MISUH

Intelektual atau sekadar Akademisi?

0

ilustrasi oleh cannabinoise.151

Tulisan yang ada di hadapan pembaca ini memang tidak akan menggunakan kutipan, baik langsung maupun tidak, bukan gaya Harvard maupun gaya Turabian. Tulisan ini tidak ditujukan untuk masuk jurnal ISSN maupun jurnal internasional terindeks Scopus baik Q1, Q2, Q3, & Q4 yang bisa dicek melalui Scimago. Tulisan ini berisi renungan maupun amarah penulis yang sedang duduk dan kebingungan karena wabah yang meluas ini. Kalau pembaca menganggapnya tidak ilmiah, silakan saja, karena saya sedang tidak menjadi akademisi kampus. Saya hanya akan menjabarkan perbedaan dan persamaan dua kategori orang berilmu dalam judul di atas.

Kenapa saya memisahkan antara akademisi dan intelektual, bukankah mereka satu kesatuan? Tidakkah menyesatkan untuk memisahkan sesuatu yang bersatu. Kembali lagi, jangan terlalu ilmiah, mari menggunakan pikiran sederhana layaknya non-akademisi. Apa yang saya maksud sebagai akademisi? Tidak lain adalah mereka yang masuk pada dunia ilmu pengetahuan, hidup dari dan untuk ilmu pengetahuan, mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan itu sendiri dan menganggap ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral dan bebas nilai (tidak terikat pada nilai apapun). Mereka adalah orang terpelajar dan berilmu yang mengutamakan metodologi ketimbang ideologi, yang mementingkan menulis di jurnal internasional yang penelitiannya berbulan-bulan dengan bahasa yang sangat akademis hingga orang awam tidak bisa memahami ketimbang menulis artikel pendek yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat melalui Blogspot, WordPress atau sejenisnya.

Selanjutnya, akademisi mengejar gelar seperti Gurubesar, Profesor, Doktor, Sarjana, atau Magister, baik dari dalam negeri maupun luar negeri dengan berlomba-lomba untuk mendapatkannya di luar negeri karena beranggapan bahwa di dalam negeri kualitasnya tidak sebaik di luar negeri. Apakah anggapan itu benar? Kembali kepada pembaca untuk menentukannya. Setelah mendapatkan gelar bertumpuk kalau bisa tiga sampai empat tumpuk untuk satu jenis gelar maka para akademisi akan mencari jabatan, sebagai direktur pusat studi, pusat kajian, direktur kemahasiswaan, wakil dekan, dekan, wakil rektor, rektor hingga kalau bisa menjadi bagian dari pemerintah sebagai staf khusus sampai menjadi menteri. Dalam bekerja untuk pemerintah, cara berpikirnya yang netral berubah menjadi mendukung kebijakan pemerintah dengan kritik seminimum mungkin, namun untuk menutupi kemampuan menjilatnya digantikan dengan setumpuk penelitian yang harapannya menghasilkan sebuah solusi. Terkadang rezim teknokrat yang diisi oleh banyak ilmuwan tidak lebih baik dari rezim aristokrat yang diisi bangsawan atau raden, karena dalam teknokrasi, ilmuwan adalah bangsawan atau raden yang baru, esensinya sama hanya namanya saja berubah.

Karakteristik lain dari akademisi adalah mereka suka menggunakan istilah yang tidak dipahami awam yang mereka anggap seksi dan sangar. Kerap kali pembahasan atau pembicaraan mereka hanya bisa dipahami oleh sesama akademisi. Mereka memaknai peristiwa sederhana dalam hidup sehari-hari masyarakat awam dengan istilah-istilah di mana para pelaku kejadian itu tidak bisa memahaminya. Ini menjadi sebuah misteri tersendiri bahwa akademisi justru membuat rumit sesuatu yang seajegnya sederhana. Akademisi adalah lawan dari kesederhanaan, kecuali untuk yang bergelar Profesor biasanya sudah bisa menyederhanakan bahasanya untuk dikonsumsi masyarakat luas. Ini adalah kemampuan tingkat tinggi dari akademisi: menyederhanakan bahasa. Kawan saya pernah berkata, tambah pinter tambah gak nyambung (semakin pandai, semakin tidak nyambung diajak bicara). Kelihatannya ia mampu menangkap kegundahan dalam mendengar perkataan, kalimat, dan istilah yang digunakan para akademisi.

Karakteristik buruk dari akademisi adalah keinginan mereka untuk tidak berpihak dan selalu obyektif. Kenapa? Karena akhirnya mereka akan selalu bermain dua kaki dan tidak bisa dipercayai 100% karena sikap “obyektif” nya yang justru membingungkan. Mereka tidak mau berpihak ketika ada perseteruan dari masyarakat dan berlagak layaknya mereka yang mampu menyelesaikan dengan bahasa mereka yang rumit. Alhasil permasalahan berlanjut atau selesai dengan tidak begitu menghiraukan akademisi. Saya pernah membaca buku berkaitan dengan analisis kebijakan publik, dan yang menjadi kendala dalam analisis kebijakan publik ialah pelaksananya adalah akademisi yang sebetulnya dianggap tidak paham birokrasi dan seluk-beluk kebijakan oleh birokrat. Hal ini ada benarnya bahwa mereka terlalu berbelit dan menggunakan bahasa yang sulit sehingga policy brief, policy report atau laporan penelitiannya seringkali tidak dijadikan rujukan oleh para birokrat.

Karakteristik yang paling berbahaya adalah angkuh. Karena merasa mereka memiliki banyak gelar maupun jabatan, mereka merasa paling benar dan dapat berkomentar apapun mengenai kejadian apapun dengan tidak menggunakan disiplin ilmunya (contoh: dosen ekonomi berkomentar tentang wabah dan cara-cara untuk menanggulanginya bukan membicarakan dampak ekonomi dari wabah, dosen yang mengampu kebijakan publik berkomentar tentang terorisme tapi bukan kebijakan penanggulangan terorisme yang dibahas melainkan motif seseorang yang menjadi teroris yang seharusnya dibahas oleh psikolog apabila faktornya pengaruh orang lain atau lingkungan atau dibahas oleh ekonom apabila faktornya adalah permasalahan ekonomi). Ditambah lagi meremehkan dan bereaksi terhadap tulisan orang lain yang dianggap “tidak ilmiah” dan melakukan penghakiman terhadap tulisan dan penulisnya.

Sekarang saya bergerak kepada intelektual. Kosakata ini berhubungan dengan orang yang memang bekerja di lembaga pendidikan tapi tidak begitu peduli dengan hal-hal di atas layaknya seorang akademisi. Mereka tidak ambil pusing tentang gelar, kalau menulis buku, gelarnya, meskipun banyak, tidak dituliskan, cukup namanya saja. Ia juga tidak terlalu bingung dengan jurnal internasional, tidak juga menulis untuk majalah atau koran mahal, ia lebih memilih menulis di situs secara gratis bisa dibagikan dan dibaca semua orang atau di sebuah media yang murah dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Kebermanfaatan adalah karakteristik utama intelektual.

Intelektual adalah orang yang berideologi. Ia memiliki keterikatan dengan ideologi tertentu dan mempromosikan ideologinya dalam karya-karyanya. Ia memiliki nuansa khas yang tidak dibingungkan oleh metodologi melainkan ideologi. Karena keterikatan ideologinya maka dalam permasalahan di masyarakat, mereka akan berpihak sesuai dengan ideologinya. Meskipun ada yang berpihak pada kapitalisme, setidaknya dia berpihak, tidak nengah seperti orang kebingungan dan berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami dirinya sendiri. Intelektual lah yang akan disebut sebagai aktivis karena mereka beraktivitas di luar kampus dan tidak hanya membingungkan permasalahan kampus seperti gelar dan jurnal. Karena intelektual itu berpihak maka mereka akan lebih dekat kepada masyarakat ketimbang akademisi, masyarakat jenis apapun, apakah orang kaya maupun orang miskin. Mereka akan memiliki jaringan yang lebih luas dan dapat dengan mudah menangkap realitas yang ada di masyarakat serta mampu berbicara dengan bahasa yang umum dipahami semua orang. Mereka tidak begitu ambil pusing apakah mereka subyektif atau bias, bagi mereka yang terpenting adalah berpihak agar ilmunya bisa bermanfaat dan mereka tidak beranggapan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang bebas nilai, karena ilmu tersebut akan digunakan untuk menunjang dan mendukung apa yang dia percayai (nilai dan ideologi yang dianut oleh intelektual).

Bagaimana melihat tulisan seorang intelektual? Mari kita lihat ke masa lampau, apakah Schmitt, Foucault, David Hume, Rousseau, Jeremy Bentham, Montesqieu, Voltaire, apakah mereka mengutip? Mungkin, tapi jarang, tidak seperti akademisi sekarang yang semakin naik berjenjang gelarnya semakin banyak kutipan dalam karyanya seperti sebuah buku quotes. Intelektual itu menekankan orisinalitas (keaslian) sehingga sangat jarang mereka mengutip karya orang lain, dalam karyanya pun ia tidak terlalu memberatkan pikirannya pada metodologi, melainkan pada pemahaman (sejauh mana orang paham tulisannya).

Apa persamaan antara intelektual dan akademisi keduanya adalah orang yang berilmu. Sudah itu saja. Seseorang bisa saja menjadi intelektual tanpa gelar akademis selama ia membaca, merenung, menulis dengan bahasa yang dipahami umum, berideologi atau setidaknya memiliki kepercayaan dan berpihak kepada masyarakat yang sesuai ideologinya. Sedangkan akademisi, meskipun gelarnya berjubel, belum tentu menjadi intelektual kalau beranggapan bahwa ilmu itu bebas nilai, ilmu harus netral.

mm
Mengelola Kedai Resensi Surabaya dan Koperasi Buku Murba. Silahkan mampir ke Instagram @KBMurba dan @RezaFaricha untuk mengenal lebih jauh.

Bersolidaritas Menghadapi Pandemi: Secuil Kisah dari Kelompok Rentan

Previous article

3 Pemuda Maluku yang Tidak Sekadar Bernyanyi

Next article

You may also like

More in MISUH