Hal ini berpengaruh signifikan bagi perkembangan virus atau wabah yang sifatnya zoonosis. Penyebaran Covid-19 begitu cepat pada manusia, salah satunya disebabkan oleh ekpansi dan ekploitasi yang begitu brutal terhadap ekosistim dan sumberdaya alam yang terlampau jauh masuk dalam kehidupan liar, menyebabkan retaknya metabolisme alam sekaligus menyebabkan kerentanan kehidupan sosial ekologi antar sesama mahluk hidup.

Rob Wallace dalam bukunya Big Farms Make Big Flu (2016) menunjukan bahwa kepentingan mengejar keuntungan dari industri kapitalis telah mendorong munculnya bakteri patogenik. Bakteri-bakteri berbahaya bagi manusia tadinya berparasit pada hewan liar dan tidak membahayakan manusia karena jauh dari jangkauan. Namun perluasan industri telah mengakibatkan hewan-hewan liar kehilangan habitat aslinya seiring dengan terkisisnya hutan lebat.

Hutan-hutan telah dikonversi menjadi perkebunan skala besar, area pertambangan, hingga perumahan. Kondisi itu yang membuat habitat patogen menjadi dekat dengan kehidupan manusia, menjadikannya semakin mudah berpindah tempat parasit, dari hewan liar ke manusia (zoonosis). (Purwanto dan Emilia, 2020: 39)

Hal ini juga menjadi pandangan kedepan mengenai munculnya wabah baru pasca pandemi Covid-19 selama ekosida dan persimpangan antara komunitas manusia dengan satwa masih bersifat ekspansi kapitalistik yang eksploitaitatif. Seperti pandangna Zizek dalam melihat pandemik Covid-19, Ia mengutip Kate Jones, ahli virus yang menghitung sejak 1940-2004 ada 335 jenis virus baru yang berasal dari satwa liar. Virus muncul karena mereka kehilangan inang akibat satwa liar dimangsa manusia, habitatnya diokupasi untuk industri dan perumahan, jalan raya, dan segala hal untuk menopang kenikmatan manusia.

Akhirnya negara tidak dapat berfungsi lagi secara maksimal sebagai pelindung rakyat, sebaliknya lebih banyak melayani dan memfasilitasi kepentingan korporasi kuat dan elitnya sendiri. Krisis pandemi Covid-19 contoh nyata dari ketidak sigapan negara dalam melindungi rakyat. Lalu bagaimana kita mengimajinasikan sebuah sintesa menjawab kondisi pasca pandemi ini? Apakah kita harus membiarkan siklus ini terus berulang?

Eko-Sosialisme Sebagai Alternatif

Alternatif pandangan tentang apa itu ekologis dan seperti apa dunia yang adil secara sosial. Sebuah dunia yang terorganisir dengan peduli sekitarnya, bukan dominasi yang mendorong reharmonisasi kemanusiaan dan sifat non-manusia. Salah satunya ialah pandangan Eko-Sosialisme seperti apa yang ditawarkan oleh Vishwas Satgar hingga Rob Wallace.

Vishwas Satgar berpendat bahwa pada akhirnya, cakrawala ekologis dari sosialisme masa kini akan ditentukan oleh bencana biologis seperti Covid-19, pemanasan global, guncangan iklim, ketidaksetaraan yang semakin buruk, dan dorongan-dorongan manusia untuk hidup. Air, tanah, keanekaragaman hayati, dan biosfer—global commons (kekayaan alam di luar yuridiksi nasional yang dapat diakses semua negara)—kesemuanya akan terlibat dalam pembalasan alam terhadap ekosida kapitalis. Ketidakterbatasan alam dan keterbatasan kemauan manusia akan menentukan periode berikut dari sejarah sosio-ekologi.

Pada pertemuan inilah eko-sosialisme demokratis akan belajar secara lebih mendalam dari tradisi bumi asli untuk memajukan kehidupan, menolak produktivisme, dan menegaskan suatu hubungan tanpa alienasi dengan alam. (Vishwas Satgar, 2020) atau kita mencoba membaca ulang analisa Zizek meski belum jelas secara elaborasi berbicara mengenai analisa Marxisme abstraknya.

Covid-19 akan mengubah wajah peradaban dan relasi kemanusiaan dengan bersandar pada efisiensi, pemenuhan aspek-aspek paling esensial, dan menguatnya nilai universalisme. Pandemi telah membawa perubahan perilaku dan relasi kemanusiaan dalam derajat magnitude yang sangat besar. Semua bentuk relasi yang selama sekian lama dianggap menjadi normalitas, ternyata bisa berubah dengan sangat cepat (Marr, 2020).

Covid-19 juga telah memaksa sistem eksploitasi kapitalisme yang luar biasa terhadap alam membentur jalan buntu dengan menurunnya konsumsi. Jatuhnya harga minyak sampai ke angka minus menjadi bukti nyata ketidakberdayaan sistem eksploitasi yang selama ini berlangsung (Mas’udi dan Winanti, 2020). Tentu kita tidak bisa terlalu jauh mengimajinasikan bagaimana kondisi pasca pandemi Covid-19.

Solidaritas sosial dan saling bahu membahu lah yang dibutuhkan dalam krisis pandemik Covid-19 saat ini. Akan tetapi hal tersebut juga bukan sesuatu utama menjawab persoalan ini, ditengah badai ekonomi-politik di Indonesia yang cenderung ada intervensi neoliberalisme, negara harus tetap menyelesaikan tanggungjawabnya mencari langkah-langkah penyelamatan sebagai sandaran utama. Negara harus memainkan peran utamanya sebagai penyelamat bangsa yang memberikan solusi dan merancang kepentingan publik dalam jangka panjang.

Referensi

Forest Digest, 2020, Slavoj Zizek Meramal Dunia Setelah Pandemi Corona, link web: https://www.forestdigest.com/detail/574/slavoj-zizek-meramal-dunia-setelah-pandemi-coroan diakses pada 3-01-2020

Marr, Bernard. 2020. ‘COVID-19 Is Changing Our World – And Our Attitude To Technology And Privacy –Why Could That Be Dangerous?’, link: https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2020/03/23/covid-19-is-changing-our-world–as-well-as-our-attitude-to-technology-and-privacy-why-could-that-be-a-problem/#77ec103d6dc1 diakses pada 3-01-2021

Purwanto A Erwan, Ova Emilia, 2020, New NormalSebagai Jalan Tengah?: Kesehatan vs. Ekonomi dan Alternatif Kebijakan Dalam Pandemi COVID-19, Dalam: New Normal: Perubahan Sosial Ekonomi dan Politik Akibat Covid-19, Gajah Mada University Press

Vishwas Satgar, 2020, Setelah Kapitalisme: Eko-Sosialisme Demokratis?, Dalam: Dialog Global Volume 10 Edisi 3 Desember 2020

Wallace Rob dkk., 2020, COVID-19 and Circuits of Capital, Link web: https://monthlyreview.org/2020/05/01/covid-19-and-circuits-of-capital/ diakses pada 3-01-2021

Zizek, Slavoj. 2020. Pandemic! COVID-19 Shakes of the World. New York: Or Books.

Muhammad Andy Dava
Sekretaris Jendral LAMRI Surabaya dan Pegiat Lingkarang Solidaritas

    Pandemi COVID-19 yang Tak Kunjung Usai: Distopia Corona Virus Diseases 19

    Previous article

    Pentingnya Pemikiran Freire di Afrika Selatan (Bagian 3-Akhir)

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA