MISUH

Lelucon dan Kebejatan Di Tengah Pandemi Corona

0

memes unfaeda

Agustus yang lalu Jerinx SID, Anji dan Hadi Pranoto menjadi sorotan di dunia maya akibat tindakan mereka yang kontroversial. Jerinx SID berani menyebut IDI (Ikatan Dokter Indonesia) di unggahan akun instagram miliknya sebagai kacung WHO, dan meminta mereka tidak mewajibkan ibu-ibu yang melahirkan untuk rapid test, karena menurut sepengetahuannya hasil tes itu kerap sembrono.

Ia pun menulis dengan terus terang di media sosialnya, “Bubarkan IDI! Saya enggak akan berhenti menyerang kalian @ikatandokterindonesia sampai ada penjelasan perihal ini! Rakyat sedang diadu domba dengan IDI/RS? Tidak. IDI & RS yang mengadu diri mereka sendiri dengan hak-hak rakyat”

Karena unggahan tersebut, ia dilaporkan oleh IDI ke pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik dan menyebarkan ujaran kebencian. Ia kemudian menjadi tersangka dan untuk sementara ditahan selama 20 hari, sekalipun sudah menyampaikan permintaan maaf kepada IDI. Sebelum kejadian ini, ia kerap berbicara atau melakukan sesuatu yang meremehkan virus corona. Jerinx menggembar-gemborkan isu bahwa corona hanyalah akal bulus dari WHO dan para elite global. Ia juga menghelat konser “Bali Tolak Rapid dan Swab Test”.

Berbeda dengan Jerinx SID, Anji dan Hadi Pranoto dilaporkan oleh Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid atas tuduhan membuat dan menyebarkan berita bohong melalui media digital. Tuduhan ini berpangkal dari video wawancara Anji kepada Hadi Pranoto di kanal Youtube miliknya.

Dalam video tersebut, Hadi Pranoto mendaku sebagai seorang Profesor dan mengklaim telah menemukan obat pencegah dan penyembuh Covid-19. Dengan raut wajah serius ia mengatakan obat yang berjenis herbal itu telah diteliti selama 20 tahun. Artinya, obat itu dibuat sebelum virus corona mengguncang seluruh dunia. Ia pun mengklaim bahwa obat itu telah menyembuhkan 250 ribu pasien Covid-19. Padahal, saat itu hanya 113.134 orang yang terinfeksi corona.

Atas dasar itulah, Hadi Pranoto dianggap melanggar Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang No 1 Tahun 1946; sementara Anji dianggap melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang ITE dan Sebelum dilaporkan oleh Ketua Umum Cyber Indonesia, ia sering sinis terhadap Covid-19, seperti meragukan kesahihan mayat korban Covid-19 yang dipotret oleh Jurnalis dan mencuit “Corona tak semengerikan apa yang diberitakan media”.

Dalam persoalan yang menimbulkan polemik tersebut, saya kira hak-hak demokrasi benar-benar dicekik. Sila kelima Pancasila tidak diimplementasikan dengan sebenar-benarnya. Jika memang Jerinx SID, Anji dan Hadi Pranoto ditahan, orang-orang di pemerintahan seharusnya mendapatkan perlakuan yang serupa.

Barangkali masih segar dalam ingatan kita bagaimana Jokowi dan kroni-kroninya mengklaim bahwa Covid-19 tak akan masuk ke Indonesia dengan menggunakan lelucon. Jokowi dan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan lelucon bahwa COVID-19 tidak tahan cuaca panas. Ma’ruf Amin menyampaikan Indonesia terlindung dari COVID-19 karena rajin membaca doa qunut. Menko Perekonomian Airlangga dan Menkopolhukam Mahfud MD melemparkan gurauan izin investasi berbelit-belit. Bahkan Menhub Budi pun bergurau masyarakat Indonesia kebal COVID-19 karena rajin makan nasi kucing.

Tak cukup dengan lelucon, Menkes Terawan dengan membusungkan dada menantang Peneliti Harvard membuktikan adanya virus corona. Bahkan, Jokowi kemudian menggelontorkan dana sebesar 72 milliar dalam bidang pariwisata guna menarik wisatawan asing dengan slogan “Ayo Berwisata, Jangan Takut Corona”. Motif dibalik lelucon yang terus direproduksi tersebut adalah demi menyelamatkan investasi. Namun, akibatnya tak seindah kala diucapkan. Virus corona justru masuk ke Indonesia dan dari ke hari kian banyak yang menjadi korbannya. Konyolnya, salah satu yang menjadi korbannya adalah Menhub Budi sendiri.

Melihat keadaan yang kalut tersebut, Jokowi kemudian mencetuskan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar). Kebijakan tersebut hanya sekejap diaktualisasikan menggingat ekonomi menjadi lesu. Meski demikian, kita dapat menyaksikan drama tragikomedi saat kebijakan itu diterapkan. Diantaranya adalah Jokowi berkali-kali mengeluarkan pernyataan yang plintat-plintut dan Luhut berani mengeluarkan kebijakan yang jauh dari tugasnya—seakan ia seorang Perdana Menteri. Tak syak lagi, banyak yang menyebut Jokowi sebagai pengamat politik, alih-alih Presiden. Pada akhirnya, bukan Lockdown kemudian yang menjadi pengganti PSBB, melainkan Lossdown alias New Normal. Dan lagi-lagi motif menyelamatakan investasi berada dibaliknya. Dengan ini, pemerintah telah berani mengkorbankan rakyatnya.

Kala New Normal dijalankan pun, Mahfud MD sekali lagi membuat lelucon. Ia menceritakan meme yang dikirim oleh Luhut dalam sambutannya di acara Halalbihal IKA UNS. Meme itu ialah “Corona itu seperti istrimu, ketika kamu bisa menaklukan dia, tetapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukan istrimu. Sesudah itu. Than you learn to live with it (kamu belajar untuk hidup bersamanya)”. Sepertinya, meme itu dikoar-koarkan ke wilayah publik demi membuktikan bahwa New Normal adalah pilihan yang tepat. Namun, Meme yang bercorak analogi tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama Komnas Perempuan dan para Feminis, karena cenderung mengerdilkan perempuan.

Selanjutnya, lelucon datang dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Ia memperkenalkan sebuah kalung yang berfungsi untuk menangkal corona. Kalung yang bernama ‘Anti Virus Corona Eucaliptus” itu bekerja melalui kontak. Selama 15 menit kontak dengan kalung tersebut dapat mematikan 45 persen virus. Kian sering kontak dengan kalung tersebut, kian banyak juga jumlah virus yang musnah. Begitu tuturnya. Namun, seperti yang dikatakan oleh Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunus Miko, kalung yang diproduksi oleh Kementan itu bukanlah vaksin yang dibutuhkan guna membasmi virus corona, melainkan hanya obat herbal atau jamu biasa. Terlebih lagi, pengujian kalung tersebut hanya sebatas in vitro dan sama sekali belum diuji kepada binatang.

Entah ingin terkenal atau mendapatkan perhatian publik, Gubernur I Wayan Koster turut menawarkan obat yang dapat memberangus virus corona. Jangan salah, obat yang ditawarkan ini lebih kontroversial dan menyesatkan dibanding obat yang ditawarkan oleh Syahrul Yasin Limpo. Obat itu ialah “Ramuan Uap Arak Bali”. Konon, dengan mencampurkan ramuan khusus berbahan dasar arak Bali, ekstrak daun jeruk limau, dan minyak kayu putih yang kemudian dimasukkan ke sebuah alat yang menghasilkan uap, pasien positif corona yang tak bergejala, dalam tempo 2 atau 3 hari akan sembuh seketika. Ia mengklaim ramuan ini dikerjakan oleh peneliti, dan sudah menyembuhkan 15 dari 19 pasien positif corona yang tak bergejala. Ia pun berecana akan mematenkan penemuan ini. Luhut mendukung apa yang dilakukan oleh Gubernur Bali itu, sekalipun ia meragukan kebenaran ramuan itu. Tak seperti biasanya, tindakan yang melenceng dari moralitas islam ini, tak mendapat kecaman dari MUI dan FPI.

Nah, itulah alasan mengapa Jokowi dan kroni-kroninya bisa dilaporkan ke kepolisian juga. Jika tidak, saya ingin mencomot dan memelintir slogan lelucon yang mungkin sudah tak asing lagi: ”Pasal pertama: Pejabat tak pernah salah. Pasal kedua: Jika Pejabat salah, kembali ke Pasal pertama”

Dari paparan tersebut, tampaknya memang benar apa yang dikatakan oleh Karl Marx bahwa “Sejarah Manusia terus berulang. Pertama menjadi Tragedi, kedua menjadi lelucon”.

Jika dibredeli satu per satu, pemerintah sebenarya juga ‘mengancuk’ kaum buruh serta menjadi jongos kaum kapitalis. Kita tahu, saat ekonomi menjadi terpuruk akibat pandemi corona, banyak buruh yang di PHK. Prakerja yang diancang-ancang pemerintah sama sekali tak menuntaskan masalah mereka. Saat New Normal dijalankan, mereka dipaksa bekerja lebih keras lagi daripada biasanya demi menumbuhkan kembali perekonomian. Investasi kaum kapitalis pun akhirnya terselamatkan. Beban mereka akan bertambah jika Omnibus Law disahkan.

Karena itu, benar sekali apa yang dikatakan oleh Fred Magdoff dan John Bellamy Foster bahwa ketika terjadi resesi ekonomi keadaan buruh akan semakin tergilas dan sangat susah untuk kembali pulih. Lantas, kita pun bertanya-tanya, apa gunanya peerintah jika tak peduli pada rakyatnya?

Referensi

1. https://tirto.id/anji-jerinx-hadi-dipolisikan-bagaimana-dengan-kementan-dkk-fVD9

2. https://tirto.id/kronologi-kasus-jerinx-dan-idi-soal-corona-hingga-diperiksa-polisi-fWh6

3. https://tirto.id/mahfud-md-kutip-guyonan-luhut-soal-corona-is-like-your-wife-fC69

4. https://tirto.id/polda-bali-tetapkan-jerinx-sid-tersangka-dan-ditahan-20-hari-fXp4

5. https://tirto.id/koster-ramuan-uap-arak-bali-percepat-kesembuhan-pasien-covid-19-fSMt

6. Foster, John Bellamy dan Fredd Magdoff, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, Tanggerang Selatan: Marjin Kiri, 2019

.

M.A.D Restu Putra
Sebagai santri Misykat Al-Anwar Bogor dan adik dari pengelola toko buku progresif RPDH Bookstore

    Senja dan Melon Sirna di Pesisir Urutsewu

    Previous article

    Bagaimana Tirani Korporasi Bekerja

    Next article

    You may also like

    More in MISUH