PERS RILIS

10 November Adalah Semangat Melawan Penindasan dan Penghisapan

0

Hari pahlawan 10 November merupakan peristiwa yang mengingatkan kita betapa berharganya kemerdekaan yang susah payah direbut. Mengeyahkan secara fisik kolonialisme yang telah mencengkram sekian lama, mengeksploitasi manusia dan alam, meninggalkan luka-luka psikis mendalam. Luka akibat eksploitasi dan perampasan, membangkitkan semangat juang untuk pembebasan atas manusia oleh penindasan manusia lainnya, hingga memunculkan pergerakan meluas merebut apa itu kemerdekaan dan kebebasan.

Heroisme 10 November merupakan sebuah kisah kolosal yang terus direproduksi seolah-oleh perjuangan melawan penindasan hanya berkutat soal tembak-menembak dan paras militerisme. Tetapi 10 November adalah bentuk bagaimana kemerdekaan dari penindasan kolonialisme Belanda dan antek-anteknya harus dipertahankan. Tentu bukan soal mempertahankan serta mengusirnya secara fisik, tetapi juga harus mengeyahkan bentuk-bentuk kolonialisme hingga ke akar-akarnya.

Perjuangan melawan kolonialisme selalu berakar pada perjuangan bagaimana mengenyahkan kapitalisme sampai tahapan tertingginya yakni imperialisme. Meski secara fisik sudah tidak berkuasa, tetapi dalam segi ekonomi, budaya dan watak politik masih bercokol kuat melanggengkan yang namanya kekuasaan, guna terus melancarkan upaya eksploitasi dan reproduksi komoditas untuk memperkaya diri mereka yakni elite komprador.

Wajah-wajah lama itu masih ada dan eksis, di mana segelintir elite berkuasa menentukan aneka kebijakan yang sifatnya eksploitatif, guna memperkaya diri mereka sendiri dan kroni-kroninya. Membuat jurang ketimpangan semakin tergambar lebar, si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Belum lagi ditambah beban ganda, yakni mulai hancurnya alam. Sebab kapitalisme tidak hanya menghisap manusia tetapi juga alam beserta isinya.

Gambaran itu jelas terpampang dari aneka kebijakan yang elitis, konservatif dan otoriter, di mana perkawinan antara neoliberalisme dengan otoriterisme menghasilkan yang namanya perampasan ruang hidup, baik tanah, hutan, air hingga mata pencaharian, memunculkan upah murah dan ketidakpastian, biaya hidup mahal, pendidikan dan kesehatan melambung tinggi akibat privatisasi, dengan cara-cara pembungkaman, intimidasi, represi dan kriminalisasi. Mengerahkan aparatur represif dan idiologis untuk menghantam serta melanggengkan hegemoni, demi terwujudnya kekuasaan absolut.

Kondisi inilah yang kita jumpai di Indonesia, kala UU Cipta Kerja disahkan, UU Minerba disahkan, dan aneka kebijakan-kebijakan penghisap tadi lolos untuk memfasilitasi eksploitasi para pemodal besar, sementara rakyat hidupnya semakin hari semakin rentan bahkan menuju sekarat. Kartelisme partai politik konservatif semakin meneguhkan dominasi kuasanya, rakyat semakin hilang dari ruang partisipasinya dengan disibukkan memenuhi kebutuhannya meski hanya sekedar hidup, sementara nalar kritis dibunuh dengan represi hingga dituduh subversif.

Kemerdekaan yang sudah direbut susah payah, mengenyahkan penindasan dan penghisapan, tetapi upaya untuk menghapusnya hingga ke akar-akarnya tidak berjalan dengan lancar Berkali-kali dibajak oleh elite politik yang mewakili bisnis besar penindas, dari Suharto menuju reformasi, dari reformasi hingga menuju era post-reformasi. Di mana bibit-bibit otoriterisme mulai nampak secara gamblang dan jelas. Kini kita dihadapkan dalam upaya merebut kembali apa itu kemerdekaan yang dalam arti khusus, menegaskan kekuasaan rakyat untuk pembebasan dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

10 November adalah sebuah cerminan, betapa persatuan dan kesatuan melawan penindasan itulah yang dibutuhkan, Memperluas solidaritas, memperat persaudaraan dan menghilangkan sekat perbedaan adalah jalan menuju pembebasan itu sendiri. Karena musuh kita adalah penindasan dan penghisapan oleh manusia atas manusia lainnya, serta oleh manusia atas mahkluk hidup lainnya yang diakibatkan oleh imperialisme dan kapitalisme.

LAMRI Surabaya
Laskar Mahasiswa Republik Indonesia

    Cipta Kerja Penuh Petaka: Dari Represi Aliansi Mahakam hingga Penegasan Otoriterisme Rezim

    Previous article

    Festival Rakyat: Senja di Ujung Petaka UU Cipta Kerja, Merawat dan Memperluas Perlawanan

    Next article

    You may also like

    More in PERS RILIS