REVIEW

Bolivia Merebut Kembali Demokrasi

0

Kemenangan pemilihan umum MAS (Gerakan Menuju Sosialisme) yang luar biasa merupakan penolakan terhadap rezim kudeta rasis beserta pemerintahan Trump dan OAS (Organisasi Negara-negara Amerika), yang membantu mendirikannya.

Pada Minggu 18 Oktober, Luis Arce memenangkan kursi kepresidenan Bolivia, sebagai penolakan keras terhadap kudeta militer tahun lalu, yang telah menempatkan pemerintah saat ini ke dalam kekuasaan. Arce adalah mantan menteri ekonomi era Presiden Evo Morales, yang merupakan presiden pribumi pertama negara dengan persentase penduduk pribumi terbesar di Amerika. Pemerintah Morales yang terpilih secara demokratis digulingkan pada November tahun lalu.

Kudeta November disokong oleh pemerintahan Trump, dan kepemimpinan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) memainkan peran sentral dalam membangun pondasi tersebut. Pemilu hari Minggu dengan demikian memiliki implikasi potensial sangat besar bukan hanya untuk Bolivia, di mana hal tersebut merupakan langkah penting menuju pemulihan demokrasi, tetapi juga untuk kawasan, dalam hal demokrasi, kemerdekaan nasional, kemajuan ekonomi dan sosial, dan perjuangan melawan rasisme.

Pertama, pemilihan umum: hasil quick count tidak resmi menunjukkan Arce menang dengan lebih dari 50 persen suara, dan setidaknya 20 poin persentase di depan pesaing terdekatnya, mantan presiden Carlos Mesa. Mayoritas menentukan, namun sekalipun jika penghitungan resmi final menempatkan Arce di bawah 50 persen, selisih atas Mesa hampir pasti cukup besar untuk memenangkan pemilihan di putaran pertama (untuk menang di putaran pertama, seorang calon presiden harus mendapatkan lebih dari 50 persen suara, atau setidaknya 40 persen dengan margin 10 poin di atas runner-up). Mesa sudah kecolongan, dan presiden de facto, Jeanine Áñez, memberi selamat kepada Arce atas kemenangannya pada Minggu malam.

Tidaklah sulit untuk melihat mengapa Arce akan menang bahkan jika dia tidak berhadapan dengan pemerintah rasis yang sangat represif dan dibangun oleh kudeta. Sebagai menteri ekonomi sejak Morales menjabat pada Januari 2006, Arce mampu mendapatkan banyak pujian atas apa yang dikatakan oleh para ekonom mana pun sebagai perubahan haluan perekonomian yang sangat sukses untuk Bolivia. Ketika Morales pertama kali terpilih, pendapatan per kapita lebih kecil dari 26 tahun sebelumnya. Sebaliknya, dalam 14 tahun pemerintahan Gerakan Menuju Sosialisme (MAS) periode 2006-2019, pertumbuhannya sekitar 52 persen. Ini adalah perbaikan yang besar dalam standar hidup (keenam dari 34 negara di kawasan ini), seusai kegagalan ekonomi jangka panjang yang sangat parah.

Masyarakat Bolivia yang miskin, yang secara disproporsional adalah  pribumi, mendapat manfaat lebih banyak daripada yang lain dari keberhasilan ekonomi pemerintahan MAS. Kemiskinan berkurang 42 persen dan kemiskinan ekstrim berkurang 60 persen. Masyarakat Bolivia yang lebih miskin juga diuntungkan secara tidak proporsional dari peningkatan yang sangat besar dalam investasi publik, termasuk diantaranya sekolah, jalan, dan rumah sakit.

Sebagai pembanding, kudeta pemerintah selama 11 bulan sejak November lalu telah menjadi bencana. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa perekonomian Bolivia akan menyusut 7,9 persen pada 2020. Tentu saja, sebagian besar dunia juga merasakan dampak ekonomi akibat COVID-19, namun jumlah korban tewas Bolivia berdasarkan persentase dari populasi terbilang sangat ekstrim karena salah urus pemerintahan kudeta. Bolivia menempati urutan ketiga dari 150 negara dalam statistik jumlah kematian per satu juta penduduk akibat COVID-19. Ini adalah kelalaian kriminal.

Masyarakat Bolivia juga menderita akibat kejahatan yang disengaja di bawah pemerintahan saat ini. Diantaranya termasuk dua pembantaian oleh pasukan keamanan, di mana mereka menewaskan sedikitnya 22 orang — semuanya pribumi. Rasisme terang-terangan tidak hanya oleh pasukan keamanan tetapi juga para pemimpin kudeta itu sendiri dan pemerintah de facto, demikian pula penindasan dan penganiayaan politik oleh pemerintah, didokumentasikan dalam laporan bulan Juli oleh Klinik Hak Asasi Manusia Internasional Harvard Law School dan Jaringan Universitas untuk Hak Asasi Manusia. Laporan ini menemukan bahwa bulan kudeta tersebut adalah ‘bulan paling mematikan kedua dalam hal kematian warga sipil yang dilakukan oleh tentara negara sejak Bolivia menjadi negara demokrasi hampir 40 tahun lalu.’

Human Rights Watch menemukan bahwa pemerintah de facto ‘secara terbuka menekan jaksa dan hakim untuk bertindak demi kepentingannya, yang mengarah pada investigasi kriminal terhadap lebih dari 100 orang yang terkait dengan pemerintah Morales dan pendukung Morales untuk hasutan dan / atau terorisme’. Di antara mereka yang dituduh melakukan terorisme adalah Evo Morales. Human Rights Watch menyimpulkan bahwa tuduhan itu ‘tampaknya merupakan serangan politik terhadap Morales dan pendukungnya ketimbang penegakan hukum’.

Semua ini tidak akan terjadi jika kekuatan sayap kanan – yang tidak dapat memenangkan pemilu selama 14 tahun – tidak mampu melakukan kudeta pemerintahan. Dan terkait hal tersebut, mereka mendapat banyak bantuan: pada 21 Oktober tahun lalu, sehari setelah pemilu, OAS merilis pernyataan yang menuduh bahwa ada perubahan yang ‘drastis dan sulit dijelaskan dalam tren hasil awal setelah penutupan pemungutan suara’. Organisasi tersebut tidak dapat memberikan bukti, dan tuduhan tersebut segera terbantahkan. Tapi OAS terus mengulangi tuduhan itu selama berminggu-minggu dan kemudian berbulan-bulan, dan menjadikannya dasar politik untuk kudeta 10 November, dan pembenaran atas pelanggaran yang mengikutinya.

Telah jelas dari awal berdasarkan data pemilu yang tersedia untuk publik, apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya cukup sederhana: daerah yang dilaporkan terlambat lebih pro-MAS daripada daerah yang dilaporkan terlebih dahulu. Hal ini umum terjadi dalam banyak pemilihan, dan, tidak mengherankan terjadi lagi tahun ini, karena penghitungan resmi ditabulasikan pada hari-hari setelah pemilihan umum hari Minggu.

Senin sore, Associated Press melaporkan, ‘Penghitungan resmi merekapitulasi Mesa unggul 41% hingga 39% atas Arce dengan 24% suara terhitung pada hari Senin, tetapi suara tersebut tampaknya sebagian besar berasal dari daerah perkotaan daripada daerah pedesaan, daerah utama yang telah menjadi basis dukungan Morales.’ Dan tentunya, Arce segera melaju ke depan dan dalam perjalanan memimpin dengan keunggulan mendekati lebih dari 20 persen yang sebagaimana dilaporkan quick count Minggu malam.

Namun ketika situasi serupa, trend yang mudah dijelaskan terjadi tahun lalu, yang mendorong keunggulan Evo Morales dari 7,9 poin persentase menjadi selisih lebih dari 10 poin — cukup untuk menang di babak pertama — OAS merekayasa berita palsu tentang kecurangan. Sebagian besar media besar menerima ceritanya. OAS menerbitkan tiga laporan dalam bulan-bulan setelah rilis pers awalnya, tetapi tidak pernah mempertimbangkan pertanyaan apakah wilayah pelaporan selanjutnya secara politis berbeda dari yang dilaporkan sebelumnya. Adalah Misi Pemantauan Pemilu yang dikelola oleh para pemantau pemilu profesional yang harus mengetahui setidaknya sebanyak orang yang menonton pemilu di televisi. Sama sekali tak dapat dipercaya bahwa fenomena pemilu yang umum dan dipahami secara luas ini bahkan tidak pernah terlintas di pemikiran organisasi tersebut (OAS).

Pada 25 November, empat anggota Kongres AS bertanya kepada OAS apakah organisasi tersebut telah mempertimbangkan kemungkinan ini, namun hampir setahun kemudian masih belum menerima jawaban untuk hal ini dan juga sepuluh pertanyaan dasar lain yang mereka ajukan. Dua dari perwakilan ini, Jan Schakowsky dan Jesús ‘Chuy’ García (keduanya dari Partai Demokrat dari Chicago) telah meminta Kongres untuk menyelidiki apa yang dilakukan OAS (Kongres menyetujui sekitar 60 persen dari pendanaan OAS).

OAS menolak untuk menjawab sebagian besar pertanyaan dari jurnalis, setidaknya on the record; dan mereka tidak pernah membalas surat dari 133 ekonom dan ahli statistik yang mengangkat masalah dan pertanyaan sama yang diajukan oleh anggota Kongres tentang pernyataan palsu OAS.

Namun Sekretariat Jenderal OAS, Luis Almagro, memberikan respon terhadap artikel 7 Juni di The New York Times yang mengutip bukti statistik yang menunjukkan bahwa tuduhan OAS terkait pencurian suara pemilu adalah dusta. Almagro melontarkan cercaan keras terhadap New York Times, dengan alasan bahwa pihaknya ‘bermaksud untuk menyangkal kemungkinan Rakyat Bolivia untuk memilih presiden baru yang bukan Evo Morales dalam pemilihan baru’. Sembari menyerang pengalaman reportasi New York Times lebih dari 90 tahun, Almagro mengaitkan dugaan keberpihakan kantor berita tersebut terhadap Morales dengan ‘sejarah kontroversial yang terdokumentasi dengan baik dalam hubungannya dengan kediktatoran dan totaliterisme’, termasuk Stalin, Castro dan bahkan Hitler. Tuduhan ini, dilontarkan oleh organisasi yang bertujuan mewakili negara-negara dengan populasi keseluruhan lebih dari satu miliar orang.

Semua ini menunjukkan betapa pentingnya menghentikan penggunaan OAS oleh pemerintah AS sebagai instrumen pergantian-rezim. OAS telah melakukan serupa sebelumnya: dalam pemilu Haiti tahun 2000, di mana OAS mengubah analisisnya untuk memberikan dalih penghentian hampir semua bantuan internasional, yang berpuncak pada kudeta yang didukung AS pada tahun 2004; dan pada tahun 2011, ketika OAS melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh misi pemantau pemilu lainnya, saat itu dengan mudahnya menjungkirbalikkan hasil putaran pertama pemilihan presiden Haiti.

Tentu saja, kita juga perlu menghentikan pergantian-rezim sebagai standar kebijakan Washington untuk menangani pemerintahan kiri di Amerika Latin. Pada abad ke-21, mayoritas orang di Amerika Latin dan Karibia memilih pemerintahan kiri, yang lebih independen dari pendahulunya. Washington melakukan intervensi untuk melemahkan hampir semuanya, termasuk di Argentina, Brasil, Bolivia, Haiti, Honduras, Nikaragua, Venezuela, dan Paraguay — dan hampir pasti lebih banyak lagi, di mana bukti yang menunjukkan bersifat tidak langsung — dalam beberapa kasus berkontribusi pada pergantian-rezim yang sebenarnya.

Intervensi ini dapat memberikan efek yang merusak dan bersifat jangka panjang, sebagaimana dapat dilihat di sejumlah negara di atas yang menjadi korban operasi pergantian-rezim AS hanya dalam abad ini. Itulah mengapa perjuangan membalik pergantian-rezim di Bolivia ini sangat penting — tidak hanya untuk Bolivia, tetapi untuk seluruh belahan bumi.

Artikel ini diterjemahkan dari judul aslinya Bolivia Reclaim Their Democracy. Tujuan penerbitan dalam bahasa Indonesia ini untuk menyebarkan pengetahuan dan diskursus demokrasi, khususnya di Latin. Sebagai wujud solidaritas kami terhadap kerakan sosialisme abad 21 dan anti imperialisme

 Mark Weisbrot
Mark Weisbrot adalah co-director dari the Center for Economic & Policy Research (CEPR) and pengarang dari buku ''Failed: What the Experts Got Wrong About the Global Economy" (Oxford U Press). Twitter:@MarkWeisbrot

    Walhi, Kejahatan Korporasi, Ecocide dan Anak Muda

    Previous article

    Catatan dari Bawah: 100 Hari Perjuangan Warga Pakel

    Next article

    You may also like

    More in REVIEW