CERPENnganggur

Melangkah Menebus Dosa

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

“Tapi tunggu dulu, apa kau sudah mulai lupa tentang lambung-lambung rakyatmu yang dililit kelaparan? Apa kau sudah mulai buta tentang keriput-keriput kulit rakyatmu yang saban malam diterjang kedinginan?” Sembari menyulut rokok kakanda guru menatap langit malam di balik jendela.

“Jangan kau merasa berdosa di depanku. Suatu saat kau akan temukan rakyat yang tak lagi menginginkan sesuatu, selain darahmu,” ucapnya pada seorang lelaki yang sedari tadi berdiri.

“Pulanglah, tatap lagi nisan kedua orang tuamu,” pesan kakanda guru yang hilang diambang pintu.

Lelaki itu kini melangkah pulang dengan bayang-bayang masa lalunya. Dalam berkendara ia kembali diantar pada ingatan masa kecilnya. Rumah yang melahirkannya terancam di gusur. Tempat bermainnya akan disulap menjelma cerobong pabrik.

Dan, perlahan lelaki itu meneteskan air mata, ingatannya terbang pada dua sosok yang terbaring dengan dada dan kepala tertembus timah panas keserakahan.

“Pakkk, maakkkk, aku sungguh durhaka. Kalian mati sebab membentengi rumah kita yang berdinding rotan itu. Aku durhaka padamuu pakk, maakk,” tangisnya sembari memeluk nisan sang bapak.

Lelaki itu kembali menatap nisan orang tuanya

“Aku masih tak mampu menebus darahmu pak. Aku masih tak mampu membayarkan dendammu mak. Tunggu waktu,”

Kini lelaki itu terancam. Lelaki itu memilih melawan. Melawan keserakahan para pengusaha yang akan menggusur deretan rumah dengan dalih kepentingan negara. Kehilangan kursi kekuasaan adalah harga yang ia harus bayar.

***

Tiga bulan sudah lelaki itu menyisir kehidupan yang tiap detik kian memuakkan. Berpindah dari pelataran toko ke masjid hingga sekedar beralaskan daun-daun kering yang gugur diterpa truk-truk pengangkut besi-besi peradaban. Lama sudah lelaki itu menyandang kesedihan, raut wajah kedua orang tua menggantung di setiap langkahnya. Hantu-hantu masa lalu masih bergentayangan. Kadang berupa angin, debu, bahkan aspal-aspal jalan yang kadang kala menjelma wajah orang-orang yang dulu pernah diusir olehnya. “Mati. Apakah aku harus mati saja?” Batinnya.

Matahari menyengat ubun-ubun lelaki itu. Melangkah saja tanpa arah, tanpa tujuan. Rupa-rupa manusia ditemuinya. Hingga dipelataran toko kembang, lelaki itu melihat seorang kakek berkalang sorban, persis kakanda guru. Kini wajah kakanda guru terbayang, setelah sekian lama menghilang dari peredaran ingatannya. “Pulanglah, tatap lagi nisan kedua orang tuamu.” Pesan kakanda guru kembali memporak-porandakan hatinya.

Cukup lama lelaki itu meninggalkan tanah kelahirannya. Meninggalkan kampung halamannya yang berubah neraka dengan janji surga.

Setahun lalu, cerobong pabrik menjulang di antara sesak kampungnya. “Masih adakah sepohon-dua pohon untukku berteduh?” Batinnya bertanya. “Ya, aku harus pulang untuk memastikannya dan memastikan apakah tanah kematian orang tuaku masih ada, atau justru diratakan oleh omong kosong kesejahteraan.”

Lelaki itu duduk menegakkan punggung. Dengan tangan menyangga dagu, ia merangkai ingatan, melengkapi niatnya untuk melangkah pulang. Tetapi batinnya bergejolak, rasa berdosa mengaum keras. “Pulang. Titik,” ucapnya yakin dalam bimbang.

Melangkah lagi dan kini ada arah, pun ada tujuan.

***

Seketika, langkahnya terhenti. Tatapannya kosong, tanah lapang nan gersang tepat depan matanya. Nisan yang bertuliskan nama bapak dan emaknya tercerabut dari tempatnya.

Satu persatu ingatannya ketika berkuasa kembali bergejolak bicara, “Dulu, kau pun begitu. Tak pandang bulu. Semua demi kepentingan golonganmu. Kesejahteraan semu kau teriakkan tanpa dosa. Kini, semesta menugaskanku, membayarkan dendam rakyatmu yang dulu juga kau hancurkan kehidupannya.”

Kini, dada lelaki itu remuk, hancur ditikam dosa masa lalu. Bersandar pada sisa-sisa bongkahan dinding rumah, ia pun bergumam, “Kepada siapa aku akan berterima kasih sebab telah menyadarkan. Kepada siapa aku meminta maaf sebab dosa yang lalu. Kepada siapa!! Siapa?”

“Atau Biarkan. Biarkan saja aku hidup disamping mayat-mayat yang tergeletak di atas tanah sendiri. Biarkan darahku mengalir di sini, di tanah ini. Tak ada lagi ampun bagi manusia yang setiap nafasnya lahir dari nafas orang lain. Tak ada lagi anpun bagi manusia yang kenyang perutnya harus melaparkan perut orang lain. Tak ada lagi ampun bagi penguasa seperti ku. Yaa, selama ini diriku hanyalah penguasa rakyat bukan pemimpin rakyat.” Sesalnya sesak dalam dada.

Sebab, Dunia ini tua sebelum waktunya. Ya dunia ini akan mati sebelum waktunya. “Tapi, bagaimana dengan mereka yang kini berjudi nasib dengan manusia-manusia sejenisku.”

Kini, ia mengerti, kenapa seorang penyair cadel Wiji Thukul tak ditemukan batu nisannya. Puisinya tepat menggambarkan, siapa lelaki itu yang dulu. “Nasib hanyalah permainan kekuasaan.”

mm
Mahasiswa tukang ngopi yang suka bervespa

    Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta

    Previous article

    Kritik atas Neoliberalisme dan Enam Strategi Pasca-Corona (Bagian Pertama)

    Next article

    You may also like

    More in CERPEN