ANALISAREPORTASE

Bagaimana Tirani Korporasi Bekerja

0

Mereka, seperti pengacara lingkungan Steven Donziger, yang melawan kontrol perusahaan atas masyarakat kita yang rentan menemukan bahwa institusi kekuasaan bersatu untuk menyalib mereka.

“Pay what you owe!” Ilustrasi oleh Kunkun

Persekusi terhadap pengacara Steven Donziger merupakan ilustrasi suram tentang apa yang terjadi ketika kita menghadapi pusat kekuasaan yang sebenarnya, yang tersamarkan dan tidak diakui dibalik jargon-jargon yang memecah belah dari Gedung Putih Trump maupun omong kosong sentimental Partai Demokrat (Amerika). Mereka, seperti Donziger, yang menyebut dan melawan kontrol perusahaan atas masyarakat kita yang rentan menemukan bahwa pengadilan, pers, dan lembaga pemerintah bersatu untuk menyalib mereka.

Ini merupakan pertempuran yang panjang, 27 tahun,” kata Donziger ketika saya menghubunginya melalui telepon di apartemennya di Manhattan.

Peninggalan Polusi Minyak Chevron di Ecuador. Sumber: Flickr/CC/CancilleríaEcuador

Donziger, yang telah memerangi pencemaran lingkungan oleh perusahaan minyak Amerika selama hampir tiga dekade atas nama komunitas adat dan petani di Ekuador, telah menjadi tahanan rumah di Manhattan selama setahun. Dia akan diadili di pengadilan federal di New York pada 9 September atas tuduhan penghinaan, yang bisa membuatnya dipenjara selama enam bulan. Sejak dia memenangkan keputusan pengadilan bernilai miliaran dolar pada tahun 2011 terhadap raksasa minyak Chevron, perusahaan multinasional itu mengejarnya secara pribadi melalui litigasi yang mengancam untuk menghancurkannya secara ekonomi, profesional, dan pribadi.

Strategi LT [jangka panjang] kami adalah untuk menjelekkan Donziger,” tulis Chevron dalam memo internal pada tahun 2009, sebagaimana ditinjau oleh Courthouse News.

Ini dimulai ketika Texaco mengunjungi Ekuador di Amazon pada tahun 1960-an dan membuat kesepakatan dengan pemerintah militer yang kemudian memerintah Ekuador,” kata Donziger kepada saya. “Selama 25 tahun berikutnya, Texaco adalah operator eksklusif di wilayah yang sangat luas di Amazon yang memiliki beberapa ladang minyak di area ini, 1.500 mil persegi. Mereka mengebor ratusan sumur. Mereka menciptakan ribuan ruang terbuka, lubang limbah beracun tanpa pelapis (sebagai) tempat mereka membuang logam berat dan beracun yang keluar dari tanah saat mereka mengebor.

Mereka mengalirkan pipa dari lubang ke selokan dan sungai yang menjadi andalan masyarakat setempat untuk air minum, memancing, dan mencari nafkah. Mereka meracuni ekosistem yang masih asli ini, tempat tinggal lima masyarakat adat, serta banyak komunitas pedesaan non-adat lainnya. Di sini terjadi keracunan industriil massal.”

Saat saya berkunjung ke sana pada awal 1990-an, banyak orang telah meninggal, tingkat kanker meroket menurut beberapa evaluasi kesehatan independen, masyarakat benar-benar menderita. Sama sekali tak ada kepedulian terhadap masyarakat lokal dari Texaco. Saya masih seorang pengacara yang sangat muda pada tahun 1993 ketika saya pertama kali pergi ke Ekuador. Rasanya bagai melihat pemandangan apokaliptik. Ada minyak di jalan. Warga hidup dalam kemiskinan yang menyengsarakan. Mereka tidak punya sepatu. Kaki mereka akan terkena minyak saat berjalan di sepanjang jalan. Polusi minyak telah meresap ke setiap aspek kehidupan sehari-hari. Ia ada di dalam persediaan makanan. Ia ada di dalam persediaan air. Ia ada di udara. Rata-rata orang di sana akan terpapar berkali-kali dalam sehari oleh racun penyebab kanker yang sangat berbahaya, dengan hasil yang sudah dapat diduga. “

Saya, dengan pengacara lain, mengajukan gugatan di New York terhadap Texaco. Alasan kami mengajukan di New York adalah karena markas Texaco berada di New York pada tahun 1993. Keputusan untuk mencemari di Ekuador, untuk berperan sebagai Tuhan bagi rakyat Ekuador, dibuat di New York. Kami menggugat di New York. Texaco mencoba membawa kasus ini kembali ke Ekuador di mana mereka tidak pernah dimintai pertanggungjawaban, di mana mereka tahu bahwa masyarakat adat tidak memiliki uang atau sumber daya untuk mencari pengacara.”

“Mereka mengira (gugatan) itu akan hilang begitu saja,” kata Donziger. “Selama periode 10 tahun, kami berjuang untuk mendapatkan pengadilan juri di Amerika Serikat. Akhirnya, mereka memenangkan bagian pertempuran itu. Kasus ini turun ke Ekuador. ”

Kami mulai bekerja dengan tim pengacara Ekuador pada awal 2000-an. Kami melangkah ke depan dengan gugatan tersebut. Kami menghasilkan begitu banyak bukti ilmiah dan testimonial, yang menunjukkan bahwa mereka kemungkinan menyebabkan polusi minyak terburuk di dunia. Disebut sebagai ‘Amazon Chernobyl’ oleh penduduk setempat dan para ahli. Mereka membuang 16 miliar galon limbah beracun. Mereka sengaja melakukannya untuk menghemat uang. Kasus ini tidaklah seperti tumpahan BP di Teluk Meksiko, yang merupakan kecelakaan yang mengerikan, meskipun itu adalah hasil dari kelalaian BP yang mengerikan. Hal ini dilakukan (Texaco) dengan sengaja untuk mencemari, mengetahui bahwa orang akan mati, dan bahwa kelompok adat akan musnah, dan bahwa bagian Amazon yang indah ini akan hancur. ”

Penolakan untuk mematuhi peraturan lingkungan yang minimal sekalipun dapat memperhemat Texaco sekitar $ 3 untuk setiap barel minyak yang diproduksi selama 26 tahun (1964-1992),  menurut Amazon Watch , atau pendapatan tambahan sekitar sebesar $ 5 miliar. Ratusan lubang limbah yang akhirnya diabaikan perusahaan di Ekuador, rata-rata, mengandung 200 kali lipat kontaminasi yang diizinkan oleh standar global pada umumnya.

“Mereka mencoba menghancurkan kami menggunakan taktik pertahanan perusahaan klasik,” Donziger bicara tentang perang hukum. “Mereka mengajukan ribuan mosi. Kami berdiri kokoh. Kami memiliki tim hukum hebat yang terdiri dari pengacara Ekuador. ”

Jejak Polusi Texaco Tahun 1993. Sumber: Flickr/CC/Julien Gomba

Pada akhirnya, mereka meraih kemenangan yang menakjubkan, sebuah momen pertanggungjawaban luar biasa bagi konglomerat dunia pertama yang memperkosa lingkungan negara berkembang dengan mengeksploitasi pemerintahan yang lemah dan korup.

Vonis dijatuhkan, sekitar $ 18 miliar untuk mengganti rugi komunitas yang terkena dampak, yang paling tidak diperlukan untuk membenahi kerusakan aktual dan memberi kompensasi kepada orang-orang atas beberapa luka mereka. Vonis tersebut mendapatkan penurunan dalam banding di Ekuador menjadi $ 9,5 miliar, namun vonis itu ditegaskan oleh tiga pengadilan banding, termasuk pengadilan tertinggi Ekuador. Keputusan ini ditegaskan oleh Mahkamah Agung Kanada , di mana warga Ekuador pergi untuk menegakkan keputusan mereka dengan suara bulat pada tahun 2015. “

Chevron, sebagaimana banyak bukti yang menyudutkannya, menjual aset mereka di Ekuador dan meninggalkan negara itu. Korporasi mengancam penggugat dengan  “litigasi seumur hidup”  jika mereka mencoba untuk mengumpulkan, dan, menurut memo internal Chevron, melancarkan kampanye hukum dan media yang menghabiskan biaya sekitar $ 2 miliar guna menghindari pembayaran penyelesaian sengketa dan untuk menjelekkan dan menghancurkan Donziger.

Donziger masuk ke pertempuran epiknya melawan Chevron melalui jurnalisme. “Saya adalah seorang jurnalis di koran perguruan tinggi saya,” katanya tentang kehidupannya sebagai seorang lulusan sejarah di American University. “Pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah adalah sebagai jurnalis di [United Press International]. Saya bekerja untuk UPI di Washington. Mereka kuat di Amerika Latin. Saya pergi ke Managua pada tahun 1983 atau 1984, saya tidak ingat persisnya, dan menemukan pekerjaan di biro UPI. Saya waktu itu berusia 23 tahun. Saya bekerja di biro UPI di Managua selama era Sandinista. ”

Dia keluar dari UPI setelah setahun di Managua tetapi menetap di Nikaragua untuk bekerja sebagai jurnalis lepas untuk surat kabar seperti  The Fort Lauderdale News , The Toronto Star  dan  The Atlanta Constitution . Dia menghabiskan waktu sekitar tiga tahun sebagai reporter sebelum melanjutkan ke Harvard Law School. Ketika dia lulus dari Harvard Law School pada tahun 1991, dia bekerja sebagai pembela umum di Washington, DC Dia mendokumentasikan korban sipil Irak di Irak setelah Perang Teluk pertama yang kemudian menjadi laporan yang diadopsi oleh PBB. 

Salah seorang teman sekelasnya di sekolah hukum berasal dari Ekuador. Ayah teman sekelasnya tersebut mengadakan perjalanan pada bulan April 1993 bagi para pengacara dan profesional medis untuk memeriksa kontaminasi yang disebabkan oleh ekstraksi minyak di Amazon. Perjalanan itu, yang diikuti Donziger, melahirkan tuntutan terhadap Texaco. Dia kemudian melakukan lebih dari 250 perjalanan ke Ekuador selama dua dekade berikutnya.

Jurnalisme secara signifikan membentuk pandangan dan keahlian saya,” katanya. “Sangat penting untuk membuat pekerjaan saya begitu sukses. Sejak awal, ini merupakan proses peradilan yang unik, untuk berbagai alasan, namun salah satu alasannya adalah kami, sebagai sebuah tim, memutuskan untuk bekerja dalam beragam platform. Jika kami hanya melihat kasus ini sebagai gugatan hukum, kami tidak akan pernah menang. “

Chevron mengendalikan sistem hukum di Ekuador dengan pengaruh mereka. Kami perlu beroperasi dalam beragam platform, termasuk terlibat dengan media dan mengadakan pendidikan publik yang signifikan. Kebanyakan orang Ekuador, selain mereka yang tinggal di wilayah tersebut, tidak tahu apa-apa tentang pencemaran yang telah terjadi di negara mereka. Kami rajin melakukan advokasi di arena publik. Kami menyadari bahwa penduduk asli tidak akan pernah mendapatkan pengadilan yang adil di Ekuador jika mereka tidak menjelaskan apa yang telah terjadi pada mereka dan mendapatkan dukungan publik. ”

Baik hakim yang mengawal gugatannya terhadap Donziger karena “pemerasan” dan Chevron sendiri “mengklaim bahwa kegiatan sejenis ini adalah salah,” katanya. “Ironisnya, yang kami lakukan adalah yang selalu dilakukan oleh perusahaan minyak besar. Mereka selalu beroperasi dalam domain hubungan masyarakat, melobi Kongres untuk mengesahkan undang-undang yang bertujuan menundukkan berbagai klaim hukum, bertemu dengan para pemimpin politik di belakang layar. Mereka beroperasi di setiap platform yang dapat mereka temukan untuk memperkuat kekuasaan mereka. Kami cukup pintar untuk menemui mereka secara langsung di mana pun mereka beroperasi dan menetralkan kemampuan mereka untuk merusak keadilan persidangan. Demikianlah cara mereka beroperasi. Mereka mencoba untuk mengontrol sistem peradilan. “

[Pengalaman] jurnalisme saya mempertajam kepekaan saya terhadap ketidakadilan. Memungkinkan saya untuk memahami media. Saya memahami bagaimana menulis siaran pers, yang sangat penting ketika Anda melakukan kasus publik seperti ini. Saya tahu cara bekerja dalam beragam platform untuk memobilisasi energi positif seputar kasus ini. Pekerjaan hak asasi manusia melibatkan, pertama dan terutama, keadilan bagi para korban. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah pertanggungjawaban bagi para pelakunya. Fakta bahwa saya ditahan menunjukkan seberapa jauh kita telah berhasil dan seberapa besar risiko yang dirasakan Chevron. Ini bukanlah pertanda bahwa kita kalah. Justru sebaliknya. ”

Chevron, yang telah meninggalkan Ekuador, kembali ke pengadilan New York, di mana Donziger mengajukan gugatan awalnya sebelum Chevron berhasil mengubah arena ke Ekuador, dan menggugatnya, menggunakan pengadilan sipil dengan porsi hukum federal yang terkenal menghancurkan mafia New York pada 1970-an, Undang-undang Organisasi yang Melakukan Pemerasan dan Korupsi (Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act – RICO).

Akibatnya, “Mereka menggugat saya sebagai seorang pemeras sipil, di bawah statuta sipil RICO sebesar $ 60 miliar,” katanya. “Itu adalah jumlah uang terbesar seorang individu Amerika pernah dituntut. Gugatan tersebut mengawali kampanye sepuluh tahun untuk merusak nama baik saya oleh Chevron dan oleh sekutu yudisialnya. “

Chevron, yang memiliki aset lebih dari $ 260 miliar, telah mempekerjakan sekitar 2.000 pengacara dari 60 firma hukum untuk melaksanakan kampanyenya, menurut dokumen pengadilan. Raksasa minyak itu menurunkan permintaan ganti rugi finansial beberapa minggu sebelum sidang RICO, yang mengharuskan pengadilan juri. Hakim Lewis A.Kaplan, mantan pengacara industri tembakau yang memiliki investasi dana rahasia dengan  kepemilikan Chevron, menurut pernyataan keterbukaan keuangan publiknya, memutuskan kasus RICO sendiri. Dia menemukan seorang saksi kredibel bernama Alberto Guerra, dibawa ke AS oleh Chevron dengan biaya sekitar $ 2 juta, yang mengklaim bahwa putusan di Ekuador adalah hasil suap. Kaplan menggunakan kesaksian Guerra sebagai bukti utama atas tuduhan pemerasan, meskipun Guerra, seorang mantan hakim, kemudian mengakui di pengadilan internasional bahwa dia telah  memalsukan kesaksiannya .

 “[Kaplan] tidak mengizinkan saya untuk membawa bukti lingkungan apa pun yang digunakan pengadilan Ekuador untuk menyatakan bahwa Chevron bertanggung jawab,” kata Donziger. “Dia tidak mengizinkan saya bersaksi atas nama saya sendiri secara langsung. Dia mengizinkan Chevron menggunakan saksi rahasia yang identitasnya tidak akan dia ungkapkan kepadaku. Dia mencoba untuk memperlakukannya seperti kasus keamanan nasional sebagai upaya menghancurkanku. Karena seluruh strategi Chevron adalah menjelekkan [saya] sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan lingkungannya di Ekuador. Dan Hakim Kaplan, yang mengetahui semua trik di buku tersebut karena dia dulu bekerja untuk [perusahaan tembakau] Brown & Williamson, ketika dia menjadi [pengacara di firma hukum] Paul, Weiss. Dia tahu buku pedoman industri tembakau yang mereka gunakan selama bertahun-tahun dan terus digunakan. Dan dia bekerja dengan pengacara Chevron di Gibson, Dunn & Crutcher guna menerapkannya terhadap saya tanpa juri. Dan tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. “

(Paul, Weiss adalah firma hukum besar yang  saat ini sebagai penasehat Chevron  untuk pembelian perusahaan energi lain senilai $ 13 miliar.)

John Keker, salah satu pengacara Donziger dalam kasus tersebut, mengatakan bahwa dia melawan  160 pengacara Chevron  dan selama persidangan dia merasa “seperti kambing yang ditambatkan ke sebuah tiang.” Dia menyebut proses pengadilan di bawah Kaplan sebagai “lelucon Dickensian” dan “pengadilan sandiwara.” Akhirnya Kaplan memutuskan bahwa keputusan pengadilan Ekuador terhadap Chevron adalah hasil dari penipuan.

Dia juga memerintahkan Donziger untuk menyerahkan beberapa dekade semua komunikasi klien kepada Chevron, yang pada dasarnya menghapus hak istimewa pengacara-klien, tulang punggung sistem hukum Anglo-Amerika yang mengakar sejak Roma kuno. Donziger mengajukan banding atas apa yang, menurut para ahli hukum setelah kasus ini, merupakan sebuah ketetapan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan ilegal. Sementara banding Donziger sedang ditunda, Kaplan menuduhnya melakukan penghinaan kriminal atas pendirian prinsipil, serta penolakannya untuk menyerahkan paspornya, barang elektronik pribadinya, dan untuk menjauhkan diri dari pencarian kumpulan keputusan pengadilan yang sebelumnya terhadap Chevron.

Ketika tuntutan pidana penghinaan terhadap pengacara lingkungan diabaikan oleh kantor pengacara AS selama lebih dari lima tahun, Hakim Kaplan, dengan menggunakan manuver yudisial yang luar biasa menunjuk firma hukum swasta Seward & Kissel, untuk bertindak atas nama pemerintah untuk menuntut Donziger. Baik hakim maupun firma hukum tidak mengungkapkan bahwa Chevron telah menjadi klien Seward & Kissel.

Steven Donziger (kanan) memerangi pencemaran lingkungan oleh perusahaan minyak Amerika selama hampir tiga dekade atas nama komunitas adat dan petani di Ekuador. Sumber: Flickr/CC/Dr.D

Kaplan juga melanggar protokol penugasan kasus acak yang ditetapkan untuk dapat menugaskan Loretta Preska, seorang anggota dari Federalist Society sayap kanan, untuk menyidangkan kasus tersebut. Chevron adalah donor utama bagi Federalist Society. Preska, sekali menunjukkan bias, telah mengatakan bahwa tuduhan terhadap Donziger nampak “sangat kuat,” menurut Courthouse News. Pada bulan Mei, Preska melarangnya agar tuduhannya didengar oleh juri.

“Hal terakhir yang mereka inginkan adalah sekelompok warga biasa melihat apa yang terjadi pada Steven Donziger,” kata Rick Friedman, salah satu pengacara Donziger,  tentang Chevron .

Kesetiaan Preska terhadap kekuasaan perusahaan sebelumnya diperlihatkan di depan publik pada tahun 2013 ketika dia menjatuhkan hukuman 10 tahun, hukuman maksimal berdasarkan kesepakatan pembelaan, pada Jeremy Hammond, aktivis yang meretas Stratfor, sebuah perusahaan keamanan swasta. Hammond mempublikasikan serentetan email internal yang menunjukkan beragam kesalahan dan mengungkap alamat email dan kata sandi akun yang digunakan untuk bisnis suami Preska, Thomas Kavaler, seorang mitra di firma hukum Cahill Gordon & Reindel. Preska, meskipun ada konflik kepentingan, menolak untuk mengundurkan diri. Hukuman 10 tahun adalah salah satu yang terpanjang dalam sejarah AS karena peretasan.

Kaplan memerintahkan Preska menuntut Donziger membayar obligasi $ 800.000 atas tuduhan pelanggaran ringan. Preska mengurungnya dalam tahanan rumah dan menyita paspornya yang dia gunakan untuk bertemu dengan pengacara di seluruh dunia yang berusaha menegakkan keputusan pengadilan terhadap Chevron. Kaplan berhasil menghentikan Donziger dari aktivitas peradilan. Dia memberikan kesempatan bagi Chevron untuk membekukan rekening bank Donziger, menampar Donziger dengan denda jutaan tanpa kesempatan pengadilan juri, memaksanya untuk memakai monitor pergelangan kaki 24 jam sehari dan secara efektif menutup kemampuannya untuk mencari nafkah. Kaplan memberikan kesempatan bagi Chevron untuk memberlakukan hak gadai atas apartemen Donziger di Manhattan tempat dia tinggal bersama istri dan putra remajanya.

Donziger dijadwalkan diadili tanpa juri pada 9 September di New York City atas tuduhan penghinaan. Preska akan memimpin persidangan. Belum ada pengadilan pidana di pengadilan federal Manhattan sejak Maret karena pandemi. Persidangan Donziger akan menjadi yang pertama, meskipun ratusan terdakwa lain yang menghadapi tuduhan kejahatan yang jauh lebih serius sedang menunggu di penjara, dirundung COVID-19, untuk tanggal persidangan. Empat pengacara pro bono Donziger mengatakan mereka tidak ingin mempertaruhkan hidup mereka dengan melakukan perjalanan ke New York selama pandemi untuk sesuatu yang disebut sebagai pelanggaran ringan.

Keputusan terhadap Chevron Corporation di Ekuador adalah hasil dari penipuan, penyuapan dan korupsi,” kata Sean Comey, Penasihat Senior – Urusan Eksternal Chevron Corporation ketika saya meminta perusahaan untuk mengomentari kasus tersebut. “Steven Donziger adalah pembohong yang telah terbukti dan pemeras yang diadili. Dia melakukan tindakan kriminal di AS dan luar negeri dalam usaha mengejar skema pemerasannya di pengadilan Ekuador. Pelanggaran hukum Donziger yang terus berlanjut sekarang adalah urusan bagi jaksa dan pengadilan AS untuk memutuskan. Chevron tidak terlibat dalam tuntutan pidana Donziger. “

Korupsi mencolok dan penyalahgunaan sistem hukum secara hina melayani kepentingan perusahaan dalam kasus Donziger menggambarkan kerusakan yang mendalam di dalam lembaga peradilan dan demokrasi kita, yang didukung oleh administrasi Demokrat yang menumpuk pengadilan dengan pengacara korporat —Kaplan ditunjuk oleh Bill Clinton —Dan Donald Trump, yang telah mengangkat ideolog yang dipilih oleh Federalist Society ke bangku federal. Keputusan demi keputusan dalam kasus Donziger telah mengabaikan atau sangat mendistorsi hukum demi kepentingan Chevron untuk memastikan bahwa Donziger akan dituntut, dikirim ke penjara dan terjerat hutang seumur hidup — sementara penyelesaian $ 9,5 miliar tidak pernah dibayarkan untuk membantu masyarakat yang dirugikan di Ekuador.

Asosiasi Pengacara Demokratik Internasional dan komite internasional dari Serikat Pengacara Nasional mengeluarkan surat yang ditandatangani oleh lebih dari 70 organisasi yang menyebut penganiayaan Donziger sebagai “serangan terhadap supremasi hukum.” Surat itu mengatakan bahwa tahanan rumahnya “sebagai keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan didakwa bahwa ia menjadi sasaran atas sesuatu yang disebut sebagai “salah satu kasus pertanggungjawaban perusahaan dan hak asasi manusia yang paling penting di zaman kita.” Surat tersebut menuduh Kaplan “melanggar prinsip dasar keadilan dalam proses peradilan yang merupakan inti dari supremasi hukum.”

“Kami tidak dapat membiarkan supremasi hukum dijungkirbalikkan oleh kepentingan perusahaan dan hakim federal yang sangat bias yang berusaha menghancurkan kemauan seorang pengacara yang telah bertahan puluhan tahun dari litigasi brutal dan serangan pribadi dan profesional yang tajam,” tertulis dalam surat tersebut.

Chevron juga menggunakan pengaruh dan uang periklanannya untuk mencegah berita itu dilaporkan di berbagai media.

Berdasarkan pada di mana kisah ini menjadi trending, kami telah meluncurkan serangan penuh untuk membunuhnya atau mengalihkannya,” sebuah memo internal 10 Agustus 2010 dari Chevron terkait laporan potensial dalam kasus ini dilakukan oleh Fox News di Miami.

Sebagai tambahan agar dapat bekerja melalui biro Miami, kami telah menjangkau lebih banyak senior berita di Fox News, baik di NY (melalui Dana) dan di WDC (melalui Greg Mueller). Jadi, kami mencoba menyerang kisah ini dari berbagai sisi. Untuk tujuan ini, Kent siap berbicara dengan John Stack dan Sean Smith yang keduanya bertempat di Fox News di New York pada pukul 1:30 hari ini. Terakhir, jika perlu, saya pikir kita mungkin perlu menarik kartu JSW dengan Roger Ailes. Kami telah memeriksa ketersediaan John untuk menelepon Roger, tetapi ketersediaan pertamanya adalah besok siang. ”

Dari 2010 hingga 2018, John S. Watson adalah CEO dan ketua Chevron Corporation.

Cerita tersebut telah terbunuh.

Memo internal lainnya mengungkapkan berbagai langkah, yang akhirnya juga sangat berhasil, untuk mencegah cerita serupa muncul di majalah GQ. Memo tersebut menunjukkan bahwa Chevron bekerja “dengan Columbia Journalism Review (yang memberikan teguran selama 60 menit) dan Pusat Riset Media untuk mengungkap segala tingkat bias oleh GQ dan memberikan peringatan tentang teknik pelaporan sebelum artikel tersebut dipublikasikan.”

Memo tersebut merekomendasikan agar majalah tersebut mengetahui bahwa majalah tersebut akan menghadapi tuntutan hukum jika berita tersebut terus berlanjut dan meminta penyelidik Chevron untuk “melakukan uji tuntas lebih lanjut terhadap reporter.” Chevron juga menyewa reporter untuk membuat jurnalisme palsu yang menyajikan propaganda perusahaan di situs berita palsu yang dijalankannya.

Majalah New York Times pada awal tahun ini mempertimbangkan sebuah cerita tentang Donziger namun kemudian menurunkannya. Surat kabar tersebut menjalankan agensi iklan yang bernama T Brand Studio. Chevron adalah klien utama, artinya The New York Times, melalui T Brand Studio, memproduksi iklan untuk Chevron.

Jake Silverstein, editor majalah, ketika diminta berkomentar mengatakan melalui email: “Itu adalah salah satu dari beberapa cerita William [Langewiesche] yang dianggap menulis untuk kami pada tahun lalu, yang akhirnya kami putuskan untuk tidak ditugaskan. Banyak faktor yang menentukan keputusan kami terkait apa yang akan ditugaskan, dan tidak satu pun dari faktor-faktor tersebut menyangkut apakah dirinya klien atau bukan dari T Brand Studio atau bagian lain dari bisnis periklanan surat kabar tersebut”

Dean Baquet, editor eksekutif surat kabar tersebut, berkata, ketika saya menghubunginya melalui email, bahwa gagasan terkait cerita majalah tentang Donziger diturunkan karena Chevron adalah pengiklan utama merupakan “klaim yang konyol.”Dia menambahkan, “Saya bahkan tidak tahu Chevron bekerja dengan T Brand [Studio].”

Namun bahwa Chevron telah menginvestasikan sumber daya yang luar biasa untuk membunuh cerita (menurunkan artikel) terkait kasus ini adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal, mengingat kampanye terperinci untuk memblokir liputan telah diuraikan dalam memo internalnya sendiri.

Saya telah mengalami hal ini beberapa kali dengan media selama 10 sampai 15 tahun terakhir,” kata Donziger. “Entitas akan mulai menulis cerita, menghabiskan banyak waktu untuk itu, lalu reporter menghilang. Ceritanya tidak berlanjut. ”

Sementara The Nation, The Intercept, dan Courthouse News Service telah melaporkan perselisihan hukum yang dihadapi Donziger sekarang, tidak ada publikasi arus utama besar yang menyentuhnya.

Pengaruh perusahaan terhadap peradilan federal kita telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir,” kata Donziger.” Perusahaan ini [Chevron] sudah mencengkeram elemen kekuasaan dalam pemerintahan dan mengerahkannya untuk melawan aktivis hak asasi manusia.”

Donziger menunjukkan alat pengawas pergelangan kaki yang harus dipakai selama 24 jam sehari. Sumber : The Intercept

Pembela Garis Depan mengeluarkan laporan pada tahun 2019 yang merangkum bahwa 300 aktivis hak asasi manusia terbunuh di 31 negara, lebih dari dua pertiga di Amerika Latin. Dari mereka yang terbunuh, 40 persen memperjuangkan hak atas tanah, masyarakat adat dan keadilan lingkungan.

Apa yang mengejutkan bagi banyak orang adalah bahwa ini sekarang terjadi di Amerika Serikat,” kata Donziger. “Maksudku bukan pembunuhan, tapi kematian dengan seribu luka. Chevron tidak ingin saya menjadi pengacara lagi, setidaknya. Mereka tidak ingin saya mengadvokasi bahkan sebagai seorang yang bukan pengacara. Mereka ingin membungkam saya. Mereka ingin membunuh setiap cerita sejauh mereka bisa. Mereka lebih suka tidak memiliki cerita tentang kasus ini dibandingkan memiliki cerita positif tentang sisi mereka sekalipun. Mereka tidak ingin orang mengetahuinya. Mereka ingin menghapusnya dari proses berpikir masyarakat.

Saya tidak bisa mendapatkan persidangan yang adil dengan hakim yang ditunjuk oleh Hakim Kaplan dibandingkan melalui proses penugasan acak,” keluhnya. “Saya tidak bisa mendapatkan pengadilan yang adil dengan jaksa yang firma hukumnya [telah bekerja] untuk Chevron. Ini adalah konflik kepentingan yang mengerikan. Ini adalah pelanggaran keji dalam skala besar. Saya telah dikurung empat kali lebih lama dari hukuman terlama yang pernah dijatuhkan pada pengacara karena tindakan kriminal penghinaan di New York. Siapapun yang peduli dengan aturan hukum pasti terkejut. “

Catatan Penerjemah: Pada 15 Oktober 2000, Chevron mengumumkan mengakuisisi Texaco dengan kesepakatan senilai $ 45 miliar, menjadikan Chevron sebagai perusahaan minyak terbesar kedua di Amerika Serikat dan perusahaan minyak publik terbesar keempat di dunia dengan nilai pasar gabungan sekitar $ 95 miliar.

Chris Hedges adalah jurnalis pemenang Penghargaan Pulitzer yang merupakan koresponden asing selama lima belas tahun untuk The New York Times, di mana dia menjabat sebagai Kepala Biro Timur Tengah dan Kepala Biro Balkan untuk surat kabar tersebut. Dia sebelumnya bekerja di luar negeri untuk The Dallas Morning News, The Christian Science Monitor, dan NPR. Dia adalah pembawa acara acara RT America yang dinominasikan Emmy Award On Contact.
*Artikel ini adalah terjemahan dari liputan Chris Hedges yang berjudul How Corporate Tyranny Works. Artikel ini diterjemahkan oleh redaksi Coklektif untuk tujuan pendidikan. Jika Anda ingin memberikan masukan atau koreksi, silahkan hubungi lewat surat@coklektif.com.

Lelucon dan Kebejatan Di Tengah Pandemi Corona

Previous article

Virus Corona dan Krisis Kapitalisme

Next article

You may also like

More in ANALISA