ANALISAngendas

Akulturasi Islam dan Kejawen

0

Berbicara Islam di Nusantara sangat menarik apabila ditinjau dari segi historis dan sosio-kulturalnya. Bagaimana mungkin dengan waktu yang relatif singkat dan tanpa adanya paksaan. Nusantara khususnya Jawa sangat kental dengan animisme dan dinamisme. Tetapi Wali Sembilan dalam hal ini bisa mengajak masyarakat Jawa masuk Islam melalui strategi kebudayaan. Hasil ijtihad Wali Sembilan (walisongo) dalam mengakulturasikan Islam dan budaya Jawa bisa sangat efisien dan efektif. Hasil kreasi berupa wayang, bonang dan lain sebagainya menjadi sarana dakwah Islam yang secara tidak sadar akan menarik minat masyarakat Jawa untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dalam opini ini akan lebih difokuskan pada pembahasan nilai kearifan lokal dalam bahasa Jawa kawicaksanan. Bagaimana Gus Dur sangat menghargai budaya lokal yang itu menjadi ciri khas Islam di Nusantara terkhusus di Tanah Jawa.  Dikutip dari pernyataan Ibu Sinta Nuriyah yang dinukil dari perkataan Gus Dur, “kebudayaan adalah aspek penting kemanusiaan karena kebudayaan adalah pembeda antara manusia dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia akan tetap menjadi manusia kalau dia berbudaya. Untuk itu Gus Dur selalu menyerukan pentingnya kebudayaan dalam kehidupan.” Dan sangat relevan pula bertepatan Haul Gus Dur ke-10 kemarin bulan Desember 2019 mengangkat tema “Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan.”

Budaya secara etimologi menurut KBBI memiliki beberapa definisi. Pertama, pikiran; akal budi. Kedua, adat istiadat. Ketiga, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju). Keempat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan menurut M. Faizi, budaya terdiri dari suku kata. Budi dan daya, jadi disebut manusia yang berbudaya berarti memiliki akal budi dan memiliki daya atau kemampuan untuk bertindak. Kesimpulannya disebut manusia yang berbudaya berarti harus memenuhi dua unsur yaitu memiliki akal pikiran dan mampu untuk mentransformasikan dalam setiap realita kehidupan.

Akulturasi Islam dan budaya Jawa sudah menjadi suatu harmonisasi kehidupan. Tetapi ada beberapa kasus tepatnya Oktober 2018 di Bantul. Ada beberapa orang yang merasa sudah paling benar dalam memahami Islam akhirnya membubarkan tradisi sedekah bumi dan larung sesajen. Beberapa orang ini berpendapat kalau sedekah laut, larung sesajen dan semacamnya itu adalah haram dan termasuk perbuatan syirik. Karena pemahaman dangkal beberapa orang ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat Kejawen takut dengan Islam secara keseluruhan. Bukannya Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Terus mengapa tidak boleh (haram) bersedekah kepada laut dan bumi yang itu juga termasuk makhluk Tuhan.

Contoh lainnya ada budaya sekaten (pasar malam terutama di Yogyakarta dan Surakarta yang diadakan tiap bulan Maulud untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad). Asal-muasal kata sekaten adalah syahadatain (dua kalimat syahadat), karena orang Jawa kuno dulu tidak bisa mengucapkan dengan jelas akhirnya jadinya Sekaten. Terus ada tradisi “Suroan” yaitu tradisi makan bersama masyarakat desa dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyyah atau malam 1 Suro dalam kalender Jawa. Ada lagi tradisi “Megengan”, yaitu tradisi berziarah kubur ke makam leluhur atau orang tua yang sudah meninggal sebelum memasuki bulan puasa Ramadan atau Syawal. Tradisi-tradisi seperti ini sudah sangat Islam dan dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad.

Tumpeng dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai nasi yang dihidangkan dalam bentuk seperti kerucut (untuk selamatan dan sebagainya).  Tradisi tumpengan atau selamatan dengan menyajikan (nasi putih atau kuning) tumpeng sebagai makanan utamanya. Selain itu, sebagai tambahan lauk-pauknya terdiri dari ayam, telur, daging dan lain-lain. Biasanya sebagai penambah selera juga ditambahkan sayur-sayuran dan tiga bunga. Yaitu, mawar, kenanga (pohon besar yang bunganya kecil berwarna hijau kekuning-kuningan, dan berbau harum), terakhir bunga kantil (bunga cempaka putih). Nanti akan dibahas secara lebih mendetail filosofi dari tiga jenis bunga yang biasanya terdapat pada tumpeng. Tapi sebelum itu, harus diketahui dulu sejarah tumpeng itu sendiri.

Ketika itu, Jawa kuno sangat kental dengan kepercayaan animisme (kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan mistis yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup).

Tradisi tumpengan sendiri sudah ada sejak zaman nenek moyang masih menganut dua kepercayaan ini, tetapi tradisi kejawen (segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa) berimplikasi kepada hal-hal mistis dan memang Tanah Jawa sampai sekarang juga terkenal dengan kemistisannya.

Tradisi sesajen atau makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya. Ada pula istilah semah yaitu sajian (berupa makanan, kepala kerbau, dan sebagainya) yang diberikan kepada orang halus (roh jahat) dengan berbagai-bagai maksud. Penulis sendiri ketika melakukan pendakian ke gunung khususnya di Gunung Arjuno masih banyak tempat-tempat yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar dan dijadikan sebagai tempat untuk bersemedi dan lain-lain.

Tradisi tumpengan dari genealogi sejarahnya berorientasi kepada hal-hal yang kurang sesuai. Maka ketika awal Wali Sembilan mendakwahkan Islam ke Tanah Jawa. Sedikit demi sedikit tradisi seperti sesajen dan lain sebagainya dialih fungsikan kepada hal-hal yang sesuai dengan koridor Islam. Menggunakan metode dakwah ala Wali Sembilan yang mementingkan isi daripada kulit. Mementingkan substansi daripada kulitnya. Penulis ambil salah satu contoh saja seperti sembah-Yang, oleh Wali Sembilan istilah tersebut tidak diganti dengan kata Salat. Mengapa demikian. Karena dikhawatirkan akan terjadi benturan budaya. Ditakutkan akan terjadi kekagetan budaya atau dalam istilanya adalah shock culture. Istilah tersebut sampai sekarang oleh masyarakat pedesaan tetap dipakai dalam percakapan budaya sehari-hari.

Contoh kedua adalah kata Langgar atau dulu disebut sanggar (tempat pemujaan yg terletak di pekarangan rumah). Kata langgar sampai sekarangpun juga masih digunakan di beberapa daerah terkhusus di desa-desa. Ini termasuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal Nusantara. Nenek moyang ketika dulu ketika akan beribadah dan tempat ibadahnya disebut langgar. Kenapa oleh Wali Sembilan tidak diganti dengan istilah Masjid atau Musala. Argumentasi sama dengan kata salat tadi, kalau sampai diganti dengan kata yang asing dan aneh di dalam kamus percakapan nenek moyang sangat ditakutkan terjadi perang budaya atau istilah Clash of Civilization. Ini termasuk strategi dakwah yang sangat jitu.

Kembali ke pembahasan tradisi tumpeng. Tumpeng ketika nenek moyang dijadikan sarana sesajen untuk sesembahan atau hal lainnya. Sedikit demi sedikit diganti oleh Sunan Kalijaga dengan tetap melestarikan dan menjaga lokalitas budaya. Sunan Kalijaga memberikan variasi pada tumpeng dengan memberikan tiga bunga yang telah disebutkan di awal tadi. Yaitu Mawar, Kenanga dan Kantil. Ketiga bunga ini tidak sembarangan digunakan sebagai simbol dalam tumpeng. Dan titik temu dari filosofi ketiga bunga ini sama dengan filosofi Bhineka Tunggal Ika.

Pertama, bunga Mawar berasal dari kata Jawa yaitu mawarni-mawarno yang artinya berwarna-warni, beraneka ragam atau bermacam-macam. Indonesia adalah negara yang heterogen. Negara yang banyak sekali suku, budaya, bahasa dan agama. Kedua adalah bunga kenanga atau dalam kamus Jawa disebut Kenongo. Keno ngunu, keno ngene, keno ngono yang artinya boleh begini dan boleh begitu. Dan terakhir dan ditutup dengan bunga Kantil. Bunga Kantil disimbolkan sebagai persatuan karena harus kantil menjadi satu kesatuan. Indonesia sudah berwarna-warni.

Boleh begini dan begitu maka implikasi harus tetap kantil atau bersatu dalam satu kesatuan. Pada intinya, simbolisme ketiga bunga yang terdapat pada Tumpeng sama dengan “Bhineka Tunggal Ika.” Berbeda-beda tetapi tetap satu. Tanah Air Indonesia.

Dari konvergensi inilah tercipta harmonisasi antar dua kebudayaan. Islam bisa berakulturasi dan berasimilasi dengan budaya Jawa. Adagium Gus Dur, Kita mengambil Islamnya bukan budaya Arabnya. Perlu ada rekontruksi pemikiran tentang Islam itu sendiri. Tidak selamanya Islam selalu Arab. Harus dibedakan mana yang budaya Arab dan mana yang memang Islam.

Ambil contoh sederhananya saja, dalam Islam itu harus menutup aurat. Menurut aurat kan bisa dengan pakaian yang setiap negara mempunyai budayanya sendiri-sendiri. Kalau di Arab Saudi, menutup auratnya menggunakan gamis dan sorban. Kalau di Indonesia, cara menutup auratnya dengan memakai sarung dan kopiah. Contoh lainnya seperti makanan, kalau di Arab Saudi, makanan pokoknya adalah gandum dan kurma. Sedangkan di Indonesia, makanan pokoknya beras, jagung dan ketela. Hal-hal semacam inilah yang hilang dari sistem beragama di Indonesia. Belum bisa membedakan mana yang budaya dan mana yang agama.

Gus Dur sendiri pernah mengeritik term Arabisasi dan Islamisasi. Sudah dijelaskan secara gamblang di buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita. “betapa Arabisasi telah berkembang menjadi Islamisasi -dengan segala konsekuensinya. Hal ini pula yang membuat banyak aspek dari kehidupan kaum muslimin yang dinyatakan dalam simbolisme Arab. Atau dalam bahasa tersebut, simbolisasi itu bahkan sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim, sehingga secara tidak terasa Arabisasi disamakan dengan Islamisasi.

Merujuk pada catatan Abdurrahman Wahid (2011), sebagai contoh, nama-nama beberapa fakultas di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) juga di-Arabkan; “kata syari’ah untuk hukum Islam, adab untuk sastra Arab, ushuluddin untuk studi gerakan-gerakan Islam dan tarbiyah untuk pendidikan agama. Bahkan fakultas keputrian dinamakan kulliyatul bannat. Seolah-olah tidak terasa ke-Islaman-nya kalau tidak menggunakan kata-kata bahasa Arab tersebut.”

Arabisasi tidak hanya masuk ke dalam ruang-ruang akademik kampus yang terinterpretasikan dalam Universitas Islam Negeri (UIN) yang walaupun nama-nama UIN mengambil dari nama-nama Wali Sembilan. Contohnya, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan lain sebagainya. Nama-nama berbagai pondok pesantren saja sudah banyak di-Arabkan.

Kebiasaan masa lampau untuk menunjuk kepada pondok pesantren dengan menggunakan nama suatu kawasan/tempat, seperti Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Tebu Ireng di Jombang, Langitan di Tuban, Termas di Pacitan dan Krapyak di Yogyakarta, seolah-olah kurang Islami, kalau tidak menggunakan nama-nama berbahasa Arab. Maka, dipaksakanlah nama PP. Al-Munawwir di Yogyakarta-misalnya sebagai ganti PP. Krapyak.

Demikian juga dalam penyebutan hari dalam seminggu. Kalau dahulu orang awam mengucapkan kata “Minggu” untuk menyebut hari ke tujuh dalam almanak, sekarang orang tidak puas dan merasa belum ber-Islam secara kaffah kalau tidak menggunakan kata “Ahad”. Padahal kata Minggu, sebenarnya berasal dari bahasa Portugis, “jour dominggo”, yang berarti hari Tuhan. Mengapa demikian? Karena pada hari itu orang-orang Portugis –kulit putih pergi ke Gereja. Nama bulan juga semakin di-Arabkan. Kalau orang Kejawen menyebutnya Suro, Sapar, Mulud, ba’do Mulud dan seterusnya. Sekarang lebih mantap kalau menyebutnya Muharram, Safar, Rabi’ul Awwal dan seterusnya (Abdurrahman Wahid, 2011).

Sebagai konklusi, generasi yang lahir dan tumbuh di Tanah Jawa. Maka seyogyanya untuk terus merawat dan meruwat kebudayaan dan khazanah Islam dan Kejawen. Paling tidak, ikut menyaksikan pagelaran kesenian berupa wayang, sekaten, larung sesajen, ludruk (kesenian rakyat Jawa Timur berbentuk sandiwara yang dipertontonkan dengan menari dan menyanyi) maupun lainnya. Jangan sampai anak cucu nantinya malah tidak mengetahui genealoginya dan harus kehilangan identitas ke-Jawa-annya.

Referensi

Abdurrahman Wahid. 2011. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: Democracy Project.

Sinta Nuriyah. Sabtu, 28 Desember 2019. Disampaikan pada Forum Rembuk Budaya di Pondok Pesantren Ciganjur.

M. Faizi. Jumat, 17 Januari 2020. Disampaikan pada acara peringatan Haul Gus Dur ke-10 di Balai Pemuda, Surabaya.

mm
Alumni SI Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya. Penikmat kopi senja dan menyukai dunia literasi

Refleksi Sinema dan Pandemi di Depan Mata

Previous article

Covid-19, Kapitalisme dan Barbarisme

Next article

You may also like

More in ANALISA