nganggurRENUNGAN

Dari Joko Tarub Hingga Joko Ta’aruf

0

Generasi before2000 tentu tidak asing dengan legenda Joko Tarub. Sebuah legenda yang malang-melintang menghiasi layar televisi dalam negeri ini. Legenda ini bercerita tentang betapa senangnya seorang Joko jika beristri seorang bidadari dari kayangan yang paras cantiknya melebihi seorang selebgram hari ini.

Kisah ini bermula saat Joko Tarub yang masih sendiri alias “Jomblo” melihat kemilau cahaya pelangi. Joko lantas mencari di mana letak sumber cahaya tersebut. Mitos yang berkembang kala itu ialah di mana ada pelangi maka di situ terdapat bidadari sedang mandi. Benar saja. Setibanya di TKP, Joko Tarub mendapatkan rezeki menyaksikan para bidadari mandi secara langsung tanpa kendala kuota internet dan link pemersatu bangsa.

Joko diam-diam mencuri salah satu selendang dari 7 bidadari yangS mandi di sana. Konon katanya, bidadari ini tidak bisa terbang dan kembali menuju kayangan tanpa seledangnya. Maka terjadilah peristiwa yang direncanakan oleh Joko, satu bidadari kebingungan karena kehilangan selendang dan akhirnya ditinggal sendirian oleh kawan-kawan bidadarinya. Lalu joko menghampiri bidadari tersebut untuk menarik simpati dan empati seperti buaya darat.

Singkat cerita, Joko pun berhasil memenangkan hati si bidadari lalu menjadikannya istri dan Joko tidak Jomblo lagi. Jalinan kasih yang terjalin antara Joko dengan si Bidadari dilalui tanpa diketahui oleh si bidadari bahwa Jokolah sang pencuri selendang si bidadari. Dalam cerita, selendang tersebut disembunyikan oleh Joko di dalam kendi lalu ditimbun dengan beras.

Sampai pada akhirnya, musibah menimpa Joko karena kantong kering dan sulitnya ekonomi sehingga Joko tak mampu membeli beras lagi. Sang bidadari pun menemukan sehelai kain yang tidak lain merupakan selendang yang beberapa tahun lalu hilang saat sedang mandi. Rasa kecewa pun berkecamuk dalam hati si bidadari, pemuda yang bersimpati saat dirinya dalam kesusahan, bahkan sampai menjadi suaminya ternyata adalah sang pencuri yang menyebabkan dirinya tidak bisa ke kayangan dan harus tinggal di Bumi.

Kini legenda Joko Tarub sudah tidak lagi tayang menghiasi layar televisi. Generasi milenial sudah tidak percaya akan legenda cerita di mana ada pelangi maka ada bidadari mandi, lalu selendangnya bisa dicuri untuk dijadikan istri. Para jombloan dan jomblowati hari ini diberikan solusi berlabel islami guna meretas dinamika gejolak di hati karena terus-terusan sendiri, bernama “Ta’aruf”.

Ta’aruf secara bahasa berasal dari kata ta’arafayata’arafu yang artinya perkenalan atau saling mengenal. Kata ta’aruf tersurat dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 13:

….يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal…” (QS. al-Hujurat: 13).

Dalam proses ta’aruf, diharuskan ada pihak ketiga yang bertugas sebagai perantara atau wakil dalam melakukan ta’aruf, terutama mahram dari pihak wanita. Kemudian kedua belah pihak diwajibkan memberikan keterangan yang jujur, benar, detail tentang diri masing-masing. Informasi yang diberikan harus benar dan sesuai dengan kenyataan serta bisa dipercaya terkait sifat masing-masing calon, termasuk sifat buruk harus diungkapkan, agar tidak ada yang didzalimi nantinya. Ta’aruf juga boleh dihentikan jika salah satu atau keduanya ragu-ragu untuk melanjutkan ke tahap yang serius.

Karena ta’aruf berlabel islami yang bebas dari zina, dan menikah merupakan ibadah guna mendekatkan diri kepada sang pencipta, maka timbulkan keyakinan yang mantap untuk menempuh cara ini. Biasanya mereka berkeyakinan bahwa rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia serta takdir yang telah digariskan. Oleh karena itu, jika kita pasrah dan berserah diri kepada-Nya, maka semua akan baik-baik saja dan indah pada waktunya.

Kendati demikian, keyakinan yang kuat tanpa perkenalan yang ketat dapat menyebabkan permasalah setelah menikah. Seperti yang terjadi pada salah satu teman penulis misalnya. Ia baru saja berhijrah dengan yakin dan mantap menerima pinangan seorang pria, tanpa mengetahui secara detail latar belakang pria tersebut. Bermodal iman pada takdir yang kuasa. Wal hasil, ternyata Ia mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) hingga akhirnya Ia bercerai memutuskan ikatan pernikahan.

Padahal dalam sebuah riwayat, ketika Umar bin Khattab sedang berjalan bersama sahabat untuk menuju suatu kampung, lalu dikabarkan bahwa kampung tersebut sedang terjadi wabah menular dan berbahaya, lantas Umar pun berbelok dan mengurungkan niatnya baik silaturahimnya. Kemudian Umar berkata: “Kita berpindah dari takdir yang buruk, menuju takdir yang baik”. Oleb sebab itu, saya ingin mengingatkan kembali bahwa Ta’aruf adalah perkenalan. Kenalilah pasanganmu, bukan yakinilah tanpa mengenalnya terlebih dahulu karena manusia jelmaan Joko Tarub ada dan berlipat ganda.

Akhirulkalam…

Fenomena Ta’aruf dan legenda Joko Tarub memberikan pelajaran bagi para jomblo dalam mencari pasangan hidupnya. Berdasarkan fenomana tersebut terdapat satu hal yang ingin penulis garis bawahi, yakni ‘kenalilah pasanganmu sebelum menikah.’ Mengapa demikian? Karena hubungan pernikahan itu tak seindah potret yang trending di sosial media, cuy.

Jika diibaratkan, pernikahan itu seperti kita melihat sebuah gunung yang indah mewah dan megah. Tapi setelah masuk, kalian akan menemukan semak belukar serta hutan belantara. Di situ kalian harus punya bekal serta stamina yang cukup. Jika kalian berhasil, maka puncak yang indah akan memberikan pemandangannya setelah melaluinya bersama.

Tapi untuk bisa sampai puncak, kalian harus setia satu sama lain dan memiliki komitmen bersama dalam melewati segala rintangan, dan untuk itu kalian haruslah saling mengenal satu sama lain. Saya yakin pembaca yang budiman tak ingin tertimpa musibah seperti sang bidadari yang ternyata menikahi si pencuri atau terjebak KDRT karena terlalu memasrahkan diri.

Terakhir, saya ingin mendoakan siapapun yang membaca tulisan ini. Semoga pembaca yang budiman cepat bertemu persingghan hati dengan siasat Joko Tarub atau Joko Ta’aruf saling mengenal dan saling menghormati. Aamiin.

Fahmi Saiyfuddin
Pegiat RPDH Jombang

    Menghidupkan Kolektivitas di Kebun Merdeka

    Previous article

    Kau Pertahankan Lahanmu, Maka Ku Hajar Engkau

    Next article

    You may also like

    More in nganggur