RENUNGAN

Antara Wifi dan Warung Kopi: Hilangnya Interaksi Sosial Antar Individu

0

Ilustrasi oleh Cannabinoise.151

Pada suatu kesempatan di salah satu televisi swasta, komedian legendaris tanah air, Indro Djojo Kusumonegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Indro Warkop pernah mengatakan, “Negara kita ini katanya demokratis, tapi yang paling demokratis ada di warung kopi.”

Mendengar pernyataan tersebut, saya mencoba mengartikan makna demokratis di warung kopi yang diucapkan Indro yakni membangun komunikasi atau melakukan interaksi sosial antara individu dengan individu yang lain. Membahas berbagai macam hal seperti politik, budaya, ekonomi, agama, bahkan masalah sosial yang dikemas dengan tutur kata serta gaya apa adanya.

Seperti diketahui, warung kopi menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari berbagai macam kalangan untuk sejenak menyandarkan punggung setelah seharian beraktivitas. Lebih lanjut, warung kopi merupakan tempat nongkrong dengan kawan atau sahabat bersenda gurau melepas penat sambil membicarakan hal penting hingga tidak penting yang mampu meningkatkan kedekatan sekaligus rasa saling menghargai satu dengan yang lain.

Ditemani segelas kopi, es teh, gorengan, dan rokok, pelanggan dan penghuni warung saling bercengkerama membahas topik satu ke topik yang lainnya. Ada topik yang umum didengar, ada pula bahasan-bahasan yang asing kita dengar. Mengerti atau tidak mengerti, paham atau tidak paham, semua itu tak menjadi masalah. Terpenting menurut orang Jawa, kita sebagai makhluk sosial benar-benar diuwongke atau dimanusiakan.

Kini, candaan dan obrolan ngalor-ngidul, jelas-tidak jelas, paham-tidak paham di warung kopi perlahan-lahan mulai tergerus dengan hadirnya teknologi yang semakin hari semakin membutakan diri manusia untuk membangun komunikasi dengan sesamanya. Dan salah satu teknologi yang tanpa disadari menghambat kebiasaan manusia untuk mengajak sahabat, teman, pacar atau orang asing berinteraksi adalah wifi.

Wifi merupakan sebuah teknologi yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel (menggunakan gelombang radio) melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi internet berkecepatan tinggi. Dulunya wifi masih belum banyak digunakan orang. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, wifi sudah mendapat tempat nomor satu di hati maupun pikiran manusia.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan pengamatan kecil-kecilan di salah satu warung kopi. Seisi warung dihinggapi pemuda pemudi, bapak-bapak hingga anak-anak. Hampir di setiap sudut mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Entah itu melihat video Youtube, bermain game atau update sosial media (Instagram, Line, WA, dan Facebook). Bahkan, terdengar celotehan yang keluar dari mulut salah satu pengunjung warkop kepada penjaga warung: “Mas password wifi ne opo? (Mas password wifinya apa?) atau bahasa seperti: takok’o password, soal e aku nggak paketan (Tanyakan apa passwordnya, aku tidak ada paketan internet).

Sesudah itu, saya coba mendekat dengan alasan meminjam korek api. Ketika itu saya melihat mereka sedang asyik bermain game. Adapula yang melihat video Youtube, sesekali membalas pesan singkat lewat Instagram, Line, WA maupun Facebook. Tidak ada interaksi hingga saya beranjak pulang. Mereka masih saja asyik mengotak-atik gadgetnya yang sudah tersambung dengan wifi.

Dominick (1996:52) mengatakan bahwa karakteristik semacam ini disebut sebagai parasocial relationship. Interaksi sosial semu ketika individu merasa lebih tertarik dan lebih akrab dengan orang yang ada di dalam media. Bahkan, pengetahuannya terhadap siapa yang ada di dalam media tersebut jauh lebih intensif daripada orang yang ada di sekitarnya.

Panuju, (2017: 55) memberikan contoh di perumahan elite misalnya, banyak ditemukan fakta anak-anak tidak saling mengenal dalam radius lima rumah ke depan, ke belakang, ke samping kanan dan kiri. Keadaan tersebut merupakan bukti lain bahwa teknologi komunikasi yang awalnya untuk mendekatkan diri antar individu, justru semakin menjauhkan satu sama lain. Yang dekat jadi jauh dan yang jauh jadi dekat.

Pernyataan Dominick dan Panuju menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelindang di kepala saya. Manusia jaman sekarang telah dikuasai mesin. Mereka telah diperbudak wifi dan gadget ketimbang berinteraksi dengan sesamanya. Mereka terlihat asik dengan dunianya sehingga keinginan untuk berinterkasi dengan sesamanya lamat-lamat pudar.

Harus Bisa Membatasi Diri

Warung kopi yang dulunya sebagai tempat berinteraksi, kini perlahan mulai hilang dari peradaban. Kebiasaan mengajak lawan untuk berbicara mulai ditinggal manusia. Kini, mereka lebih “mencintai” alat komunikasi yang sudah terhubung dengan wifi ketimbang berkenalan, menyapa atau mengajak berbicara orang yang ada di sebelahnya. Mereka lebih berinisiatif untuk bertanya password wifi kepada penjaga warung ketimbang mengajak ngobrol sesamanya.

Diharapkan manusia-manusia jaman sekarang (tak terbatas umur dan gender) dapat membatasi diri ketika mengakses wifi. Sebab, tanpa disadari jika kita terus mengalami ketergantunagn atau kecanduan dengan wifi, maka saya ucapkan selamat. Anda “berhasil” memasuki jaman terminator atau jaman perbudakan mesin yang mulai menguasi manusia, bukan sebaliknya.

mm
Jurnalis Majalah Aspirasi

    Antara Kita dan Media Sosial: Jebakan Lingkaran Setan

    Previous article

    Kambing Hitam Baru, Dari Dugaan Vandal hingga Peretasan

    Next article

    You may also like

    More in RENUNGAN