nganggurRENUNGAN

Chetna Gala Sinha: Bagaimana Perempuan-perempuan di Perdesaan India Memacu Keberanian Membangun Modal

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Artikel ini merupakan terjemahan dari presentasi Chetna Gala Sinha saat berada di acara Ted. Ia merupakan pendiri dan ketua Bank Mann Deshi, sebuah bank yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perempuan pengusaha mikro di perdesaan di India. Chetna Gala Sinha seorang pendengar yang bersemangat yang menghargai para pengambil risiko – yang membuat ia memiliki semangat yang kuat di dunia perbankan.

Sebagi seorang aktivis dan petani senior ini, pada 1997 ia mendirikan Bank Mann Deshi Mahila Sahakari, bank pertama India untuk dan oleh perempuan perdesaan. Hari ini, Bank Mann Deshi telah memiliki 90.000 pemegang akun, mengelola bisnis lebih dari 22 juta dolar dan rutin menciptakan produk keuangan yang baru untuk mendukung kebutuhan usaha-usaha mikro perempuan.

Pada 2006, Sinha mendirikan sekolah bisnis pertama bagi perempuan perdesaan di India, dan pada 2013, ia meluncurkan saluran telepon bebas pulsa dan Kamar Dagang pertama untuk perempuan pengusaha mikro di negara tersebut. Pada 2012, ia membuat program pemberdayaan masyarakat untuk petani yang mendukung konservasi air; telah membangun sepuluh bendungan dan memberi dampak positif pada 50.000 penduduk (Sumber: www.ted.com).

Berikut presentasi dari Chetna Gala Sinha:

Saya di sini untuk bercerita kepada Anda bukan hanya cerita saya sendiri, melainkan cerita perempuan-perempuan hebat dari India yang pernah saya temui. Mereka terus menginspirasi saya, mengajarkan saya, menunjukkan saya pada petualangan hidup saya. Ini tentang perempuan-perempuan yang luar biasa. Mereka tidak bergelar, tidak traveling, dan tidak terkenal.

Saya bekerja, tinggal dan hidup di India, serta berkecimpung dengan perempuan-perempuan di perdesaan India. Saya lahir dan tumbuh di Mumbai. Ketika saya kuliah, saya bertemu dengan Jayaprakash Narayan, pemimpin Gandhian yang terkenal, yang menginspirasi para pemuda untuk bekerja di perdesaan India.

Saya bergabung dengan gerakan hak atas tanah, gerakan petani dan gerakan perempuan. 

Pada saat bersamaan, saya menetap di sebuah desa yang sangat kecil, jatuh cinta dengan seorang pemimpin petani yang muda, dinamis dan tampan, yang bukan saja sangat terdidik, tetapi juga dia mampu mengumpulkan orang banyak. Dan dalam jiwa muda saya, saya menikah dengannya, dan meninggalkan Mumbai, kemudian pergi ke sebuah desa kecil yang mana tidak ada air yang mengalir, dan tidak ada toilet. Jujur saja, keluarga dan teman-teman saya merasa khawatir.

Saya tinggal bersama sebuah keluarga kecil, dengan tiga anak, di sebuah desa. Suatu hari, beberapa tahun yang lalu, seorang perempuan yang bernama Kantabai datang kepada saya.

Kantabai berkata, “Saya ingin membuka akun tabungan. Saya ingin menabung.” Saya pun bertanya: “Kamu berbisnis besi hitam, apa kamu punya cukup uang untuk ditabung? Kamu tinggal di jalanan, apa kamu sanggup menambung?” Kantabai bersikeras. Dia mendesak, “Saya ingin manabung karena saya ingin membeli selembar plastik sebelum angin monsoon tiba. Saya ingin melindungi keluarga saya dari kehujanan.”

Saya pun pergi bersama Kantabai ke sebuah bank. Kantabai hendak menyimpan 10 rupee setiap hari, kurang dari 15 sen. Tetapi manajer bank menolak membuatkan akun untuk Kantabai. Manajer itu berkata bahwa jumlah uang Kantaba terlalu sedikit, dan ia tidak ingin membuang-bunag waktu. Padahal Kantabai tidak meminta subsidi, atau bantuan dari pemerintah. Yang ia minta, hanya ingin memiliki tempat yang aman untuk menyimpan uang-uangnya. Dan itu haknya.

Saya pun pergi, saya berkata, jika bank-bank tidak membukakan akun untuk Kantabai, mengapa tidak mendirikan saja bank yang memberikan kesempatan bagi perempuan seperti Kantabai untuk menabung. Kemudian saya mengajukan lisensi pendirian bank kepada Reserve Bank of India. Bukan, itu bukan pekerjaan yang mudah. Lisensi kami ditolak.

Dengan banyak dalih, Reserve Bank mengatakan bahwa kita tidak dapat menerbitkan lisensi sebuah bank yang menerima nasabah-nasabah yang minim literasi. Saya jadi takut. Saya menangis. Sampai rumah pun saya terus menangis. Saya beri penjelasan kepada Kantabai dan perempuan-perempuan yang lain, bahwa kami tidak bisa memperoleh lisensi karena perempuan-perempuan kami minim literasi. Tetapi perempuan-perempuan kami justru berkata, “berhentilah menangis. Kami akan belajar membaca dan menulis, kemudian kita coba mengajukan lagi, kenapa tidak?”

Kami memulai kelas literasi kami. Setiap hari perempuan-perempuan kami datang. Mereka sangat tekun belajar setelah seharian bekerja. Mereka selalu datang ke kelas, dan belajar membaca dan menulis. Setelah berjalan lima bulan, kami mengajukannya lagi, tetapi kali ini kami tidak pergi sendirian. Lima belas perempuan menemani saya ke Bank India.

Perempuan-perempuan kami berkata kepada petugas Bank India, “Anda menolak pengajuan lisensi kami karena kami tidak bisa membaca dan menulis. Anda menolak kami karena kami minim literasi.” Mereka lanjut berbicara, “tidak ada sekolah ketika kami tumbuh, jadi kami tidak punya tanggung jawab untuk ketidakberpendidikan kami.” Dan mereka terus berbicara, “Kami tidak bisa membaca dan menulis, tapi kami bisa menghitung.” Dan mereka pun menantang petugas itu, “Izinkan saya menghitung bunga dari sejumlah tabungan”.

“Jika kami tidak mampu menghitungnya, jangan beri kami lisensi. Perintahkan juga petugas Anda melakukannya tanpa kalkulator dan lihat siapa yang dapat menghitung lebih cepat.”Tidak perlu banyak kata-kata, kami mendapatkan lisensi bank itu.

Hari ini lebih dari 100.000 perempuan yang menabung kepada kami dan kami memiliki lebih dari 20 juta dollar modal. Semua ini tabungan perempuan-perempuan itu. Tidak ada investor yang meminta berbisnis. Tidak ada. Ini semua tabungan milik perempuan-perempuan perdesaan.”

Saya juga ingin bercerita bahwa, ya, setelah memperoleh lisensi itu, hari ini Kantabai telah memiliki rumah sendiri dan tinggal di sana bersama keluarganya, di rumah miliknya dan milik keluarganya.

Ketika kami mulau mengoperasikan bank, saya mestinya melihat bahwa perempuan-perempuan kami tidak usah datang ke bank, karena mereka harus menghabiskan waktu mereka untuk bekerja. Saya pikir, jika perempuan-perempuan ini tidak datang ke bank, bank harus pergi untuk mereka, dan kami pun mulai memberlakukan bank keliling (doorstep banking).

Baru-baru ini, kami memulai perbankan digital. Perbankan digital mensyaratkan untuk mengingat sebuah nomor PIN. Tetapi perempuan-perempuan kami berkata, “kami tidak menginginkan nomor PIN. Itu bukan ide yang bagus.” Dan kami pun mencoba menjelaskan kepada mereka, bahwa mungkin Anda mesti mengingat nomor PIN. Kami akan membantu Anda mengingat nomor PIN. Mereka tetap bersikukuh. Mereka berkata, “usulkan sesuatu yang lain.” Dan mereka–

Dan mereka mengusulkan, “Bagaimana jika sidik jari?” Saya pikir itu ide bagus. Kami akhirnya menghubungkan perbankan digital dengan biometrik, dan sekarang perempuan-perempuan ini menggunakan transaksi finansial mereka dengan menggunakan ibu jari mereka. Dan tahukah Anda apa yang mereka katakan? Mereka berkata, “siapa pun dapat mencuri nomor pin saya, dan membawa pergi sejumlah uang saya, tetapi tak seorang pun dapat mencuri ibu jari saya.”

Itu meneguhkan pelajaran bahwa saya telah belajar dari perempuan-perempuan ini, bahwa jangan pernah menyuguhkan solusi yang miskin untuk orang-orang miskin. Mereka itu pintar.

Beberapa bulan yang lalu, seorang perempuan yang lain datang ke bank. Kerabai namanya. Dia menggadaikan emasnya, dan mengambil sejumlah pinjaman. Saya bertanya kepada Kerabai, “mengapa kamu menggadaikan perhiasan berhargamu dan mengambil pinjaman?” Kerabai menjawab, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa sedang terjadi kekeringan yang mengerikan? “Tidak ada makanan untuk kita atau pun makanan untuk hewan-hewan. Tidak ada air.

Saya menggadaikan emas untuk membeli bahan makanan dan makanan ternak untuk hewan-hewan saya.” Saya tidak mampu menjawab apa-apa. Kerabai menantang saya, “Kamu bekerja di desa ini, dengan perempuan-perempuan dan uang, tapi bagaimana jika suatu hari tidak ada air? Jika kamu meninggalkan desa ini, dengan siapa kamu akan mengurus bank?”

Kerabai memiliki pertanyaan yang tepat. Oleh karena itu, di masa kekeringan ini, kami memutuskan untuk mulai membuat kamp penampungan ternak di suatu titik wilayah di mana para petani dapat membawa hewan-hewan mereka ke dalam satu tempat dan memperoleh makanan ternak dan air. Hujan tidak turun. Kamp penampungan itu mampu bertahan sampai 18 bulan. Kerabai biasanya berjalan mengelilingi kamp penampungan itu dan menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Kerabai akhirnya menjadi sangat populer.

Hujan pun tiba dan kamp ternak itu disudahi. Tapi setelah kamp berakhir, Kerabai datang ke studio radio. Kami mempunyai radio komunitas sendiri, dengan lebih dari 100.000 pendengar. Dia berkata, “saya ingin mengisi pertunjukan regular di radio ini.” Manajer radio pun menjawab, “Kerabai, kamu tidak bisa membaca dan menulis. Bagaimana kamu bisa menulis skriptnya?” Anda tahu, dia menjawab apa? “Saya memang tidak bisa membaca dan menulis, tapi saya bisa bernyanyi. Bukankah itu adil?”

Dan akhirnya, Kerabai mengisi program radio regular itu. Bukan hanya itu, dia menjadi penghibur radio yang terkenal. Dan dia telah diundang oleh seluruh radio-radio yang ada, bahkan radio dari Mumbai. Dia mendapat undangan, dan dia pun tampil.

Kerabai telah menjadi selebritis lokal. Suatu hari saya bertanya kepada Kerabai, “Bagaimana kamu akhrinya memutuskan untuk menyanyi?” Dia menjawab, “Akankah saya ceritakan kepadamu fakta yang sebenarnya? Ketika saya hamil anak pertama, saya selalu merasa lapar. Saya tidak punya cukup makanan. Saya pun tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Dan karena itu, untuk melupakan rasa lapar saya, saya mulai menyanyi.” Sungguh kuat dan bijak, bukan?

Saya selalu berfikir bahwa perempuan-perempuan kami mengatasi banyak sekali kesulitan budaya, sosial, finansial, dan mereka mampu menemukan cara-cara mereka sendiri.

Saya juga akan berbagi cerita yang lain lagi. Sunita Kamble. Dia telah mengikuti kursus di sebuah sekolah bisnis. dia menjadi dokter hewan. Dia seorang Dalit. Dia datang dari sebuah kasta rendahan. Dia mengerjakan proyek penghamilan buatan pada kambing. Itu adalah profesi yang sangat didominasi oleh laki-laki. Dan semua itu sangat sulit untuk Sunita, karena Sunita lahir dari kasta yang tak tersentuh. Tapi dia bekerja dengan sangat keras. Dia mensukseskan pengiriman-pengiriman kambing di wilayah itu. Dia pun menjadi dokter kambing yang terkenal. Baru-baru ini dia meraih penghargaan nasional.

Saya pun mengujungi rumah Sunita untuk mengucapkan selamat padanya. Saat saya memasuki desanya, saya melihat sebuah poster besar bergambar Sunita. Sunita sedang tersenyum di gambar itu. Saya benar-benar terkejut melihat seorang kasta rendahan, yang datang dari desa itu, terpampang pada poster besar pada jalan masuk desanya.

Saya bahkan semakin terpukau, karena pemimpin-pemimpin kasta yang tinggi, kebanyakan laki-laki, duduk di rumahnya dan menikmati jamuan dan air, yang itu sangat jarang di India. Para pemimpin dari kasta yang lebih tinggi biasanya tidak pergi ke rumah seorang dari kasta rendahan, dan menikmati jamuan atau air. Dan mereka meminta Sunita untuk datang dan memberi sambutan di sebuah perkumpulan desa. Sunita memecah aturan kasta yang mengakar berabad-abad di India.

Izinkan saya bercerita tentang apa yang dilakukan oleh generasi-generasi yang lebih muda. Sebagaimana saya berdiri di sini, saya sangat bangga karena saya bisa berdiri di sini. Dari Mhaswad ke Vancouver. Kembali ke rumah, Sarita Bhise. Dia bahkan belum genap 16 tahun. Dia mempersiapkan diri. Dia menjadi bagian dari program cabang-cabang olahraga kami, program kejuaraan. Dia mempersiapkan diri untuk mewakili India untuk permaian hoki. Dia akan tampil di Olimpiade 2020 di Tokyo. Sarita datang dari komunitas penggembala yang sangat miskin. Saya hanya, saya tidak bisa lebih berbangga lagi kepadanya.

Ada jutaan perempuan-perempuan seperti Sarita, Kerabai dan Sunita, yang dapat ditemukan di sekitar Anda. Meraka ada di mana-mana di seluruh dunia. Tetapi sepintas Anda mungkin berfikir bahwa mereka barangkali tidak memiliki apa-apa untuk dibagikan. Anda akan sangat keliru. Mereka membagikan cerita-cerita mereka kepada saya. Mereka membagikan kebijaksanaan mereka kepada saya. Dan saya sangat beruntung bertemu dengan mereka.

Dua puluh tahun yang lalu, dan saya sangat bangga, kami pergi ke Bank India. Dan kami mulai merancang bank perempuan perdesaan yang pertama. Hari ini mereka mendorong saya untuk pergi ke Bursa Saham Nasional untuk merancang sumber pendanaan pertama yang didedikasikan untuk para pengusaha perempuan perdesaan. Mereka mendorong saya untuk merancang sebuah bank perempuan untuk pembiayaan skala kecil yang pertama di dunia. Dan salah seorang dari mereka berkata,

“Keberanian saya adalah modal saya.” 

Dan di sini saya berkata, keberanian mereka adalah modal saya. Dan jika Anda mau, Anda juga bisa melakukannya. Terimakasih.

 

*Artikel ini diterjemahkan oleh Ahmad Syifa, dari presentasi Chetna Gala di Ted yang berjudul “How Women in Rural India Can Turned Courage into Capital.” 

 

mm
Suka menerjemahkan tulisan sebagai bagian dari belajar di https://bungapembukaabad.blogspot.com/

Bergerak Bersama Dapur Solidaritas Jombang, Merawat Kemanusiaan dan Pangan Berkelanjutan

Previous article

Gelas Retak Berkeping-Keping

Next article

You may also like

More in nganggur