nganggur

Covid-19, Kapitalisme dan Barbarisme

0

illustrasi oleh Cannabinoise.151

Sudah satu bulan ini, tepatnya sejak awal Maret, virus Corona atau disebut COVID 19 (Coronavirus Disease 2019) ramai diberitakan di Indonesia. Asal mula kemunculan virus ini masih menjadi perdebatan diantara para peneliti, meskipun disinyalir dari pasar hewan di Wuhan, China. Bahkan teori konspirasi juga ikut meramaikan perdebatan tersebut,  di antaranya menyebut bahwa virus ini berasal dari senjata biologis dan kebocoran laboratorium militer. Beruntung, para ilmuwan dari berbagai negara tersebut juga fokus menciptakan obat dan vaksin COVID-19 guna menghentikan pandemi yang terus menelan ribuan nyawa. Nah, di sini kita melihat sains bekerja untuk mengatasi permasalahan kesehatan manusia. Mereka mengidentifikasi masalah, mendapatkan solusinya, lalu hasilnya dijual. Lhah, kok gitu?

Ketika sains dipaksa bercumbu dengan kapitalisme, hubungan mereka (dengan kita) menjadi semacam toxic relationship. Sebagaimana ditulis oleh Mudhoffir (2011) tentang buku Slavoj Zizek berjudul Living in The End of Times, sains menjadi penyebab munculnya berbagai ancaman di muka bumi, seperti timbulnya berbagai konsekuensi ekologis akibat aktivitas industri atau akibat pengembangan teknologi rekayasa genetik yang tidak terkendali. Namun, pada saat yang sama, sains berguna untuk memahami ancaman-ancaman itu serta merumuskan cara-cara menghadapinya.

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia, mengatakan bahwa ancaman ekologis adalah salah satu gejala yang menandai bahwa kita kini hidup di akhir sejarah (Mudhoffir, 2011). Yang dimaksud adalah sejarah demokrasi kapitalisme liberal yang tidak lagi mampu untuk mengatasi pelbagai krisis yang dimunculkan oleh dirinya sendiri. Sementara sains, biang berbagai krisis umat manusia kini, benar-benar bersangkutan dengan modal dan kapitalisme.

Zizek juga menyatakan bahwa inovasi-invoasi pengetahuan di bidang biogenetic menandaskan berakhirnya nature. Ketika sains digunakan untuk mengungkap hukum alam dan digunakan untuk memanipulasi organisme-organisme di dalamnya, maka alam pun akan menjadi rentan sekaligus menyebabkan malapetaka. Lihat saja bagaimana tanaman-tanaman hasil genetika disemai di mana-mana menjadi makanan kita sehari-hari. Hutan-hutan lindung digunduli sedemikian rupa lalu diganti dengan hutan-hutan sawit. Akibatnya terjadi krisis ekologi di antaranya: siklus ekologis terganggu, banyak satwa-satwa liar terusir dari tempat tinggalnya, serta munculnya penyakit-penyakit genetik yang baru.

Ketika malapetaka tersebut terjadi, sains pun kembali menjadi pihak yang ramah dan manusiawi untuk mengatasi krisis tersebut. Seperti saat pandemi global ini. Sains pertama-tama digunakan mengidentifikasi virus corona baru sehingga dapat menciptakan alat untuk mendeteksi pasien positif COVID-19. Kemudian, sains digunakan untuk meneliti dan menguji obat-obatan untuk mengobati penyakit ini. Berhubung sains bekerja dalam kapitalisme, maka sewajarnya jika hasil sains tersebut menjadi hak paten industri kesehatan. Perlengkapan dan obat-obatan tersebut disebar luaskan secara masal tanpa asas solidaritas, bukan sebagai barang publik. Mereka diperjual-belikan dengan harga yang tidak murah untuk mengakumulasi modal kembali di masa krisis.

Padahal, mereka yang membuat masalah, namun masih tega untuk mengeksploitasi kembali. Bayangkan jika perusahaan, negara, dan masyarakat bergotong royong untuk memproduksi obat dan perlengkapan kesehatan tersebut untuk disebarluaskan secara masal dan gratis, seharusnya tidak ada yang mengalami kerugian. Pandemi ini akan semakin cepat selesai dan teratasi. Pegiatan perekonomian pun akan segera berjalan normal kembali. Iya kan?

Yang terjadi justru sebaliknya, kekerasan sains dan kapitalisme pun berlanjut hingga ke akar rumput. Krisis pandemi COVID-19 ini menyuburkan kondisi barbarisme beserta arena pertarungannya: berkompetisi dengan serakah, bringas, sekaligus susah diatur dalam daya konsumsinya. Lihatlah bagaimana masyarakat dipaksa berlomba untuk mendapatkan akses perlengkapan kesehatan yang mumpuni di apotek dan pusat layanan kesehatan – siapa cepat dan kuat, dia yang dapat. Bahkan dengan segala cara, apapun akan dilakukan supaya mendapatkan kebutuhan ini tanpa mempertimbangkan keadaan sosial dan empati, yang terpenting adalah kebutuhan sendiri tercukupi dan terpenuhi.

Barbarisme akibat krisis dalam diri kapitalisme tersebut tak ayal membuat manusia semakin kejam antara satu sama lain. Masker dan hand sanitizer diborong di pasaran lalu dijual kembali dengan harga selangit. Aksi spekulan ini pun menyaring masyarakat berdasarkan kemampuan ekonominya sehingga warga miskin tersingkir dan tak mampu membeli. Padahal sudah tahu kalau sama-sama menderita, tapi kok masih saling menyakiti.

Demikianlah hubungan sains dan kapitalisme, keduanya akan terus menunjukkan kekerasan sekaligus keramahan di waktu yang sama. Sehabis mereka melakukan kekerasan, lanjut merayu mesra, lalu melakukan kekerasan lagi, demikian seterusnya sampai mereka (kita paksa) putus. Jika hubungan toxic ini terus berlangsung, maka semakin relevan pernyataan Slavoj Zizek bahwa “lebih mudah membayangkan dunia hancur daripada kapitalisme yang hancur.”

mm
Koordinator FNKSDA Surabaya dan mahasiswa UIN Sunan Ampel, penyuka buku dan kopi.

    Akulturasi Islam dan Kejawen

    Previous article

    Marsinah Pejuang Buruh yang Dibunuh Rezim Otoriter Orde Baru

    Next article

    You may also like

    More in nganggur