ngendasREPORTASE

Bagaimana Coronavirus Membuat Kaya Perusahaan Teknologi

0

Logo Amazon terlihat di pusat logistik perusahaan di Lauwin-Planque, Prancis utara, 22 April 2020 setelah Amazon memperpanjang penutupan gudang di Prancis hingga 25 April, termasuk setelah perselisihan dengan serikat pekerja mengenai langkah-langkah perlindungan kesehatan di tengah penyakit coronavirus ( wabah Covid-19. (Pascal Rossignol / Reuters)

Karantina wilayah akibat pandemi telah memperkuat adanya gagasan tentang pengaruh perusahaan teknologi. Sebagai sebuah keharusan, karena akibat dari pandemi ini mulai muncul ketergantungan masyarakat pada internet, ponsel pintar, aplikasi dan media sosial, yang semakin meningkat secara signifikan.

Dampak mematikan dari Coronavirus pada kehidupan manusia telah mengubah banyak hal, mulai dari kebiasaan makan hingga sekolah, secara agresif mengubah budaya kerja di seluruh dunia.

Langkah-langkah soal pembatasan jarak sosial yang telah diterapkan secara universal untuk membatasi jumlah kematian dan penyebaran penyakit, telah membuat orang beralih ke solusi berbasis teknologi yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan seperti Amazon, Google, Uber dan beberapa perusahaan teknologi dan ponsel pintar lainnya.

Jeff Bezos, orang terkaya di dunia, dan perusahaannya Amazon, nampaknya telah membuat keuntungan di “windwall,” ketika perusahaan tersebut membukukan keuntungan besar di seluruh board yang mencapai 74,5 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2020, setelah pandemi muncul. Keuntungan perusahaan berada di sekitar angka 26 persen, lebih tinggi dari periode yang sama di 2019.

Virus juga secara kuat telah menaikkan intensitas belanja online dan layanan pengiriman makanan. Menurut Edison Trends, sebuah perusahaan riset perdagangan digital, penjualan grosir online meningkat hampir 90 persen, sementara penjualan dan pengiriman makanan melonjak lebih dari 50 persen dalam periode singkat dari awal Maret hingga pertengahan April.

Keuntungan Besar dengan Mengorbankan Pekerja

Tetapi, keuntungan dari high tech ini tampaknya datang dengan mengorbankan sebagian besar pekerjanya yang berupah rendah dan kurang dihargai, apakah mereka bekerja di gudang Amazon ataukah sebagai pengantar barang untuk terus memberi makan orang di seluruh dunia.

Perusahaan teknologi telah hidup di balik tenaga kerja murah orang lain untuk waktu yang lama, apakah itu pengemudi Uber, pengantar barang atau pekerja gudang Amazon. Ini datang menjadi bantuan yang melegakan, ” kata Kara Swisher, seorang jurnalis dan analis teknologi veteran, dalam sebuah wawancara dengan New York Times.

Para pekerja ini layak mendapatkan bayaran yang lebih kuat dan lebih banyak manfaat. Itu mahal bagi orang-orang yang ingin tetap sangat kaya, dan bagi konsumen yang suka harga rendah, ” kenang Swisher.

Kematian pekerja Amazon baru-baru ini, telah menambah angka kematian akibat Covid-19 di perusahaan menjadi tujuh, kondisi tersebut mengkonfirmasi argumen Swisher, ketika ratusan pekerja perusahaan tersebut bekerja dalam kondisi yang menjengkelkan, dilaporkan telah terjangkit virus

Ketika pandemi berakhir, kita tentu harus lebih takut pada industri itu daripada sebelumnya,” kata Swisher dalam salah satu artikelnya, merujuk pada peningkatan kekuatan “Big Tech (perusahaan teknologi raksasa)” saat pandemi menyebar ke seluruh dunia.

Swisher sendiri bukan satu-satunya yang kritis terhadap perusahaan teknologi. Ada sosok Naomi Klein yang juga turut mengkritisi adanya kuasa Big Tech yang memanfaatkan pandemi untuk melakukan akumulasi masif dan menciptakan ekosistem sosial baru.

Jauh lebih berteknologi tinggi daripada apa pun yang telah kita saksikan selama bencana sebelumnya, masa depan yang sedang dipaksa segera, karena tubuh-tubuh yang masih menumpuk memperlakukan minggu-minggu terakhir isolasi fisik, bukan sebagai sebuah kebutuhan yang menyakitkan untuk menyelamatkan hidup, tetapi sebagai laboratorium hidup untuk masa depan permanen, dan sangat menguntungkan, masa depan tanpa sentuhan,” tulis Naomi Klein, seorang analis politik dan aktivis sosial, yang juga penulis The Shock Doctrine, No Logo, dan No is Not Enough.

Poros (Axis) Silicon Valley dan Washington

Klein berpikir bahwa perusahaan high tech besar seperti Google, Microsoft, Facebook dan lainnya, yang telah lama dituduh melanggar privasi dan perlindungan keselamatan pelanggan mereka, mengarah pada seruan untuk lebih banyak melakukan pengawasan dan pertanggungjawaban atas kegiatan mereka, ingin menggunakan pandemi untuk meningkatkan pengaruh mereka terhadap pelanggannya masing-masing dan pemerintah AS.

Dia mengatakan upaya lobi yang intensif dari orang-orang seperti Eric Schmidt, seorang pengusaha Amerika yang berpengaruh dan mantan CEO Google, yang juga merupakan ketua Dewan Penasihat Inovasi Pertahanan Departemen Pertahanan AS, telah membuktikan klaim atas pendapatnya, bahwa raksasa teknologi ingin mengembangkan hubungan kerja secara langsung dengan Washington untuk memegang privasi dan data pribadi orang.

Perusahaan seperti Amazon tahu cara memasok dan mendistribusikan secara efisien. Mereka perlu memberikan layanan dan saran kepada pejabat pemerintah yang tidak memiliki sistem dan keahlian komputasi,” tulis Schmidt dalam sebuah artikel untuk Wall Street Journal.

Tapi Schmidt hanyalah salah satu dari suara “Big Tech,” sementara kekuatan penting dari perusahaan-perusahaan itu berada di Silicon Valley yang terkenal di dunia.

Inti dari visi ini adalah integrasi pemerintah dengan segelintir raksasa Silicon Valley, dengan sekolah umum, rumah sakit, kantor dokter, polisi dan militer agar semuanya melakukan outsourcing (dengan biaya tinggi) banyak dari fungsi inti mereka ke perusahaan teknologi swasta,” tulis Klein.

Klein secara khusus merujuk pada Silicon Valley, pusat global dari perusahaan high tech, yang menyatakan bahwa mereka ingin menggunakan pandemi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kepada Washington, bahwa mereka dibutuhkan lebih dari apa pun, konsekuensinya adalah mereka layak mendapatkan bantuan keuangan untuk proyek-proyek seperti Artificial Intelligence (AI) .

Menurut argumen sanggahan dari Klein, bahwa hal tersebut adalah masa depan yang mengklaim dijalankan dengan ‘Artificial Intelligence,’ tetapi sebenarnya disatukan oleh puluhan juta pekerja anonim yang tersimpan di gudang, pusat data, content moderation mills (praktik pemantauan dan penerapan seperangkat aturan dan pedoman yang telah ditentukan sebelumnya untuk pengiriman yang dibuat pengguna untuk menentukan yang terbaik apakah komunikasi (pos, khususnya) diizinkan atau tidak), electronic sweatshop (perusahaan yang tidak memenuhi hak buruh, buruknya tempat kerja dll), tambang lithium, industri peternakan, pabrik pengolahan daging dan penjara, di mana mereka dibiarkan tanpa perlindungan dari penyakit dan dieksploitasi secara belebihan.

Ini adalah masa depan di mana setiap langkah kami, setiap kata kami, setiap hubungan kami dapat dilacak, ditelusuri dan ditambang datanya oleh kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara pemerintah dan raksasa teknologi (Big Tech),” ungkap Klein.

Meskipun kritik keras dari Klein, yang menuduh “Bigh Tech” karena telah melakukan dosa “mengintegrasikan teknologi secara permanen ke dalam setiap aspek kehidupan sipil,” beberapa pihak lain masih berpikir bahwa bisnis inovatif Silicon Valley akan terus berguna bagi jutaan orang selama bertahun-tahun termasuk tahun ini, saat periode pandemi.

Dalam sebuah kerja sama bisnis, Apple dan Google baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan sebuah aplikasi yang dapat mempersenjatai penggunanya untuk melacak orang yang berpotensi sebagai pembawa virus Corona.

Sebut saja Orwellian, tetapi adopsi luas dari teknologi semacam itu dapat memungkinkan untuk mempermudah karantina dengan cara yang lebih aman, memulai kembali ekonomi yang tenggelam dan berpotensi menyelamatkan bisnis dan kehidupan,” ungkap laporan WSJ, merujuk pada aplikasi penelusuran pada orang yang terkena virus.

 

*Artikel asli berjudul “How the Coronavirus is Making Tech Companies Richer.” Sumber dari trtworld.com yang dialihbahasakan dan digubah oleh Cokletif.com dengan tujuan penyebaran pengetahuan

Curahan Hati: Pendidikan yang Ruwet Selama Pandemi COVID-19

Previous article

Curahan Hati: Potret Pendidikan di Tengah Pandemi

Next article

You may also like

More in ngendas