RENUNGAN

Antara Kita dan Media Sosial: Jebakan Lingkaran Setan

0

ilustrasi oleh Cannabinoise.151

Jauh sebelum manusia intim dengan gawai, berbagi kabar diantara keluarga kakek nenek merupakan momen yang langka dan berharga. Ketika anak-anak mereka memutuskan untuk hidup mandiri dan merantau, Tuhan seolah-olah memberikan hukuman perasaan cemas dan rindu seumur hidup. Untuk memberikan kabar rencana pernikahan saja, mereka harus meramu tinta hitam, menuliskannya dalam gulungan kertas, lalu mengirimkannya melalui kurir. Butuh berhari-hari, kadang berbulan-bulan, surat tersebut sampai ke tujuan. Bayangkan jika keluarga mereka miskin, membayar kurir saja tak mampu. Kabar kematian saja bisa datang bertahun-tahun seusai jenazah dimakamkan. Mereka hanya bisa pasrah, cemas, dan penuh harap. Berpuluh tahun kemudian, manusia merasakan lalu lintas informasi yang padat merayap.

Jarak bukan lagi rintangan bagi kakek dan cucu untuk bercakap-cakap melalui layar gawai. Melalui media sosial, berjuta-juta manusia terhubung membagikan beragam informasi. Dalam hitungan detik, kematian seorang artis sudah membuat warga tanah air tunduk berkabung. Satu orang divonis positif COVID-19 sudah mampu menggiring masyarakat untuk cemas, panik, lalu memborong masker dan kebutuhan pokok. Tidak mendapatkan kabar dari pesan daring pun juga membuat perasaan cemas. Misalnya saja, tanya kabar ke orang yang tersayang, sudah ditunggu-tunggu hasilnya hanya ‘centang biru.’

Ternyata kesedihan, kecemasan, dan kesepian tidak serta merta terhapus oleh teknologi informasi. Media sosial justru menjadi momok yang menyebabkan depresi, ketidakpuasan diri, dan masalah finansial. Saya jadi teringat buku yang ditulis Marcus Gilroy-Ware berjudul Filling the Void: Emotion Capitalism and Social Media (bisa Anda baca di sini). Dia menjelaskan bahwa media sosial sangat mungkin berdampak buruk bagi kesejahteraan emosional penggunanya. Pengguna media sosial cenderung memiliki masalah dalam kepuasan diri, di antaranya terhadap kondisi finansial, bentuk fisik tubuh (body satisfaction), hubungan sosial, dan kondisi mental.  Bahkan media sosial membuat penggunanya semakin tertekan sehingga memperburuk kondisi depresi.

Sejalan dengan survei dari RSPH dan Young Heath Movement, media sosial Instagram dan Snapchat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental remaja dan dewasa muda, di antaranya: kecemasan, depresi, perundungan, dan sindrom FOMO/Fear of Missing Out (takut akan ketinggalan informasi). Tentu pengalaman ini bisa kita lihat dari diri sendiri maupun sahabat di sekitar kita. Mereka begitu antusias membaca unggahan teman yang menikah dan sudah punya rumah. Tidak lama kemudian mereka menjadi murung dan sedih karena menyadari mereka sendiri ternyata masih menganggur, baru saja di-PHK, terjerat hutang, hingga kisah asmara yang kandas.

Memes tentang kecanduan media sosial. (Sumber: 9gag)

Beberapa waktu lalu, ada sebuah memes di lini masa saya yang bertuliskan begini, “Facebook is like a fridge, there is rarely something new but you check it anyway.”Kita membuka media daring setiap 10 menit sekali seperti membuka kulkas, padahal kita tahu di dalamnya ya hanya itu-itu saja, tak ada hal yang baru. Mari kita renungkan, berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk scrolling lini masa media sosial atau status di pesan daring? Coba bandingkan dengan waktu yang Anda habiskan untuk berkirim pesan pribadi dengan teman. Bisa dipastikan lebih banyak energi dan waktu yang tercurah untuk menyelami lini masa, sembari melihat iklan-iklan yang disuguhkan oleh algoritma. Ketika Anda menutup layar sementara waktu, Anda mulai merasa cemas dan merasa harus membuka layar media sosial dan pesan daring kembali.

Lalu kenapa kita tak bisa berhenti mengakses media sosial? Dalam kasus ini, Gilroy-Ware mengibaratkan model perilaku manusia yang reward-seeking (berharap imbalan) sebagai upaya untuk mengkompensasi kesejahteraan emosional yang buruk. Misalnya, perilaku konsumsi obat-obatan atau makanan cepat saji. Kita tahu betapa buruknya makanan cepat saji bagi tubuh, namun kita tak bisa mengelak tentang kenikmatan yang kita dapatkan saat mengkonsumsinya. Demikian juga hubungan kita dengan media sosial. Ketika mengkonsumsi media sosial, otak mengeluarkan zat ­dopamin dalam jumlah konstan sehingga mengalihkan perasaan depresi, cemas, sedih, dan kesepian.

Gilroy-Ware menyebut kondisi ini sebagai depresive hedonia. Depresive hedonia tidak serta merta hadir hanya karena terciptanya teknologi informasi, ada kondisi sosial yang mendukung pola tersebut. Situasi kerja yang eksploitatif, lingkungan sosial yang memupuk rasa gengsi dan sifat konsumtif, serta pendidikan yang menjerat kreatifitas membuat kita mengalami depresi dan kecemasan. Sedangkan, ruang dan waktu untuk bersosialisasi dengan teman serta berkeluh kesah secara personal dan langsung tidak mudah didapatkan. Media sosial pun menjadi tempat pelarian sehari-hari, menjelma menjadi zona nyaman.

Tanpa disadari, ketika penggunanya semakin kecanduan media sosial – sekalipun samakin membuat depresi – perusahaan-perusahaan media daring justru mengambil banyak keuntungan. Platform media sosial merias diri dengan sistem yang sedemikian rupa seolah-olah sebagai layanan yang gratis – log in, get media, pay nothing.

Padahal, platform tersebut mengeksploitasi sisi kompulsif penggunanya, mendorong secara emosional untuk terikat dengan media sosial. Semakin banyak mereka mengakses media sosial, maka semakin banyak pula iklan komersil yang terpampang dan semakin laris. Setiap saat, iklan-iklan toko daring bahkan influencer berbayar ikut meramaikan lini masa tanpa permisi. Sampai penggunanya kehabisan saldo bank pun, perusahaan-perusahaan tersebut tak habis akal untuk mengumpulkan keuntungan melalui kredit dan pinjaman online dengan rayuan “kenyamanan bertransaksi.”

Tak heran, banyak sekali pengguna media sosial terjebak dalam sebuah lingkaran setan: hidup tertekan di lingkungan sosial, mengalami kecemasan, mengalihkan perhatian di media sosial, demikian seterusnya. Ketidaksadaran kita saat mengakses media sosial menimbulkan masalah psikologis yang baru dan berkepanjangan. Oleh karenanya, kita perlu memikirkan kembali bagaimana cara memanfaatkan media sosial dengan bijaksana. Jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran setan media sosial, karena masih banyak kisah yang harus kita perjuangkan di dunia nyata.

mm
Tukang kebun di rumah sendiri. Dalam perjalanan menjadi koki amatir.

Apa Hasil dari Ritus Beragama Kita ?

Previous article

Antara Wifi dan Warung Kopi: Hilangnya Interaksi Sosial Antar Individu

Next article

You may also like

More in RENUNGAN