REVIEW

Kata Adalah Senjata: Ricardo Flores Magón

0

Source: Penerbit Daun Malam

Ricardo Flores Magón awalnya adalah aktivis reformasi sosial yang aktif di Partai Liberal Meksiko. Seiring waktu, pandangannya berangsur-angsur menjadi semakin anarkis. Kedua saudaranya, Enrique dan Jesús, juga aktif dalam politik. Partisipasi Magón bersaudara dianggap penting dalam memicu Revolusi Meksiko dan menginspirasi Emiliano Zapata, yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi gerakan Neozapatista.

Pengantar Singkat Kehidupan dan Gagasan Ricardo Flores Magón (1874-1922)

Di Meksiko modern, nama Ricardo Flores Magon cukup dikenal, namun di luar Meksiko, hanya sedikit orang yang pernah mendengarnya. Lahir di Oaxaka, dalam komunitas adat Mazatec, keluarganya terbilang sederhana. Ayahnya adalah indian Zapotec dan ibunya seorang mestiza (orang berdarah campuran Spanyol). Sembari berkuliah jurusan hukum, ia bekerja di koran oposisi “El Democrata” sebagai proofreader. Ia  melanjutkan studinya dalam bidang hukum, namun akhirnya dipecat pada tahun 1898 karena aktivitas-aktivitas politiknya.

Bersama saudaranya, Jesüs, Ricardo menginisiasi “Regeneración” pada tahun 1900, koran radikal yang menentang kediktatoran Porfirio Diaz.  Selain menulis untuk Regeneración, Ricardo juga menulis di terbitan berkala Excelsior, La Republica Mexicana, dan El Hijo del Ahuizote.

Pada tahun 1900 juga, Magón bersaudara bergabung dalam Partai Liberal Meksiko, organisasi reformis yang menentang kediktatoran rezim. Namun pada 1904, Ricardo terpaksa mengungsi dari Meksiko ketika pengadilan melarang peredaran tulisan-tulisannya. Aktivitas jurnalisme Ricardo membuatnya diburu oleh otoritas Amerika Serikat yang bekerja sama dengan pemerintahan Meksiko.

Ia menghadapi persekusi terus menerus dan harus selalu bersembunyi. Kediktatoran Meksiko memasang harga atas kepalanya seharga 20.000 dolar setelah ia menolak diberikan jabatan di pemerintahan. ia terpaksa tinggal di Amerika Serikat hingga akhir hidupnya.  Di masa-masa awal pengasingannya, ia bertemu dan berinteraksi dengan Emma Goldman.

Selama di pengasingan, Ricardo terus aktif menulis. Tulisan-tulisannya secara diam-diam terus diterbitkan di koran Regeneración. Ia mengeksplorasi banyak tulisan dan gagasan anarkis pendahulunya, seperti Mikhail Bakunin, Proudhon, Eliseé Reclus, Charles Malato, Malatesta, Anselmo Lorenzo, Emma Goldman, dan Tarrida del Marmól.

Ia juga membaca karya Karl Marx dan Henrik Ibsen. Yang paling mempengaruhinya adalah tulisan Kropotkin, Conquest of Bread. Buku ini dipakai sebagai basis komune revolusioner Baja California yang berumur pendek pada tahun 1911 (disebut juga Magonista).  Partai Liberal Meksiko juga sempat mengorganisir dua kali pemberontakan melawan Porfirio Diaz pada tahun 1906 dan 1908, namun keduanya gagal.

Dalam surat yang berisi instruksi mengenai pemberontakan tahun 1908 kepada adiknya, Enrique, Ricardo menulis, “Hanya anarkis yang tahu bahwa kita anarkis. Kita akan meminta mereka untuk tidak memanggil kita demikian agar tidak menakuti orang-orang dungu, yang walaupun mereka memiliki cita-cita yang sama seperti kita namun terlalu sering mendengar kata ‘anarkis’ disebutkan tidak sesuai arti sebenarnya.”[1]

Pada tahun 1910, revolusi Meksiko meledak. Partisipasi Magón dan Partai Liberal Meksiko dianggap penting dalam memicunya. Dengan pengaruh gagasannya, lahan dalam jumlah besar diambil alih oleh kaum buruh tani yang kemudian menggarapnya secara komunal di bawah bendera bertuliskan “Tanah dan Kebebasan” (tierra y libertad), slogan Partai Liberal Meksiko. Slogan ini di kemudian hari diadopsi oleh Emiliano Zapata, yang warisannya menginspirasi EZLN yang memberontak di Meksiko Selatan pada tahun 1994. EZLN dikenal juga sebagai Zapatista / Neozapatista.

Ketika revolusi dimulai pada 20 November 1910, Magon merangkum tujuan PLM:

“Partai Liberal bekerja bagi kesejahteraan kaum miskin Meksiko. Partai Liberal tidak memaksakan kandidat (untuk pemilihan presiden), sebab biarlah hal itu menjadi kehendak rakyat untuk memutuskannya. Apakah mereka menginginkan tuan? Biarlah mereka sendiri yang mengangkatnya. Yang diinginkan oleh Partai Liberal adalah untuk melakukan perubahan pemikiran kelas pekerja, sehingga setiap laki-laki dan perempuan menjadi tahu bahwa tidak ada orang yang berhak mengeksploitasi orang lainnya.”

Saat itu, seorang tuan tanah bernama Madero memulai manuver politiknya untuk menggantikan kediktatoran Diaz.  Madero memberikan janji-janji mengenai pembagian lahan kepada rakyat, yang memikat buruh tani di seantero negeri untuk mendukungnya.

Pada bulan Desember 1910, Ricardo Flores Magon menulis di Regeneracion,

“Pemerintah harus melindungi hak kepemilikan pribadi di atas segala hak lainnya. Jangan harap Madero akan menyerang hak kepemilikan pribadi demi kaum proletariat. Buka matamu. Ingatlah sebuah frase sederhana namun benar sebagaimana kebenaran tidak dapat dihancurkan: emansipasi pekerja haruslah dikerjakan oleh para pekerja itu sendiri.

Partai Liberal dengan jelas menyatakan tidak ingin beraliansi atau membuat kesepakatan dengan pendukung Madero. Partai Liberal menginginkan kebebasan politik dan ekonomi dengan cara menyerahkan tanah pada rakyat, menaikkan upah dan mengurangi jam kerja, serta menghentikan pengaruh Gereja dalam pemerintahan dan keluarga.” (Flores Magon 1977:18)

Pada tahun 1911, Kediktatoran Diaz digulingkan. Madero naik sebagai Presiden setelah menipu para pemilih dengan mengatakan dirinya beraliansi dengan PLM. Setelah naik jadi presiden, Madero bertingkah sama dengan diktator sebelumnya dan merampas kembali lahan yang sudah diduduki petani. Serangan militer kepada PLM meningkat, dan kota diambil kembali oleh tentara Meksiko.

Tahanan politik dibunuh oleh rezim baru, beberapa disuruh menggali kuburnya sendiri. Di sebuah rapat di Los Angeles, Magon diminta untuk menerima perjanjian damai, namun ia menjawab “…sampai tanah didistribusikan pada buruh tani dan alat produksi berada di tangan para pekerja, kaum liberal tidak akan mengistirahatkan tangan mereka.”

Bersama dengan organisator PLM lainnya, Magon ditahan (lagi) oleh otoritas Amerika Serikat. Kaum pemberontak dilabeli sebagi “bandit” dan represi meningkat di Amerika Serikat dan Meksiko. Terlepas dari serangan demi serangan yang mereka derita, dan balas dendam orang-orang kaya dan para pesuruhnya, pemberontakan baru terjadi lagi di Senora, Durango, dan Coahuila.

PLM menerbitkan manifesto untuk “anggota partai, kaum anarkis sedunia, dan kaum pekerja pada umumnya.” Terbitan ini dicetak dalam jumlah besar dalam bahasa Spanyol dan Inggris untuk menjelaskan sikap mereka mengenai revolusi:

“Partai Liberal Meksiko tidak berjuang untuk menghancurkan kediktatoran Porfirio Diaz hanya untuk mengangkat tiran baru. PLM mengambil bagian di dalam pemberontakan sejati dengan tujuan yang jelas dan tegas: mengambil alih tanah dan alat produksi dan menyerahkannya kepada rakyat, yaitu setiap orang penduduk Meksiko tanpa membedakan jenis kelamin. Tindakan ini kami anggap penting untuk membuka gerbang pembebasan yang efektif bagi rakyat Meksiko.”

Saat itu Meksiko memiliki banyak orang buta huruf. Di banyak desa hanya ada segelintir orang yang mampu membaca, namun sirkulasi koran Regeneración mencapai 27.000 eksemplar tiap minggunya. Ketika Tijuana dibebaskan pada bulan Mei, sebagian besar Baja California sudah terpengaruh oleh PLM. Mereka menerbitkan manifesto bertuliskan “Ambil alih tanah… ciptakan hidup yang bahagia dan bebas tanpa tuan atau tiran”.

Dukungan juga tidak dapat ditahan. Bahkan, TUC Inggris yang konservatif merasa harus mengundang Honore Jaxon, bendahara dan perwakilan seksi Eropa PLM, untuk berpidato di konferensi 1911 mereka. Sebuah aksi solidaritas yang layak diperhatikan adalah pemogokan 24 jam yang dilakukan oleh dua unit tentara Portugal yang memprotes penangkapan para militan PLM oleh pemerintah AS.

Sebuah manifesto baru, yang menekankan pada anarkisme mereka, diterbitkan bulan September 1911:

“Setiap usaha dan pengorbanan untuk mengangkat pemerintah baru –seorang tiran– akan menghasilkan usaha dan pengorbanan yang sama untuk pengambilalihan kekayaan yang telah dirampas oleh kaum kaya. Sekarang, Anda yang memilih. Pemerintah baru, tali kekang baru – atau pengambilalihan yang membebaskan, dan pelenyapan semua bentuk pemaksaan.”

Regeneracion_23-11-1911

Emiliano Zapata secara khusus menerima pengaruh PLM. Dalam Plan Ayala yang dirumuskan Zapata pada 11 November 1911, tercermin konsep Flores Magon dalam manifesto September 1911-nya. Plan Ayala juga memuat frase-frase dari halaman demi halaman koran Regeneración.[2]

Pada tahun 1912, Emiliano Zapata menawarkan PLM dan koran Regeneración untuk pindah ke Morelos, wilayah yang saat itu berada di bawah kontrol Zapatista (pengikut Emiliano Zapata). Kaum Zapatista yang bersenjata hendak menjamin keselamatan dan kemerdekaan operasi PLM dan Regeneración. Namun tawaran ini terpaksa ditolak karena Ricardo telah terbelenggu hukum yudisial Amerika dan tidak dapat kembali ke Meksiko.[3]

Ketika Madero terbunuh pada tahun 1913 dan posisi kepala Negara Meksiko hendak dipindahkan ke tangan Carranza, Ricardo dengan konsisten menulis, dan bahkan semakin sengit:

“…sudah cukup reformasi! Apa yang kami, orang-orang lapar, perlukan adalah kebebasan menyeluruh yang dilandaskan pada kemerdekaan ekonomi. Hancurkan apa yang disebut hak kepemilikan pribadi. Selama hak setan ini terus ada, sebaiknya kita terus bersenjata. Hentikan penghinaan ini! Kaum miskin, siapapun yang berbicara padamu tentang Carranzismo, ludahi wajah mereka dan hancurkan rahangnya. Hidup tanah dan kebebasan!”

Sebuah paragraf lanjutannya mewanti-wanti kaum revolusioner untuk tidak menyerahkan senjata mereka “hingga kalian memenangkan prinsip-prinsip… yang menganjurkan hancurnya kapital, otoritas, dan kekuasaan kaum agamawan.”

Flores Magon mengobservasi bahwa peran politikus tidaklah efektif dan kebebasan sejati terletak pada pengambilalihan lahan. Menurutnya, kaum kapitalis harus dihadapi dengan cara yang sama ketika kita sedang menghadapi harimau, ular desis, atau tarantula.

Pemberontakan PLM dan Zapatista berlanjut hingga tahun 1919, namun jumlah dan persenjataan mereka tidak cukup kuat untuk melawan kekuasaan negara. Bagaimanapun juga, usaha mereka tidak sia-sia. Pada tahun 1922, serikat buruh anarkis CGT diinisiasi di Kota Meksiko. Dan hingga hari ini, pemberontakan Zapatista di Chiapas membawa warisan pemikiran Magón.

Mengenai nama Partai Liberal Meksiko yang tidak berubah sejak awal dibentuknya, Magón menulis:

“…jika kami menyebut diri sebagai anarkis sejak awal, tidak akan ada, atau hanya ada sedikit, orang yang akan mendengar kami. Tanpa menyebut diri anarkis, kami telah menyalakan kebencian orang-orang terhadap kelas pemodal dan pejabat pemerintahan.

Tidak ada partai liberal di dunia ini yang memiliki tendensi anti-kapitalis seperti kami yang telah membuka revolusi di Meksiko. Kami tidak akan mungkin mencapai titik ini jika kami sekedar menyebut diri kami sosialis atau anarkis. Jadi, semua hanya masalah taktik.

Kita harus menyerahkan tanah pada rakyat selama masa revolusi, dengan begitu mereka tidak akan tertipu. Kita juga harus menyerahkan pada mereka kepemilikan atas pabrik, tambang, dan lainnya. Agar semua orang tidak lantas memusuhi kita, kita sebaiknya terus menyebut diri kita liberal selama revolusi. Walau pada kenyataannya, kita terus menyebarkan anarki dan melakukan aksi anarkis.” (Flores Magon 1977:17)

Selama bertahun-tahun perjuangan, Ricardo Flores Magón menentang kediktatoran lama dan kediktatoran baru dengan semangat yang sama. Ia dipenjara oleh otoritas AS pada tahun 1905, 1907, 1912, dan akhirnya dihukum 20 tahun penjara di bawah undang-undang spionase pada tahun 1918. Ia meninggal di penjara Leavenworth Penitentiary, Kansas, AS. Penyebab kematiannya masih diperdebatkan. Beberapa pihak menyatakan bahwa ia dipukuli oleh petugas penjara, dan yang lainnya berpendapat bahwa kesehatannya berangsur-angsur menurun karena pembiaran dan kelalaian petugas penjara.

Ricardo Flores Magón adalah salah satu penulis revolusioner yang berpengaruh. Pesan-pesannya kuat. Kata-kata adalah senjatanya.

Catatan Kaki

[1] Lomnitz-Adler, Claudio, The Return of Comrade Ricardo Flores Magón.

[2] Maclachlan, Colin M., Anarchism and the Mexican Revolution: The Political Trials of Ricardo Flores Magón in the United States, hal. 55.
[3] Ibid, hal. 56.

Tulisan ini dibuat ulang dari web blog Penerbit Daun Malam dan telah mendapatkan persetujuan dari pengelola.

Penerbit Daun Malam
Daun Malam adalah penerbit dan penjual buku mandiri. Untuk pembelian atau reseller silakan kontak langsung via: WhatsApp: 0813-3737-3531 Line: @daunmalam Instagram: @daunmalam Facebook: facebook.com/info.daunmalam

    Bukan Sekedar New Normal

    Previous article

    Dinasti Politik di Indonesia dan Filipina

    Next article

    You may also like

    More in REVIEW