PERS RILISREPORTASE

Hasil Riset Oxfam Menyebutkan Emisi Karbon Terbesar Dihasilkan Oleh Satu Persen Orang Kaya

0

Carbon Inequality karya Dario Kenner (2019)

Satu persen orang kaya dari total populasi dunia bertanggung jawab atas dua kali lebih banyak polusi karbon daripada 3,1 miliar orang yang merupakan separuh populasi miskin selama periode kritis 25 tahun dari pertumbuhan emisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

50 persen kelompok miskin dari total populasi manusia di dunia terdiri dari sekitar 3,1 miliar orang rata-rata antara tahun 1990 dan 2015. 10 persen terkaya terdiri dari kira-kira 630 juta orang. Sekitar 5 persen terkaya sekitar 315 juta orang, dan satu persen terkaya sekitar 63 juta orang.

Rasionalisasinya, pada 2015 sekitar setengah emisi dari 10 persen orang terkaya yakni orang dengan pendapatan bersih lebih dari 38.000 US Dollar terkait dengan warga negara di Amerika dan Uni Eropa, lalu sekitar seperlima dengan warga China dan India. Lebih dari sepertiga emisi dari satu persen orang terkaya yakni orang-orang dengan pendapatan bersih lebih dari 109.000 US Dollar terkait dengan warga di Amerika, dengan kontribusi terbesar berikutnya dari warga Timur Tengah dan China. Pendapatan bersih didasarkan pada ambang pendapatan untuk tahun 2015 dan direpresentasikan dalam PPP $ 2011 (paritas daya beli).

Sumber: Oxfam 2020

Menurut laporan yang dirilis oleh Oxfam pada 21 September 2020 dengan judul ‘Confronting Carbon Inequality‘ yang merupakan penelitian kolaborasi dengan Stockholm Environment Institute dan telah dirilis saat para pemimpin dunia bertemu di Sidang Umum PBB untuk membahas tentang tantangan global termasuk krisis iklim.

Penelitian ini didasarkan pada estimasi emisi hasil dari konsumsi dari bahan bakar fosil yaitu emisi yang dikonsumsi dalam suatu negara termasuk emisi yang terkandung dalam impor dan tidak termasuk emisi yang terkandung dalam ekspor. Lalu emisi konsumsi nasional dibagi antara masing-masing rumah tangga berdasarkan kumpulan data distribusi pendapatan terbaru dan hubungan fungsional antara emisi dan pendapatan.

Jadi penelitian ini mengasumsikan, bahwa emisi meningkat sebanding dengan pendapatan di atas dasar minimum emisi dan hingga batas maksimum emisi. Perkiraan emisi konsumsi rumah tangga nasional  untuk 117 negara dari tahun 1990 hingga 2015, kemudian diurutkan ke dalam distribusi global menurut pendapatan. Rincian lebih lanjut tentang metodologi tersedia dalam laporan penelitian yang berada di akhir artikel ini.

Laporan tersebut menilai jika emisi konsumsi dari berbagai kelompok pendapatan dalam rentang waktu antara 1990 dan 2015 atau selama 25 tahun ketika umat manusia melipatgandakan jumlah karbondioksida di atmosfer. Telah ditemukan, jika 10 persen terkaya menyumbang lebih dari setengah (52 persen) dari emisi yang ditambahkan ke atmosfer antara 1990 dan 2015. Satu persen orang kaya bertanggung jawab atas 15 persen emisi selama ini, itu lebih dari semua warga Uni Eropa dan sekitar dua kali lipat lebih dari separuh orang miskin di dunia (7 persen).

Sumber: Oxfam, 2020

Selama waktu ini, 10 persen orang terkaya menghabiskan sepertiga dari sisa anggaran karbon 1,5 C global kita, dibandingkan dengan hanya 4 persen untuk separuh populasi orang miskin. Anggaran karbon adalah jumlah karbondioksida yang dapat ditambahkan ke atmosfer tanpa menyebabkan suhu global naik di atas 1,5 C. Tujuan tersebut ditetapkan oleh pemerintah dalam Paris Agreement untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim yang semakin tidak terkendali.

Emisi tahunan tumbuh sebesar 60 persen antara tahun 1990 dan 2015. 5 persen orang terkaya bertanggung jawab atas lebih dari sepertiga (37 persen) dari pertumbuhan ini. Total peningkatan emisi dari satu persen orang terkaya adalah tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan yang 50 persen miskin di dunia.

Tim Gore, Kepala Kebijakan Iklim di Oxfam dan penulis laporan tersebut mengatakan, “konsumsi berlebihan dari minoritas kaya memicu krisis iklim, namun komunitas miskin dan kaum muda yang menanggung akibatnya. Ketidaksetaraan karbon yang ekstrem seperti itu merupakan konsekuensi langsung dari upaya pemerintah selama puluhan tahun terhadap pertumbuhan ekonomi yang sangat tidak setara dan intensif karbon.

Emisi karbon kemungkinan besar akan pulih dengan cepat karena banyak pemerintah yang mulai mengurangi karantina terkait Covid. Jika emisi tidak turun dari tahun ke tahun dan ketidaksetaraan karbon dibiarkan begitu saja, sisa anggaran karbon untuk 1,5 C akan habis seluruhnya pada tahun 2030. Namun, ketidaksetaraan karbon begitu mencolok, 10 persen orang terkaya akan meledakkan anggaran karbon pada tahun 2033 bahkan jika semua emisi lainnya dipotong menjadi nol.

Selama tahun 2020 dengan sekitar 1 C pemanasan global, perubahan iklim telah memicu topan mematikan di India dan Bangladesh, kawanan belalang besar yang telah menghancurkan tanaman di seluruh Afrika dan gelombang panas serta kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Australia dan AS. Tidak ada yang kebal, tetapi orang-orang miskin dan paling terpinggirkanlah menjadi kelompok yang paling terpukul. Misalnya, pada kelompok permpuan berisiko tinggi mengalami kekerasan dan pelecehan setelah terjadinya bencana.

Pada laporan ‘Confronting Carbon Inequality’  menyebutkan perkiraan emisi per kapita dari 10 persen orang terkaya perlu didorong menjadi 10 kali lebih rendah pada tahun 2030 untuk menjaga dunia agar tetap pada jalur pemanasan hanya 1,5C, ini setara dengan memangkas sepertiga emisi tahunan global. Bahkan mengurangi emisi per kapita dari 10 persen orang terkaya menjadi rata-rata Uni Eropa akan mengurangi emisi tahunan lebih dari seperempatnya.

Pemerintah dapat mengatasi ketidaksetaraan yang ekstrim dan krisis iklim jika mereka menargetkan pengurangan emisi yang berlebihan dari orang terkaya dengan mengarahkan mereka untuk berinvestasi pada masyarakat miskin dan rentan, atau menerapkan pajak progresif. Misalnya, dalam sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 10 persen rumah tangga orang kaya menggunakan hampir setengah (45 persen) dari semua energi yang terkait dengan transportasi darat dan tiga perempat dari semua energi yang terkait dengan penerbangan. Transportasi menyumbang sekitar seperempat emisi global saat ini, sementara SUV adalah pendorong terbesar kedua pertumbuhan emisi karbon global antara 2010 dan 2018.

Gore mengatakan hanya dengan memulai ulang ekonomi terkini yang sudah ketinggalan zaman, tidak adil, dan berpolusi sebelum Covid bukan lagi pilihan yang layak. Pemerintah harusnya memanfaatkan kesempatan ini untuk membentuk kembali ekonomi yang adil dan berkelanjutan serta membangun hari esok yang lebih baik bagi umat manusia.

Pemerintah harus mengekang emisi orang kaya melalui pajak dan larangan karbon mewah seperti SUV dan penerbangan yang terlampau intensif. Pendapatan harus diinvestasikan dalam layanan publik dan sektor rendah karbon untuk menciptakan lapangan kerja, dan membantu mengakhiri kemiskinan,” tambah Gore.

*Kalian dapat mengunduh laporan riset Oxfam berjudul Confronting carbon inequality Putting climate justice at the heart of the COVID-19 recovery dengan mengklik judul tersebut.

mm
Pengabdi LAMRI Surabaya

    Menyoal Impor Beras dan Kepercayaan Atas Bulog

    Previous article

    Warga Wadas Mempertahankan Ruang Hidupnya Dari Kerakusan Rezim Neoliberal

    Next article

    You may also like

    More in PERS RILIS