REPORTASE

Bergerak Bersama Dapur Solidaritas Jombang, Merawat Kemanusiaan dan Pangan Berkelanjutan

0

Ilustrasi oleh Senjamelawan

Pandemi Covid-19 hingga bulan April 2020 ini juga belum ada tanda-tanda mengalami penurunan, hal ini tampak dari data secara nasional yang sudah menembus angka delapan ribuan. Merujuk pada data yang disajikan oleh Tim Gugus Tugas Covid-19, per tanggal 27 April 2020 angka orang yang terkonfirmasi positif secara nasional telah mencapai 9.096 orang, dengan catatan 1.151 orang sembuh dan 765 tercatat meninggal dunia. Melihat pada konteks lokal khususnya di wilayah Jawa Timur, angka orang yang terkonfirmasi Covid-19 juga semakin bertambah. Data terakhir yang tersaji di Tim Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, tercatat sebanyak 796 orang dinyatakan positif, angka kesembuhan mencapai 140 orang dan angka kematian mencapai 88 orang. Hampir di seluruh wilayah Jawa Timur dinyatakan sebagai zona merah, kecuali Ngawi yang berwarna oranye dan Sampang yang berwarna biru.

Dampak adanya Covid-19 terasa sangat signifikan, hal ini ditandai dengan mulai diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jawa Timur, yang akan meliputi tiga wilayah zona merah rawan yakni, Surabaya, Gresik dan Sidoarjo pada tanggal 28 April 2020 sampai 11 Mei 2020. Salah satu dampak yang cukup terasa dari serangan pandemi Covid-19 ini ialah mulai banyaknya PHK dan perumahan buruh di berbagai sektor. Tercatat ada sekitar 16.086 buruh dirumahkan dan 1.923 buruh di-PHK, data ini mengacu pada pernyataan dari Himawan Estu Bagijo selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur pada 8 April 2020. Sebelumnya pada 30 Maret 2020, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengatakan, jika ada sekitar 3,5 juta buruh yang terkena imbas pandemi Covid-19. Ini angka yang terekam di sektor formil, lalu dampak pandemi ini juga dirasakan di sektor informal, seperti pedagang pasar, PKL hingga tukang ojek, mereka mulai merasakan keterancaman hidup akibat berlarutnya pandemi ini, rata-rata dari mereka mengaku mengalami penurunan penghasilan.

Salah satu daerah yang kini tengah berjuang melawan Covid-19 ini adalah Jombang. Kabupaten yang dikenal sebagai kota santri dan kotanya para pengajar agama ini juga termasuk sebagai wilayah yang dilabeli warna merah. Data terakhir yang tersaji dalam info Covid-19 Jombang, tercatat ada tujuh orang yang dinyatakan positif. Belum ada pasien yang dinyatakan sembuh atau meninggal, kabar terakhir salah seorang warga yang berstatus Pasien dalam Pengawasan (PDP) dinyatakan meninggak dunia. Akibat dari adanya pandemi Covid-19 ini, Jombang juga merupakan wilayah yang secara sosial mengalami gejolak. Pasalnya selama pandemi ini tercatat ada sekitar 1.060 buruh yang di-PHK dan dirumahkan, merujuk pada pernyataan Purwanto selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jombang. Situasi ini pun menjadi problem tersendiri, di saat pandemi semakin meluas, banyak warga, khususnya yang terkena PHK dan dirumahkan tanpa gaji pada akhirnya dihadapkan pada situasi pelik. Yakni tentang terancamnya hidup mereka baik oleh epidemi maupun ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Munculnya Solidaritas di Jombang

Poster Dapur Solidaritas Jombang

Semakin hari kondisi sosial-ekonomi warga semakin tidak menentu, bahkan Kementan hingga BPIP membuat pernyataan bahwa warga harus mulai menanam hingga mengamankan pangannya. Padahal sebelumnya mereka percaya diri Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan. Jombang sendiri merupakan wilayah produsen beras di Jawa Timur, tercatat Kementan pada tanggal 16 April 2020 saat mengunjungi panen raya di Jombang mengatakan, jika selama pandemi ini stok pangan mengalami suplus, sebab ada panen raya secara bergantian. Namun kondisi ini belum benar-benar menjamin ketersediaan pangan, khususnya untuk komoditas selain beras, seperti sayur-sayuran sebagai sumber gizi. Tidak hanya itu, sebelumnya pada 18 April 2020, Dinas Sosial (Dinsos) Jombang telah mengalokasikan 14 Miliar untuk bantuan sembako bagi warga Jombang yang kurang mampu. Artinya, selama pandemi ini suplus beras belum tentu menjamin keberlangsungan hidup warga, karena masih ada kelompok rentan yang tidak dapat mengakses bahan pangan. Sebab masih ada semacam puzzle bernama ketimpangan, di mana mereka merupakan kelompok rentan seperti buruh yang kehilangan pekerjaan, buruh tani hingga pekerja informal.

Kondisi itulah yang memunculkan rasa simpati dan empati sebagai sesama manusia, kala situasi yang pelik sebagai sesama warga negara, beberapa kelompok masyarakat sipil mulai bergerak untuk membantu sesamanya. Membantu sesama atas dasar kemanusiaan atau lekat dengan solidaritas sosial muncul akibat dari rasa senasib dan sepenanggungan. Inilah yang menjadi dasar kelompok sipil melakukan kegiatan solidaritas sosial kemanusiaan, guna meringankan sedikit beban yang dirasakan oleh kelompok rentan. Salah satu kelompok sipil yang bergerak ialah kolektif muda-mudi yang merupakan gabungan dari berbagai organisasi, seperti Kelompok Literasi Jombang, Rumah Pengetahuan Daulat Hijau Rumah Hijau (RPDH) dan lain-lainnya. Mereka bergerak dalam satu wadah yang bernama “Dapur Solidaritas Jombang.”

Dapur Solidaritas Jombang sendiri menginisiasi sebuah gerakan pangan berkelanjutan, yakni mengajak warga desa hingga kelompok rentan kota untuk mulai menanam, sebagai bekal bertahan hidup di tengan pandemi yang semakin ganas. Isu kerentanan pangan menjadi keresahan yang mereka rasakan, sehingga mereka melakukan sebuah gerakan yang berfokus pada kemandirian pangan. Kegiatan mereka tidak hanya itu saja, progam kerja mereka juga berfokus pada membentuk dapur umum. Semua kegiatan yang mereka lakukan sifatnya mandiri, dana yang digunakan berasal dari donasi terbuka dan jualan kaos. Donasi yang masuk ke Solidaritas Pangan berupa bahan pangan, bibit sayuran dan uang.

Bergerak Sebagai Respons Situasi Lokal

Dapur Solidaritas Jombang mengemas dan siap membagikan bibit tanaman

Sejak 16 April 2020, Dapur Solidaritas Jombang mulai bergerak membuka donasi baik untuk bibit sayuran, bahan pangan dan uang. Selain itu mereka juga menjual kaos solidaritas yang keuntungannya untuk membiayai gerakan ini. Kegiatan ini merupakan salah wujud keresahan yang mereka rasakan di Jombang. Seperti yang diungkapkan Ayu Nuzul sebagai penggerak RPDH yang juga bagian dari Dapur Solidaritas Jombang, ia mengatakan hampir di setiap desa yang sehari-hari memiliki mata pencaharian sebagai petani atau buruh tani, tidak terlalu merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Berbeda dengan buruh pabrik hingga sektor jasa dan yang bekerja di sektor informal, benar-benar mengalami dampak yang signifikan. Rata-rata dari mereka harus dirumahkan tanpa upah hingga mengalami PHK sepihak.

Ia juga menambahkan, karena di Jombang identik dengan kota santri di mana banyaknya jumlah pesantren yang ada, paling tidak telah memberikan kontribusi bagi perekonomian rakyat. Seperti munculnya berbagai usaha di sekitar pesantren, mulai dari pedagang, PKL, usaha cuci pakian, penginapan hingga moda transportasi, hampir semua aktivitasnya terhenti. Sebab banyak santri yang dipulangkan sebagai dampak dari adanya pemberlakuan social distancing, hingga menurunnya jumlah peziarah selama pandemi ini berlangsung.

Perekonomian ini saling mempengaruhi satu sama lain. Misal posisi pesantren Tebuireng yang juga berada di kawasan wisata religi makam Gus Dur dan Kyai Hasyim yang dekat dengan pesantren. Kini pasar Cukir yang tak jauh dari kawasan tersebut, omsetnya turun drastis. Mulai dari penjualan bahan makanan pokok, sampai penjualan kebutuhan lain. Salah satu penjual ayam di pasar Cukir mengaku, jika sebelumnya sehari bisa menjual ayam satu kwintal lebih, kini hanya bisa menjual 25-30 kilogram. Sebab pelanggannya rata-rata adalah pedagang bakso dan pentol yang berjualan di sekolahan atau pondok. Karena sekolah dan pesantren libur, ditambah ditutupnya kawasan wisata religi makam Gus Dur, banyak penjual kebanyakan sudah tidak jualan.” Terang Nuzul

Atas dasar situasi lokal tersebutlah Solidaritas Pangan bergerak, memulai sebuah gerakan berbasis pada situasi lokal. Nuzul menambahkan, sebagai repons atas situasi lokal, maka Dapur Solidaritas Jombang akan membuat langkah-langkah kecil, seperti ‘dapur solidaritas jombang’ yang berakar dari semangat rakyat bantu rakyat. Langkah konkrit yang dilakukan oleh gerakan ini yakni menyalurkan hasil donasi berupa bibit sayuran seperti, terong, cabe dan tomat, lalu disalurkan kepada warga desa yang termasuk dalam kelompok rentan untuk ditanam di sekitar pekarangan rumah atau melalui media polybag bagi yang tak memiliki pekarangan.

Kami berharap jika nanti berbuah bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun tak seberapa, ingin membuat sambal tida usah membeli cabe. Setelah ini, kami akan menyalurkan bantuan makanan kepada pekerja rentan seperti tukang becak, tuna wisma. Nah, Dapur Solidaritas Rakyat Jombang ini akan jadi kegiatan sosial yang berkelanjutan. Kami masih berusaha menggandeng petani untuk menghidupkan lumbung pangan, misalnya dari hal sederhana beras jimpitan.” Tambah Nuzul

Mulai Bergerak untuk Kemanusiaan

Dapur Solidaritas Jombang bergerak membagikan bibit ke warga sekitar RPDH

Pada 26 April 2020, di tengah teriknya cuaca Jombang Dapur Solidaritas Jombang, mulai bergerak menuju RPDH yang terletak di Cukir, Diwek, Jombang. Mereka bergegas untuk menyiapkan bibit-bibit sayuran yang akan dibagikan ke kelompok rentan di sekitar Cukir. Doni salah seorang pegiat literasi yang turut ambil bagian dalam Dapur Solidaritas Jombang, menceritakan bahwa bibit ini akan dibagikan utamanya kepada warga yang sangat membutuhkan. Seperti buruh tani di desa dan tetangga sekitar yang berkerja di sektor informal.

Untuk hari ini, fokus di dusun Ngelerep. Ke depan semoga bisa terlaksana di kota, karena pada dasarnya halaman di kota atau desa , kalau bisa dimanfaatkan akan membantu untuk mengurangi biaya pengeluaran sehari-hari.” Jelas Doni

Doni juga menambahkan, ia memiliki harapan yang besar pada gerakan ini. Ia berharap ke depannya gerakan ini bisa meluas, baik pada kalangan pelajar, santri, mahasiswa, seniman dan siapapun yang ingin bersolidaritas. Nilai-nilai yang akan muncul dari solidaritas ini tidak hanya melulu pada manusia, tetapi juga akan menghubungkan kembali akar keterkaitan antara manusia dengan lingkungannya. Melalui menanam inilah nilai-nilai ekologis akan muncul, sebagai sebuah respons semakin terdisrupsinya alam akibat pengalienasian manusia dengan kehidupan sekitarnya, seperti tanah, air dan tumbuh-tumbuhan.

Tentu, ini sebuah counter culture. Karena pada faktanya, gejolak covid-19 di indonesia sendiri, begitu berdampak bagi kelompok rentan, seperti buruh, buruh tani, sopir, tukang ojek, dll. Nah, dengan adanya bagi bagi bibit ini, diharapkan menjadi spektrum akar rumput, sekaligus menjadi kampanye tentang penghidupan ekonomi gotong royong dan sadar ekologis.” Tambah Doni di sela-sela kesibukannya mengemasi bibit sayuran.

Sejalan dengan Doni, salah satu anggota solidaritas lain yang merupakan pegiat literasi dan juga Rumah Hijau bernama Imron juga mengatakan, bahwa gerakan ini akan mengajak warga untuk mulai membangun kembali lumbung pangan mereka. Ke depan melalu gerakan ini, harapannya rasa solidaritas tumbuh pada warga desa, khususnya antar tetangga sebagai wujud dari kemanusiaan dan hubungan ekologis.

Yang bilamana di lingkungan tetangga itu kekurangan bahan pangan seperti sayuran dan bumbu-bumbu masakan bisa tercover melalui halaman sendiri atau tetangga mereka yang sudah ditanami tersebut dan seterusnya begitu, saling melengkapi dan bahu membahu.” Cetus Imron, saat membagikan bibit ke tetangga sekitar RPDH.

Imron pun mengatakan, dalam gerakan ini pelaksanaannya berkelanjutan, tapi untuk awal program yang diagendakan masih berupa lumbung pangan hidup, seperti mengajak warga untuk bercocok tanam di halamannya sendiri. Sementara itu, target dari lumbung pangan ini adalah buruh tani dan warga yang mempunyai lahan sempit di dekat rumahnya. Ke depan Dapur Solidaritas Jombang akan mulai menjalankan program dapur pangan. Agenda dapur ini yakni berbagi makanan siap saji yang targetnya adalah tuna wisma dan kelompok rentan lainnya di wilayah kota Jombang.

Satu persatu rumah warga didatangi dengan sambutan ramah dan sumringah, mereka terlihat gembira saat Dapur Solidaritas Jombang membagikan bibit sayuran. Tampak, gerakan ini memang memiliki semangat fraternity atau persaudaraan yang kuat, ingin mengembalikan keterikatan manusia dengan manusia yang semakin luntur, terlebih jika kita melihat bagaimana orang-orang egois hadir selama pandemi. Mereka yang serakah dengan memborong semua kebutuhan pokok hingga perlengkapan kesehatan, mereka yang menimbun barang untuk dijual mahal, mereka yang menolak tetangganya untuk dimakamkan hingga mereka yang mengusir sesorang yang terindikasi positif Covid-19. Semua adalah wujud budaya kapitalistik yang terbangun melalui komersialisasi sistem kesehatan dan tidak adanya jaminan sosial, sehingga setiap individu bersaing satu sama lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sebuah wujud dari hilangnya peran negara yang terlanjur dibajak oleh oligarki.

mm
Tim Gugus Tugas Coklektif.com

Sudah PHK Tertimpa Pra Kerja

Previous article

Chetna Gala Sinha: Bagaimana Perempuan-perempuan di Perdesaan India Memacu Keberanian Membangun Modal

Next article

You may also like

More in REPORTASE