CERPEN

Gelas Retak Berkeping-Keping

0

Ilustrasi oleh Kunc

“Penyesalan sering kali muncul bersamaan dengan kesadaran baru. Terima penyesalan dan segera berdamai dengan masa lalu. Kini, mantapkan langkah menuju terang untuk hari yang baru” – Penjaga Warung Kopi di Seberang Jalan

Berulang kali gelas itu dipakai si penjual warung untuk menyajikan kopi dari berbagai macam daerah di Indonesia kepada pelanggan yang datang. Hanya saja, gelas itu tidak disajikan ke sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati kopi menggunakan gelas tersebut.

Sekilas, tak ada yang istimewa dari gelas bercorak tempo dulu itu. Namun, ada keunikan dan perbedaan yang tidak dapat dilihat dan dirasakan setiap orang. Tepatnya, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat, merasakan lalu menikmati kopi menggunakan secangkir gelas tersebut.

Jika dihitung, baru belasan kali gelas dikeluarkan dari lemari. Saat dikeluarkan, gelas itu memiliki warna tersendiri yang membuat pengunjung melayang. Seakan menemukan nuansa dan inspirasi anyar dalam kehidupan yang selama ini tidak pernah didapatkan.

Berbagai macam sensasi dirasakan, mulai senang, tersenyum, marah, kecewa, gila, menangis bahkan tersakiti. Itulah mengapa tidak sembarang orang bisa menikmati kopi menggunakan secangkir gelas yang konon katanya lain daripada yang lain. Aroma dan rasa kerapkali membuat belasan pelanggan klepek-klepek. Luar biasa.

Suatu ketika datang seorang pelanggan. Perempuan berkulit putih bersih dipadu rupawan yang cantik. Ia penasaran dengan kabar secangkir gelas yang katanya unik dan berbeda dari gelas lainnya ketika disajikan kepada setiap pelanggan.

Dengan manisnya sama seperti dia merayu lelaki lain, si perempuan meminta kepada penjual warung untuk dibuatkan kopi menggunakan secangkir gelas itu.

Si penjual kopi dibuat tak berdaya. Ia mengabulkan keinginan perempuan tersebut, lalu membuat kopi. Saat disajikan, si perempuan tidak langsung meminumnya. Dengan seksama Ia mengamati bagian luar gelas. Kemudian diraba dan dibelainya gelas dengan penuh kehati-hatian. Lembut sekali. Persis seperti mengelus punggung bayi berusia 9 bulan.

Puas meraba dan mengamati bagian luar gelas, si perempuan mulai membuka tutup kopi lalu meletakkan di bagian samping tangan kanannnya. Kali ini, Ia mengamati bagian dalam secara seksama sambil tersenyum-senyum.

Dihirupnya aroma kopi sembari meniup-niup asap kopi yang keluar dari dalam gelas. Sesekali Ia berbicara namun terdengar samar. Si penjual memperhatikan dengan seksama tingkah jenaka yang dilakukan perempuan itu.

Dirasa kopi agak dingin, perempuan itu mulai mencicipi kopi perlahan-lahan. Sangat pelan dan terlihat elegan. Ia benar-benar menikmati kopi itu sampai tersisa setengah. Diletakan gelas dengan hati-hati, lalu memainkan jari-jemarinya di atas lingkaran gelas. Sesaat kemudian, perempuan itu menutup kopi. Tidak rapat, tapi sedikit terbuka agar tidak pengap.

Usai mencicipi kopi, perempuan mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya. Dihisap dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. Rokok kemudian diletakkan di atas asbak dan matanya kembali menatap gelas. Tak berpaling. Diputar, kadang diangkat lalu diletakkan kembali gelas itu. Aktivitas itu dilakukan cukup lama dan berulang kali hingga tak terasa 3 batang rokok habis dibakarnya. Lagi-lagi perempuan hanya tersenyum.

Saat senja tiba, dibuka tutup kopi, lalu diminumnya sampai habis. Hanya tersisa ampas kopi berwarna hitam pekat. Sebelum beranjak, perempuan berbincang dengan gelas. Kali ini suaranya terdengar jelas di telinga si penjual warung.

“Malang sekali nasibmu, diciptakan hanya sebagai wadah dan pemanis untuk mengundang orang yang penasaran agar datang menemukanmu. Sungguh murah dan receh. Sama saja kau dengan wujud gelas lainnya,” ucapnya.

Selesai berbicara, perempuan berambut pendek sebahu berdiri hendak membayar kepada si penjual warung. Tepat di depan penjual, Perempuan itu berkata, “Katamu gelas ini berbeda dari gelas lainnya? Tidak bagiku. Gelas ini sama dan tak ada bedanya. Tampaknya aku harus mencari gelas yang lebih unik, istimewa dan tentu mampu memanjakan lidahku dalam kondisi apapun” dendangnya.

Si penjual hanya tersenyum, lalu menjabat tangan perempuan itu seraya berkata, “Terima kasih sudah mencoba gelas yang tidak sembarang orang bisa menggunakannya”.

Dengan wajah acuh, perempuan itu tak menggubris ucapan si penjual. Ia pun langsung meninggalkan warung. Sesaat perempuan meninggalkan warung kopi, seketika itu juga secangkir gelas retak. Ketika hendak diangkat, gelas itu pecah berkeping-keping.

Gelas terisi karena kosong, Gelas ada tetapi hanya sedikit memiliki. Keinginan pemilik warung menjaga dan merawat gelas telah sirna. Sedang perempuan itu telah pergi bersama angin dan telah kembali bersama hujan.

Memang, terkadang Tuhan menyelamatkanmu dari orang yang salah dengan cara mematahkan bahkan menghancurkan hasratmu, agar belajar sabar, bersyukur dan mengampuni.

mm
Jurnalis Majalah Aspirasi

    Chetna Gala Sinha: Bagaimana Perempuan-perempuan di Perdesaan India Memacu Keberanian Membangun Modal

    Previous article

    May Day 2020 di Tengah Pandemi, Buruh Tetap Melawan

    Next article

    You may also like