REVIEW

Membaca Feminist Manifesto dalam Keseharian

0

*Menuju hari International Women Day (IWD) 2021, kami berinisiatif untuk memfasilitasi para kontributor yang bersedia berbagi pemikirannya mengenai apa itu kajian perempuan dalam hal ini feminisme. Tentu tidak ada pemikiran yang sempurna, semua memiliki celah untuk dikritik. Kali ini kami akan menerbitkan lima tulisan dengan tema perempuan, ada dua tulisan dengan sudut pandang pemuda muslim progresif dalam melihat kesetaraan, gender dan ihwal perempuan itu sendiri. Kami berharap semangat solidaritas ini mampu melampaui keyakinan spiritual, ras, wilayah dan lintas profesi, terutama sebagai upaya memajukan kesetaraan, mengentaskan kaum yang rentan menuju sebuah konsep setara dan adil yang sesungguhnya, tentu dengan runtuhnya hirarki dan kelas sosial.

“Budaya tidak membentuk manusia. Manusialah yang membentuk budaya”-Chimamanda Ngozi Adichie-

Terlahir sebagai seorang perempuan menjadi suatu kesialan bagi manusia, begitulah ungkapanku ketika selesai membaca buku karya Chimamanda. Betapa sialnya menjadi seorang perempuan yang dianggap remeh oleh orang lain, tragisnya lagi yang paling meremehkan adalah sesama perempuan.

Yah, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, banyak para perempuan menghakimi perempuan lain tanpa tabayyun terlebih dahulu. Perempuan tanpa dibenci perempuan lain, itu sudah dibenci oleh budaya patriarki, jadi ayolah saling mendukung dan mengingatkan.

Perempuan sama seperti laki-laki, adalah manusia seutuhnya dan bisa melakukan apa yang mereka kehendaki sesuai kemauannya. Perempuan bisa kuliah, bisa latihan silat, bisa bermain bola (walaupun belum muncul di media bola perempuan) dan juga perempuan bisa mendaki gunung.

Warisan Budaya Patriarki

Zaman sebelum Nabi Muhammad SAW, para perempuan hanya menjadi alat bagi manusia yaitu alat tukar dan alat pemuas hawa nafsu. Para orang tua merasa malu jika yang dilahirkan adalah seorang perempuan. Ada yang membuangnya dan ada pula yang menguburnya hidup-hidup, sangat menyedihkan memang.

Nabi diutus oleh Allah SWT, untuk menyempurnakan akhlak manusia. Berbeda pandangan terhadap perempuan setelah nabi datang, para orang tua senantiasa merawat anaknya sebagaimana laki-laki. Nabipun memberi contoh kepada umatnya ketika Khadijah melahirkan Fatimah, bagaimana nabi mencintai Fatimah dan memuliakannya. Sehingga banyak perempuan yang lebih berani dan bebas, seperti Fatimah dan Aisyah sendiri. Nabi sudah mencontohkan.

Kita maju agak kedepan lagi di zaman penjajahan, bagaimana seorang Pram menggambarkan  perempuan yang ditukar oleh keluarganya demi uang dan jabatan untuk dijadikan gundik penguasa yang haus akan seks.

Kita maju lagi di zaman teknologi, bagaimana seorang Chimamanda yang di larang masuk ke hotel dan diintrogasi oleh satpam hotel karena berjalan sendiri ke hotel. Di Nigeria, seorang perempuan yang berjalan sendiri ke hotel pasti seorang pekerja seks. Berbeda dengan laki-laki yang berjalan sendiri ke hotel, apapun alasan laki-laki tersebut pasti memiliki kepentingan dan tujuan yang sah (hal 8).

Mari kita maju sekali lagi di zaman sekarang ini, bagaimana warisan patriarki langgeng di seluruh dunia. Seperti yang sering kita dengar sehari-hari, “ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi? Kalau pada akhirnya perempuan menikah dan berada di dapur?”.

“Perempuan umur segini harusnya udah punya anak”

“ngalah aja, kamu perempuan gak akan kuat”.

“perempuan gak boleh pulang malam-malam”

Suatu hari saya pergi ke kampus dan mendengarkan percakapan teman saya yang harus berhenti kuliah hanya untuk mengalah pada adik laki-lakinya agar bisa melanjutkan kuliah. Hal-hal seperti ini sering saya dengar, karena keluarga saya sedang melanggengkan budaya tersebut.

Masih banyak lagi kalimat dan perilaku yang membuat para perempuan menjadi insecure hingga akhirnya tidak berkembang.

Budaya patriarki membawa perempuan menjadi kelas kedua, dimana hanya laki-lakilah yang berhak berkuasa dan perempuan cukup berada dibelakang laki-laki. Budaya seperti itu hanya membuat skat antara perempuan dan skillnya, membiarkan perempuan hanya memiliki mental macak, masak lan manak (berdandan, memasak dan melahirkan).

Agar kita tidak mewarisi budaya patriarki, Chimamanda dalam bukunya memberikan anjuran-anjuran untuk kita yang sangat mengena.

Lima Belas Anjuran Chimamanda

Lima belas anjuran yang di tulis oleh Chimamanda, yang paling aku ingat adalah ketika Chimamanda meminta agar kita menjadi manusia seutuhnya. Menjadi permpuan yang kau mau, bagaimana kau bekerja, bagaimana kau menikah dan bagaimana kau hidup, jangan pernah meminta maaf atas pekerjaanmu karena itu adalah hak mu.

Peran gender adalah omong kosong belaka, perempuan bisa saja jadi pesilat yang tangguh, perempuan juga bisa menjadi penyanyi yang ngetop, perempuan bisa jadi apa saja, tidak hanya soal ngepel dan memasak. Bukan soal dia laki-laki atau perempuan tapi soal sanggup tidaknya dia melakukan.

Anjuran yang sensitif yaitu jangan menjadikan pernikahan sebuah pencapaian. Pernikahan bukan sebuah prestasi, juga bukan hal yang harus di cita-citakan. Pernikahan bisa membahagiakan bisa juga tidak, tetapi yang jelas itu bukan prestasi (hal 54). Jangan pernah mengkondisikan anak perempuan kita mencita-citakan pernikahan, hal tersebut akan membuat perempuan menyibukkan diri untuk memikirkan pernikahan, dan melupakan tentang agama dan sains yang sangat luas.

Anjuran kesekian, ajarkan anak kita tentang seks sedini mungkin. Anjuran terakhir yang dijelaskan Chimamanda, ajarkanlah anak kita tentang perbedaan dan penghargaannya.

Anjuran di atas adalah beberapa dari lima belas anjuran Chimamanda yang sangat detail. Saya jadi paham mengapa kita semua diharuskan menjadi feminis, penjabaran yang mendetail dan santai bagi feminist pemula.

 

Judul               : A Feminist Manifesto

Penulis             : Chimamanda Ngozi Adichie

Penerbit           : Odyssee

ISBN               : 978-0-7334-2609-4

 

 

 

Siti Sumriyah
Penulis aktif di GUSDURian Surabaya, sedang belajar membaca. Penulis dapat dihubungi melalui Twitter: @Sumriyah19 Instagram: @sumriyahs

    Pangkalan Truk Banyu Putih Dihilangkan, Rakyat Kecil Tereksklusi (Bagian 1)

    Previous article

    Menyetir Femininitas Dengan Motor Matic

    Next article

    You may also like

    More in REVIEW