ANALISA

Menyetir Femininitas Dengan Motor Matic

0

 

Art of Shehzil Malik

*Menuju hari International Women Day (IWD) 2021, kami berinisiatif untuk memfasilitasi para kontributor yang bersedia berbagi pemikirannya mengenai apa itu kajian perempuan dalam hal ini feminisme. Tentu tidak ada pemikiran yang sempurna, semua memiliki celah untuk dikritik. Kali ini kami akan menerbitkan lima tulisan dengan tema perempuan. Kami berharap semangat solidaritas ini mampu melampaui keyakinan spiritual, ras, wilayah dan lintas profesi, terutama sebagai upaya memajukan kesetaraan, mengentaskan kaum yang rentan menuju sebuah konsep setara dan adil yang sesungguhnya, tentu dengan runtuhnya hirarki dan kelas sosial.

Tim Gugus Tugas Coklektif

Tulisan ini berangkat dari pergulatan pikiran saya setelah diteriaki bapak-bapak di jalan sewaktu saya sedang sunset riding atau anak muda sekarang menyebutnya ‘nyenja’. Maksud hati saya ingin menghabiskan waktu sendirian untuk melepas penat dengan menaiki sepeda motor peninggalan ayah saya dahulu, motor lama memang, dan sudah legend. Motor Honda Astrea Prima keluaran tahun 1989 dengan kapasitas mesin 100cc. Kondisi mesin dan seluruh perintilannya masih bagus meskipun jujur saja saya memang tidak paham menyoal otomotif, tapi dari konfirmasi ibunda ratu (ibu) saya motor ini masih original seluruh onderdilnya. Bahkan tanpa menggunakan kick starter motor ini masih bisa dihidupkan dengan electric starter ditangan.

Meskipun tidak jarang motor-motor seusianya sudah banyak yang ngadat dan harus rutin menggunakan kick starter bila ingin mengendarainya. Ini pula yang mungkin menjadi sebuah keanehan bagi pengendara di jalanan ketika melihat perempuan mengendarai motor bebek lawas dengan kaki di ayunkan se-enaknya, tepat seperti teriakan bapak-bapak di awal tulisan ini. “Wong wedok kok numpak montor sikile mbegagah” atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi “perempuan naik motor kok kakinya ngangkang (kakinya terbuka).

Tentu kemudian saya tertegun kaget, memangnya ada perbedaan yang sahih pada cara mengendarai motor antara perempuan dan laki-laki? Seingat saya, dulu ketika saya belajar mengendarai motor saya tidak pernah di ajarkan untuk mengendarai motor ala perempuan atau singkatnya memang saya di ajarkan cara mengendarai motor dengan tujuan bisa mengendarai motor tersebut tanpa membawa jenis kelamin tertentu.

Benak saya semakin terpancing dengan teriakan bapak-bapak yang saya pun tidak tahu siapa beliau dan saya juga sedikit tidak peduli. Saya lebih tertarik pada isi perkataannya. Apakah ini berkaitan dengan etika perempuan di jalanan? Atau etika perempuan dalam berkendara? Atau mungkin ini berkaitan dengan jenis motor yang digunakan perempuan sampai kemudian muncul klasifikasi berkendara ala perempuan dan laki-laki?

Saya menulis tulisan ini bukan untuk menampilkan sebuah kesimpulan dari hasil proses berpikir saya, namun saya mencoba untuk mengajak pembaca menyelami kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari peristiwa di sekitar kita. Peristiwa yang mungkin terkesan biasa dan berulang setiap harinya. Seperti halnya mengendarai motor, di tahun 2020 motor bukanlah barang yang langka bahkan hampir di setiap rumah tangga memiliki motor, setidaknya itulah yang terjadi di Pulau Jawa.

Laki-laki maupun perempuan diperkenankan mengendarai motor. Laki-laki dan perempuan keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki SIM C (Surat Izin Mengemudi yang diperuntukkan bagi pengendara motor roda dua), meskipun tidak menutup kemungkinan masih terdapat keluarga yang menganggap bahwa laki-laki lebih wajib memiliki SIM dibandingkan perempuan. Laki-laki bebas mengendarai jenis motor apapun, begitu pula perempuan, seharusnya.

Sebelum kita lebih jauh mengasosiasikan perempuan dan motor, kita bisa terlebih dahulu memahami sejarah perkembangan motor dan perempuan di Indonesia. Dari desain-desainnya motor dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu, streetfighter, naked bike, moped, sport, cruisher, scooters matic, trail, dan lain-lain.

Namun dalam tulisan ini kita dapat mengambil dua jenis motor yang sedang merajai dunia otomotif Indonesia yaitu motor moped dan scooters matic. Moped atau yang lebih dikenal sebagai motor bebek merupakan jenis motor yang telah berkembang pesat di pasar otomotif Indonesia. Disebut sebagai motor bebek karena bentuknya yang menyerupai bebek dengan sayap depan atau frontwings yang menonjol ke samping kanan kiri, sedangkan bagian body belakangnya lancip ke belakang menyerupai bagian ekor bebek.

Sejak masa penjajahan Belanda motor bebek sudah dapat ditemukan di Indonesia, yaitu motor-motor buatan Eropa. Namun setelah Indonesia merdeka disekitar tahun 1960-an motor-motor dari Jepang semakin meramaikan transportasi di Indonesia. Pada 11 Juni 1971 PT. Ferderal motor resmi berdiri di Indonesia. PT tersebut kemudian dikenal sebagai Honda, namun PT. Federal tidak memproduksi motor, PT ini hanya bertugas merakit saja sedangkan komponen-komponennya di impor dari Jepang. Selang beberapa tahun dari berdirinya perusahaan motor tersebut, menyusul didirikannya pabrik Yamaha, Suzuki, serta Kawasaki.

Pada masa sebelum PT. Federal berdiri di Indonesia, tepatnya tahun 1958 Honda memproduksi Honda Super Cub yang berhasil menggemparkan dunia. Series ini merupakan motor bebek pertama yang dirilis Jepang. Dengan mengusung slogan iklan You meet the nicest people on a Honda, Honda berhasil menarik hati dunia. Selain itu, dunia otomotif yang kental dengan patriarki serta didominasi oleh laki-laki menjadi peluang besar bagi Honda untuk menawarkan produk yang inklusif atau dalam hal ini ramah terhadap perempuan. Motor-motor yang digemari masyarakat sebelumnya memiliki tangki di depan dengan desain yang terlihat macho, sehingga laki-laki yang mengendarainya akan terlihat sangat maskulin.

Namun trend tersebut berubah dengan munculnya penawaran produk motor Honda Super Cub yang turut menggandeng perempuan sebagai bintang iklannya. Perempuan bukan lagi pemeran pendukung atau hanya pemanis dalam frame iklan motor seperti pada motor-motor generasi sebelumnya, yang bahkan tidak memasukkan perempuan dalam iklannya.  Sedangkan dalam iklan Honda perempuan menjadi pengendara motor, sehingga semakin mengukuhkan konsep honda yang ingin menyasar perempuan sebagai bagian konsumen atau pasarnya. Jika dikaitkaan dengan perempuan, maka akan lebih mudah menggunakan kacamata sejarah gerakan perempuan Indonesia. Karena sejarah gerakan perempuan dapat merepresentasikan keadaan perempuan pada masa tertentu.

Pada tahun 1970-an contohnya, gerakan perempuan Indonesia sempat mengalami pembubaran sebagai dampak dari upaya pembersihan PKI, seperti dalam catatan Sri Hidayati dalam Jurnal Mimbal 2001. Organisasi-organisasi perempuan seperti Gerwani  dan organisasi perempuan yang bersifat independen mulai menghilang. Namun disisi lain muncul organisasi baru seperti Perwari yang melebur kedalam Golkar, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi serta PKK. Pada masa tersebut memang belum berorientasi pada permasalahan gender sebagaimana konsep yang sekarang sedang gencar di gaungkan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan-perempuan telah memiliki keberanian untuk ikut berpartisipasi dalam sektor publik.

Dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa pada saat Honda mengeluarkan series motor bebeknya dan berhasil menjadi trend di Indonesia, perempuan memang ikut andil sebagai bagian dari konsumen motor Honda. Pertimbangan lainnya adalah citra motor sebagai kendaraan laki-laki yang sudah bergulir sejak dahulu. Seperti pada masa penjajahan dimana yang memiliki motor hanya tuan-tuan tanah, mandor perkebunan, dan pejabat-pejabat yang tentu saja seluruhnya di duduki oleh laki-laki masih berlanjut sampai pasca kemerdekaan. Sehingga meskipun di tujukan untuk dikendarai perempuan, motor honda juga masih menjadi pasar bagi kaum laki-laki.

Sebagai sesama pengendara sepeda motor bebek, masa tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu masa penggebrakan stereotipe mengenai perempuan dan motor. Motor bebek yang di desain sedemikian rupa juga memudahkan perempuan yang masih menggunakan kebaya atau rok di kehidupan sehari-hari, baik untuk mengendarai maupun menjadi penumpang. Mengingat bahwa cara mengenakan kain jarik bagi laki-laki dan perempuan pun berbeda. Perempuan mengenakan kain dengan melangkahkan kaki kanan di depan untuk mengukur luasnya langkah kaki. Sedangkan laki-laki mengukurnya dengan membuka lebar kakinya ke samping.

Lantas sejak kapan etika perempuan menaiki motor tidak boleh dengan kaki terbuka dimulai? Apakah karena  pada fase ini perempuan menggunakan kebaya dan rok yang notabene tidak bisa membuka kakinya menjadi tataran nilai berkelanjutan dalam mengendarai sepeda motor ala perempuan? Saya pun tidak memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut, dan silakan mencari tahu lebih lanjut mengenai sejarah fashion perempuan Indonesia (tulisan ini lebih merujuk pada kondisi di jawa) serta kaitannya dengan penjualan motor di masa tersebut! Namun lebih lanjut yang ingin saya ketahui adalah perkembangan di dunia otomotif dari motor bebek ke motor matic. Motor Matic dahulu kerap menjadi stereotype sebagai motor perempuan. Akan tetapi kini motor matic berkembang begitu pesat dan dikendarai oleh laki-laki maupun perempuan. Bagaimana hal tersebut terjadi ?

Notes : Saya sebenarnya tertarik untuk mengaitkan distribusi motor dengan revolusi hijau, misalnya apakah dengan adanya pergantian bibit padi dengan bibit unggul yang kemudian membuat perempuan kehilangan tempat di sektor publik (seperti halnya di dalam wilayah kerja pertanian) juga berkaitan dengan jumlah kepemilikan motor di dalam masyarakat pertanian. Karena kemudian berdampak pada ruang kerja yang di penuhi oleh laki-laki, sedangkan motor erat kaitannya dengan transportasi laki-laki. Di sisi lain, saya menyangsikan hal tersebut karena bisa saja hanya kelas tertentu yang mampu memiliki motor. Namun saya juga tidak memiliki sumber data yang bisa membantu menarik asumsi tersebut. barangkali pembaca memiliki sumber informasi serupa dapat menghubungi saya ya! Terimakasih!

Diva Oktaviana
Sedang mendalami bidang ilmu Antropologi Universitas Airlangga sejak 2017 dan suka membahas isu-isu gender

    Membaca Feminist Manifesto dalam Keseharian

    Previous article

    Konflik Baru dalam Bisnis yang Diklaim Sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT)

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA