MISUH

 Corona dan Psikologi Kritis

0

Ilustrasi oleh JabriXxX

Corona telah menewaskan bla bla bla… Jika Anda sudah muak dengan kalimat pembuka semacam itu, berarti media sudah berhasil membanjiri kepala Anda dengan berita swa-Corona. Tapi seorang presenter –dari media yang juga memberitakan Corona– menyatakan, bahwa untuk beberapa orang, berita-berita Corona telah menyebabkan perasaan panik, gelisah dan curiga yang tak menentu. Kemudian, psikolog yang terhubung dengan presenter tersebut, menanggapi api itu wajar. Justru kalau tidak takut, tidak cemas, perlu dipertanyakan. Karena itu sinyal psikologis yang melindungi kita dari marabahaya.

Dialog di atas dikutip dari chanel youtube Kompas TV. Di lain sisi, American Psychological Association, baru saja merilis wawancara dengan Professor Baruch Fischhoff tentang Coronavirus Anxiety; dia berpendapat, “Bahwa sebenarnya kepanikan jarang terjadi. Anda akan melihatnya lebih banyak di film daripada yang Anda lihat di kehidupan nyata. Di bawah situasi krisis, orang-orang biasanya bersatu untuk membantu satu sama lain, mereka saling mendukung, mereka bertindak berani.”

Coba perhatikan kedua pendapat psikolog di atas. Keduanya mengutarakan pendapat yang saling bertolak belakang terkait pengaruh Coronavirus terhadap psikologis manusia. Psikolog yang pertama mengatakan bahwa kepanikan di tengah Corona adalah hal yang wajar, sedangkan psikolog yang kedua menyatakan bahwa tidak akan terjadi kepanikan karena masyarakat akan saling bantu jika dalam keadaan krisis. Walaupun berbeda pendapat, jika dilihat dari sudut pandang psikologi kritis, keduanya sama-sama sedang berupaya menormalisasi persepsi publik yang muncul akibat Corona.

Tujuannya adalah agar publik tetap tenang. Tapi apa yang salah dengan argumen semacam itu, selama datanya valid dan bisa dipertanggung jawabkan? Salahnya ada pada generalisasi, seolah teori-teori psikologi adalah hukum-hukum fisika yang tak terdampak oleh faktor-faktor sosial dan politik. Kecenderungan para psikolog yang suka mendiagnosa kawanan manusia dengan pukul rata inilah yang dijuluki oleh Ian Parker, seorang pakar psikologi kritis, dengan istilah ‘penginjil psikologi.’ Para penginjil psikologi inilah yang suka membentangkan batas normal dan abnormal, seolah semua manusia hanya dibedakan dengan dua istilah saja.

Selain menormalisasi keadaan seperti pada kasus Corona, psikolog juga dapat meabnormalisasi keadaan. Sebagai contoh, ketika abad sembilan belas, budak Afro-Amerika yang melarikan diri dari perkebunan Mississippi akan didiagnosa oleh psikolog Amerika dengan istilah Drapetomania. Drapetomania berarti kecenderungan bagi budak untuk melarikan diri. Lihat, betapa anehnya memberikan diagnosa abnormal pada bentuk perlawanan terhadap penindasan. Itu hanya salah satu contoh peran psikolog dalam meabnormalisasi keadaan dengan pseudo-diagnosa. Kelompok LGBT misalnya, juga pernah dikategorikan sebagai pengidap gangguan seksual, namun sekarang pseudo-diagnosa itu sudah tidak digunakan lagi, karena tidak mengandung bukti ilmiah.

Setelah memahami normalisasi dan abnormanlisasi yang bisa dilakukan oleh psikologi kepada perilaku manusia. Kini dapat kita simpulkan bahwa psikolog adalah agen penyusup persepsi publik yang ampuh, terlebih jika dibantu dengan corong media yang masif. Kemudian, apa yang dapat kita ajukan sebagai wacana tanding dari mainstream psikologi yang terlanjur beredar? Sejauh yang saya tahu, hanya ada satu lawan yang sepadan, yakni psikologi kritis.

Psikologi kritis adalah salah satu paradigma dalam ilmu psikologi yang menganjurkan pandangan untuk melihat disiplin psikologi dengan kritis. Alih-alih menerima apa yang dikatakan psikolog begitu saja, klien atau seseorang yang menerapkan psikologi kritis membalikkan pandangan dan secara aktif melihat apa yang dilakukan psikolog, bagaimana mereka menentukan perilaku kita, cara kita berpikir, dan cara mereka menentukan berbagai jenis gangguan bagi kita, dan apa pengaruh pendapatnya terhadap perilaku kita secara pribadi maupun di tengah masyarakat.

Secara praktis, psikologi kritis tidak mengelompokkan manusia berdasarkan normal-abnormal. Lebih dari itu, para psikolog penganut psikologi kritis tidak pernah mengajukan diagnosa kepada klien mereka, dan melangkah lebih jauh untuk membangun aliansi kesehatan bersama masyarakat, serta membina kelompok diskusi kritis untuk saling merefleksikan pengalaman psikologis.

Kemudian, psikologi kritis berusaha untuk menggantikan teori-teori usang dengan pemahaman bersama yang menyeluruh tentang diskriminasi dan penindasan. Karena menurut psikologi kritis, salah satu yang menyebabkan perubahan psikologis pada manusia adalah diskriminasi dan penindasan yang terjadi di masyarakat.

Selanjutnya, apabila seseorang sudah memahami struktur penindasan yang membuatnya tertekan, maka orang tersebut akan berpikir ulang untuk menangani keadaannya, bukan malah menghakimi diri sendiri berdasarkan diagnosa yang didapatkannya dari psikolog. Jikapun psikologi kritis memiliki tujuan akhir, mungkin tujuan itu berbentuk kesadaran akan kebebasan, penerimaan diri yang mutlak dan pengembangan potensi.

Sekarang, mari kita berandai-andai menjadi seorang penganut psikologi kritis pada hari-hari yang Corona, yang melihat permasalahan tidak hanya normal atau abnormal; boleh panik atau tidak boleh panik; wajar atau tidak wajar. Melainkan, melihat melalui struktur kondisi yang melatar belakangi psikologis manusia. Mungkin masyarakat akan panik, atau cemas, atau stres dalam menghadapi perubahan akibat Corona. Namun, serba perasaan yang mencekam itu bukan turun dari langit seperti kutukan. Corona adalah virus, dan virus memang akan selalu hidup di antara manusia.

Tapi manusia memiliki sistem ekonomi dan politik, yang mampu memberikan perlindungan serta persiapan untuk menghadapi virus, seperti perbaikan sistem kesehatan dan sosial. Namun kenyataannya, hari ini kita tidak siap menghadapi Corona, yang menghadapkan kita pada keadaan yang tidak pasti, terutama pada kelompok masyarakat bawah dan berpenghasilan rendah. Untuk masyarakat bawah ketidakpastian inilah sumber dari perasaan yang mengganggu.

Ketidakpastian ini sangat nyata, terutama pada pekerja yang perusahaannya akan melakukan pemangkasan pegawai, mereka terancam akan dipecat. Selain itu, di sektor swasta, angka pemasukan menurun drastis dan banyak usaha kecil terancam bangkrut. Dalam keadaan yang serba mengancam seperti itu, kita harus bersama-sama untuk tetap kritis, tidak mewajarkan atau menyalahkan keadaan batin kita. Berusaha berpikir jernih dan tetap terhubung dengan teman, bersolidaritas, sambil berucap dalam hati, bahwa nanti, ketika atau setelah Corona, sistem yang tidak memberikan kepastian ini harus dirubah.

Tapi, juga tidak masalah jika kita lebih memilih mewajarkan dan menganggap normal ketidakpastian ini, seperti yang dikatakan psikolog di KompasTV. Atau sekaligus mengikuti saran American Psychological Association, agar saling membantu dalam keadaan krisis, mungkin yang dimaksud adalah mengadakan amal. Kau tahu, amal? Adalah parfum untuk selokan kapitalis.

mm
Aktif di penerbitan buku dan kolektif di Surabaya

    Mas Didi dan Kenangan yang Akan Selalu Tersimpan

    Previous article

    Darurat Covid-19, Bekukan Seluruh Aktivitas Tambang

    Next article

    You may also like

    More in MISUH