MISUHnganggur

Kau Pertahankan Lahanmu, Maka Ku Hajar Engkau

0

Kontras.org

Persoalan kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan hidup dan agraria semakin parah. Para pejuang tersebut hanya ingin hidup di lingkungan yang baik dan sehat, tapi harus dihajar habis-habisan oleh pemegang kekuasaan. Tercatat kurang lebih ada 8-9 orang yang dikriminalisasi hanya untuk di dua tempat, yakni Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah. Bahkan beberapa orang harus mendekam di jeruji besi, diperlakukan bak seorang yang berbahaya dan akan menimbulkan ancaman serius.

Padahal para koruptor, penjahat keuangan, korporasi perusak, pencemar dan para penyalahguna kekuasaan serta kewenangan, masih saja mendapatkan keistemewaan tanpa pernah diperlakukan seperti apa yang dilakukan kepada Pak Manre’ di Sulawesi Selatan atau Pak Efendi di Kalimantan Tengah. Mereka mendapatkan keistimewaan, tak pelak memang benar adanya privilese hingga wacana impunitas. Ya itu tergambar dalam kasus Joko Chandra, lalu ada Asia Pulp Paper yang menunggak denda dan kasus lainnya.

Perjuangan masyarakat di era otoritarian sok merakyat memang semakin berat, mereka harus melawan otoritas keamanan negara yang mempunyai senjata lengkap. Mereka selalu diarahkan ke arah legal, dibumbui bahwa hukum adalah cara elegan dan benar, hukum adalah panglima keadilan, tapi nyatanya masyarakat selalu menang, ya menangis meratapi perampasan ruang hidupnya. Dan, pemegang kuasa serta modal tertawa terbahak-bahak, sembari menyulut cerutu atau paling tidak minum dan makan sajian dengan harga jutaan.

Melawan kuasa korporasi dan negara memang berat, seberat yang mengaku kawan Widji Thukul namun tak pernah menuntaskan janjinya, hobinya ingkar dan cuci tangan. Hal itulah yang dirasakan oleh Pak Manre’ dan tiga nelayan pulau Kodingareng Sulawesi Selatan. Pak Manre’ sendiri seorang nelayan yang hidupnya damai sebenarnya, namun tiba-tiba pemerintah dengan congkanya menerbitkan aturan reklamasi dan aneka kebijakan lainnya. Datanglah Boskalis, ia menyerupai serdadu KNIL tetapi tak bawa senjata, karena senjatanya adalah aparatur keamanan.

Bebaskan Pak Manre’ dan tiga nelayan, usir Boskalis

Pak Manre’ dan nelayan lainnya bulat tekadnya untuk melawan orang yang merusak lautnya. Apalagi laut itu ibarat rumah, tempat para nelayan mencari nafkah,serta melanjutkan kehidupan. Mereka pun teguh dalam melawan dengan dibantu jaringan perlawanan, ada pelajar, organisasi masyarakat sipil serta elemen lainnya. Karena menganggap Pak Manre’ dan kawannya sulit ditundukan, maka strategi amplop dipakai, harapannya siapa tahu para pejuang ini melemah.

Tak dinyana ternyata Pak Manre’ menolak, dengan siap ia merobek amplop tersebut. Ternyata amplop itu bukan surat cinta, melainkan uang damai dari Boskalis. Alarm menyala, bau-bau pelanggaran hukum muncul, secara sigap Polisi menangkap Pak Manre’. Dalihnya merusak uang dan itu tindakan pidana. Kenapa yang ditindak bukan yang memberi amplop, itu kan yang memancing kemarahan, itu kan bentuk suap. Tapi ya itu, tetap saja nelayan kecil yang disantap. Kami jadi teringat pejuang penolak PLTU di Indramayu, kala beberapa orang ditahan dan dipidanakan dikarenakan bendera Indonesia terbalik. Tidak mungkin juga warga memasang bendera terbalik, tujuannya apa pula? Bukannya menyelidiki siapa yang jahil bin usil, malah warga ditangkap.

Setelah Pak Manre’ masuk ke pondok derita, giliran nelayan lainnya diintimidasi dan ditangkap lagi. Mereka mau ke laut ya seperti biasa mencari nafkah untuk keluarga. Mendekatkan ke kapal Boskalis, tiba-tiba bak film Hollywood ada kapal keamanan mendekat, menenggelamkan kapal nelayan. Entah kalau itu kapal asing yang mencuri ikan ditenggelamkan gak ya? Kapal rusak, tidak cukup di situ ketiga nelayan juga diangkut. Entah apa dosa dan salah mereka, kalau membaca dari kronologinya, mereka tidak salah. Kini ketiga nelayan itu menemani pak Manre’ dalam pondok derita.

Tak cukup kemarahan atas penangkapan Pak Manre’ dan kawan-kawan, tiba-tiba ada kabar Pak Effendi Buhing ketua adat Dayak Kinipan diseret paksa. Ia sedang bersantai di rumah, tiba-tiba polisi datang, ada yang pakaian santuy ada juga yang lebay bawa laras panjang. Sempat berdialog, ditanya ini dan itu, tetapi tidak ketemu juntrungannya. Pak Effendi tiba-tiba diseret paksa ke mobil untuk dibawa ke markas polisi, dalihnya sih diperiksa.

Bebaskan Effendi Buhing, Riswan dan empat warga adat lainnya

Tapi tidak ada pendamping hukum, posisi Pak Effendi juga sebatas saksi, kok diangkut macam orang berbahaya. Prosedur dikangkangi, ya yang teriak patuh hukum ternyata juga tidak patuh malah melangar. Sebelumnya ada Riswan dan empat orang lainnya yang ditahan, salah mereka adalah melawan perampasan tanah oleh perusahaan sawit.

Perusahaan sawit tersebut bernama Sawit Mandiri Lestari atau SML, merupakan perusahaan yang dimiliki orang terkaya nomor nomor 50 di Indonesia versi Forbes 2018. SML sendiri sudah lama berulah dengan mencoba merampas hutan adat dan lahan Dayak Kinipan. Ulah SML ini difasilitasi oleh negara, melalui ATR/BPN untuk HGU-nya dan KLHK untuk izin pelepasan hutan. Tercata ada sekitar 3.688 hektar hutan adat yang raib (hasil penelaahan peta HGU dan wilayah adat di Kementerian ATR/BPN, Agustus 2019).

Lahan dan hutan itu rumah orang Kinipan, mereka mau mempertahankan dan melestarikannya, tetapi malah diganggu. Tak tanggung-tanggung ada enam orang yang “diamankan” padahal juga tidak. Anehnya orang yang memperjuangkan haknya, menyelamatkan wilayahnya dari ekspansi sawit yang rakus lahan, penyebab kebakaran hutan juga. Malah dipersekusi semacam itu, diperlakukan bak teroris, padahal nyatanya kebun-kebun sawit taipan itu boleh dibilang teroris. Karena meneror masyarakat adat dan orang utan.

Kejadian-kejadian ini bukan satu-satunya, masih ada yang lainnya. Masih banyak juga Pak Manre’ dan Pak Effendi Buhing lainnya. Orang yang melawan dan mempertahankan hidupnya serta lingkungannya adalah musuh dari pembangunan orang rakus yang difasilitasi negara, seperti kata ekologi dalam KBBI yang bermakna menghambat pembangunan.

Hegemoni kekuasaan muncul, karena kepentingan segelintir elite yang rakus. Mereka selalu ingin memperkaya diri mereka dengan memiskinkan yang lainnya. Kekayaan mereka dihasilkan melalui air mata kaum adat, nelayan dan petani kecil. Sawah habis di negeri agraris, hutan habis di negeri tropis. Melawanlah atau ku kirim engkau ke pondok jeruji besi.

 

Dari Joko Tarub Hingga Joko Ta’aruf

Previous article

Senja dan Melon Sirna di Pesisir Urutsewu

Next article

You may also like

More in MISUH