RENUNGAN

Mas Didi dan Kenangan yang Akan Selalu Tersimpan

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Sebenarnya ini adalah tulisan lama yang pernah terbit di Lingkaran Solidaritas, tempat saya bergiat beberapa tahun belakangan, sebelum dipenuhi keambyaran terkena terjangan skripsi yang tak kenal ampun. Mungkin tulisan ini jauh sebelum Mas Didi mulai ngehits lagi di kalangan anak senja, indie dan gaul. Saya mengenal Mas Didi dari keseharian, sejak kecil tembangnya sangat tidak asing. Tetangga saya sering memutarnya, menemani kesehariannya dalam bekerja. Pekerjaan penat, didinginkan oleh tembang Mas Didi, ini fakta bung.

Mas Didi yang berpulang hari ini tentu menyisakan kesedihan, khususnya untuk fans setianya, hingga fans barunya ‘sobat ambyar’. Sebagai sebuah penghormatan kepada beliau, saya ingin mengulas sedikit mengenai karyanya. Bahwa keambyaran yang ia sampaikan dan ngehits, bukan sekedar asmara menye-menye, tetapi ada juga keambyaran akan realitas. Di mana hidup serba susah, kala kaum kecil mengalami penindasan.

Sebelum berkelakar lebih jauh, saya ingin membahas tentang apa itu campursari, genre yang setia dipegang oleh Mas Didi. Campursari merupakan salah satu varian alkulturasi musik tradisional gamelan dengan musik barat, bagi sebagian masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Campursari merupakan sebuah identitas yang sudah melekat. Banyak kita jumpai baik di acara hajatan maupun di sela waktu istirahat lepas bekerja, campursari menjadi sarana mengusir penat melalui tembang syahdu melankolisnya maupun sedikit sentuhan dangdut modern.

Istilah campursari secara etimologis terbentuk atas dua suku kata Jawa, yakni Campur dan Sari. Dari berbagai definisi dan pengertian Campursari, gabungan dari kata Campur dan Sari mendapat pengertian, yaitu sesuatu yang paling berharga atau pokok.

Manthou’s selaku pakar dan penggagas Campursari yang terkenal lewat tembang Nyidam Sari ini berpendapat, bahwa Campursari sebagai seni olah nada yang digagasnya ialah sebuah respons perkembangan jaman. Ini dibuktikan dengan paduan instrumen Tradisional Jawa (gamelan) dan Instrumen Barat (gitar,organ dll). Periode 90-an adalah masa dimana Campursari karya Manthou’s berhasil mendapat respons baik di masyarakat. Hingga hari ini masih mendapat tempat di telinga para pendengar setianya, termasuk saya sendiri.

Sebagai generasi millenial yang lahir dari garis keturunan Nganjuk dan Jombang, Campursari yang menjadi produk seni budaya Jawa, tidak terlalu sulit untuk saya konsumsi. Bagi saya sebuah hasil karya yang menjadi identitas kolektif di masyarakat, terlebih akrab di telinga tukang becak, kenek, sopir, tukang parkir, buruh pabrik, kuli bangunan dan kelompok marjinal lainnya, memiliki sebuah kekuatan tersendiri dari segi sosio kulturnya. Ia berfungsi sebagai perekat antar individu maupun kelompok, kalau tidak begitu mengapa kemunculan fans Via Vallen (Vianisty) atau Nella Kharisma (Nella Lovers) begitu pesat bak munculnya jamur di musim penghujan?

Kembali ke topik Campursari, pasca era keemasan Manthou’s di tahun 90’an. Tongkat estafet Campursari di pegang oleh sosok Pria berambut gondrong kelahiran Surakarta 31 Desember 1966 yang juga merupakan adik dari salah satu seniman Srimulat kondang, yaitu Alm Mamiek Prakoso. Ialah Didi Prasetyo atau lebih akrab dikenal publik dengan nama Didi Kempot. Penyanyi yang memiliki ciri serta karakter yang khas ini mampu menyihir publik lewat tembang-tembang galaunya seperti : ketaman asmoro, sewu kutho,layang kangen, suket teki dll.

Namun siapa sangka dibalik kegalauan tembang Mas Didi tersebut, ternyata terdapat satu tembang yang cukup politis. Tidak percaya? simak saja:

Ungkapan protes Mas Didi cukup kontekstual apabila kita mengacu pada permasalahan terpenting kita hari ini, tentang kondisi ekologis yang terus dikacau oleh investasi, modal, polutan dan limbah.

Di lagu Pak Gubernur kegelisahan Mas Didi selaku Wong Kromo, tergambar pada kondisi Petani yang ibarat peribahasa Besar Pasak Daripada Tiang. Biaya produksi untuk mengolah lahan dan tanaman ternyata lebih besar dari untung yang harus diterima. Pada bagian tersebut Mas Didi mengungkapkan:

“Bubar Panen Kukur-kukur,Tiwas Nandur Bubar Panen Ngelus Dengkul.” (Setelah panen garuk-garuk, karena menanam justru mengelus dengkul / merugi).

Lebih lanjut, Mas Didi memberikan penjelasan penyebab hasil tanaman Petani yang tidak sesuai dengan harapan. Disinilah mulai nampak kesadaran Mas Didi menyeloroh pada kondisi sungai sebagai sumber mata air dan irigasi persawahan yang sudah tercemar, lalu berakibat pada menurunnya kualitas tanaman. Mas Didi berkata:

“Irigasi Toyane Kok Campur Bawur, Banyu Kali Sakniki Kok Kados Lumpur, Panen Kulo Sakniki Kantun Sepikul, Sing Serinjing Sakniki Kantun Sewakul, Irigasi Toyane Kok Campur Bawur, Jalarane Keno Limbah Pabrik Ngawur.” (Air irigasi kok tidak karuan, air sungai sekarang kok mirip lumpur, panen saya sekarang tinggal satu pikul, yang sekeranjang tinggal satu wakul, air irigasi kok tidak karuan, ternyata karena limbah pabrik ngawur).”

Tentu, Mas Didi dalam lagu maupun kesehariannya bukanlah seorang Insinyur, Aktivis atau Garda Depan Perubahan Bangsa seperti pada bait di awal lagu tersebut. Atas penghasilan yang mengalami penurunan, Mas Didi memilih untuk merespon cepat mengambil tindakan langsung melapor pada Gubernur selaku pemegang otoritas daerah, terhadap kondisi lingkungannya yang sedang dalam kondisi darurat. Simak saja video klipnya, lihatlah bagaimana Mas Didi dengan semangatnya membawa massa, berbondong-bondong untuk meminta pertanggung jawaban dari Pak Gubernur.

Selamat jalan Mas Didi, semoga engkau tenang di sana. Kami akan mengenang romantisme yang engkau buat, yang ternyata tidak menye-menye, sebuah potret realitas yang engkau sajikan dengan elegan.

Mas Didi, kami akan berjuang untuk memaknai apa itu keambyaran sebagai sebuah renungan untuk masa depan yang lebih baik, untuk kehidupan demokrasi yang lebih baik, agar keambyaran-keambyaran lainnya tak terulang lagi.

mm
Suka keambyaran, juga bermain sebagai drummer cadas Violence Resurrection dan hobi melapak bersama Perpustakaan Jalanan Jombang

Perubahan Iklim dan Potensi Munculnya Pandemi (Lagi)

Previous article

 Corona dan Psikologi Kritis

Next article

You may also like

More in RENUNGAN