RENUNGAN

Menghidupkan Kolektivitas di Kebun Merdeka

0

Komunitas rakyat yang relatif mandiri,yang tampak bergantung pada lingkungan nya untuk sarana kehidupan,akan mendapatkan penghormatan baru terhadap hubungan timbal balik organik yang menopangnya.

(Murray Bookchin)

Cerita yang Berawal Dari Tanah Tanpa Kepemilikan

Kebun Merdeka adalah sebidang lahan yang terbengkalai tanpa ada status kepemilikan tanah. Tanah kosong yang awalnya tempat pembuangan sampah ini kami sulap menjadi kebun untuk menanam beragam varietas sayur mayur untuk kebutuhan domestik. Kebun Merdeka ini terletak di daerah aliran sungai (DAS) dalam kawasan lereng gunung dengan luas sekitar 50 bata/ 700 meter persegi.

Beberapa bulan pasca masa tanam pertama, Kebun Merdeka berhasil menarik beberapa kawan untuk ikut terlibat. Saat ini sudah ada 6 kawan yang terlibat mengelola kebun, termasuk si penulis. Semua individu yang terlibat memang berdasar kesadaran dan inisiatif masing-masing untuk terlibat tanpa tendensi dan tanpa paksaan. Meskipun kami memiliki beragam latar belakang namun kami mempunyai satu tujuan yang sama, yakni belajar secara komunal untuk mengelola tanah yang kosong.

Metode yang kami terapkan untuk mengelola kebun merdeka ini menggunakan asas sederhana, yakni : “sama rata, sama rasa dan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Dalam praktiknya, kami mengedepankan  rembuk (diskusi), sehingga hak berpendapat tetap berlaku sebagai pondasi dalam mengambil keputusan.

Ketika dalam sebuah diskusi kami menemukan kebuntuan dalam mengambil keputusan, kami memutuskan untuk mengambil jalan tengah di antara pendapat yang ada,  agar  suasana rembuk dan diskusi tetap menjunjung tinggi kekeluargaan.

Sejak bersama-sama mengelola kebun merdeka ini, kami semua bersepakat untuk membagi peran dan kerja secara desentralis. Kami membagi lahan Kebun Merdeka menjadi 3 petak lahan dan masing-masing lahan dikelola oleh 2 anggota. Kelompok kerja ini fokus di lahan yang mereka kelola masing-masing.

Selain mengolah tanah, kami juga giat untuk mempromosikan ragam tanaman yang dibutuhkan dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk kebutuhan domestik. Dalam praktiknya, kami menanam berbagai sayur mayur seperti terong, cabe, tomat, kacang panjang, buncis, sawi hijau, dan bayam. Kami juga mencoba menanam buah yang mudah dipetik sewaktu-waktu, diantaranya semangka, pisang, dan pepaya.

Adapun untuk kebutuhan tambahan seperti bahan jamu dan tanaman obat keluarga (TOGA), kami menanam beberapa jenis tanaman herbal diantaranya telang, rosella, okra, dan empon-empon lokal seperti jahe dan kencur. Kami menyiapkan kebun herbal ini sebagai langkah untuk meminimalisir ketergantungan terhadap produk farmasi global, yang tentunya menyimpan efek samping bagi tubuh kita.

Kami mendapatkan bibit aneka tanaman untuk Kebun Merdeka dari relasi perkawanan serta komunitas serupa yang senantiasa berbagi bibit, hasil tanaman mereka, maupun sekedar sharing mengenai pertanian. Dari kegiatan ini, kami berinisiatif membangun dan mengembangkan konsep tanam-makan-tanam.

Jadi ketika tanaman siap panen, sebagian kita proses untuk pembibitan  supaya ongkos beli bibit, bisa di alokasikan untuk perawatan tanaman dan biaya kebun yang lain. Hal ini juga sebagai langkah kecil Kebun Merdeka untuk menciptakan keberlanjutan ketahanan pangan dalam satu komunitas yang kecil.

Selanjutnya, ketika beberapa tanaman memasuki usia panen, sesuai dengan kesepakatan awal siapupun berhak mengambil hasil panen dengan secukupnya, sesuai kebutuhan domestik masing-masing. Selain untuk menambah kebutuhan domestik dari 6 individu yang tergabung, sebagian hasil panen juga kami jual ke tetangga sekitar yang memang berjualan kebutuhan pangan. Dengan metode tersebut, pola hidup-menghidupi satu sama lain dapat tercapai secara bertahap.

Pola untuk saling hidup-menghidupi’ kami letakkan sebagai basis sosial ekonomi komunitas. Kami yakin hal tersebut relevan sebagai isu dominan di kalangan kelompok rentan hari ini, mengingat kebanalan sistem pasar bebas dengan sengkarut produk undang-undangnya yang terbukti hanya membuat kenyang pemegang tahta dan kekuasaan.

Dalam tiap pemikiran individu di Kebun Merdeka, kami memandang pertanian sebagai aktivitas budaya, dimana ruang-ruang sosial tercipta melalui tatap muka praktis sehari-hari, serta dari aktivitas pengolahan tanah secara komunal.

Sebagai upaya propaganda Kebun Merdeka, kami tidak bosan untuk mengkampayekan aktivitas menanam dan pengolahan lahan terbengkalai, yang kemudian kami tempatkan sebagai antithesis politik elite yang lebih radikal. Kami akan selalu tumbuh seperti tunas yang bersemi dilahan-lahan merdeka.

Kebun Merdeka

Organik Sebagai Langkah Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Telah kita ketahui bersama bahwa penggunaan pestisida serta produk pupuk kimia lainnya, telah membawa dampak serius yakni “polusi tanah”. Polusi tanah ini ialah suatu gejala pencemaran tanah akibat konsentrasi penggunan produk pestisida dan pupuk kimia. Akibatnya, zat hara dalam tanah  akan menghilang, menghancurkan kesuburan tanah serta menghilangkan binatang pengurai. Sejatinya hubungan mereka terjalin dalam satu ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga keseimbangan ekologis.

Kami mempromosikan penggunaan bahan organik yang juga kami terapkan di Kebun Merdeka untuk menekan penggunan produk korporasi pestisida. Awalnya, kami bereksperimen secara sederhana dengan membuat pupuk cair dari limbah dapur dan kotoran kambing. Setelah dirasa cukup, kami juga membuat obat tanaman maupun pupuk dengan cara memfermentasi bahan-bahan organik yang mudah ditemukan di sekitar kita.

Kebun Merdeka percaya bahwa kesehatan dalam tubuh bergantung pada konsumsi pangan. Jika kita mengkonsumsi bahan pangan yang tidak sehat, bahkan tercemar oleh senyawa zat kimia dari pestisida, maka jelas kesehatan kita menjadi taruhan dan kita akan terus “diancam” oleh senyawa racun yang tersembunyi. Alam sudah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam tubuh manusia, dengan pondasi ekosistem yang kuat. Hal ini dapat dibuktikan melalui keragaman spesies yang menopang siklus rantai makanan dalam sebuah ekosistem.

Mengutip dari Murray Bookchin, bahwa “Kita harus memberi banyak ruang untuk spontanitas alami, karena keberagaman biologis lah yang membentuk situasi ekologis”. Secara ekologis, tanah adalah ekosistem dan komunitas biotik, dan tanah bukanlah sumberdaya atau alat. Tetapi tanah adalah habitat dari berbagai jenis bakteri, jamur, serangga, dan mahluk hidup lainnya.

Maka ditengah krisis ekologis yang tengah menggejala saat ini, Kebun Merdeka merupakan upaya politik dan budaya tandingan terhadap kekuasaan yang telah mapan dan struktur hierarki yang menindas.

Manifestasi

Kita hidup dalam dunia yang kian jemu akibat krisis multidimensi. Kemiskinan, kelaparan, kerusakan ekologis yang menghantam segala lini, terjadi bukan tanpa sebab. Semua itu terjadi secara sistemik, disebabkan oleh kebanalan kapitalisme, yang langgeng sampai hari ini. Dalam menghadapi keadaan yang semakin menyengsarakan dan menjemukan hari ini, kita tidak cukup hanya pasrah pada keadaan.

Kita harus mempunyai pandangan ke depan untuk membangun dunia yang lebih harmonis, di mana semua saling bersolidaritas satu sama lain, dan tidak lagi kekurangan bahan pangan. Untuk meminimalisir terjadinya kelaparan yang mewabah, dibutuhkan lumbung pangan lokal dengan tata kelola kolektif. Melalui tata kelola yang mengedepankan kolektivitas, pemerataan sumber pangan menjadi lebih terbuka dan mudah dijangkau oleh kelompok rentan (kaum miskin, buruh tani dsb).

Ini bukan sekedar alternatif, sebagai bagian dari perlawanan terhadap krisis dan monopoli bahan pangan. Akan tetapi, ini juga sebagai aksi langsung untuk menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang, dan menempatkan aksi-aksi harian dalam konteks politik yang lebih radikal, melalui bercocok tanam.

Untuk bercocok tanam, kita membutuhkan lahan namun kita tidak harus memiliki lahan. Untuk menjawab kebutuhan lahan, kita bisa menghidupkan lahan-lahan terbengkalai, selain itu kita juga bisa memanfaat kan lahan milik negara yang tidak terawat seperti lahan yang berada di daerah aliran sungai (DAS). Langkah kecil ini semoga bisa mendorong siapapun yang ingin menanam, merawat, mengambil sesuai kebutuhan domestik dan bebas berkontribusi dalam bentuk apapun sesuai kemampuan dan keinginan tiap individu.

Bercocok tanam adalah tindakan yang revolusioner secara ekologis. Suatu yang revolusioner tidak selalu dan harus identik dengan tindakan besar, kekerasan serta penghancuran massal. Menurut pandangan pribadi penulis, revolusi adalah sebuah kerja komunitas, dari masyarakat yang memiliki visi dan misi untuk bekerja mengolah hasil kebun/ladang dengan prinsip kolektivisme. Dengan metode kerja yang demikian, maka diharapkan akan tumbuh kesadaran di level politik dan kultural, untuk membendung kekuatan intervensi negara dan kapitalisme.

Maka, menegakkan kedaulatan pangan adalah sebuah revolusi mutakhir dalam lingkup kecil komunitas. Dan, revolusi juga berarti ketika, ladang/kebun bisa dinikmati bersama-sama tanpa ada unsur kepemilikan pribadi. Saling berbagi dan percaya bahwa kita bisa menghasilkan bahan pangan kita sendiri secara lokal, dan berdaulat atas hidup.

Kebun Merdeka
Kolektif Pangan Jombang yang mendukung Agroekologi

    Beginilah Cara Mereka Menangani Covid-19 di Wilayah Zapatista

    Previous article

    Dari Joko Tarub Hingga Joko Ta’aruf

    Next article

    You may also like

    More in RENUNGAN