ANALISAMISUH

Mengurai Benang Kusut Aksi #MosiTidakPercaya di Banyuwangi

0

AdolfXHunter

Pada 7 Oktober 2020. Konsolidasi #MosiTidakPercaya dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat Banyuwangi. Konsolidasi dilakukan pada waktu dan tempat yang berbeda. Dari berbagai konsolidasi tersebut, terdapat banyak kelompok dan dua aliansi besar. Pertama: Aliansi Cipayung Plus – Banyuwangi yang terdiri dari beberapa Organisasi Mahasiswa Ekstra (Ormek), seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kedua: Aliansi Banyuwangi Bergerak (ABB) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, seperti warga pejuang agraria, petani, buruh, pelajar, mahasiswa, dan elemen masyarakat sipil lainnya.

ABB dan Cipayung Plus melakukan konsolidasi pada hari yang sama, tetapi waktu dan tempat yang berbeda. ABB konsolidasi dengan berbagai elemen masyarakat, sedangkan Cipayung Plus melakukan konsolidasi dengan kelompok mahasiswa. Ironisnya, konsolidasi pertama yang diselenggarakan oleh elit Cipayung Plus ternyata bersama Wakasat Intel Polresta Banyuwangi. Beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Ormek, seperti anggota PMII, merasa kecewa dan memilih keluar (walk out) dari konsolidasi yang diadakan Cipayung Plus. Tidak diketahui pasti berapa kali elit Cipayung Plus melakukan konsolidasi bersama pihak kepolisian—dan, tentu saja, sebagian besar massa aksi #MosiTidakPercaya tidak mengetahui persoalan ini.

Pada 8 Oktober 2020. Aksi #MosiTidakPercaya Cabut Omnibus Law dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Sedangkan di Banyuwangi, berbagai aliansi dan elemen masyarakat sipil masih melakukan konsolidasi. Dari sekian kelompok—yang sebelumnya tidak saling terhubung, menyepakati aksi serentak pada hari kerja Senin 12 Oktober 2020, termasuk ABB, Cipayung Plus, kelompok pelajar, buruh, supporter bola, warga pejuang agraria, dan berbagai elemen masyarakat Banyuwangi.

Pada 11 Oktober 2020. Konsolidasi kembali dilakukan oleh berbagai kelompok dan aliansi tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, aksi #MosiTidakPercaya di Banyuwangi tidak dalam satu komando.

Pada 12 Oktober 2020. Aksi #MosiTidakPercaya dilakukan di depan Gedung DPRD – Banyuwangi. Ribuan massa aksi Cabut Omnibus Law memadati jalanan menuju Gedung DPRD – Banyuwangi. Boleh dikatakan, aksi tersebut merupakan aksi terbesar yang pernah terjadi di kota Banyuwangi pada Orde Reformasi. Dihadiri oleh berbagai kelompok: dari masyarakat sipil, mahasiswa, kelompok tani, buruh, komunitas pelajar, supporter bola, dan warga pejuang agraria di Banyuwangi.

Nahasnya, massa aksi Cipayung Plus merusak aksi cabut Omnibus Law. Tidak hanya dalam konsolidasi, Cipayung Plus juga melakukan ‘kerjasama’ dengan polisi di lapangan. Ketegangan pun terjadi dengan saling hujat dan saling dorong antar massa aksi; Cipayung Plus meneriaki massa aksi lain yang tak ber-almamater sebagai ‘provokator’, sedangkan massa aksi lainnya meneriaki Cipayung Plus sebagai ‘impostor’. Ketika massa aksi mencoba untuk menduduki Gedung DPRD – Banyuwangi, pada saat yang sama, massa aksi Cipayung Plus justru dikawal aparat kepolisian menyelinap dan bertemu dengan pihak DPRD – Banyuwangi; membubuhkan ‘tanda tangan’ dan menyepakati ‘kontrak’ di atas surat yang isinya tak diketahui massa aksi Cabut Omnibus Law—perlu diketahui, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas adalah salah satu Satgas Omnibus Law. Aksi di Banyuwangi pada hari itu bubar dengan kekecewaan terhadap aksi yang telah dirusak dan ditunggangi oleh massa aksi Cipayung Plus.

Pada 15 – 17 Oktober 2020. Berbagai kelompok massa aksi melakukan evaluasi dan konsolidasi rencana aksi #MosiTidakPercaya jilid 2. Banyak massa aksi menyampaikan kekecewaan terhadap aksi yang dirusak oleh tindakan khianat massa aksi Cipayung Plus. Berdasarkan evaluasi tersebut, berbagai aliansi sepakat untuk tidak melakukan aksi bersamaan dengan Cipayung Plus. Selain kompromis dengan aparat pemerintah juga sebab mengesampingkan elemen masyarakat sipil lain yang bukan dalam kelompok mahasiswa, yang sebenarnya juga terancam adanya UU Cipta Kerja dalam produk hukum Omnibus Law.

Pada 22 Oktober 2020. Aksi #MosiTidakPercaya Cabut Omnibus Law jilid 2 di Banyuwangi kembali dilakukan. Kali ini, aksi dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat; Aliansi Banyuwangi Bergerak, Aliansi Pelajar Banyuwangi, Aliansi Supporter Banyuwangi, Forum Rakyat Banyuwangi, berbagai kelompok warga Banyuwangi yang sedang berjuang dalam konflik agraria, pelajar, buruh, mahasiswa (tanpa almamater), dan elemen masyarakat sipil lain. Seperti kesepakatan sebelumnya, aksi Cabut Omnibus Law jilid 2 tidak diikuti oleh Cipayung Plus.

Sebab kesewenang-wenangan pemerintah Indonesia memaksakan hukum yang tidak berpihak pada rakyat dan maraknya tindakan represif aparat di berbagai wilayah Indonesia, massa aksi marah dan menjebol gerbang gedung DPRD – Banyuwangi. Aparat kepolisian yang dikerahkan lebih banyak dari aksi jilid 1, bahkan didatangkan dari luar Banyuwangi. Terjadi penangkapan dan kekerasan terhadap massa aksi #MosiTidakPercaya jilid 2: belasan ditangkap, puluhan luka-luka, dan dua massa aksi dilarikan ke rumah sakit. Tidak hanya itu, terjadi kekerasan pasca penangkapan, bahkan massa aksi yang ditahan tidak diizinkan untuk melakukan ibadah sholat Jum’at. (Kabar terbaru: massa aksi yang ditahan telah didampingi Tim Hukum—telepon genggam massa aksi sempat ditahan dan diperiksa polisi, dan massa aksi telah dilepaskan, yang didampingi Tim Medis dan dirawat di RS juga sudah dapat pulang)

Pada 26 Oktober 2020. Aliansi Cipayung Plus kembali melakukan aksi Cabut Omnibus Law—sebut saja #MosiSetengahPercaya—di depan Gedung DPRD – Banyuwangi. Massa aksi Cipayung Plus berjumlah kurang dari 30 orang. Tak selang berapa lama, sekitar 50 massa aksi tanpa-almamater hendak melakukan aksi bersama. Namun, alih-alih menyambut massa aksi yang hendak menyuarakan isu yang sama, massa aksi Cipayung Plus justru ‘menolak’ mereka. Massa aksi Cipayung Plus melakukan penyingkiran terhadap massa aksi yang tak ‘ber-almamater’, lalu—secara langsung maupun tak langsung—‘membantu’ polisi menangkap mereka, dan setelah ditangkap—dapat ditebak—tidak diakui sebagai bagian dari massa aksi Cabut Omnibus Law. (Hingga kini, belum diketahui nasib massa aksi yang ditangkap pada 26 Oktober. Kabar burung: mereka digeledah barang bawaan, telepon genggam, dan diinterogasi perihal aksi, lalu dilepaskan. Informasi ini belum jelas)

Pada 28 Oktober 2020. Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Aliansi Banyuwangi Bergerak kembali menggelar aksi Cabut Omnibus Law. Kali ini, ABB melakukan aksi refleksi di Tugu Pancasila. Ketakutan aparat pemerintah terhadap aksi Cabut Omnibus Law dengan cara mengerahkan banyak aparat kepolisian dan melakukan penyisiran secara serampangan terhadap masyarakat Banyuwangi yang berlalu-lalang pada waktu dan lokasi sekitar aksi.

Beberapa kelompok massa aksi menunda untuk terlibat, setidaknya untuk beberapa hari terakhir, dengan santernya isu pencarian pihak aparat kepolisian terhadap orang atau kelompok yang dituduh—tanpa bukti—sebagai organisator aksi, seperti: Aliansi Banyuwangi Bergerak, Forum Rakyat Banyuwangi, para pelajar, warga pejuang agraria, kelompok ‘Anarko’, dan entah kelompok mana lagi yang menjadi tuduhan ngawur tersebut. Padahal–jika aparat pemerintah sedikit cerdas, aksi #MosiTidakPercaya terjadi karena kesadaran masyarakat Banyuwangi sendiri untuk menuntut dicabutnya UU Omnibus Law dan kemarahan masyarakat Banyuwangi terhadap tindakan represif aparat negara pada masyarakat Indonesia yang turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan tersebut.

Peng-kambing-hitam-an oleh aparat negara, pihak kepolisian maupun DPRD – Banyuwangi (juga para pion pemerintah yang mencoba menggembosi #MosiTidakPercaya, misal Cepuyeng), terhadap pihak-pihak tertentu yang dianggap sebagai ‘dalang’ aksi #MosiTidakPercaya, hanya menunjukkan kebodohan dan kegagapan mereka memahami protes rakyat. Sebaliknya, aksi #MosiTidakPercaya justru menunjukkan masyarakat Banyuwangi mempunyai kepedulian dan kesadaran bersama untuk melakukan protes terhadap pemerintah yang sewenang-wenang. Juga bahwa, cepat atau lambat, masyarakat Banyuwangi akan kembali turun ke jalan.

*Catatan: Semi-kronologi ini ditulis sebagai upaya menguraikan permasalahan yang terjadi beberapa minggu terakhir seputar #MosiTidakPercaya di Banyuwangi. Agar kita dapat meraba dan menegaskan mana kawan dan mana lawan. Dan, tentu saja, sebagai pengingat bagi tiap-tiap kawan untuk kembali turun ke jalan.

Lalla Fatma
Salah satu peserta aksi #MosiTidakPercaya di Banyuwangi

    Mari Jaga Nyala Api Perlawanan untuk Menyuarakan Mosi Tidak Percaya dan Tolak Omnibus Law

    Previous article

    Surat Solidaritas Venezuela Melawan Imperialisme

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA