REVIEW

Bintang Merah Menyala dan Meredup Menjadi Keniscayaan Pembebasan

0

Sampul Marjin Kiri

Review Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga, karya Vijay Prashad yang diterbitkan oleh Marjin Kiri

Vijay Prashad merupakan seorang akademisi yang merupakan senior fellow dari Issam Fares Institute for Public Policy and International Affairs di Beirut, selain itu ia merupakan aktivis politik yang aktif dalam Communist Party of India (Marxist),  Direktur eksekutif dari Tricontinental: Institute for Social Research and Chief Editor dari LeftWord Books. Vijay telah menulis beberapa buku yang pernah penulis baca sedikit yakni “The Poorer Nations: A Possible History of the Global South” “The Darker Nation,” dan “No Free Left: The Futures of Indian Communism.” Sebenarnya masih banyak lagi karya dari Vijay ini.

Red Star Over the Third World” atau dalam versi Indonesia terbitan Marjin Kiri adalah “Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga,” pertama kali diterbitkan sebagai sebuah peringatan dari 100 tahun Revolusi Oktober. Merupakan salah satu peristiwa penting dari Revolusi Rusia. Vijay menuliskan catatan ini dengan tujuan untuk menjelaskan sebuah gambaran tentang daya jangkau Revolusi Oktober yang menginsiprasi pembebasan di negara-negara kolonial yang tertindas dan terjajah baik di Asia, Afrika dan Amerika Selatan.

Apa yang diungkapkan oleh Vijay sebenarnya merupakan sebuah antidote (penawar) bagi banyak kritikus Bolshevik atau secara umum mimpi komunis. Penulis sangat bagus dalam menceritakan soal revolusi Oktober yang berpengaruh pada negara ketiga atau terjajah. Merupakan sebuah upaya membahas trajektori sosio-historis perlawanan anti-kolonial dan imperialisme pada saat itu, dan mungkin untuk mengaitkannya dengan masa kini.

Ia secara kuat menggunakan anekdot bernas pada momen-momen revolusioner dengan kata-kata tajam dan berwarna mengalirkan sebuah kisah sejarah yang menarik serta mudah dipahami meski sudah dialihbahasakan. Tentu ini merupakan sebuah tujuan dari Vijay untuk meyakinkan para pembaca dan memberikan sebuah pemahaman yang kompleks tentang semangat revolusi yang tidak akan dihancur leburkan begitu saja, tetapi semangat itu kini masih hidup, bahkan setelah runtuhnya eksperimentasi sosialisme di Uni Soviet dan Eropa Timur.

Buku ini paling tidak banyak mengulas soal Lenin (hal 20-23), seperti catatan-catatan yang menggambarkan tentang Lenin dan interpretasinya tentang Marxisme di Rusia. Dalam tiap bab-bab buku ini, Vijay memberikan ringkasan yang padat dan jelas dari teks klasik karya Lenin, seperti “Apa yang Harus Dilakukan; Satu langkah maju, dua langkah mundur; Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme; Tesis April; dan Negara dan Revolusi.”

Ia pun menggarisbawahi pentingnya struktur dan peran utama Partai Komunis dengan menyitir kata-kata Lenin seperti, “Beri kami organisasi revolusioner, dan kami akan menggulingkan Rusia.” Partai Bolshevik harus menjadi partai tipe baru agar berhasil menggulingkan kapitalisme, tentu dengan kelas proletar dan kaum proletar tani yang disiplin, tersentralisasi dan dengan dipersenjatai teori kritis yang berpengaruh, yakni Marxisme.

Soviet dengan Segala Gebrakannya

Narasi-narasi itu dapat ditelusuri pada analisis anti-kolonial Lenin setelah terjadinya pemberontakan 1911 di Iran, Meksiko dan Cina. Lenin (hal 10) sendiri seperti sedang mencari sebuah jawaban dari pertanyaan yakni “di mana komunisme akan memiliki lebih banyak peluang untuk sukses, di Barat atau di Timur?” Di tahap ini Lenin masih melihat terkait tempat mana yang paling banyak industri di dunia dan jawaban Lenin adalah Barat, tetapi dia juga menyebutkan kritik pedas bahwa “Barat hidup dengan mengorbankan Timur.”

Vijay dalam buku ini (hal 14-15) ingin menunjukan kita tentang adanya “contoh pekerja keras memegang pemerintahan” di dunia Timur. Hanya dua tahun setelah Revolusi Prancis, budak Haiti yang secara historis merupakan orang yang dibawa dari Afrika, berhasil memberontak melawan penguasa Prancis dan para tuan tanah. Begitu pula kaum adat di Peru, sampai kaum adat serta petani kecil di Mexico yang digawangi oleh Zapata. Sampai pada perjuangan kaum buruh Irlandia yang didukung oleh pemogokan buruh di Inggris dalam peristiwa Dublin Lockout pada 1913, pada tahun 1911-1914 James Larkin memanaskan kaum buruh di Manchester sebanyak 20.000 untuk melakukan pemogokan.

Seperti bagaimana kaum buruh di Inggris melakukan pemogokan, namun elitenya malah menolak pemogokan tersebut. Hingga pemimpin perjuangan Irlandia yang juga pendiri Sin Fein James Connoly mengatakan bahwa itu bagian dari ketakutan dan penghianatan atas perjuangan kaum pekerja, karena gerakan ini di Dublin untuk mengisolasi kapitalis, malah di Inggris kaum buruh mengisolasi kawan mereka sendiri (hal 30).

Refleksi dari “Liberte, Egalite, dan Fraternite” benar-benar meluas bahkan sampai menjakau sudut terjauh di Atlantik yang merupakan kekuasaan Kekaisaran Prancis. Di sana kaum tertindas secara tekun dapat menggulingkan wajah imperialis dalam wujud monarki.  Di dekat Amerika yakni di Haiti, para budak Haiti memulai pemberontakan pada 1791, dan pada 1803 mereka telah berhasil mengakhirinya tidak hanya perbudakan tetapi juga kendali kekaisaran Prancis atas koloninya. Haiti muncul sebagai republik kulit hitam pertama di dunia dan negara kedua di belahan barat (setelah Amerika Serikat) yang memenangkan kemerdekaannya dari kekuatan kolonial Eropa. Semangat itu pun lalu menyebar ke negara Karibia lainnya seperti Jamaika.

Vijay sempat menuliskan kala Gandhi berada di Afrika Selatan yang saat itu terjadi perlawanan tahun 1905 di Rusia terhadap monarki Tsar, telah mengangkat harapan pembebasan, tetapi kemudian aneka perlawanan tersebut berakhir dengan kegagalan di banyak tempat. Hanya berselang tiga tahun kemudian orang-orang India yang bekerja di Bombay melakukan pemogokan besar-besaran.

Kongres Nasional India, setelah pembantaian Amritsar pada tahun 1919, terus memacu perjuangan dan meradikalisasinya, dengan menuntut tanah untuk diberikan kepada para petani dengan pengaruh langsung Bolshevik Lenin di Rusia. Semangat ini pun tercermin juga dari gerakan non-kooperatif di Rusia yang di India direplikasi juga menjadi swadeshi movement, sebuah gerakan untuk independensi atau mencukupkan kebutuhan sendiri, lebih luas adalah negeri ini adalah milik kami (hal 28).

Di dalam catatannya ini Vijay ingin menelusuri sebuah warisan berharga dari Revolusi Rusia dari 1905 hingga 1917 dan menunjukkan bagaimana amplifikasi semangat revolusi itu sampai di wilayah koloni-koloni Barat, di mana para petani, kaum adat dan pekerja bersatu bertujuan menggulingkan tuan-tuan kolonial. Revolusi Oktober telah menjadi semacam cahaya yang menyinari kelas pekerja dan petani yang dari peristiwa tersebut semakin sadar kelas, mereka semakin berkembang pesat baik di Eropa maupun Asia. Pembaca dapat menemukannya di bagian Oktober Merah dan Ikuti Jejak Bangsa Rusia!!!.

Kisah yang dituliskan dalam buku ini, menegaskan betapa luasnya pengaruh Revolusi Oktober yang efeknya dari Peru ke Jepang dan menjelaskan bagaimana Revolusi Oktober meninggalkan pengaruh yang cukup besar pada jutaan pekerja dan petani, laki-laki dan perempuan, mereka yang buta huruf dan intelektual. Pekerja seni seperti penyair, seniman dan juga mereka para pelajar yang tercerahkan selama 70 tahun berikutnya, kala munculnya negara sosialis pertama, Uni Soviet. Vijay mengisyaratkan jika bahkan hari ini semangat Revolusi Soviet 1917 masih mampu membangkitkan nostalgia dan inspirasi pada banyak orang di berbagai negara di seluruh dunia. Pada bab Paru-paru Rusia akan mengulas ini.

Vijay mencatatkan ada sebab dampak revolusi pada perkembangan kesetaraan dan pendidikan di Rusia yang ia ulas di bab Soviet Petani. Nehru mengungkapkan kekagumannya pada perjuangan revolusi Rusia, di mana dalam praktiknya menghasilkan orang-orang dari golongan non-aristokrat menjadi seorang yang turut berperan penting dalam revolusi, seperti Kalinin yang merupakan anak petani dan Stalin sendiri yang anak dari tukang sepatu dan pembantu rumah tangga. Dari ini Rusia berupaya untuk memajukan pendidikan dengan mengentaskan buta huruf dan memperkuat pendidikan untuk semua kalangan. Lenin (hal 55) menuliskan “Tidak ada politik tanpa (literasi) yang ada hanyalah desas-desus, gosip, dongeng, dan prasangka.”

Selain itu, Vijay juga ingin memperkenalkan salah satu tonggak gagasan Bolshevik yang penting untuk dilihat yakni kesetaraan gender. Alexander Kollontai, salah seorang aktivis dan penulis Bolshevik terkemuka, aktif berkampanye untuk emansipasi perempuan terutama dari tugas-tugas domestik yang kaku nan bosan di rumah dan juga bagaimana dominasi laki-laki dalam masyarakat konservaruf. Di sebagian besar Eropa khususnya Rusia, Revolusi Bolshevik telah melepaskan perempuan dari rantai perbudakan keluarga tradisional dan telah mendorong mereka ke kerja organisasi yang aktif dan setara.

Konferensi Perempuan Timur, yang diorganisir oleh Kollontai dan Galiev pada bulan April 1921, dengan sasaran para perempuan Turki di Asia Tengah, merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang monumental. Bagian dari kampanye untuk mendorong pada tingkatan lebih lanjut terkait aspek dari emansipasi perempuan. Tidak hanya di situ saja, semangat revolusi yang turut digawangi oleh perempuan juga menginspirasi gerakan perempuan di Ekuador yang digawangi oleh Mama Transito, lalu di Venezuela ada Argelia Zelaya (hal 96-101).

Vijay tak lupa juga membahas terkait persinggungan komunisme dan pan islamisme yang sempat akrab, bahkan banyak orang Pan Islamisme pada saat itu mengklaim bahwa mereka adalah komunis. Proses ini sejalan dengan narasi pembebasan dan lepas dari cengkraman kolonialisme pada saat itu. Tetapi itu tidak berlangsung lama, saat Tan Malaka mengusulkan penyatuan komunisme dan islamisme dalam kongres komitern ke empat.

Usul tersebut ditolak oleh kongres karena melihat bahwa selama Islamisme masih bercorak tradisionalis dan kolot, tentu pada akhirnya akan berkontradiktif dengan semangat pembebasan yang selama ini dicita-citakan.  Tentu persoalan persinggungan keras antara Moskow dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Soviet juga terjadi, bahkan Sultan-Galiev pernah mengingatkan Moskow untuk tidak mengulangi kediktatoran sebelumnya dengan memaksakan ide-ide Moskow (hal 70-71).

Mimpi, Kegagalan dan Keniscayaan Bintang Merah

Bab terakhir dan yang terpendek ditulis oleh Vijay, didedikasikan untuk kenangan komunisme, dan Perjalanan pribadi Vijay menuju Marxisme. Dia menunjukkan bahwa Revolusi Oktober masih bertahan dan bertahan lebih lama dari Komune Paris, dan sosialisme yang nyata itu ada di Uni Soviet bertahan cukup lama sekitar 70 tahun.

Revolusi Soviet berhasil melalui perang saudara Rusia (1918–1920) dan Krisis Ekonomi Dunia 1929, yang menyebabkan industrialisasi yang keras pada tahun 1930-an. Itu semua tidak terlepas dari fakta bahwa Rusia dan Uni Soviet telah kehilangan hampir 50 juta orang selama itu abad kedua puluh sebagai akibat dari revolusi dan pasca revolusi, selain itu mereka juga diterpa kelaparan, perang pembebasan dan perang saudara.

Vijay sendiri cukup kritis terhadap kurangnya demokrasi yang efektif di Uni Soviet. Dia mengatakan hal itu sebagai akibat dari kurangnya demokrasi, kekuasaan birokrasi sosialis yang semakin kompleks dan akhirnya mendominasi hampir semua aspek negara dan masyarakat dengan kekakuannya.

Banyak upaya reformasi dari atas ke bawah selekas kepemimpinan Stalin, namun semuanya kehilangan ruh dan tidak berpijak pada cita-cita sosialisme yang telah dibangun oleh Lenin, di mana tidak ada birokratisasi, elitisme dan pemerintahan yang berasal dari bawah ke atas bukan sebaliknya. Reformasi terakhir yang dilakukan oleh Gorbachev melalui ide glasnost dan perestroika yang dekat dengan ide demokrasi liberal pada 1980-an, secara dramatis nan tragis telah mengakhiri Uni Soviet.

Buku ini merupakan sebuah gambaran betapa ide sosialisme lahir untuk menjadi jawaban atas pembebasan bangsa yang tertindas. Bertumpu pada pemikiran Marx dan Engels yang diterjemahkan oleh Lenin hingga diadopsi oleh pemikir-pemikir lintas negara dan benua, telah menunjukan bahwa Marxisme itu luwes, sebuah alat analisis yang akan mendorong perubahan atas tatanan kapitalisme sekarang dan berubah menjadi sosialisme. Seperti yang dipraktikan oleh Sukarno, Njoto, Aidit, Tan Malaka, E.M.S Namboodiripad, Nehru, Ho Chi Minh, Mao Tse Tsung, Maritegui, Guevara, Castro dan lainnya merupakan sebuah gambaran betapa bintang merah benar-benar menerangi dunia pasca-kolonial. Membawa asa bahwa raksasa pun bisa ditumpangkan oleh ribuan kurcaci yang bersatu.

Sosialisme adalah perubahan total dalam kehidupan rakyat,” begitu kata penutup dari Vijay. Bahwa pengalaman ini tidak hanya dirasakan oleh Castro dengan pembebasan Kubanya, tetapi juga oleh kita sendiri. Eksperimentasi sosialisme telah terjadi, Soviet dengan segala gebrakannya telah menunjukan bahwa ekperimentasi negara sosialisme pernah berdiri meski pada akhirnya runtuh dan tinggal menjadi bangkai.

Sehingga belajar dari pengalaman Soviet sudah seharusnya kita belajar, mengembangkan ulang ide-ide sosialisme. Tidak terjebak dalam romantisme yang di masa kini sudah berbeda dengan yang lampau, kapitalisme telah mengembang sempurna, melampaui bentuknya terdahulu. Bintang merah akan tetap berkibar menjadi semangat untuk terus mengobarkan perlawanan atas rasisme, fasisme, imperialisme dan kapitalisme yang menghisap umat manusia.

 

mm
Tim Gugus Tugas Coklektif.com

After Life: Keterusterangan Emosional dan Humor yang Menyembuhkan

Previous article

Pandemi COVID-19 yang Tak Kunjung Usai: Distopia Corona Virus Diseases 19

Next article

You may also like

More in REVIEW