REPORTASE

Menyulut Api Literasi di Tengah Pandemi

0

Dokumentasi: Rizky Rautra

Memperingati Hari Anak Nasional dengan cara berbeda ditempuh oleh komunitas Kabut Malam pada Sabtu, 25 Juli 2020. Mereka mengusung tema “Peran Komunitas Dalam Membudayakan Literasi” sebagai bentuk kepedulian dan protes terhadap kondisi sosial masyarakat di Indonesia saat ini.

Peringatan tersebut digelar dengan sederhana namun tetap meriah di pekarangan rumah warga Desa Banjarkemantren. Kolaborasi antar warga dan komunitas terlihat sangat intens hingga melebur menjadi satu entitas yang peduli terhadap masa depan literasi.

Konsep yang mereka usung dengan berkolaborasi bersama warga sekitar bisa dibilang masih minim terlihat di Sidoarjo. Beberapa acara swakelola yang pernah saya ikuti di Sidoarjo biasanya dilangsungkan di cafe, studio musik, atau tempat-tempat yang terkesan eksklusif untuk kalangan tertentu.

Namun, Kabut Malam menorehkan warna mereka sendiri. Mereka bahu-membahu bersama warga untuk membudayakan gerakan literasi di desa mereka. Saya berkesempatan untuk menanyai langsung salah satu penggerak Kabut Malam dan juga inisiator acara tersebut. Beliau biasa dipanggil Mas Wahyu.

Rizky Rautra: Sebenarnya konsep acara ini seperti apa sih Mas?

Wahyu: Sebenarnya konsep acara ini itu awalnya mengenalkan komunitas Kabut Malam. Lalu ketika melihat tanggal ternyata bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, iya sudah kita akhirnya sekalian saja launching komunitas Kabut Malam. Karena kita inginnya itu ke arah gerakan literasi dan mendidik anak-anak secara fleksibel atau santai, seperti Sanggar gitu Mas.

Kemudian kita bingung untuk memulainya di awal-awal. Kita kemudian sharing dan belajar ke teman-teman komunitas lain yang kemudian mendorong dan mendukung kami untuk memulai dulu saja. Dan akhirnya kita memberanikan diri untuk menggelar acara sarasehan ini.

Rizky Rautra: Kapan kira-kira acara ini mulai diinisiasi?

Wahyu: Inisiasinya sebetulnya itu tanggal 14 Juli 2020. Pada 14 Juli itu kami membentuk Kabut Malam secara bentuk tapi untuk konsepnya ini (komunitas Kabut Malam) ini sudah lama. Ini (pembentukan komunitas) sebenarnya buat kritik juga. Kritik sosial ya di kampung sini juga, tapi kalau kita hanya kritik apa bedanya dengan yang lain. Jadi kita sekalian berkarya lalu kita sampaikan pesannya, jadi kita dapat dua hal yaitu berkarya dan pesan yang kita sampaikan ke masyarakat. Dan ya minimal ke komunitas kita sendiri biar ada semangat terus berkarya.

Rizky Rautra: Siapa saja atau dari komunitas apa saja yang terlibat?

Wahyu: Yang terlibat di acara ini Mas, ya. Yang terlibat di acara ini ada berbagai komunitas seperti yang jadi pembicara tadi ada Mas Pras dari SSCS (Save Street Child Sidoarjo), Mas Edre dari Siskakertas, terus Mas Erwin dari Aksara Merdeka. Ada juga Taman Diksi, Aliansi Pelajar Sidoarjo, Trisula Pustaka itu. Alhamdulillah dari teman-teman komunitas mengajak komunitas lainnya jadinya supportnya banyak.

Rizky Rautra: Kenapa memilih tempat diselenggarakannya acara ini di desa Mas?

Wahyu: Sebenarnya banyak tawaran di kampung, kenapa nggak pakai Balai Desa itu awalnya. Karena kita komunitas bukan lembaga resmi. Dari situ kita punya inisiatif bagaimana kalau acara-acara kita ini dilakukan saja di halaman rumah atau di lingkungan sekitar. Ya pesannya itu tadi sebenarnya Mas, kita takut sebenarnya, tapi bukannya takut sih, artinya nanti kalau kita menggunakan fasilitas desa banyak orang yang mengklaim. Oh ini loh hasil binaan saya, anak-anak hasil dari binaan sini.

Rizky Rautra: Arahanya nanti ke politik ya Mas?

Wahyu: Kita sebenarnya juga mengundang Karang Taruna, tapi gak tau. Kelihatannya gak ada yang hadir.

Rizky Rautra: Oh yang hadir dan memakai kaos Kabut Malam ini bukan anak-anak Karang Taruna?

Wahyu: Ya itu, itu bukan Karang Taruna. Itu anak komunitas kita sendiri yang kita dirikan.

Rizky Rautra: Berarti anak-anak Kabut Malam ini bukan anak Karang Taruna sini ya?

Wahyu: Kabut Malam sebenarnya anak-anak sini, cuman dia masing-masing personal kalau ditanya kamu anak Karang Taruna? Bukan. Saya komunitas. Saya nggak tahu juga, mungkin itu bagian dari pada kritik terhadap apa yang ada di desa kami. Sebenarnya kita juga tidak antipati atau eksklusif, buktinya kita undang semua dari berbagai pihak. Kita ini maunya berdialektika, secara wacana, gagasan, maupun kualitas.

Bukan secara karena dia punya kekuasaan, bisa gini. Enggak, enggak gitu. Sekarang bukan eranya lagi. Makanya literasi adalah alat. Kalau tadi ada yang bilang bahwa membaca itu adalah kejujuran. Nah kejujuran itu yang tidak bisa ditekuk-tekuk.

Rizky Rautra: Bagaimana konsep literasi yang ingin dijalankan atau diagendakan ke depan setelah acara ini?

Wahyu: Mungkin ke depan sudah banyak sebenarnya agenda. Tapi untuk Agustus ini kita off dulu, kita ingin lihat situasi. Kita ingin melihat Karang Taruna ada kegiatan apa biar tidak terjadi benturan. Biar kita nggak disangka (diklaim) oh ini kegiatan Karang Taruna.

Mungkin selanjutnya teman-teman ada kompetisi game online dan juga lomba mewarnai untuk anak-anak. Karena memang kita fokusnya lebih ke anak, berbicara anak itu berbicara masa depan. Dan berbicara desa ya masa depan negara. Jadi kita awali dari lingkungan sekeliling kita, lingkungan terkecil kita untuk berkarya. Dan terlebih lagi itu tugas sejarah, biar generasi-generasi selanjutnya bisa melihat, bisa juga mengamati, dan ikut turut andil.

Karena acara ini juga orang-orang tua (di desa) support, meskipun tidak semua. Jadi beberapa orang tua support. Dan saya pribadi bersama teman-teman, sudah dari pada kita mikirkan orang yang menghalangi mending kita melakukan kegiatan dan berkarya. Dan kita rangkul saja orang-orang yang mendukung biar energi kita tidak habis, karena kegiatan kita masih banyak.

Rizky Rautra: Berati sound system, doorprize, dan lain-lain itu swadaya dari masyarakat?

Wahyu: Swadaya, ya swadaya masyarakat, dan ada juga punya teman-teman. Makanya tadi kita cantumkan beberapa nama-nama usaha (di poster) yang mendukung. Sebenarnya kalau ditarik fee, nggak. Sebenarnya itu bentuk apresiasi kita kepada mereka yang sudah mendukung acara kita.

mm
Currently learning website coding, design, and writing.

Dinasti Politik di Indonesia dan Filipina

Previous article

Idul Adha Bukan Sekedar Ritual Sakral

Next article

You may also like

More in REPORTASE