RENUNGANREPORTASE

Beginilah Cara Mereka Menangani Covid-19 di Wilayah Zapatista

0

Photos: Isabel Mateos

Ocosingo, Chiapas

Dokter Luis Enrique Fernández Máximo mempelajari tentang red alert (tanda bahaya) dari Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) melalui Internet. Dia meninggalkan klinik otonom Zapatista dari komunitas Las Tazas, tempat di mana ia bekerja, dan membeli kartu komunikasi yang memungkinkan dia terkoneksi ke web bahkan untuk di area Hutan Lacando sekalipun. Wilayah di mana tidak ada sinyal.

Sejak dia meninggalkan Tlaxcala untuk bekerja dengan NGO Sadec (yang bergerak di bidang Kesehatan dan Pengembangan Masyarakat) di komunitas ini, dokter muda itu menemukan pelajaran penting. Bahwa dia tidak hanya mencintai kehidupan sederhana dan kesunyian malam hari di hutan, tetapi juga kebutuhan sebenarnya untuk mengakses koneksi internet adalah beberapa jam dalam seminggu.

Saat itu 16 Maret 2020, di Meksiko sendiri tercatat hanya ada 82 kasus positif virus Corona. Luis Enrique Fernández lalu membaca pernyataan EZLN dari ponselnya:

“Mengingat risiko serius dan telah terbukti secara ilmiah terhadap kehidupan manusia yang ditimbulkan oleh Covid-19 atau ‘Coronavirus,’ mengingat sikap yang tidak bertanggung jawab dan sembrono, dan kurangnya keseriusan yang ditunjukkan oleh pemerintah yang buruk, ”tulis Komando Umum Komite Klandestin Masyarakat Adat Revolusioner (CCRI) EZLN.

“Mengingat kurangnya informasi yang akurat dan tepat waktu tentang penyebaran dan tingkat keparahan virus, dan kurangnya rencana yang koheren untuk menghadapinya. Mengingat bahwa komitmen kita sebagai Zapatista adalah untuk berjuang seumur hidup. Kami telah memutuskan: untuk mengumumkan red alert di semua kota, komunitas, barrios (lingkungan sekitar) dan di semua badan organisasi Zapatista kami.”

Setelah membaca pernyataan itu, dokter muda itu berpikir bahwa EZLN akan memintanya untuk meninggalkan wilayah mereka. Itulah yang dilakukan dengan empat dokter dan dokter gigi lain dari Sadec, yang bekerja di empat komunitas Palenque dan Ocosingo.

Namun, bukan itu masalahnya. Masa tinggalnya di komunitas ini hanya diizinkan untuk mendukung satu-satunya “promotor kesehatan,” seperti yang disebutkan Zapatista yakni menyembuhkan orang dengan tanaman dan obat-obatan barat.

Ketika EZLN mengangkat senjata pada tahun 1994, EZLN mereklaim lebih dari 150 ribu hektar lahan, di mana EZLN membangun sistem pemerintahan, peradilan, pendidikan dan kesehatan yang sepenuhnya otonom dari negara; ini sebuah daerah di mana tidak ada guru, dokter atau pengacara yang pernah datang. Hal itu terwujud dengan dukungan solidaritas dari beberapa kolektif, juga dari organisasi nasional dan internasional, di antaranya Sadec.

Sejak 1995, Sadec telah berkolaborasi dalam konsultasi medis di beberapa komunitas otonom dan kursus pelatihan untuk promotor kesehatan masyarakat, banyak dari mereka, pada gilirannya adalah pendidik dari kolega mereka sendiri.

Klinik Otonom untuk orang miskin di Las Tazas, captured by Isabel Mateos

Joel Heredia pendiri Sadec mengatakan, bahwa dari mereka ia belajar tentang kesehatan itu lebih dari sekedar tidak adanya suatu penyakit; dan itu ada hubungannya dengan,“kemampuan merasakan diri untuk bangun, berjalan, tertawa, pergi ke milpa (ladang jagung). Kesehatan berarti hatimu sedang bahagia, ketika kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri dan orang lain.”

Pada saat red alert diumumkan, EZLN menutup semua Caracole dan Pusat Perlawanan dan Pemberontakan (CRAREZ); demikian pula, “pusat administrasi” yang merupakan pusat pemeritahan dan klinik otonom terbesar dan paling lengkap.

Promotor kesehatan dilatih dalam rangka pencegahan Covid-19; setelah itu mereka dikirim ke komunitas mereka sendiri, bahkan ada juga yang dikirim ke wilayah paling terpencil, di mana ada “rumah-rumah kesehatan” yang otonom.

“Ini adalah pendekatan yang jelas strategis: untuk tidak memiliki mobilitas guna mencegah penyebaran virus dan memiliki kapasitas untuk memberikan perawatan musiman dan lokal di setiap titik, di mana ada promotor kesehatan,” Joel Heredia menjelaskan.

“Ini mengejutkan saya, bahwa mereka belum mendirikan “Pusat Covid Otonom” untuk mengisolasi orang dalam kasus diduga terpapar. Saya kira membuat perhitungan dingin dari biaya dan manfaat yang mereka asumsikan itu tidak layak untuk dicoba, mengingat tingginya risiko penularan di antara petugas kesehatan. Alih-alih mereka fokus pada tindakan pencegahan di masyarakat. Tanpa ragu, mengetahui bahwa dalam keseimbangan ini memerlukan biaya, karena akibatnya orang dengan penyakit lain tidak dirawat.”

Elemen yang paling menyulitkan dari strategi ini adalah wilayah di bawah pengaruh EZLN tidak jelas digambarkan. Di dalamnya, Zapatista hidup berdampingan dengan partisan dan menjadi sangat sulit bagi otoritas otonom untuk melakukan kontrol kesehatan yang ketat.

“Ketika Coronavirus tiba di Meksiko, di komunitas Arroyo Granizo, pihak berwenang Zapatista mengumpulkan seluruh populasi, baik itu Zapatista dan partisan- untuk membahas langkah-langkah keamanan,” jelas Joel Heredia.

Heredia juga menambahkan, jika mekanisme tersebut hanya bekerja selama beberapa hari, dan kemudian kemampuan untuk mempertahankan pengawasan itu hilang, terutama karena orang-orang migran yang kembali.

Seperti di banyak penjuru dunia, salah satu kekhawatiran terbesar EZLN adalah penerimaan orang-orang migran yang kembali ke komunitas mereka setelah kehilangan pekerjaan di Maquilas Utara, atau di Pantai Karibia. Rekomendasi dari Comandancia Zapatista adalah untuk menempatkan mereka di karantina.

“Kami tahu di beberapa komunitas, bahwa saudara dan saudari yang datang dari luar, telah diisolasi. Setelah 15 atau 30 hari, mereka bergabung kembali dengan keluarga mereka,” kata Comandante Tacho dalam audio Whatsapp yang disiarkan langsung di antara basis dukungan EZLN.

“Perawatan yang telah kamu lakukan adalah hal yang benar. Dengan cara ini kami yakin bahwa kami dapat menghindari penularan yang mungkin datang dari luar. Kami tidak menginginkannya untuk siapa pun, tetapi kami harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan. Sehingga kita semua keluar hidup-hidup untuk menghadapi penyakit ini, yang telah menyebar begitu banyak di berbagai belahan dunia.”

Klinik Otonom untuk Kaum Miskin

Klinik Otonom di Las Tazas

Klinik otonom Las Tazas dibuka pada 1995 dan berlokasi di zona Dolores Hidalgo, satu dari caracoles baru Zapatista yang diumumkan kurang lebih setahun yang lalu. Itu adalah bangunan dari tanah liat yang dicat biru, dengan mural bergambar perempuan yang membawa stetoskop, tanaman dan wajah tertutup.

Sebuah spanduk digantung di dinding luar untuk menjelaskan gejala Coronavirus dan langkah-langkah pencegahannya. Di luar, ada sebuah poster yang memperingatkan aturan baru.

“Untuk alasan kontingensi (keadaan yang tidak pasti atau diluar jangkauan), pada satu waktu hanya dua orang yang diperbolehkan memasuki klinik. Tertanda, compas.”

Klinik otonom untuk kaum miskin ini, memiliki apotek, konsultasi gratis, tetapi obat-obatan tidak gratis. Klinik tersebut juga memiliki poli gigi dan dokter lengkap dengan alat ultrasound serta doppler. Promotor kesehatan Zapatista dan dokter dari Sadec secara bergantian melayani pasien setiap hari dalam seminggu, siang dan pagi.

Sebelum adanya situasi darurat kesehatan yang disebabkan oleh pandemi, mereka biasanya juga melakukan kunjungan ke rumah. Mereka menerima sekitar sepuluh pasien dalam sehari untuk orang-orang dari Las Tazas, serta delapan pasien untuk komunitas lainnya.

Layanan yang disediakan klinik otonom sangat penting bagi populasi dari wilayah ini, Zapatista dan partisan. Karena Unit Medis Perdesaan IMSS (Institut Jaminan Sosial Meksiko) Las Tazas hanya buka tiga hari dalam seminggu, dan pada bulan Mei, dokter hanya datang dalam beberapa hari.

“Banyak orang yang datang ke klinik otonom, biasanya sudah pergi ke klinik IMSS, dan datang ke kami untuk bertanya apakah diagnosa dokter lain benar,” kata Luis Enrique Fernández dari Sadec.

Setiap dua puluh hari, Luis Enrique bergantian bertugas di klinik otonom Las Tazas bersama Juan Carlos Martínez Vásquez. Dia adalah dokter muda lain yang berasal dari Mexico City, yang sebelum tiba di Hutan Lacandon tidak memiliki pengetahuan apapun tentang pemikiran dan praktik Zapatista.

Kesulitan terbesar mereka adalah komunikasi di Tzeltal, karena sebagian besar pasien tidak bisa berbahasa Spanyol; meskipun promotor kesehatan setempat turut membantu menerjemahkannya. Berkat dia juga, Juan Carlos Martínez mengetahui tanaman obat dan mempelajari apa yang tidak diajarkan di universitas- untuk mengobati orangnya bukan penyakitnya.

“Jika anda melihat seorang promotor berbicara dengan seorang pasien, itu benar-benar pendekatan yang paling manusiawi yang pernah anda dapatkan,” katanya.

Sejauh ini, enam pasien dengan gejala Covid-19 telah datang ke klinik Las Tazas. Mereka mengkarantina diri secara mandiri di rumah. Pada beberapa kasus yang serius harus dirujuk ke pusat perawatan khusus pernafasan yang dibuka oleh Departemen Kesehatan di Ocosingo. Untuk menuju lokasi membutuhkan tiga jam perjalanan.

Menurut Heredia, pendiri Sadec, di Ocosingo dan Palenque, perhatian pada sistem kesehatan masyarakat secara paradoksal meningkat dengan adanya pandemi. Sebelumnya, rumah sakit tidak memiliki area perawatan intensif atau ambulan; karena mereka yang paling membutuhkannya adalah perempuan adat yang mengalami komplikasi saat melahirkan.

“Pandemi ini menunjukan kepada kita terkait kerentanan semua orang di seluruh dunia, bahkan seorang pimpinan wilayah atau wakilnya. Ini bukan sebuah hal baik tentang pandemi, tetapi hal yang mengerikan tentang pandemi,” Heredia menyimpulkan.

*Tulisan ini diterjemahkan dari artikel berjudul Así se cuidan de covid-19 en territorio zapatista,  kemudian diterjemahkan oleh School for Chiapas dengan judul This is how they protect against covid-19 in Zapatista territory. Lalu dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dengan tujuan penyebaran pengetahuan oleh tim Coklektif

Orsetta Bellani
Penulis di Pie de Página, Portal jurnalistik independen, terdiri dari jaringan jurnalis nasional dan internasional yang fokus dalam persoalan sosial dan hak asasi manusia.

    Upaya Pembungkaman dan Kriminalisasi Terhadap Pembela HAM Lingkungan Hidup di Kaltim dengan Modus Swab Test Covid-19

    Previous article

    Menghidupkan Kolektivitas di Kebun Merdeka

    Next article

    You may also like

    More in RENUNGAN