nganggurRENUNGAN

Hambatan Sekolah dari Rumah dan Pentingnya Literasi Bagi Anak

0

Ilustrasi Oleh Coklektif

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan berbagai perubahan dalam aktivitas manusia. Oleh sebagian instansi, anjuran untuk di rumah saja membuat mereka harus mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) untuk para pekerjanya. Kebanyakan lembaga pemerintahpun melakukannya, termasuk Kemendikbud. Sayangnya, kebijakan sekolah dari rumah justru menjadi beban tambahan bagi sebagian orangtua lantaran berbagai kendala baru yang mereka hadapi.

Peraturan untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah mulai diterapkan pada pertengahan Bulan Maret Ketika beberapa orang telah dinyatakan positif Virus Corona. Sejak saat itu anak-anak dari berbagai tingkatan sekolah sampai universitas memindah cara belajar mereka ke sistem online.

Tentu saja perubahan sistem tersebut akan menjadi kesulitan tersendiri karena perlunya fasilitas tertentu seperti gadget dan koneksi internet yang memadai. Bagi keluarga yang telah memiliki fasilitas tersebut barangkali tidak risau akan kebijakan sekolah dari rumah, tetapi bagaimana dengan keluarga pas-pasan atau miskin yang hidupnya serba kekurangan? Jangankan untuk membeli kuota internet, handphone dengan fasilitas kamera memadai saja tidak mampu.

Kesulitan inilah yang saat ini menimpa kakakku, ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya, bernama Jamal kini duduk di bangku kelas 2 SD. Keluarganya dapat terbilang pas-pasan. Alat komunikasi yang ia miliki hanyalah satu HP tulalit dan satu HP China yang sudah rusak layarnya namun masih dapat dipakai menelepon.

Aktivitas belajar Jamal di  rumah saat ini adalah dengan menyimak tayangan pendidikan di TVRI setiap pagi yang isinya memuat pertanyaan-pertanyaan untuk ia kerjakan. Selain itu, ia juga harus menyelesaikan tugas-tugas yang ada di buku Tema (buku pegangan yang berisi materi dan soal). Semua hasil mengerjakan tugas itu harus ia serahkan langsung ke gurunya yang rumahnya masih satu desa.

Ibu Jamal yang tidak memiliki aplikasi WhatsApp karena handphonenya tidak mendukung hal tersebut akhirnya ketinggalan beberapa informasi penting dari gurunya, seperti kewajiban menyimak tugas yang tayang di TVRI dan mengumpulkan hasilnya.  Akibatnya, beberapa tugas yang mestinya dikerjakan terlewat.

Kini meskipun telah bisa mengejar ketertinggalan akan tugas di televisi, rupanya masalah belum selesai. Pertama, pertanyaan yang muncul di TV umumnya agak panjang. Misalnya jumlah katanya adalah 10, Jamal baru menulis empat kata namun tayangan soal tadi sudah hilang. Akhirnya  ia tidak bisa mengerti apa isi soal tadi.

Solusi untuk masalah demikian tentu adalah dengan memotret soal tersebut sebelum menghilang. Namun seperti sudah saya singgung, fasilitas kamera HP milik orangtuanya tidaklah memadai. Belum lagi kalau sudah dapat soalnya tetapi tidak dapat menjawabnya lantaran tak ada jawaban dapat ditemukan di buku bacaannya. Kalau sudah begini, Google jadi solusi.

Kedua terkait tugas yang ada di buku Tema. Pernahkah Anda mengetahui isi dari buku pegangan anak SD hasil kurikulum 13 ini? Saya yang pernah dimintai tolong oleh kakak untuk membantu Jamal mengerjakan soal-soal di buku tersebut merasa bahwa buku ini tidak bisa dipakai untuk belajar di rumah. Hal itu dikarenakan banyak pertanyaan di buku tersebut yang jawabannya tidak ada di materi buku. Jalan ninja untuk mengatasinya lagi-lagi dengan bantuan Google.

Teman saya yang merupakan lulusan S1  pendidikan mengatakan bahwa buku pegangan itu dibuat demikian agar materi yang tidak ada di buku dapat disampaikan oleh para guru, sehingga baik murid maupun guru dituntut untuk memiliki wawasan lebih. Sementara kebijakan sekolah dari rumah memaksa ibu (dan bapak) berperan layaknya guru bagi anak-anaknya.

Bagi orangtua dengan latar belakang pendidikan rendah, tentu ini menjadi kesulitan tersendiri karena ketidakmampuannya dalam menjelaskan materi yang ada di buku pelajaran anaknya. Adanya akses gratis aplikasi Ruangguru pun juga tidak akan bermanfaat bagi keluarga tidak mampu terutama di desa-desa karena kurangnya fasilitas penunjang untuk menikmati layanan tersebut.

Sekolah dari rumah memang sebuah kebijakan yang tepat untuk melindungi anak dari kemungkinan terjangkit COVID-19. Namun di sisi lain ini juga merupakan kesulitan baru bagi sebagian orangtua sebagai pihak yang harus memastikan kelancaran belajar anak.

Hemat penulis, kebijakan sekolah dari rumah hendaknya juga diikuti dengan perubahan materi dan tugas pelajaran yang memungkinkan anak belajar tanpa bertatap muka dengan guru. Selain itu juga bagaimana agar orangtua yang memiliki kekurangan dalam fasilitas teknologi dan internet juga tidak terbebani oleh kebutuhan belajar si anak.

Untuk siswa SD tugas yang diberikan bisa diarahkan agar anak semakin menguasai dunia literasi melalui kegiatan membaca dan menulis. Oleh karena itu, tugas yang diberikan adalah menyelesaikan buku bacaan tertentu yang mudah dipinjam, dibeli, atau dicopy, dan menulis baik tentang bacaannya, atau mengenai kegiatan sehari-harinya. Dengan demikian masalah minat baca Indonesia yang kecil juga dapat turut teratasi. Orangtua pun tidak akan terlalu terbebani karena tidak perlu belajar ke Google hanya agar dapat mencarikan jawaban untuk tugas anaknya.

mm
Penulis lepas

    Kenaikan BPJS, Nestapa Rakyat dan Konstitusi yang Dikangkangi

    Previous article

    “Etalase” Kapitalis di Balik Istana

    Next article

    You may also like

    More in nganggur