REVIEW

After Life: Keterusterangan Emosional dan Humor yang Menyembuhkan

0

Sumber: IMDB

Entah berapa kali saya menulis dan menghapus kalimat pembuka tulisan ini, meskipun film yang akan saya bahas bukanlah tontonan yang berat atau secara pribadi saya suka menganalisis orang bunuh diri punya kenangan khusus dengan film ini. Saya ragu merumuskan kalimat pembuka yang bagus karena dalam After Life, serial TV yang ditulis dan dibintangi sendiri oleh Ricky Gervais, dibuka dengan adegan yang bahkan tidak saya ingat tapi anehnya saya menyelesaikan film itu sampai season kedua.

Jadi begini saja, apa yang kita tahu tentang seorang pria yang kehilangan istrinya, tepatnya karena sang istri meninggal akibat kanker di usia empat puluh lima? Ada banyak kemungkinan yang bisa dibayangkan, mulai dari menikah lagi, kesepian, atau bahkan menduda sampai mati. Namun jarang sekali kita mendapatkan kisah yang menempatkan seorang pria yang depresi ditinggal mati istrinya, bahkan berkomitmen untuk bunuh diri, tetap menyikapi segala hal dengan humor. After Life mampu menyajikan dua kutub yang saling bertentangan semacam itu tanpa harus mengeksploitasi duka lara atau humor secara berlebihan.

“Tidak ada keuntungan menjadi baik dan bijaksana dan peduli.” Betapa kuat suasana depresif dalam kalimat itu. Kembangkan kalimat-kalimat sejenis dan gabungkan dengan humor, serta bayangkan si penutur adalah seorang pria berperut tambun bernama Tony Johnson yang tinggal di kota kecil yang hangat, Tambury. Kira-kira seperti itulah Ricky Gervais membangun tokoh Tony dan menghanyutkannya pelan-pelan dalam kesedihan akibat kematian istrinya, Lisa (Kerry Godliman).

Disamping ucapan-ucapan putus asa di setiap adegan, Tony juga selalu melontarkan humor. Humor dalam After Life bukan dikemas secara tragis, alih-alih menertawakan diri sendiri, Tony justru mengolok, mengejek dan menghina segala hal. Di sinilah kita sebagai penonton dibuat terombang-ambing antara kesedihan dan humor.

Setelah kita dipermainkan seperti itu, tiba-tiba kita diajak Tony untuk mengintip layar laptopnya dan melihat video tutorial menjalani hidup yang dibuat Lisa untuk Tony. Lisa yang duduk di kasur rumah sakit, mengenakan pakaian pasien lengkap dengan penutup kepala, tapi tak henti-hentinya memandu Tony untuk melakukan pekerjaan rumah: membeli makanan anjing, mencuci pakaian, memberi tahu tempat garam, dan lain sebagainya.

Tentunya Lisa menyampaikan semua itu dengan nada seolah Tony tidak akan sanggup melakukan itu semua sendirian. Disaat itulah Tony tersenyum dan meneteskan air mata. Adegan itu semakin membuat kita hanyut ketika Lisa mengatakan, “You’re never very good at hearing how lovely you are.

Kesedihan dalam lanskap seorang pria yang duduk di sofa sendirian, menonton video tutorial menjalani hidup yang dibuat istrinya sebelum meninggal, dengan tangan kanan memegang segelas wine, dan tangan kiri mengusap-usap anjing peliharaannya. Sungguh sebuah gambaran kesedihan yang alami.

Tidak berhenti disitu, Tony tidak sendirian merenungkan segala kesedihannya. Dia membagi kesedihannya dengan seorang psikiater brengsek yang saran-sarannya terlampau brengsek untuk saya kutip disini. Dia juga membagikan kesedihan itu dengan seorang perempuan yang sering dilihatnya di pemakaman, perempuan yang sering berbicara sendiri di depan makam suaminya. Ia juga membagikannya kepada teman kerjanya, kepada kakak iparnya, kepada pengedar narkoba, dan bahkan dia juga menceritakan kisah sedihnya kepada seorang pekerja seks.

Kesedihan yang blak-blakan demikian tidak terasa berlebihan, sekalipun asing sekali melihat seorang pria dewasa terbuka akan kesedihannya. Mungkin, keterbukaan semacam itulah yang membuat orang seperti Tony menunda rencana bunuh diri, atau bahkan mengurungkan niat bunuh diri.

Dialog yang dihadirkan Ricky Gervais dalam After Life jauh sekali dari kesan puitis, karena dia memang bukan penyair, melainkan stand up comedian. Berawal dari seorang pria yang bekerja sebagai jurnalis, kemudian kehabisan kata-kata untuk ditulis, akibat kesedihan yang mencekiknya karena kematian istrinya.

Si jurnalis menemukan kata-katanya lagi ketika ia melakukan serangkaian wawancara kepada warga yang mengaku ‘mempunyai kisah unik untuk diberitakan’. Lebih tepatnya kisah absurd yang lebih menyedihkan ketimbang kisah sedih si jurnalis. Seperti itulah Tony menemukan semangatnya kembali untuk menjadi jurnalis di sebuah koran lokal yang hampir bangkrut, dengan menyelami kisah sedih orang-orang yang ada di sekitarnya.

Mencampurkan keterusterangan emosional dan humor blak-blakan memang keahlian Ricky Gervais, yang dapat kita temukan dalam setiap penampilannya di panggung stand up comedy. Kini dia berhasil menghadirkannya dalam After Life.

Ketika menjadi pembawa acara Golden Globes 2020, dia menjelaskan pendapatnya tentang After Life kepada kerumunan selebriti yang hampir mabuk bahwa After Life adalah serial TV tentang “pria yang ingin bunuh diri karena istrinya meninggal akibat kanker… dan masih lebih menyenangkan dari acara ini.”

Ya, benar-benar kisah sedih yang menyenangkan, karena pada akhirnya hadir seorang perempuan yang mungkin mampu menghidupkan lagi cinta dalam diri Tony. Kisah Tony bersama perempuan inilah yang sedang saya tunggu di season ketiga.

Trailer After Life

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

mm
Aktif di penerbitan buku dan kolektif di Surabaya

    Menyelamatkan Kampung di Tengah Rezim Ekstraktif: Potret Perjuangan Desa Alas Buluh, Wongsorejo, Banyuwangi

    Previous article

    Bintang Merah Menyala dan Meredup Menjadi Keniscayaan Pembebasan

    Next article

    You may also like

    More in REVIEW