ANALISAngendas

Bukan Sekedar New Normal

0

Ilustrasi: Senjamelawan

Saya merasa gelisah bukan hanya dari persoalan COVID Pandemi saja wabahnya, masih banyak wabah-wabah yang lain, yang itu sekarang sebenarnya ada kesalahan dalam paradigma. Kita bukan melawan tapi kita harus berusaha mengembalikan covid 19 ini ke tempatnya yaitu hutan, yaitu alam yang terlindungi. (Nissa Warganipura; Dalam satu diskusi webinar bertema Ekonomi Tanding: Upaya Warga Melawan dan Memperkuat Imunitas Sosial Ekologis:Mei 2020)

Cara pandang serta cara hidup Nissa dan masyarakat lainnya yang menempatkan kepedulian terhadap alam, sesama dan makhluk lain adalah kebalikan dari cara pandang pengurus negara yang menempatkan alam sebagai objek pembesaran ekstraksi bahan baku, agar proses produksi terus berlangsung demi memenuhi kebutuhan pasar global. Sistem politik ekonomi ini membuat pertanian kita berubah menjadi pertanian dan peternakan industri untuk memberi makan dunia. Mengeruk secara besar-besaran mineral batu bara dari dalam tanah demi menopang industrialisasi.

Sistem juga ini diperkuat oleh lembaga-lembaga keuangan global yang memberikan pinjaman pada perusahaan industri untuk mengekspansi wilayah dunia ketiga, seperti Indonesia. Kesemuanya ini berkonsekuensi pada perubahan bentang alam, membongkar hutan, merampas dan menyusutkan tanah pertanian. Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mencatat dalam 10 tahun (2003 – 2013) konversi tanah pertanian ke fungsi non-pertanian per menitnya 0.25 hektar dan 1 (satu) rumah tangga petani hilang – terlempar ke sektor non-pertanian. Terjadi penyusutan lahan yang dikuasai petani dari 10,6 % menjadi 4,9 %, guremisasi mayoritas petani pun terjadi dimana 56 % petani Indonesia adalah petani gurem.

Fakta ini juga dikuatkan oleh laporan Kementerian Pertanian yang menyebutkan bahwa luas bahan baku sawah baik yang beririgasi teknis maupun non irigasi berkurang seluas 650 ribu hektar dalam kurun waktu sepuluh tahun. Laporan ini merupakan hasil kajian dan monitoring yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Seluas 3 juta hutan Indonesia juga telah diubah menjadi perkebunan sawit tanpa izin, kemudian status kawasan hutan dirubah menjadi non hutan melalui revisi tata ruang.

Situasi ini membuat masyarakat teraleniasi dari kehidupannya, dari ruang hidupnya, dari relasinya terhadap alam (Foster, 2000). Pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat dalam mengelolah pertanian dengan cara-cara lokal dan benih-benih warisan berganti menjadi pertanian industri. Memaksa tanah untuk mampu memproduksi lebih banyak hasil dengan menggunakan pestisida, pupuk kimia dan benih yang telah direkayasa. Sekali lagi untuk memenuhi kebutuhan pangan global.

Kita bisa membayangkan apa yang masuk dalam tubuh kita melalui makanan yang kita konsumsi. Pertanian industri memaksa kita memasukan racun yang secara perlahan tetapi pasti membunuh kemampuan tubuh kita melawan ancaman virus yang masuk (Delforge, 2005). Kita juga dipaksa menjadi konsumen yang rakus. Pembeli yang setia terhadap semua produk yang dipasarkan. Saya melihat bagimana produk industri masuk ke rumah tangga di kampung-kampung, bahkan lebih dalam, ke dapur.

Paripurna ketidaknormalan Pengurus Negara

Sistem ekonomi yang dianggap kuat ini ternyata begitu lemah saat pandemi COVID-19 menyerang dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana ekonomi yang bertumpu pada komoditi global begitu terpukul. Petani sawit rakyat di kampung-kampung menjerit, sebab harga sawit jatuh drastis secara perlahan. Tak ubahnya dengan nasib yang dialami oleh petani kopi. Buruh-buruh perusahaan di PHK, permintaan batu bara dunia melemah. Saat ekonomi mengalami depresi, pertanian rakyat di kampung-kampung serta wilayah masyarakat adat, dan hasil tangkapan nelayan tradisional lah yang memenuhi konsumsi pangan seluruh masyarakat di Indonesia.

Tetapi alih-alih mendukung kekuatan rakyat tersebut, pengurus negara ini malah mendukung para pemodal. Tercermin dari politik anggaran yang mengalokasikan dana besar untuk pemodal, melalui kebijakan tambahan belanja dan APBN sebesar Rp 405,1 T. Post terbesar untuk pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp 150 T dan Rp 70,1 T untuk tunjangan industri berupa tunjangan pajak.

Semuanya atas nama pemulihan ekonomi nasional, mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi, yang sebagaian besar konsumsi publik disandarkan atas barang-barang industrial. Menurut hemat saja, jika ingin memulihkan ekonomi nasional maka harus terlebih dahulu memulihkan ekonomi rakyat. Tindakan politiknya dengan mengalokasikan anggaran untuk menguatkan usaha produksi rakyat. Menjamin petani dapat bertani, nelayan dapat melaut, tidak kekurangan modal, tidak kehilangan akses terhadap alat produksi, terhindar dari rente.

Kebijakan yang dilahirkan oleh pengurus negara ini juga sama sekali tidak memperdulikan rakyat. Terlihat dari dipaksakannya pembahasan omnibuslaw, RUU Cipta Kerja dan diputuskannya RUU Minerba menjadi UU Minerba disaat seluruh masyarakat bahu-membahu bertahan dalam situasi krisis akibat pandemi COVID-19. Keduanya adalah produk legislasi bermasalah, sebab tidak berangkat dari kebutuhan dan kepentingan rakyat. Hal ini ditandai dengan banyaknya penolakan terhadap undang-undang tersebut.

Baru-baru ini, beberapa hari menjelang hari Raya Idul Fitri, presiden menerbitkan Peraturan Presiden No 66 Tahun 2020 Tentang Pendanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Dalam Rangka Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Lagi-lagi semuanya atas nama penyelamatan ekonomi nasional yang sangat kapitalistik dan menghamba pada pasar global. Tidak ada narasi keselamatan rakyat dan ekologis dalam kebijakan-kebijakan tersebut.

Saat ini narasi “New Normal” atau “kenormalan baru” menghiasi ruang publik, menjadi bahasa seluruh pengurus negara, mulai dari level nasional hingga daerah. Kemunculan wacana new normal berangkat dari timeline pemulihan ekonomi pasca COVID 19, yang merupakan hasil kajian Kemenko Perekonomian. Maka tidak berlebihan jika New Normal ini sarat akan kepentingan ekonomi. Hal ini diperkuat dengan sikap seolah memaksakan penerapan new normal disaat grafik kurva kasus COVID-19 masih tinggi bahkan cenderung meningkat di beberapa wilayah.

New normal adalah kembali pada cara lama dalam roda produksi-konsumsi. Produksi yang terus berorientasi pada pembesaran ekstraksi sumber daya alam. Produksi pertanian dan peternakan yang terindustrialisasi. Penyusutan tanah pertanian dan pembongkaran hutan. Konsumsi yang berlebihan dan bergantung pada produk pasar, yang serba instan dan berbasis brand serta produksi terbaru ketimbang kegunaan dan kebutuhan.

Tentunya new normal ini akan diajadikan alasan kuat mempercepat proyek-proyek, investasi modal, pembesaran produksi komoditi global, dan penetrasi lembaga keuangan global melalui mekanisme hutang. Hal-hal tersebut mulai dijamin melalui produk-produk hukum seperti yang saya sebutkan diatas. Sesungguhnya tidak ada hal yang baru, kecuali protokol rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

New Normal, segera!

Pandemi COVID-19 ini harus menjadi refleksi atas cara pandang kita terhadap sistem ekonomi politik yang ada serta laku hidup kita yang terus memperkuatnya. Fakta-fakta bahwa sirkuit kapital hanya membawa kita jatuh lebih dalam pada krisis, seharusnya membuat kita sadar bahwa kita butuh cara pandang dan laku hidup baru. Cara dan laku yang berlandaskan kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, sesama, alam dan makhluk lainnya. Cara ini harus menjadi peraturan hidup bersama.

Seperti kutipan pernyataan Nissa yang menjadi pembuka tulisan ini, bahwa kita harus mengembalikan virus ke asalnya, yaitu hutan yang baik dan alam yang terlindungi. Pernyataan ini dikuatkan oleh ahli biologi sayap kiri, Robert G. Wallace melalui bukunya Big Farms Make Big Flu; 2016. Dia membuat kasus lengkap atas hubungan antara agribisnis kapitalis dan etiologi (cerita yang berfungsi untuk menjelaskan sebab-musababnya) epidemi terbaru, mulai dari SARS ke Ebola.

Bentang alam di pedesaan, terkhususnya negara dunia ketiga sekarang ditandai dengan agribisnis yang tidak terkendali. Hutan tropis berubah menjadi perkebunan sawit skala besar serta operasi pertambangan. Perubahan bentang alam ini membuat tak ada batas antara ruang hidup kita dan ruang hidup hewan liar. Profesor John E. Fa dari CIFOR juga berkata bahwa penyakit muncul terkait dengan perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Manusia lebih banyak bersentuhan dengan bintang ketika membuka hutan.

Konsumsi tanpa batas mendorong agribisnis kapitalis terus tumbuh, demi satu konsep pertumbuhan yang tanpa batas. Kita perlu beralih dari cara produksi kita yang berbasis agribisnis kapitalis yang orientasinya kebutuhan pasar global ke pertanian regeneratif. Meletakkan kepedulian terhadap tanah, terhadap keanekaragaman hayati, terhadap keberlanjutan fungsi layanan alam dan terhadap kesehatan tubuh kita.

Kita harus berusaha membangun keterhubungan antara tanah dan meja makan kita. Mengusahakan sejengkal tanah yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga kita. Perlahan, kita harus mampu memutus ketergantungan kita terhadap pasar dengan memproduksi secara mandiri apa yang kita butuhkan. Tentunya kepedulian harus menjadi dasar utama.

Seperti apa yang dikatakan Shiva dalam Refleksi Ekologisnya Pada Virus Corona, “pusat ke kehidupan pertanian adalah kepedulian dan syukur, memberi kembali ke bumi, hukum pengembalian atau hukum memberi, menciptakan lingkaran ekonomi yang menyembuhkan bumi dan tubuh kita.” 

Kita harus mempertahankan cara-cara lokal dalam pertanian kita yang terbukti mampu berdampingan dengan alam dan makhluk lainnya. Merawat pengetahuan yang berangkat dari pengalaman panjang kehidupan. Atau jika pengetahuan dan cara-cara itu mulai tergerus oleh sistem pertanian yang terindustrialisasi, maka kita harus memanggil ulang ingatan atas pengetahuan tersebut, dan menghidupinya kembali.

Kita harus menjaga ritual serta budaya yang menempatkan keharmonisan antar sesama, antar makhluk hidup lainnya. Menghormati dan menghidupi bagaimana relasi spiritualitas masyarakat adat terhadap tanah, alam dan segala yang ada dalam ruang hidupnya. Seperti relasi spriritualitas masyarakat adat Mollo yang menganggap tanah merupakan daging, udara merupakan darah, batu merupakan tulang, hutan mewakili darah dan rambut. Saya percaya relasi spriritualitas dan pengalaman ketubuhan terhadap alam seperti itu juga hidup di kelompok masyarakat adat lainnya.

Kita harus mencintai tubuh kita dengan memperhatikan kualitas makanan yang kita konsumsi. Menghentikan memasukan racun berbahaya yang menggerogoti kemampuan tubuh kita melawan serangan virus. Sebab tubuh yang sehat adalah sistem pertahanan kesehatan yang paling penting.

Solidaritas antar komunitas yang terbangun selama pandemi, harus tetap hidup, dan menjadi cara hidup bersama. Mengarahkan solidaritas menjadi solidaritas kritis, yang mampu menginterupsi sistem ekonomi politik yang ada saat ini. Membangun sirkuit produksi dan konsumsi sendiri. Bukankah kita pernah punya pengalaman panjang hidup dengan sistem barter? Serta sistem komunal?. Kenapa kita tidak berusaha menghidupinya kembali?.

Ketika kita meletakkan kepedulian sebagai etika dan cara serta laku diatas menjadi norma, menjadi aturan hidup bersama. Kita harus hidup dengan cara dan laku yang baru itu, kita harus saling menggorganisir diri untuk memproteksi wilayah adat, ruang hidup, hutan, sungai, tanah, keberadaan makhluk lainnya, serta ruang produksi kita.

Kita harus saling terhubung karena pengalaman hidup bersama, bukan lagi terpisah karena batas-batas administrasi wilayah. Kita hidup dalam satu bentang wilayah yang sama, tanpa batas. Sebab batas-batas administrasi yang dibuat oleh negara adalah tindakan politis. Hanya untuk bagaimana mereka dapat menguasainya.

Jika kita mampu hidup dengan norma baru tersebut, kita juga harus mampu memaksa negara untuk memproteksinya. Serta memaksa mereka untuk mematuhi aturan kehidupan bersama itu. Akhirnya, untuk dapat menatap kehidupan yang lebih baik kedepan, kita tidak boleh kembali pada kenormalan lama.

Kita butuh norma baru tanpa harus meninggalkan norma-norma lama yang terbukti mampu menjaga keseimbangan ekologis, mampu melawan gempuran pertanian industri dengan pertanian berbasis kearifan lokal. Mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan konsumsi, bahkan bersolidaritas saat situasi sulit seperti saat ini.

Referensi

Delforge, Isabelle. 2005. Industri Pangan : Penelusuran Jejak Mosanto. Penyunting : Hadi Wahono, Danarti Wulandari. INSISTPress, Yogyakarta.

Foster, John Bellamy. 2000. Ekology Marx, Matrealisme dan Alam. Terjemahan : Pius Ginting. WALHI, Jakarta.

Wallace, R. 2016. Big farms make big flu: dispatches on influenza, agribusiness, and the nature of science. NYU Press.

 

mm
Direktur Genesis Bengkulu

    Seperangkat Propaganda Perlawanan “Obey”

    Previous article

    Kata Adalah Senjata: Ricardo Flores Magón

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA