nganggur

3 Pemuda Maluku yang Tidak Sekadar Bernyanyi

0

Ilustrasi oleh SenjaMelawan

Hampir dipastikan, orang Ambon jago dalam bernyanyi. Sederet Nyong (sebutan anak laki-laki) mampu menunjukkan talentanya lewat sebuah lagu yang diciptakan sarat makna serta pembawaan yang sepenuh hati. Penyematan terhadap ibu kota di Provinsi Maluku itu semakin kuat, ketika UNESCO menobatkan Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Cukup banyak nama beken yang tidak hanya manis dari segi fisik melainkan juga cakap menciptakan lagu serta syahdu saat membawakan lagu menghiasi belantika musik Indonesia dari masa ke masa.

Meski telah tiada, karya-karya mereka masih eksis dan bisa kita dengarkan hingga saat ini. Bahkan, suara-suara lantang mereka gaungkan bukan hanya untuk mencari eksistensi maupun materi, melainkan juga kepeduliaan terhadap kelompok yang termajinalkan. Tabea…

  1. Glenn Fredly

Penyanyi asal Maluku ini cukup banyak digandrungi banyak kalangan – mulai muda hingga orang dewasa. Bukan hanya lirik lagu serta suara merdunya yang bikin pendengar kelepek-kelepek atau berteriak histeris, melainkan kepeduliaan, keberanian serta perhatian kepada sesama yang termajinalkan semakin mengokohkan namanya di belantika musik Indonesia.

POTRET Glenn Fredly.* /Instagram @glennfredly

Awal karir pria bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ketika berkenalan dengan Ibob. Ibob sendiri saksi sejarah perjalanan karir Glenn di dunia musik. Kala itu, Ibob mendapat tugas untuk mencari vokalis grup band Halmahera karena band ini hendak merilis album debut, namun tidak memiliki vokalis tetap.

“Saya dapat beberapa nama, sampai ada orang Asia Bagus yang saranin Glenn Fredly. Suara Glenn disebut kayak Tevin Campbell. Tinggi suaranya. Setelah cari informasi dan kebetulan dapat, dia sekolah di SMA YPK Wijaya, Jakarta Selatan,” kenang Ibob seperti dikutip MSN.

Singkat cerita, Glenn didapuk sebagai vokalis. Hanya saja, proyek musik Halmahera mandek. Glenn kemudian berlabuh pada sebuah band Funk Section. Sebuah grup yang secara prestisius kerap tampil di klub jazz ternama Ibu kota, Jamz Pub. Dari situ, popularitas Glenn mulai diketahui banyak orang.

Usaha tak menghianati hasil layak disematkan kepadanya. Tiga tahun meniti karir dari awal akhirnya, ia berhasil membuat album bertajuk Glenn (1998) yang dirilis label besar Sony Music kemudian melahirkan hit berjudul “Cukup Sudah”. Sejak itu, namanya melejit di panggung musik nasional.

Dihimpun dari berbagai sumber, sepanjang karirnya, penyanyi yang telah berkarya selama 25 tahun di dunia musik tanah air sudah merilis 10 album. Uniknya di setiap album yang dikeluarkan, selalu ada 1 atau 2 lagu yang hits.

Selain menjadi penyanyi, pria kelahiran jakarta, 30 September 1975 itu juga terlibat memperjuangkan kasus-kasus Hak Asasi Manusia (HAM). Dilansir dari laman instagram Tempodotco, ada 7 aksi nyata yang sudah dilakukan Glenn.

Bersama kontraS memperjuangkan kasus pembunuhan terhadap aktivis Munir Said Thalib yang sampai saat ini belum terungkap. Suara untuk Papua dan Indonesia Timur. Secara pribadi Glenn menghubungi Veronica Koman sebanyak dua kali untuk menawarkan bantuan dalam kasus penangkapan massal terhadap mahasiswa asal Papua. Glenn menolak reklamasi Teluk Benoa. Bersama musisi lainnya, seruan penolakan itu ia gaungkan ketika tampil di panggung United We Loud di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bali pada, 10 September 2017.

Mengunjungi sekaligus memberikan dukungan terhadap korban kasus penghilangan paksa 1997/1998. Dukungan diberikan langsung kepada orang tua korban. Selanjutnya, dukungan untuk jemaat GKI Yasmin, Bogor yang mengalami larangan beribadah. Bahkan, ia juga pernah mengisi sekolah HAM Kontras. Terakhir, mengumpulkan dana untuk korban perkosaan. Saat manggung bersama Trio Lestari bersama Tompi dan Sandhy Sandoro di Balroom Hotel Grand Clarion Makassar, mereka mengajak penonton untuk menyisihkan uang guna disumbangkan kepada korban perkosaan.

Pada Rabu (8/4), petang pukul 18.00 karya serta perjuangan Suami dan ayah dari Mutia Ayu dan Gewa itu berhenti. Ia meninggal akibat penyakit sakit radang selaput otak atau meningitis. Glenn meninggal di usia 44 tahun. Meski begitu, karya serta perjuangannya akan kami ingat dan lanjutkan. Selamat jalan bung – Ale Rasa Beta Rasa.

  1. Franky Hubert Sahilatua

Mereka yang lahir di era 80/90-an pasti tidak asing ketika mendengar atau ditanya nama Franky Hubert Sahilatua. Penyanyi asal Maluku tersebut cukup tenar di belantika musik Indonesia lewat lagu ciptaanya Kemesraan yang kemudian makin populer ketika dilantunkan penyanyi kondang lain, Iwan Fals.

Meski berasal dari Ambon, Franky tidak lahir di tanah asalnya, melainkan Kota Surabaya yang juga cukup banyak melahirkan musisi besar seperti Boomerang, Dewa 19 dan Padi. Franky dibesarkan di kota yang tepat.

Cover Album Franky Sahilatua – The Very Best Of / discogs.com

Tercatat dalam buku Musikku (2007:226) Franky, sebelum tersohor pernah berduet Franky & Gina dalam beberapa pertunjukan di Surabaya selama 1972-1973. Akhir 1974, Franky tidak memiliki pasangan duet. Akhirnya, ia menggandeng adik kandungnya, Jane. Mereka pun dikenal sebagai Franky & Jane. Salah satu lagu populer dari mereka berjudul “Perjalanan”.

Dari beberapa album yang diciptakan, akhirnya Franky dan Jane vakum. Jane memutuskan berhenti bermusik karena menikah dan ingin fokus mengurus keluarga. Di saat itu pula, Franky memutuskan untuk bersolo karir.

Ketika bersolo karir, lagu-lagu yang diciptakan Franky tak melulu berbicara soal cinta, akan tetapi ia turut peduli pada masalah sosial. Menurut Alex Palit dalam God Bless and You – Rock Humanisme (2017:15), lagu “Merah Putih dan Reruntuhan” di album Perahu Retak bercerita tentang bencana kemanusiaan akibat pembangunan Waduk Kedungombo. Dalam album itu, Franky berkolaborasi dengan Emha Ainun Najib alias Cak Nun.

Bahkan, Franky juga menggubah lagu tentang Papua, “Aku Papua” yang kemudian dinyanyikan Edo Kondologit. Bahkan, di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Franky yang berkunjung ke Palu kecewa dengan kerusakan lingkungan di kota tersebut. Meluapkan kekecewaannya itu, dirinya membuat album berjudul “Aku Mau Presiden Baru” (2007).

Lebih lanjut, Franky sempat berkecimpung di gelanggang perpolitikan. Kala itu, ia mejadi simpatisan Partai Amanat Nasional (PAN). Hanya saja pada 2006, Franky menarik dukungannya dari partai yang didirikan Amien Rais tersebut. Setelah itu ia benar-benar kecewa dengan partai politik. “Partai apa partai penipu. Dapat kursi, rakyat ditipu,” serunya.

Pada 20 April 2011, Franky Sahilatua tutup usia akibat penyakit kanker sumsum tulang belakang. Ia meninggal di usia 57 tahun.

  1. Broery Marantika

Jangan Ada Dusta di Antara Kita. Satu dari sekian banyak lagu yang paling ngehits dilantunkan Broery Marantika. Berduet dengan Dewi Yull, lagu ciptaan Alm Harry Tasman era tahun 1980-1990 an itu sarat akan makna sehingga tak heran sampai saat ini, lagu tersebut masih bisa kita dengarkan dalam beberapa acara salah satunya dalam acara pernikahan.

POTRET Broery Marantika /www.broery.com

Pria dengan nama asli Simon Dominggus Pesulima tertarik terhadap tarik suara sejak kecil. Ia tergabung dalam paduan suara gereja dan sering mengikuti lomba-lomba menyanyi berskala lokal salah satunya kontes di RRI Ambon yang menghantarkannya menjadi juara satu pada awal 1960-an.

Selepas juara kontes menyanyi di RRI Ambon, Broery mengadu nasib ke Jakarta pada 1964. Tak lain dan tak bukan untuk melebarkan sayapnya. Di Jakarta, ia ditampung Remy Leimena. Sejak itu, ia turut mengubah namanya menjadi “Broery Marantika”— mengikuti identitas keluarga sang ibu.

Awal karier Broery dengan bergabung bersama kelompok The Pro’s yang beranggotakan Dimas Wahab (bas), Pomo (alat tiup), Enteng Tanamal (gitar), dan Fuad Hasan (drum). Broery mengisi posisi vokal. Grup ini didukung perusahaan minyak negara, Pertamina dan juga dikenal sebagai “Pertamina Culture Group” kala tampil di Amerika dengan misi memperkenalkan Indonesia.

Bersama The Pro’s, nama Broery lamat-lamat melejit bahkan melebihi nama grup itu sendiri. Kemampuannya mengolah suara serta kepiawaiannya melakukan improvisasi di atas rata-rata, membuatnya mudah meraih perhatian publik kala itu.

“Suaranya khas. Dia bisa membuat lagu apa pun sebagai lagu dia, karena improvisasinya luar biasa yang membuat orang terheran-heran. Apa yang ditampilkannya di luar kebiasaan yang ada,” ucap Bob Tutupoli seperti dikutip Kompas pada 2000.

1969, Broery hengkang dari The Por’s untuk kemudian memutuskan bersolo karier. Dirinya masuk dapur rekaman dan mencetak lagu sekaligus hits pertamanya, “Angin Malam” yang diciptakan A. Riyanto. Selain itu, Broery juga melahirkan tembang-tembang populer lainnya seperti “Widuri”, “Mengapa Harus Jumpa”, “Aku Jatuh Cinta”, dan “Biarkan Bulan Bicara”.

Talenta bernyanyi pria kelahiran 25 Juni 1948 semakin moncer ketika dirinya berhasil menjadi juara dalam Festival Lagu Pop Nasional 1974. Kemenangan ini membuatnya diminta untuk mewakili Indonesia bertarung di ajang World Pop Song Festival di Tokyo, Jepang.

Di masa tuanya Broery tetap bernyanyi bersama rekan-rekan sejawat maupun penyanyi-penyanyi anyar saat itu. Pada 7 April 2000 di Rumah Sakit Puri Cinere, Jakarta Selatan ia menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit stroke. Meski begitu, namanya akan terus dikenang lewat lagu-lagu yang pernah mengisi belantika musik Indonesia kini dan selamanya.

mm
Jurnalis Majalah Aspirasi

    Intelektual atau sekadar Akademisi?

    Previous article

    Covid-19, Pemenang Vs Pecundang

    Next article

    You may also like

    More in nganggur