RENUNGAN

Curahan Hati: Potret Pendidikan di Tengah Pandemi

0

Ditulis oleh: *White 

Ilustrasi oleh: Senjamelawan

Hampir seluruh dunia termasuk Indonesia diributkan dengan bencana virus Covid-19. Akibatnya, sebagian besar sektor ‘lumpuh’ mulai dari sektor pemerintahan, perekonomian, hingga pendidikan. Kondisi ini pada akhirnya memperburuk aktivitas maupun rutinitas kehidupan umat manusia.

Namun, saya tidak akan membahas satu per satu sektor yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Saya memfokuskan permasalahan dari satu sektor yakni pendidikan.

Saat ini, potret pendidikan di Indonesia mengalami situasi genting karena sekolah hingga perguruan tinggi untuk sementara tidak diperbolehkan beraktivitas. Tujuannya, memutus rantai penyebaran Covid-19. Kondisi ini mengubah skema pembelajaran. Semula bertatap muka kini diubah menjadi online. Bahasa bekennya belajar online di rumah.

Kementerian Pendidikan menerapkan pembelajaran di rumah menggunakan aplikasi video conference ataupun media lainnya untuk membangun komunikasi antara guru dan murid sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan. Namun pertanyaannya, apakah cara komunikasi ini berjalan efektif? Mari sejenak kita melihat dari 3 sisi. Guru, murid dan orang tua.

Berdasarkan pengalaman pribadi ibu saya yang juga guru TK mengeluhkan sulitnya mengaplikasikan metode pembelajaran online. Perlu diketahui, ibu saya baru seumur jagung mengenal telepon seluler beserta aplikasi di dalamnya. Ibu sangat kebingungan dan merasa kesal terhadap kurikulum yang dibuat selama pandemi.

Sementara bagi murid, kondisi mereka benar-benar “bodoh”. Sebab, metode pelajaran dilakukan secara online. Guru tidak bisa menjelaskan banyak hal tentang materi yang diajarkan kepada anak didiknya. Dengan demikian, murid dipastikan tidak dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru secara utuh.

Sedangkan bagi orang tua, ada tugas tambahan yakni menjadi pengajar bagi anaknya. Tanggung jawab orang tua makin menumpuk dan terasa berat. Beban semakin bertambah ketika kondisi pekerjaan orang tua dirumahkan sementara bahkan diberhentikan di kantor maupun pabrik.

Bukan kesimpulan

Untuk menjawab kebutuhan murid, maka pemerintah perlu menerapkan skema pembelajaran yang relevan agar kelak mereka menjadi tuan serta nyonya di tanahnya sendiri.

Caranya mengajak para murid untuk melakukan observasi di rumah secara mandiri kemudian menganalisa sesuai kemampuan murid. Kegiatan dikemas dengan skema bermain sambil belajar seperti mempelajari jenis-jenis tumbuhan yang ada di halaman rumah atau sekitarnya (untuk pelajar SD).

Menulis resensi buku, meneliti sejarah dan kebudayaan di sekitar mereka (untuk pelajar SMP), Sedangkan untuk pelajar SMA dan SMK membuat essay, cerpen, memanfaatkan tanah di sekitar mereka untuk menanam tanaman serta belajar membuat wirausaha kecil.

Walaupun ini tidak ada dalam kurikulum yang dibuat pemerintah, namun apabila skema pembelajaran ini diterapkan, perlahan-lahan kita bisa mewujudkan tujuan dibuatnya kurikulum 2013 yakni, membentuk pelajar yang mandiri dan bisa berpikir kritis.

*Penulis baru saja lulus dari sebuah SMK Negeri di Jombang

Bagaimana Coronavirus Membuat Kaya Perusahaan Teknologi

Previous article

14 Tahun Bencana Industri Lapindo, Terusir Dari Kampungnya dan Dirampas Hak-haknya

Next article

You may also like

More in RENUNGAN