REPORTASE

Catatan Aksi Tolak Omnibus Law Banyuwangi

0

ABB

22 Oktober Aliansi Banyuwangi Bergerak melakukan aksi damai penolakan “Omnibus Law Cipta Kerja dan Mosi Tidak Percaya ke pemerintah.” Aksi ini sendiri akan melakukan long march dari Untag Banyuwangi menuju ke Pemda Banyuwagi lalu dilanjutkan ke DPRD. Aksi ini sendiri diikuti kurang lebih hampir 500 massa aksi dari berbagai elemen, baik pelajar, mahasiswa maupun petani.

Dalam berbagai orasi yang disampaikan sebelum berangkat ke Pemda Banyuwangi. Beberapa orang baik dari mahasiswa, warga dan pelajar kecewa dengan disahkannya Omnibus Law. Pasalnya UU ini akan semakin mengakselerasi kerusakan lingkungan, menyuburkan konflik agraria dan menindas para pekerja.

Lalu kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Garuda Pancasila dan Lagu Pembebasan. Semua dipenuhi sukacita, sembari pekikan diteriakkan lantang “hidup rakyat” atau “cabut omnibus law.” Belum lagi keluh kesah atas DPR RI dan Pemerintah Pusat, semua mereka luapkan dalam bentuk nyanyian dan makian. Bahkan mereka membentangkan celana dalam di jalan menuju Pemda, sebagai simbol bahwa pemerintah memang “memalukan dan tidak tahu malu.”

Aksi berlanjut, pada pukul 14:00 WIB Massa aksi Aliansi Banyuwangi Bergerak (ABB) melakukan longmarch dari kampus Untag ke Pemda Banyuwangi. Perlu diketahui, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas adalah anggota Satuan Petugas (Satgas) perumusan UU Omnibus Law.

Setidaknya pada pukul14:30 WIB, mssa aksi ABB melakukan orasi dan menjemur pakaian dalam di gerbang dan tembok kantor Pemda, sebelumnya celana dalam itu sudah dibentang di jalan. Massa aksi sendiri menuntut agar Bupati Anas untuk keluar menemui massa aksi. Karena Bupati tak kunjung keluar massa aksi mengancam akan masuk ke dalam kantor Pemda.

Ancaman tidak digubris oleh bupati, membuat massa aksi geram. Lalu massa aksi melakukan aksi simbolik, secara serentak mereka memantati (membelakangi) kantor Bupati, sebagai simbol bahwa rakyat pun sudah tidak menganggap Bupati sebagai wakil mereka.

Situasi memanas, pemerintah Banyuwangi tebal muka dan tuli kupingnya, sehingga memaksa massa aksi untuk mendorong gerbang kantor Pemda. Mobil pemadam kebakaran diarahkan ke massa aksi, tentu bukan untuk memadamkan api, tetapi untuk mengacaukan massa. Massa aksi pun tidak gentar, mereka bersepakat, jika ada satu tetes air dikeluarkan, maka mereka akan memaksa masuk ke kantor Pemda.

Selekas dari Pemda, pada pukul 15:15 WIB, massa aksi ABB melakukan longmarch ke kantor DPRD Banyuwangi. Sesampainya di depan gerbang kantor DPRD, massa aksi memasang spanduk besar bertuliskan “Mosi Tidak Percaya: Cabut Omnibus Law” di tembok bagian depan gedung DPRD, lalu mereka juga memasang pakaian dalam di gerbang. Tanpa diduga, pihak polisi Banyuwangi memakai mobil water canon untuk membubarkan aksi. Aksi yang sedari awal memang damai, pelan-pelan mulai memanas.

Tepat pada 15.20 massa aksi ABB serentak meneriakkan “Tolak Omnibus Law!” “Gagalkan Omnibus Law!.” Teriakan itu oleh polisi direspons dengan menyemprotan air dari mobil water canon ke massa aksi, tembakan kedua itulah yang menyulut insiden kerusuhan. Massa aksi ABB yang sangat marah, mencoba untuk mendorong pagar kantor Pemda hingga roboh. Polisi lalu menembakkan gas air mata berkali-kali ke arah massa aksi, guna membubarkan massa aksi yang sudah kecewa dengan bupati.

Setelah itu, massa aksi menyebar dan mundur. lantas aparat kepolisian mengejar massa aksi hingga pertigaan depan kampus Untag. Polisi pun kembali menembakkan gas air mata, bahkan sampai melakukan tindakan kekerasan, dan puncaknya melakukan penangkapan terhadap massa aksi tolak UU Omnibus Law.

Akibatnya, puluhan massa aksi mengalami tindakan kekerasan aparat. Belasan di antaranya harus ditangani tim medis dan dua orang massa aksi harus dilarikan ke UGD Rumah Sakit Blambangan, satu orang mengalami sesak nafas, lalu satu orang tidak bisa bergerak, diduga karena ditendang aparat kepolisian di bagian kaki hingga terjatuh. Menurut pengakuannya ia juga diinjak di bagian dengkul, dan ditendang di bagian alat vital.

Medis pun bergerak cepat dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Selang beberapa jam kedua orang tersebut sudah ditangani, diperbolehkan pulang, dan sedang rawat jalan. Berdasarkan pengakuan tim medis juga mengalami perlakuan tidak mengenakan, beberapa orang mengaku dipukul aparat kepolisian dan diintimidasi ketika melakukan pertolongan pada massa aksi.

Tercatat hingga hari ini, massa aksi yang ditangkap dan ditahan di Polresta Banyuwangi terdapat 12 orang (AKW; HFU; MR; MDH; MHA; RK; RVDR; AJ; WR; MU; PJN; FYP). Massa aksi yang diduga hilang ada 10 orang (PRYG; ANDK; FRHN; BGS; YHNS; JS; IGR; ED; AYS; DV). Sementara massa aksi yang dirawat di RS sudah ditangani dan boleh pulang untuk rawat jalan. Massa aksi yang ditangkap dan ditahan sedang dalam proses pemerikasaan oleh polisi dan kini sudah memperoleh pendampingan hukum dari Tekad Garuda. Massa aksi yang tidak ada kabar sedang dalam proses pencarian oleh kawan-kawannya, beberapa sudah ditemukan, namun lainnya masih belum ada kabar.

Tentang Gerakan Sosial Kita

Previous article

Wajah Rezim Jokowi di Balik UU Cipta Kerja

Next article

You may also like

More in REPORTASE