nganggur

Belajar dari Ahajussi-Ajumma Melawan Corana

0

Oleh: Abdurachman Sofyan*

Ada benarnya nasihat orang-orang suci

Memberi itu terangkan hati

Seperti matahari yang menyinari bumi

Ingin bahagia, derita didapat

Karena ingin sumber derita

Harta dunia, jadi penggoda

Membuat miskin jiwa kita. –Iwan Fals

 

Lagu itu menggema terus-menerus di telinga saya. Mengubah gelombang kepanikan jutaan orang di belahan dunia seakan sosok Leviathan dalam karya Thomas Hobbes nyata dan siap menerkam di depan mata. Namun dengan menyetelnya berulang kali, merapalnya dalam perjalanan ke kantor dan menyanyikannya di sela-sela kerjaan sedikit memupuk harapan bahwa di tengah gelombang pandemi Covid-19 akan ada banyak orang yang berbelas kasih untuk turun tangan membantu sesama.

Ya, kabar altruism itu datang dari Korea Selatan, Negara yang selalu jadi bahan gosip-gosip underground tentang kepalsuan wajah serta tampilan artis K-Pop nya, Negara yang dengan kreatifitas artisnya berhasil menjadi episentrum gaya hidup dan pandangan hidup (paradigm) orang banyak di Indonesia.

Awalnya saya tidak begitu yakin dengan kabar pendonasian kekayaan besar-besaran tersebut. Tapi setalah saya telusuri dari lansiran Soompi.com terkait artis yang mendonasikan sebagaian kekayaannya untuk penanganan virus corona, barulah saya percaya. Misalnya; Suzzy yang menyumbangkan 100 juta Won/ 1,14 Milyar Rupiah, Kim Hanbin menyumbangkan 200 juta Won/ 2,27 Milyar Rupiah, Kim Go Eun menyumbang 100 juta Won/1,14 Milyar Rupiah untuk mencegah meluasnya virus corona. Tentu masih banyak lagi deretan artis Korea Selatan baik yang tersebut oleh media ataupun yang tidak disebut yang mendonasikan sebagian kekayaannya untuk kemanusiaan.

Bencana dan Altruisme Kita

Tahukah Anda bahwa sejatinya setiap dari kita memiliki keinginan untuk berbagi, sekalipun di dalam keadaan susah, yang entah apapun itu bentuknya, tenaga, kekayaan atau makanan. Itulah yang dalam istilah agama kerap kali disebut dengan “fitrah” yakni; kecenderungan pada yang baik, suci dan jernih. Sementara dalam bahasa umumnya disebut dengan moralitas.

Salah satu istilah “kecenderungan untuk berbagi” yang cukup dikenal di kalangan kita ialah  Altruisme. Altruisme sendiri pada hakikatnya ialah hak semua orang untuk memberi serta mendapatkan kesetujuan secara universal. Maka, altruisme dalam cara pandang universal dapat dimaknai sebagai “mendahulukan” kesenangan orang lain daripada kesenangan diri sendiri. Terminologi “altruisme” sendiri dikenalkan oleh seorang pengikut Aguste Comte yakni George H. Lewes pada tahun 1853. Altruism yang digambarkan oleh Auguste Comte ialah sebagai suatu doktrin etik di mana membantu sesama, melayani sesama, pengorbanan untuk sesama merupakan bentuk lain dari panggilan moral manusia.

Lantas, bukankah dengan berbagi, menyumbangkan kekayaan, kepemilikan dan harta akan menjadikannya berkurang dan menyusut? Tidak, dalam pandangan altruism tidak begitu. Salah satu teori yang turut serta menggandengnya ialah teori pertukaran sosial di mana setiap apa-apa yang dipertukarkan dalam bentuk pemberian akan kembali kepada pemberi dalam bentuk lain, yakni kebahagiaan.

Seperti lagu Iwan Fals yang bisa saya putar untuk memupuk harap dan anda bisa memutarnya pula selepas membaca artikel ini.

Altruism dalam konteks kekinian bisa ditemukan dibanyak badaln ataupun lembaga filantropi di Indonesia. Filantropi menjadi penghubung tersalurnya kekayaan berlibih di kelas kaya kepada kelas miskin di berbagai tempat. Bahkan, bukan hanya itu kini filantropi juga sudah banyak ragamnya namun yang pasti satu asas sumbernya yakni: altruism.

Filantropi, altruism yang ada dan merebak saat ini hadir bukan tanpa kritikan. Melain ada beberapa perspektif yang tidak sepakat dengan yang dilakukan. Salah satunya begini; “bukankah filantropi itu tidak menyelesaikan masalah gap antara yang kaya dan yang miskin?” “bukankah filantropi dan altruism hanya menghilangkan peran dan tanggung jawab pemerintah sebagai sosok yang mesti bertanggung jawab atas keadaan kekurangan” “bukankah dengan kedermaan semacam itu justru akan membuat orang-orang yang kekurangan akan malas dan cenderung menjadikannya manja.”

Ya, di sisi itulah altruism menemui kontra perspektifnya. Filantropi menemui lawan gerakan tandingnya. Tak perlu dihindari, melainkan tantangan evolutif justru menjadi peletup kedermaan yang ada pada filantropi akan berkembang.

Sejatinya, dalam konteks keikutsertaan para artis papan atas Korea Selatan dalam mendonasikan sebagian kekayaannya untuk pencegahan Covid-19 patut diapresiasi dan ditiru oleh banyak kalangan berkelebihan harta di Indonesia. Bukan malah dengan kekayaan berlebihnya itu justru malahan menimbun masker sebanyak-banyaknya, bermandikan handsanitizer disetiap pagi-sorenya dan seolah merasa hidup sendiri di tengah ribuan orang yang kesusahan, bukan. Itu bukan nasihat orang-orang suci.

Ya, akhir-akhir ini kita bisa menemukan golongan Social Justice Warrior (SJW) Indonesia bergerak turun aksi. Istilah SJW yang di era pilpres-pilgub kerap jadi bahan rasan-rasan, lho kok sekarang malah banyak dilakukan orang-orang untuk turun tangan membantu pemerintah yang saat ini sedang kewalahan.

Jadi, kapan kita mau belajar dari Ahajussi dan Ajumma Korea Selatan?

 

*Penulis merupakan Pegiat Literasi Kalimetro Malang, penulis dapat dihubungi melalui account Twitter: sfyn_sandalista

mm
Pegiat Literasi Komunitas Kalimetro Pegiat Intrans Institute Senior Editor Intrans Publishing Malang

Dari Jakarta ke Kalimantan Timur, Perpindahan yang Penuh Nafsu Kekuasaan

Previous article

Melawan Coronavirus: Sebuah Pelajaran dari Asia

Next article

You may also like

More in nganggur