ANALISA

Kekerasan dan Politik Representasi

0

Dian Tri Irawaty

(PhD Candidate, Department of Geography, UCLA)

Creator: Johnny Silvercloud

Setelah kerusuhan di Los Angeles tahun 1992 akibat kekerasan terhadap Rodney King oleh aparat kepolisian LA, Steve Herbert, seorang mahasiswa PhD saat itu, melakukan riset etnografi di kepolisian untuk memahami cara kerja polisi, terkait kekerasan terhadap kelompok kulit hitam di Amerika Serikat.

Steve Herbert (1996) melahirkan teori yang disebut normative order, berargumentasi ada enam (6) prinsip yang dipahamkan dan dipegang oleh aparat kepolisian dalam melaksanakan tugas nya sebagai aparat penegak hukum: Law, Bureaucratic order, Adventure/Machismo, Safety, Competence dan Morality.

Enam prinsip yang ditawarkan oleh Herbert bisa membantu kita untuk lebih memahami cara kerja kepolisian. Namun, Herbert sendiri juga mengakui bahwa enam normative order tidak cukup untuk jadi pisau analisis terhadap kekerasan yang terjadi pada kelompok kulit hitam.

Menurut saya, ada soal politics of representation, bagaimana kita/kelompok dilihat dan direpresentasikan di masyarakat. Kekerasan lebih banyak terjadi dikarenakan penerapan prinsip ‘machismo’ yang berlebihan, atau dikarenakan alasan safety (merasa terancam). Anggapan terancam ini tidak bisa dilepaskan dari stigma atau stereotype yang melekat pada kelompok kulit hitam di Amerika Serikat. Kekerasan terhadap kelompok kulit hitam dalam proses penahanan hampir sebagian besar diargumentasikan bahwa mereka melakukan perlawanan, atau bahwa polisi merasa keamanannya terancam.

Politic of representasion juga menjadi dasar bagi polisi untuk mengganggap sebagian kelompok lebih penting dibanding kelompok lainnya. Masih kita ingat ketika di awal Maret 2020 sekelompok warga kulit putih menduduki kantor pemerintahan dan dewan perwakilan di Michigan, menuntut lockdown dihentikan. Semua yang hadir membawa senjata api/tajam, meludahi aparat kepolisian dan berteriak-teriak memprovokasi. Namun, tidak ada aksi balas dari kepolisian yang kemudian diyakini sebagai bentuk white-privilege, keistimewaan yang dimiliki warga kulit putih untuk mendapatkan prasangka baik dari kepolisian.

Tidak hanya Steve Herbert, Victor Rios, seorang sosiolog dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) juga menerbitkan buku hasil disertasi nya berjudul Punished: Policing the Lives of Black and Latino Boys (2011). Buku ini merupakan hasil penelitian ethnografi di mana Rios menghasilkan teori yang disebut sebagai The Youth Control Complex: “The combined effect of the web of institutions, schools, families, businesses, residents, media, community centers, and the criminal justice system, that collectively punish, stigmatize, monitor, and criminalize young people in an attempt to control them.

Dalam tulisannya, Rios berargumentasi bahwa ada proses sistematis yang dilakukan oleh beragam institusi kepada anak anak muda yang secara kolektif menghukum, memberikan stigma, memonitor dan mengkriminalisasi anak muda sebagai cara mengontrol mereka. Sebagai anak jalanan yang besar di Oakland, San Fransisco.

Rios berargumentasi bahwa ragam institusi di atas bekerja secara kolektif mengkriminalisasi anak muda kulit hitam dan Latin/Hispanic yang mendorong mereka berada di siklus kekerasan. Kekerasan yang terjadi pada kelompok kulit hitam dan hispanic (people of color) tidak bisa dilepaskan dari politic of representation, bagaimana mereka dilihat, diasumsikan dan dilabeli dengan ragam stigma. Selama stigma masih ada, kekerasan terhadap mereka akan terus dinormalisasi.

Siklus stigma dan kekerasan kembali menciptakan insiden ketika seorang pria kulit hitam bernama George Floyd mengalami kekerasan, dan akhirnya meninggal dunia, ketika polisi melakukan penangkapan terhadapnya pada 25 Mei 2020. Warga Amerika, khususnya warga kulit hitam kembali murka dan turun ke jalan menuntut keadilan.

Ini bukan kali pertama kemurkaan warga dalam menuntut keadilan membawa mereka turun ke jalan. George Floyd merupakan puncak gunung es dari puluhan kasus kekerasan terhadap warga kulit hitam sebelumnya, ada Michael Brown, Tameer Rice, Atatiana Jeferson, dan puluhan nama lainnya, di mana ketidakadilan belum terwujud.

Polisi yang terlibat dalam kekerasan hingga berujung kematian jarang sekali dipidana. Sebagian besar dibebaskan atas tuduhan. Pembunuhan terhadap George Floyd di Minneapolis menyulut aksi solidaritas di kota-kota lain seperti Ferguson, New York, Atlanta, Los Angeles, dll.

Aksi turun ke jalan juga diiringi dengan kerusuhan dan penjarahan yg saat ini menyebar di banyak kota di Amerika Serikat. Malam ini, Walikota Los Angeles mengumumkan jam malam akibat kerusuhan dan penjarahan yang tidak hanya terjadi di Downtown tapi sudah melebar ke wilayah West Los Angeles termasuk Beverly Hills.

Banyak kecaman ditujukan kepada aksi kerusuhan dan penjaharan. Namun, saya tidak mau terburu-buru ikut menunjuk dan menghujat aksi kekerasan yang muncul dalam 48 jam terakhir. Saya pikir kita semua perlu melihat bahwa aksi ini merupakan puncak frustasi atas ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh people of color di Amerika Serikat. Selama keadilan belum terwujud, sulit rasanya berteriak teriak bahwa damai adalah kunci.

#blacklivesmatter#NOJusticeNOPeace

Surat Gunarti Kepada Indocement: Kendeng Lestari untuk Anak Cucu

Previous article

10 Buku Antropologi Ekologi Progresif

Next article

You may also like

More in ANALISA