RENUNGAN

Berulang Tahun di Tengah Pandemi Covid-19

0

Ketika suntuk ku buatlah kopi, lalu ku hisap rokok seusai makan

Untuk apa kau beli topi, tapi enggan kau mengenakan

“Saya rasa, bait di atas sangat tepat dilontarkan untuk mengingatkan kepada para pengurus maupun kader Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat ini yang kurang menaruh rasa optimisme-nya terhadap Paradigma Kritis Transformatif dan implementasi dari paradigma tersebut untuk memperjuangkan kaum mustad’afin”

Pada tanggal 17 April 2020 lalu, organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) genap sudah di usia yang ke-60 tahun. Bagi para kader, ini adalah momentum tepat untuk merayakannya di media sosial entah apapun media itu, baik dari lingkup kepengurusan terbawah (Rayon) hingga kepengurusan teratas (Pengurus Besar) meskipun di tengah pandemi Covid-19. Ketika di usianya yang menginjak 60 tahun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kontribusi para kader dalam mengaktualisasikan paradigma kritis transformatif di tengah pandemi Covid-19 yang sudah merambah ke negara Indonesia benar-benar dilakukan?

Apakah para kader juga peka terhadap betapa hebatnya pandemi ini yang mengguncang kemanusiaan? Atau para kader enggan untuk menaruh rasa kemanusiaannya (aktualisasi paradigma kritis transformatif) dan lebih memilih untuk mencari pengamanan untuk diri-sendiri? Ini masih menjadi pertanyaan untuk sahabat-sahabati (panggilan khusus anggota PMII).

Ketika Covid-19 telah mewabah di Negara China, para elit pemerintahan negara kita seolah-olah menutup mata dengan menunjukkan bahwa wabah ini tidak akan menimpa pada Negara Indonesia dan juga memberikan argumentasi yang dapat dibilang irasional, seperti yang diungkapkan oleh (Setyawan, 2020) bahwa “Indonesia malah dengan entengnya menanggapi virus ini, mulai dari lelucon yang tidak lucu, dari hal irasional alias anti sains sampai legitimasi kebiasaan tertentu seperti minum berbagai jamu.”

Akan tetapi dari berbagai lontaran pernyataan pemerintah yang ngawur, apakah para kader tergerak hatinya untuk membuat sebuah gerakan untuk mendesak elit negara agar dapat melakukan pencegahan virus berbahaya ini, terlebih gerakan tersebut adalah gerakan yang diinstruksikan oleh Pengurus Besar (PB) hingga kepada Pengurus Rayon (PR)? Saya tidak mendengar adanya pernyataan sikap tersebut dari pihak pengurus manapun.

Kemudian menyoal pada persoalan yang cukup pelik dimana DPR akan segera membahas Omnibus Law ‘RUU Cipta Kerja’ di tengah wabah virus Corona. Seperti yang diungkapkan oleh (Maharani, 2020) bahwa sejumlah elemen masyarakat sipil mendesak DPR dan pemerintah untuk membatalkan pembahasan Omnibus Law ‘RUU Cipta Kerja.’ Akan tetapi Puan Maharani selaku Ketua DPR RI tetap menginstruksikan bahwa pembahasan RUU Cipta Kerja tidak akan berhenti.

Di tengah kondisi yang mencekam seperti ini seharusnya negara hadir untuk melindung rakyatnya, namun pada kenyataanya membuktikan bahwa pemerintah justru menindas rakyatnya secara diam-diam. Dalam hal ini elemen pergerakan mahasiswa menjadi sorotan terkait sikap yang ditunjukkan, salah satunya adalah PMII, Apakah organisasi PMII secara institusional juga turut membantu elemen masyarakat sipil untuk mendesak elit negara? Lagi-lagi PMII absen ntuk menjadi kelompok pendesak, dan belum dapat membersamai rakyat untuk menggapai kepentingan bersama.

Dalam hal ini 60 tahun PMII bukanlah ajang seremonial saja dan untuk mengaktualisasikan paradigma kritis transformatif, dapat dibilang kader PMII belum sampai pada tataran praksis. Inilah yang menjadi ironi pergerakan PMII hari ini, untuk mewujudkan aktualisasi paradigma kritis transformastif hari ini kita masih belum tuntas. Ketidak tuntasan kita hari ini adalah tidak bisa saling bersinergi dengan berbagai elemen gerakan lain, bahkan untuk bersinergi dengan elemen kader PMII sendiri masih dipenuhi oleh berbagai intrik-intrik kepentingan, yang pada akhirnya kita lupa bahwa bahwa pergerakan kita telah tereduksi oleh para kader PMII dengan sendirinya.

Padahal yang menjadi penting seperti yang dikatakan oleh Fauzan Alfas adalah bahwa gerakan PMII adalah gerakan moral dan gerakan intelektual (Alfas, 2006). Saya rasa, ghirah pergerakan ini telah hilang dimakan oleh kepentingan. Pada akhirnya kita tidak mampu menjaga independensi kita untuk tetap mengawal kaum mustad’afin dan terbentur oleh kepentingan yang tidak pro aktif terhadap perjuangan rakyat yang tertindas yang hanya mementingkan kursi kekuasaan semata.

Cukup menjadi tamparan keras bagi kita kader PMII khususnya, bahwa dengan berbagai kritik terhadap kita, jika berbagai pergerakan telah dikebiri oleh para elit penguasa. Bukannya kita bangkit untuk mengembalikan ghirah pergerakan, kita malah justru terkungkung dan tidak mampu untuk bertindak secara liar, dalam arti dalam mengedepankan independensi sebagai intektual organik telah tercerabut sedemikian rupa, hingga tidak mampu bangkit lagi dalam mentransformasikan pergerakan itu sendiri.

Di tengah Covid-19 ini yang menjadi penting bagi kita saat ini adalah berniat dan menggerakkan nalar dan hati untuk tetap kritis terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh elit negara. hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengusahakan supaya kita tetap mengawal berbagai keputusan pemerintah yang berhubungan dengan kemanusiaan termasuk tetap mengawal jalannya pemerintahan dalam memberikan pelayanan terhadap rakyatnya terkait kebijakan kesehatan, maupun ekonomi di mana pekerjaan tetap akan dibutuhkan dan berbagai bantuan lainnya yang seharusnya negara hadir untuk menyejahterakan rakyat.

 

Referensi

Alfas, F. (2006). PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan. Jakarta: Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Maharani, T. (2020, Maret 31). Pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja di Tengah Wabah Virs Corona. Retrieved April 19, 2020, from nasional.kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2020/03/31/06333251/pembahasan-omnibus-law-ruu-cipta-kerja-di-tengah-wabah-virus-corona

Setyawan, W. E. (2020, Maret 17). Covid-19 Meluas Berawal Ketidakacuhan Pemerintah. Retrieved April 19, 2020, from geotimes.co.id: https://geotimes.co.id/kolom/covid-19-meluas-berawal-ketidakacuhan-pemerintah/

 

 

mm
Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya Malang, PMII Rayon Pancasila Universitas Brawijaya

    Kambing Hitam Baru, Dari Dugaan Vandal hingga Peretasan

    Previous article

    Sudah PHK Tertimpa Pra Kerja

    Next article

    You may also like

    More in RENUNGAN