nganggurRENUNGAN

Idul Adha Bukan Sekedar Ritual Sakral

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Di tengan pandemi, kala semua orang sedang kesusahan, terselip sedikit kegembiraan. Masjid-masjid mulai mengumandangkan takbir, Allah Hu Akbar, Allah Hu Akbar Wallilahilham. Riuh dan syahdu mengiringi setiap detik waktu, menentramkan jiwa yang rindu akan kemenangan. Terutama bagi mereka yang susah lauk, boleh dibilang dhuafa atau mungkin kaum papa. Sangat menanti momen-momen sakral seperti ini, mengingat kebutuhan protein sangatlah penting, agar tubuh kebal dalam menghadapi prank pemerintah.

Kaum muda-mudi mulai berkumpul dan mengatur rencana untuk nyate bareng, melupakan sejenak kesusahan akibat pandemi. Mereka asyik bercengkrama satu sama lainnya, bercerita tentang keseharian yang kejam, bisa jadi curhat jarang makan daging. Sejenak melupakan persoalan pelik yang terlampau rumit untuk dihadapi.

Asap-asap mulai mengepul di mana-mana, beradu dengan cerobong-cerobong asap milik korporasi. Bau harum semerbak menjadi aroma terapi, membuat rileks setiap orang yang mengendusnya. Melupakan persoalan-persoalan rumit yang kian hari semakin pelik.

Hari itu mempunyai esensi bukan soal kumpul nyate, namun ada yang lebih mendalam lagi untuk dibahas. Idul adha sebuah perayaan cinta kasih kita kepada Allah, ritus keikhlasan kita sebagai bentuk ketaatan pada sang pencipta. Berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Sarah yang sudah sekian lama tak kunjung dikaruniai momongan, sangat berharap memiliki keturunan untuk melanjutkan perjuangannya.

Di satu waktu beliau akhirnya meminta izin kepada Sarah untuk menikahi seorang kaum papa bernama Hajar, sebagai bentuk istiqomah untuk mendapatkan momongan. Tak dinyana setelah menikah, lahirlah bayi sehat yang diberikanlah nama Ismail atau yang kita kenal Nabi Ismail AS.

Sebenarnya cukup panjang jika dikisahkan secara utuh, namun langsung saja ke intinya. Allah akhirnya memerintahkan Ibrahim sebagai hamba yang setia untuk berkurban. Merelakan seseorang yang sangat berharga untuk diberikan kepada Allah sebagai bentuk ketaatan dan cinta. Jika kita berpikir dalam konteks sekarang pasti Ibrahim tidak akan tega mengorbankan anaknya.

Begitu juga Ismail pasti akan kabur atau paling tidak memperdebatkan tawaran ayahnya. Namun semua itu tidak terjadi, malahan Ismail-lah yang meyakinkan ayahnya untuk menuruti perintah Allah. Ismail yang rela berkorban demi ayahnya dan Allah, telah menjadi tauladan terkait makna pengorbanan itu sendiri.

Saat Ibrahim harus kebingungan antara rela dan tak rela, Ismail meyakinkannya bahwa ini bentuk keikhlasan dalam iman kepada sang pencipta. Allah yang sedang menguji Ibrahim melihat hal yang berbeda, sejak awal memang sedang sedang menguji hamba-Nya yang setia. Ibrahim yang berada dalam kondisi dilematis, akhirnya merelakan Ismail dalam kebimbangannya. Allah mengetahui hal tersebut, lalu digantikannya Ismail dengan seekor hewan ternak untuk sembelihan. Sebagaimana tafsir yang ada di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 103-105.

Singkat kata makna dari surat Ash-Shaffat memberikan pelajaran yang sangat esensial. Bagaimana kita seharusnya memaknai sebuah peristiwa, tidak hanya sebatas ritual simbolik yang selama ini dipercaya. Tetapi lebih kepada apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Allah melalu Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Bukan perkara berkurban sebagai wujud yang lebih individualistik.

Seperti kepercayaan jika kita berkurban, maka apa yang kita kurbankan akan menjadi kendaraan untuk menuju surga. Namun lebih dari itu, bahwasanya hewan yang kita sembelih merupakan bentuk keikhlasan. Bentuk cinta kasih kita kepada Allah, yang diimplementasikan dengan memberikan daging kurban kepada sesama manusia yang membutuhkan. Bukan pemahaman simbolik yang kita percayai sebagai kebenaran, yang nyatanya telah melupakan esensi dasar dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang sesungguhnya.

Allah telah memberikan pesan yang sangat jelas, bahwa sesama manusia harus saling mengasihi. Menolong mereka yang kesusahan, tertindas dan dihisap oleh mereka yang berkuasa. Kebanyakan dari kita tidak sadar akan makna dari Idul Adha tersendiri, hanya memahaminya sebagai bentuk ritual yang melapangkan jalan menuju surga.

Padahal ada makna lain yang secara gamblang disampaikan oleh Allah melalui Nabi Ibrahim AS. Pengorbanan kepada sang pencipta, sebagai wujud ketaatan. Seharusnya dimaknai sebagai pengorbanan kepada sesama umat, untuk menolong mereka dari penetrasi kedzaliman imperialisme serta kapitalisme.

Kemiskinan, perampasan ruang hidup serta tercerai berainya umat, menjadi bukti bahwa kesejahteraan masih jauh dari angan-angan. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bahwa kesejahteraan dapat dicapai dengan bersama-sama, melalui musyawarah dan gerak bersama. Jika kita mau sedikit merenungi, berbagi daging hasil kurban merupakan shodaqoh.

Sama halnya dalam berzakat, yang dapat diartikan bahwa kesejahteraan harus dicapai bersama-sama. Minimal hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan dan terjaminnya kebutuhan pokok, harus disediakan oleh negara agar ketimpangan tidak semakin menjadi-jadi.

Semoga di hari Idul Adha ini sebagai manusia kita sedikit tercerahkan, bahwa berkurban tidak hanya sekedar berbagi, namun harus sadar bahwa ketidakadilan juga berakar dari sekitar kita. Karena itu semangat pembebasan Nabi Muhammad SAW dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS harus kita jadikan pelecut semangat. Demi mewujudkan pembebasan manusia dari penghisapan, serta perusakan alam sebagai bentuk perampasan ruang dan hak hidup.

*Tulisan ini sebelumnya telah terbit di tubanliterasi.id dan digubah untuk tujuan menyebarkan pengetahuan

mm
Tim Gugus Tugas Coklektif.com

Menyulut Api Literasi di Tengah Pandemi

Previous article

Upaya Pembungkaman dan Kriminalisasi Terhadap Pembela HAM Lingkungan Hidup di Kaltim dengan Modus Swab Test Covid-19

Next article

You may also like

More in nganggur