REVIEW

Catatan Heroik Perlawanan Perempuan

0

Ilustrasi oleh Redaksi

Perlawanan dalam sejarah global ditunjukan begitu bergairah dengan senapan. Setiap perjuangan untuk perubahan diwarnai perseteruan antara coretan pena dari ideolog keadilan dengan desingan peluru aparat keamanan. Di awal abad-19 hingga sekarang, perjuangan akan keadilan bagi si miskin tak berdaya disajikan begitu heroik dalam buku-buku sejarah.

Walaupun pada setiap tuntutan akan keadilan dipastikan melalui jalan kekerasan, namun, di sudut yang berbeda, perlawanan-perlawanan pada kekuasaaan yang lalim terkadang menyimpan keunikannya lain.

Tentu kita ingat perangai dari Negara Kuba dengan Che Guevaranya, dari masyarakat adat di Chiapas, Meksiko dengan Subcomandante Marcos, dan sebagainya. Tapi lepas dari daratan karibia, daratan Asia dan Afrika mempunyai jalan ceritanya sendiri yang tak kalah unik.

Buku Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan (Steve Crawshaw & John Jackson, 2015) meringkas beberapa kisah berani, sederhana dan tanpa ampun dari beberapa tindakan kecil yang berujung pada tegaknya keadilan dan perdamaian. Buku ini serupa antitesa dari narasi-narasi arus utama yang mengisahkan sejarah secara “jantan” bagaimana perlawanan-perlawanan di beberapa negara.

Buku Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan oleh Steve Crawshaw & John Jackson (Insist Press, 2015)

Disamping itu, apa yang membuatnya berbeda dari kisah heroisme sejarah “jantan” adalah adanya beberapa kisah tentang perlawanan yang dipicu oleh sosok perempuan. Metode yang unik dan tanpa ampun patut mendapat perhatian, sebab disitu tersingkap bahwa perempuan juga dapat merubah kehidupan sosial dan politik.

Berikut kisah berani, sederhana, dan unik dari beberapa perempuan yang memprotes “kekuasaan” dalam bermacam bentuknya:

  1. Perempuan-Perempuan Tangguh Dalam Bayang-Bayang Pemerkosaan

Benua Afrika atau benua hitam adalah wilayah “jajahan” yang tidak ada habisnya dilanda peperangan. Dalam negara konflik meregangnya nyawa adalah sisi lain dari banyaknya kebiadaban yang terjadi. Salah satunya adalah kelaparan dan pemerkosaan.

Republik Liberia mempunyai kisahnya yang menyedihkan. Negara ini terletak di pesisir barat Afrika. Berbatasan dengan Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading. Liberia dilanda dua kali perang saudara (1989-1996 dan 1999-2003) yang mengakibatkan ratusan penduduk mengungsi dan krisis ekonomi.

Sekelompok milisi berkeliaran melukai dan membunuh penduduk sipil. Pemerkosaan dipertontonkan bahkan oleh tentara pemerintah yang sah. Milisi dan tentara pemerintah “kesenangan” memerkosa kaum perempuan sebab impunitas (kebal hukum) yang dimiliki.

Tahun 2003, sekelompok kecil perempuan di Liberia mencoba bangkit dari keterpurukan. Menggunakan pakaian serba putih, mereka menari dan berdoa saban hari di pinggir jalan yang biasa dilalui oleh Presiden Charles Taylor. Mereka “berjuang meraih hak untuk dilihat, didengar, dan diperhitungkan.” (hal-71)

Kami sudah capek menyaksikan putri-putri kami diperkosa. Kami melakukan aksi ini sekarang karena kami yakin anak-anak kami kelak akan bertanya, ‘Mama, apa yang kamu lakukan selama masa krisis dulu?’” seru Leymah Gbowe, salah seorang pemimpin aksi.

Media radio dan televisi mempublikasi aksi tersebut. Mereka juga mendapat dukungan dari para ulama dan para uskup. Tekanan yang bertubi membuat Presiden Charles taylor menerima para pemimpin perempuan di Istana Presiden.

Selang beberapa minggu, dari tempat yang sama, di ibu kota Monrovia terjadi perundingan lain dengan pemberontak dari negara tetangga, Ghana. Namun, para perunding malah menyebar kekerasan baru di kota.

Saat para pemimpin pemberontak dan presiden sedang berunding, para perempuan memblokade jalan keluar dan masuk dari Istana Presiden. “Tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari ruangan itu sampai perjanjian perdamaian benar-benar selesai ditandatangani”.

Usaha melarikan diri dari blokade hanya sia-sia. Para perunding gagal menembus pagar yang dibuat oleh para perempuan. Alhasil, suatu kesepakatan damai akhirnya tercapai. Charles Taylor diasingkan ke laur negeri, disusul oleh satu pasukan perdamaian internasional tiba di kota terbesar di Liberia, Monrovia.

Pada tahun 2006 pemilihan umum pertama dilaksanakan yang berlangsung dengan damai. “Adalah rakyat awam Liberia yang mewujudkan perdamaian dan meraih kembali negeri ini,” seru Ellen Johnson-Sirleaf selaku presiden dari hasil pemilihan umum sekaligus presiden perempuan pertama di Benua Afrika.

  1. Memperjuangkan Kodrat Perempuan

Masih di Afrika bagian utara, tepatnya di negara Sudan. Sebelum tuntutan referendum oleh wilayah Sudan selatan yang terjadi pada tahun 2011, Sudan merupakan negara konflik berkepanjangan. Perang saudara terjadi antara kawasan utara dan selatan, yang diperkirakan menewaskan jutaan orang.

Pada tahun 2002 para perempuan berusaha menghentikan perang saudara yang telah berlangsung selama dua puluh tahun. Samira Ahmed, mantan guru besar di salah satu perguruan tinggi mempunyai cara bagaimana menghentikan perang saudara itu. Ia berniat memberdayakan para perempuan agar bisa ambil bagian dalam perjuangan meraih kesepakatan damai di kedua belah pihak.

Dia mulai melancarkan aksi yang dinamakannya ‘penelantaran seksual’ (sexual abandoning). Artinya, menolak berhubungan seks dengan pasangan. Akhirnya ribuan orang bergabung dengan mereka. (hal. 74)

Perempuan-perempuan itu berharap dengan menolak berhubungan seks dengan suami mereka dapat menekan para lelaki itu untuk mencipatakan perdamaian. Tak disangka, pada tahun 2005 aksi tersebut berhasil menekan para pria dari kedua belah pihak untuk menandatangani kesepakatan perdamaian.

Gaya protes yang unik dan efektif dari kaum perempuan di Kolombia kurang lebih serupa. Ide mogok seks ialah cara yang kenyataanya efektif untuk menekan kaum pria.

Di kota Pereira, Kolombia, tawuran antar geng yang berakibat pada kematian menuai protes dari kaum perempuan. Para pria beranggapan bahwa menjadi gangster itu lebih diidamkan secara seksual oleh para wanita. Maka perempuan-perempuan pacar dan istri para gangster “berkesimpulan bahwa seks pun dapat menjadi kunci untuk mengakhiri rangkaian tindak kekerasan selama ini.” Aksi itu dikenal sebagai ‘huelga de piernas cruzados’, atau ‘mogok menyilangkan kaki’.

Perempuan-perempuan itu menuntut “agar para lelaki meletakan senjata mereka”. Jika tidak, takkan ada hubungan seks selama kekerasan dan kematian masih terjadi. Sebagai seorang pria tentu ini semacam pukulan telak. “Mari kita silangkan kaki melawan para lelaki yang doyan tindak kekerasan itu. Paro sexual! Mogok seks!” penggalan lirik dari lagu rap propaganda untuk mengajak sesama kaum perempuan bergabung. (hal.77)

Dengan cepat aksi itu di adaptasi di seluruh negeri. Dari nasional menurun ke tingkat terendah seperti lingkungan rumah, lingkungan kerja, hingga ke desa-desa.

Dalam budaya jawa patriarki, perempuan adalah makhluk yang mempunyai hak lebih sedikit terkait hak waris atau harta gono-gini. Tahta jaman Jawa hanya memperbolehkan keturunan mereka yang pria yang kelak dapat menduduki singgasana raja. Diskriminasi gender yang masih ada hingga sekarang.

Di negara jauh seperti Uganda ada sedikit kasus unik terkait harta gono-gini. Pada hari Minggu di tahun 1996, Noerina Mubiru baru saja ditinggal mangkat suaminya. Sepuluh pria dari keluarga almarhum suaminya menuntut menyita barang-barang peninggalan suaminya.

Noerina mempunyai cara lain untuk menanggapi itu. Ia memasuki kamar kemudian keluar dalam keadaan telanjang bulat sambil menunjuk ke arah selangkangannya dan berkata, “Kalian lihat, inilah salah satu barang yang paling dicintai oleh suami saya.” Sambil menepuk bokongnya ia melanjutkan, “Dan ini barang kedua yang paling disukainya. Kalau kalian ingin mengambil barang-barang peninggalannya, silahkan mulai dengan barang ini, lalu saya akan memperlihatkan barang yang lain kepada kalian.” (hal.78)

Semua orang termasuk bapak mertuanya merasa malu dan pergi begitu saja.

  1. Perempuan Melawan Rasisme

Rasisme begitu mengakar di Amerika Serikat. Sindrom ini mempunyai sejarah panjang semenjak jaman perbudakan. Dihapuskannya perbudakan kulit hitam di Amerika tidak serta merta mengapuskan diskriminasi ras pada masa kini.

Akhir-akhir ini kematian seorang kulit hitam yang dibunuh oleh seorang polisi rasis di Amerika menjadi perbincangan dan memicu protes global merupakan satu dari sekian banyak tindakan rasisme di Amerika.

Claudette Colvin, gadis remaja berusia lima belas tahun adalah saksi hidup bagaimana rasisme di transportasi umum. Suatu saat di tahun 1955 ia menaiki bus di kota Montgomery, Alabama, Amerika Serikat. Sebab bus yang ramai, ia menolak memberi tempat duduk pada penumpang kulit putih. “Akibatnya ia dilempar keluar bus dan ditangkap polisi.”

Di tahun 1956, Colvin menjadi saksi kunci dan berpidato di pengadilan Federal Distrik Alabama dan kemudian di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Bagi Colvin, “… sangat mendasar untuk risau atau marah mengenai ketidakadilan, tapi jauh lebih penting adalah mengapainya langsung dalam kenyataan.”

Di kota dan tahun 1955 yang sama, Rosa Park mengalami tindakan serupa. Tukang jahit ini menjadi korban rasisme pemisahan tempat duduk berdasarkan warna kulit. Ia pun juga menolak memberikan tempat duduknya pada seorang kulit putih yang mengakibatkan ia ditangkap polisi. “Penangkapannya memicu aksi boikot bus umum selama setahun penuh di Montgomery dan mendorong gerakan hak-hak sipil berikutnya.” Sekarang, namanya di abadikan menjadi nama museum di Montgomery: Museum Rosa Park.

Setelah banyaknya pembangkangan dan pidato bersejarah dari Martin Luther, Kongres Amerika mensahkan Undang-Undang Hak Sipil 1964 yang menghapus pemisahan fasilitas publik bagi kulit putih dan kulit hitam.

  1. Perempuan vs Perusahaan Minyak

Perusahaan Unocal dari California dan total mitra usahanya dari Prancis berinvestasi di Burma untuk mengekstrak sumber daya alam minyak mentah (black gold). Keduanya menjalin “kerjasama” dengan pemerintahan diktator militer dan tentara pemerintah Burma untuk melaksanakan proyek ekstraksi sumber daya alam.

Rezim militer Burma yang terkenal kejam dengan membuta melakukan pelanggaran HAM. Desa beserta rumah sepanjang pipa saluran gas dibakar dan penduduknya merasakan pembunuhan, pemerkosaan, dan kerja paksa.

Katie Redford, mahasiswa hukum semester 2 ketika magang mendalami persoalan HAM di Burma. Dimana kondisi Burma saat itu begitu menyeramkan. Pegiat HAM lokal bercerita padanya bahwa mereka pernah mengirim surat pada Unocal dan pemerintah Amerika Serikat tentang kondisi di Burma. Hanya saja, surat itu tak berbalas.

Redford kemudian bertemu dengan seorang pegiat HAM lokal, Ka hsaw Wa, yang membantunya menyusup melintasi perbatasan. Tujuannya untuk menggali informasi dan merekam secara langsung kekejian yang dilakukan oleh Militer Burma terhadap para penduduk di sekitar proyek pipa gas Unocal.

Redford mencoba mencari jalan keluar untuk menyudahi kekejian di Burma. Ditemukannya satu Undang-undang lama yang ditandatangi oleh George Washington pada tahun 1789 tentang Penuntutan Tindakan Perusakan oleh Pihak Luar. Kelak, Undang-undang itu dan pengalamannya secara langsung melihat kekejian militer di Burma menjadi tema mendasar pembuatan makalahnya.

Tak berhenti di makalah, Redford bersama Ka hsaw Wa mendirikan suatu organisasi nirlaba bernama Earthright Internasional yang berfokus pada isu-isu HAM di seluruh dunia.

Mereka menggugat Unocal ke pengadilan negeri di Los Angeles pada tahun 1997 “atas nama lima belas orang warga desa di Burma.” Pengadilan negeri mengatakan jika negeri “Amerika Serikat dapat menuntut secara hukum perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam tindak kejahatan diluar negeri.”

Beberapa bulan mendekati sidang, Unocal menarik diri dari persidangan. Dikabarkan perusahaan itu telah mengganti jutaan dolar ganti rugi pada para korban. Tentang uang itu seorang warga korban kerja paksa mengatakan tak peduli dengan uang ganti rugi. Ia lebih berharap agar dunia mengetahui apa yang telah dilakukan Unocal di Burma dan keadilan bisa tercipta di Burma. (hal. 196)

  1. Perempuan vs Perusahaan Semen

Selain kisah dari mancanegara dalam buku tersebut, di Indonesia juga ada kisah heroik perlawanan perempuan dalam upaya menolak eksploitasi lingkungan oleh pabrik semen. Perlawanan perempuan dalam mempertahankan kelestarian alam ini patut didukung dan diteladani.

Mendirikan pabrik yang berdekatan dengan bahan-bahan dasar untuk diolah adalah pilihan praktis bagi setiap pabrik. PT. Semen Indonesia berinvestasi senilai 5 triliun untuk mendirikan pabrik baru di Kabupaten Rembang, Jawa tengah, Indonesia. Tepatnya pegunungan Kendeng. Kabupaten Rembang merupakan kawasan perbukitan kapur yang subur. Bahan-bahan dasar untuk membuat semen relatif tersedia seperti pasir, batu kapur, dan air.

Mayoritas warga di sekitar perbukitan kapur berprofesi sebagai petani. Selama turun-temurun mereka menggantungkan hidupnya dari kesuburan alam. Air adalah aspek yang paling mendasar bagi warga di kawasan perbukitan kapur. Jika pabrik beroperasi sumber air terancam hilang.

Rencana pendirian pabrik mendapat penolakan dari warga. Mayoritas adalah perempuan-perempuan petani. Kini, mereka dikenal luas sebagai kartini kendeng. Mereka berdemo “dari menduduki tapak pabrik, demo ke kantor-kantor pemerintah, parlemen baik di daerah maupun pusat sampai gugatan hukum di pengadilan”.

Pada tahun 2016 Presiden Joko Widodo mengundang mereka ke istana presiden. Ia berjanji jika akan dilakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan memutuskan KLHS di Pegunungan Kendeng meliputi Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Rembang, Blora, Grobogan dan Pati. Maka tambang diharuskan berhenti operasional.

Apa yang terjadi di lapangan berbeda. Tahun 2017 Hasil KLHS diumumkan tapi pabrik semen masih beroperasi. Pemerintah daerah tak menggubris hasil kajian dan tetap menyetujui beroperasinya pabrik.

Penolakan berlanjut. Para kartini kendeng melakukan aksinya pada tahun 2018 di Tugu Tani, Jakarta, monumen untuk mengenang jasa para petani. Mereka membawa lesung, alat untuk menumbuk padi, dengan berdandan ala petani lengkap dengan topi caping bertuliskan “Tolak Pabrik Semen”. Mereka mengitari Tugu dengan menenteng lesung sembari nembang.

Sampai sekarang pabrik tetap beroperasi tanpa mengindahkan dampak lingkungan, KLHS dan putusan Mahkamah Agung. Dan sampai sekarang juga perempuan-perempuan Kartini Kendeng tetap konsisten melawan pabrik semen.

Darius Tri S.
Wirausaha yang belum dibaptis

    Iuran BPJS dan Kenapa Kita Patut Kesal Terhadap Jokowi

    Previous article

    Media Sosial: Sisi Gelap Moda Komunikasi Masa Depan

    Next article

    You may also like

    More in REVIEW