ANALISA

Apa itu Pendidikan Sebagai Komoditas

0

Poster Design By Lingkaran Solidaritas

Judul dalam tulisan ini bukanlah sesuatu hal yang tabu, khususnya bagi pegiat gerakan mahasiswa di setiap Universitas ataupun Institusi Pendidikan Tinggi. Ketika tiba tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, kata-kata ini selalu berseliweran dalam bentuk tulisan baik di media sosial ataupun menjadi teriakan yang lantang di setiap aksi massa, tapi pernahkah kita menguji kebenaran klaim terebut secara ilmiah, bahwasanya Pendidikan dalam hakikatnya bukan sebuah komoditas.

Pengujian ini menjadi begitu penting, terutama untuk mengetaui apakah klaim tersebut memang memiliki kebenaran ilmiah, ataukah hanya hipotesis sempit yang tidak memiliki kebenaran ilmiah. Maka dalam tulisan kali ini akan dilakukan pengujian terhadap kebenaran klaim tersebut, dengan menggunakan metode-metode ilmiah, mempereteli satu persatu konsep tentang pendidikan dan komoditas.

Apa itu Pendidikan ?

Secara etimologis kata pendidikan berasal dari kata didik yang mendapat imbuhan awalan –pe dan akhiran –an yang memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Seorang ayah yang memberitahu anaknya bahwa 1 + 1 = 2, bisa disebut sebagai pendidikan karena mengandung poses pengajaran, atau seorang kakak yang mengajari adiknya cara menendang bola juga merupakan pendidikan, karena mengandung proses pembelajaran melalui latihan menendang bola. Berbicara mengenai pendidikan, apapun itu selama mengandung pengajaran dan pelatihan dalam proses pengembangan diri menuju kedewasaan, bisa diartikan sebagai pendidikan.

Terasa kurang afdal (lengkap) apabila tidak memasukan pandangan para ahli mengenai konsep pendidikan. Ki Hadjar Dewantara menjadi tokoh nasional paling berpengaruh terkait teori pendidikan. Konsep pendidikan miliknya menekankan pada tiga aspek, pertama budi perkerti (ketekunan batin, karakter), kedua pikiran (intelektualitas), ketiga Jasmani (kesehatan tubuh) dan menitik beratkan pada proses kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya (alam).Di dalam konsep pendidikan ini jika dimaknai lebih luas, tidak hanya mengandung unsur pengajaran dan pelatihan saja, pendidikan juga menyangkut pengembangan budi pekerti, pikiran dan kesehatan tubuh, lalu mengaitkannya dengan kondisi dunia yang melingkupinya.

Dari pemaparan dua konsep di atas, dapat disimpulan bahwa pendidikan adalah proses pengajaran dan pelatihan guna memajukan budi pekerti, pikiran, dan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi sosio-kultural yang melingkupi suatu kelompok masyarakat.

Apa itu Komoditas ?

Komoditas dalam pengertian sehari-hari selalu lekat dengan benda-benda niaga seperti komoditas kopi, komoditas gula atau komoditas tembakau, tetapi kita belumlah sepenuhnya mengerti apa sebenarnya pengertian konkrit dari komoditas itu sendiri ? Apakah komoditas sekedar benda-benda niaga ? Ataukah benda-benda lain juga bisa disebut komoditas ?

Dede Mulyanto di dalam bukunya Genealogi Kapitalisme, mengartikan komoditas sebagai pengobyektifan atau pengkristalan kerja manusia. Kerja itu sendiri diartikan oleh Dede sebagai kemampuan manusia untuk mengubah sesuatu hal menjadi sesuatu hal yang lain atau lebih konkritnya, sebagai kegiatan produksi dengan mengarahkan sumber daya dan menggunakan sarana tertentu. Maka dari itu komoditas adalah barang atau jasa yang lahir dari kerja manusia.

Namun di dalam Genealogi Kapitalisme dapat digarisbawahi kalau tidak semua barang atau jasa yang dihasilkan dari kerja manusia merupakan komoditas. Dede Mulyanto memberikan sebuah contoh begini, seorang penjahit yang membuat baju koko untuk digunakan anak bungsunya bukanlah komoditas, begitu pula barang yang dibuat khusus untuk kado kekasihnya juga tidak tergolong sebagai komoditas.

Apabila barang atau jasa hanya memenuhi kebutuhan pembuat atau keluarganya itu bukanlah komoditas. Hasil kerja manusia baru bisa dikategorikan menjadi komoditas apabila dibuat untuk dikonsumsi pihak lain melalui pertukaran yang khas yaitu pasar (Ada sebuah proses jual beli). Agar bisa dijual di pasar sebagai komoditas suatu barang atau jasa haruslah mensyaratkan beberapa hal. Pertama, barang atau jasa tersebut harus memiliki kegunaan agar bisa dikonsumsi oleh pihak lain. Kapasitas suatu barang untuk memenuhi kebutuhan tertentu disebut dengan nilai guna. Kedua, suatu barang atau jasa harus bisa dipertukarkan dengan barang atau jasa lain yang berbeda kegunaannya, kapasitas suatu barang untuk bisa dipertukarkan dengan barang atau jasa lainnya disebut nilai tukar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil kerja manusia dalam bentuk barang atau jasa baru bisa dikategorikan sebagai komoditas, apabila barang atau jasa tersebut memenuhi dua syarat yaitu nilai guna dan nilai tukar. Apabila suatu barang belum memenuhi kedua aspek tersebut, maka ia belum bisa dikategorikan sebagai komoditas.

Pendidikan adalah Komoditas?

Dari manakah datangnya kata pendidikan sebagai komoditas? Bagaimana logikanya, kata komoditas dapat disandingkan dengan pendidikan ? Hal ini biasanya banyak dijumpai dalam berbagai rilis propagandis atau pun poster aksi yang dibuat oleh kebanyakan gerakan mahasiswa pada setiap tanggal 2 Mei, kala Hari Pendidikan Nasional Indonesia diperingati. Saya kemudian berasumsi, bagaimana diskursus ini bisa terbentuk ? Memang pendidikan adalah komoditas ketika ia berada dalam bentuk sebuah institusi atau lembaga belajar, seperti dalam bentuk Universitas, Institut, Sekolah tinggi atau bentuk lain yang terlembagakan. Mengapa bisa demikian ?

Jika kita telusuri jejak jejak lampau, sejak kapan diskursus pendidikan sebagai komoditas itu muncul ke permukaan. Bagaimana bisa dalam kurun waktu 10 tahun ini isu Pendidikan Bukan Komoditas selalu menjadi grand issue pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Sinar Harapan pada tanggal 8 November 2004, ada sebuah gagasan awal di mana pendidikan komoditas mulai mencuat sebagai sebuah isu penting.

Di dalam artikel tersebut, dijelaskan mengenai bagaimana kemelut yang terjadi di tahun 2004, soal pro dan kontra para akademisi nasional yang berkonsentrasi di bidang pendidikan, pasca dirilisnya UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Bersamaan dengan polemik UU Sisdiknas, pemerintah kala itu juga mulai terkooptasi perjanjian GATS (General Agreement Trade and Service), yang mengharuskan pemerintah untuk melepaskan pengelolaan atas 12 sektor publik (privatisasi dan liberalisasi sektor publik), salah satunya di bidang jasa seperti transportasi dan pendidikan.

Berbicara terkait sektor jasa, secara term dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah pelayanan. Di mana kita melayani dengan keahlian tertentu, agar mendapatkan untung dari pelayanan yang telah kita berikan. Ini korelasional dengan konsepsi jasa sebagai sebuah unit usaha, karena ada nilai tambah dan nilai lebih yang akan diambil. Kemudian jika melihat pada konteks pasca disepakatinya liberalisasi dan privatisasi sektor publik, seperti pendidikan yang dilepas agar lebih otonom. Maka konsep pendidikan sebagai sebuah jasa cukup terwakili, karena di sini universitas dipaksa untuk memenuhi pembiayaan operasionalnya secara mandiri.

Di sini dapat dilihat bergesernya paradigma pendidikan sebagai sebuah jasa, di mana layaknya sebuah usaha yang bergerak di bidang jasa, ada standar umum yang diubah. Misal kenaikan harga pendidikan, yang selalu dikorelasikan dengan kuantitas dan kualitas layanan, seperti infrastruktur bahkan pada titik tertentu, kualitas lulusan yang selalu dikorelasikan dengan siap kerja atau dapat diterima di instansi tertentu, dengan jaminan keterampilan mumpuni.

Oleh karena itu pendidikan kini cukup memenuhi syarat, yang masuk dalam salah satu kategori komoditas perdagangan untuk dicantumkan dalam dalam perjanjian dagang multinasional. Apalagi didukung oleh suatu kebijakan yang mengarahkan pendidikan bukan lagi milik publik, namun digeser menjadi bias makna, namun pada hakikatnya telah bertransformasi menjadi komoditas jasa.

 

Referensi

Dewantara, Ki Hadjar. 1962. Karja I (Pendidikan). Pertjetakan Taman Siswa, Jogjakarta, Hal, 14-15

Mulyanto, Dede. 2012. Genealogi Kapitalisme. Resist Book, Jogjakarta, hal, 64.

mm
Pengabdi LAMRI Surabaya

    May Day 2020 di Tengah Pandemi, Buruh Tetap Melawan

    Previous article

    Perubahan Iklim dan Potensi Munculnya Pandemi (Lagi)

    Next article

    You may also like

    More in ANALISA